Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Abu Putih
Hari ketiga setelah Oma Ong pergi, Rumah Duka dipenuhi bunga putih.
Saat seluruh keluarga Kho tiba dengan pakaian hitam, seluruh aula sempat hening. Hendra berjalan di depan, Yuliana di sampingnya, Oma Liana duduk di kursi roda ringan meski matanya tetap tajam, Feli memegang lengan Dan tanpa sadar. Edric tidak pernah melepas tangan Eve.
Eve berdiri di dekat peti, wajahnya tanpa ekspresi.
Bukan karena ia kuat. Rasa seperti sudah meninggalkan tubuhnya di ICU. Ia bergerak ketika diminta bergerak, menunduk ketika tamu datang, mengucapkan terima kasih dengan suara yang terdengar seperti milik orang lain.
Di atas peti, syal biru yang ia beli untuk Oma Ong diletakkan rapi.
Yuliana memastikan sendiri bunga tidak menutupinya.
Kehadiran keluarga Kho menjadi pesan yang tidak perlu diumumkan. Mereