NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014

Tunangan yang Datang Tanpa Janji

"Kak Rayhan tipe yang romantis nggak?"

Pertanyaan Naomi menggantung di antara rak buku dan aroma pear blossom yang samar.

Yola belum sempat menjawab.

Sari muncul di ujung koridor dengan wajah yang terlalu rapi. Itu selalu tanda ada sesuatu yang tidak rapi sedang terjadi.

"Nona Yola," panggilnya pelan. "Ada tamu."

Naomi menoleh. "Tamu siapa?"

Sari melirik Yola, lalu menjawab lebih hati-hati. "Nona Celine Tan."

Nama itu membuat udara berubah.

Yola pernah mendengar nama Celine Tan dari percakapan Mama Liem dengan Pak Wahyu. Putri Hendra Tan, keluarga lama di lingkar bisnis yang sering disebut dalam kalimat setengah hati. Perjodohan bisnis. Kesepakatan yang belum diumumkan besar-besaran, tetapi cukup banyak orang sudah tahu.

Tunangan Rayhan.

Naomi mengernyit. "Celine datang ke sini?"

"Beliau menunggu di ruang tamu utama," kata Sari.

Yola menutup kotak botol kaca. "Mama tahu?"

"Mama sedang istirahat. Pak Wahyu belum berani membangunkan."

"Rayhan?"

"Pak Rayhan masih di ruang kerja dengan Ardi."

Naomi langsung berdiri tegak. "Aku ikut."

Yola menatapnya. "Kamu seharusnya pulang."

"Tiba-tiba aku tidak buru-buru."

Nada Naomi berubah. Tidak lagi malu-malu seperti saat bertanya tentang Rayhan. Ada sesuatu yang lebih tajam di matanya, semacam ketidaksukaan lama.

Yola tidak bertanya. Ia hanya merapikan cardigan dan berjalan menuju ruang tamu utama.

Celine Tan duduk di sofa tengah seolah rumah itu sudah lama mengenalnya.

Ia cantik dengan cara yang mahal. Rambut hitamnya jatuh rapi di bahu, tas kecil bermerek diletakkan di samping cangkir teh yang belum disentuh, dan gaun putih tulangnya tampak sederhana hanya karena semua detailnya terlalu halus untuk disebut sederhana.

Ketika Yola masuk, Celine mengangkat mata.

Senyumnya muncul pelan.

"Kamu pasti Yola."

Bukan Nona Yola. Bukan Kak Yola. Bukan Nyonya Liem.

Hanya Yola, seperti nama seseorang yang baru dibaca di label barang.

Yola menunduk sopan. "Selamat sore, Nona Celine."

Naomi berdiri di samping Yola, lengan disilangkan. "Celine, tumben."

Celine menoleh kepada Naomi, senyumnya melebar sedikit. "Naomi. Aku dengar kamu hampir terluka di acara keluargamu sendiri. Syukurlah masih bisa berkeliaran."

"Aku juga senang masih bisa melihat orang datang tanpa janji."

Sari menunduk begitu dalam sampai wajahnya hampir tidak terlihat.

Celine tertawa kecil, seolah Naomi baru melontarkan lelucon manis. "Aku datang menjenguk Rayhan. Calon suamiku terluka. Rasanya wajar, kan?"

Kata itu jatuh di ruangan seperti gelas tipis yang sengaja disentil.

Calon suamiku.

Yola merasakan Naomi menegang di sampingnya.

Ia sendiri justru menjadi sangat tenang.

Terlalu tenang.

"Pak Rayhan masih bekerja," kata Yola. "Saya akan minta Sari menyampaikan."

"Pak Rayhan?" Celine mengulang, matanya turun ke wajah Yola. "Formal sekali. Padahal kalian tinggal satu rumah."

Naomi maju setengah langkah. "Celine."

"Apa?" Celine menatap Naomi seolah tidak bersalah. "Aku hanya heran. Dalam keluarga, panggilan biasanya lebih hangat."

Yola menahan napas.

Inilah cara perempuan seperti Celine menyerang. Tidak keras. Tidak kasar. Hanya satu kalimat ringan yang membuat semua orang di ruangan tahu di mana ia ingin menempatkan Yola.

Di luar.

"Saya terbiasa menjaga batas," jawab Yola.

Celine menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum. "Bagus. Batas itu penting."

Sebelum Yola bisa menjawab, langkah Rayhan terdengar dari koridor.

Celine langsung berdiri. Perubahan pada wajahnya begitu cepat sampai Yola hampir kagum. Dari tajam menjadi lembut. Dari dingin menjadi manis.

"Rayhan."

Rayhan masuk dengan Ardi di belakangnya. Bahu kanannya masih kaku, tetapi wajahnya tidak menunjukkan rasa sakit. Tatapannya melewati Celine, Naomi, lalu berhenti pada Yola hanya sekejap.

"Kenapa kamu datang?"

Celine mendekat dua langkah. "Aku dengar kamu terluka. Papa juga khawatir."

"Aku baik-baik saja."

"Itu yang selalu kamu bilang." Celine melirik perban yang tersembunyi di balik kemejanya. "Aku membawa salep dari dokter keluarga Tan. Katanya bagus untuk bekas luka."

Ia mengulurkan kotak kecil kepada Rayhan.

Rayhan tidak mengambilnya.

Ardi maju dan menerima kotak itu. "Terima kasih, Nona Celine."

Senyum Celine menegang setipis rambut, tetapi ia segera mengembalikannya. "Aku juga ingin menyapa Mama Liem."

"Mama istirahat."

"Kalau begitu aku tunggu."

"Tidak perlu."

Ruangan kembali sunyi.

Naomi menatap Rayhan dengan mata yang terlalu terbuka. Yola menatap lantai dekat meja. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa berat. Celine memang tunangan Rayhan. Kehadirannya wajar. Kekhawatirannya wajar. Kotak salep itu wajar.

Yang tidak wajar adalah bekas panas di ujung jari Yola sejak semalam belum hilang.

Celine akhirnya menoleh kepada Yola. "Kamu yang membantu merawat Rayhan semalam?"

Pertanyaan itu terdengar manis.

Tapi ruangan tahu ia tidak bertanya untuk berterima kasih.

Yola mengangkat wajah. "Saya membantu atas perintah Mama."

"Oh." Celine tersenyum. "Baik sekali. Keluarga memang harus saling membantu."

Rayhan diam.

Yola menunggu satu kata. Bukan pembelaan besar. Bukan pernyataan. Hanya mungkin, satu kalimat yang menghentikan cara Celine memandangnya seperti staf sementara.

Rayhan tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menoleh kepada Ardi. "Antar Nona Celine keluar setelah lima menit."

Celine membeku, tetapi kemudian tertawa pelan. "Kamu masih sama. Selalu pelit waktu."

"Aku sedang pemulihan."

"Aku tahu." Celine menurunkan suara, cukup lembut untuk terdengar intim. "Justru karena itu, jangan terlalu banyak membiarkan orang yang tidak mengerti kondisimu menyentuh lukamu."

Naomi langsung berkata, "Kak Yola yang bantu karena Mama Liem minta."

Celine menatap Naomi. "Aku tidak menyalahkan siapa-siapa."

Lalu matanya kembali ke Yola.

"Aku hanya ingin memastikan calon suamiku dirawat dengan benar."

Yola mengangguk pelan. "Tentu."

Kata itu keluar rapi, tetapi di dalam dada, sesuatu seperti kain tipis tertarik sampai hampir robek.

Rayhan menatap Yola.

Ia melihat wajahnya menjadi lebih tenang daripada sebelumnya. Terlalu tenang. Sikap yang sama seperti saat Yola menahan sakit di ballroom, seperti saat ia berkata tidak apa-apa dengan tangan berdarah.

Namun Rayhan tetap tidak berkata apa-apa.

Karena di ruangan itu ada Celine, Naomi, Sari, Ardi, dan seluruh nama keluarga yang berdiri di belakang perjodohan bisnisnya.

Yola menunduk kepada Celine.

"Kalau begitu, saya permisi."

Ia berbalik sebelum siapa pun sempat menahannya.

Naomi memanggil pelan, "Kak Yola..."

Yola tidak berhenti.

Di ambang pintu, langkahnya melambat setengah detik. Bukan karena ia ingin kembali, melainkan karena tubuhnya masih bodoh menunggu suara Rayhan. Satu panggilan saja. Satu perintah pendek seperti biasanya. Bahkan kalau hanya namanya, mungkin cukup untuk membuat dadanya tidak terasa sekosong ini.

Tidak ada.

Yang terdengar hanya napas tertahan Naomi dan denting cangkir saat Sari tidak sengaja menyentuh nampan.

Di belakangnya, suara Celine terdengar lembut dan jelas.

"Rayhan, kamu harus lebih hati-hati. Orang yang terlalu baik pada janda kakaknya sendiri mudah disalahpahami."

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!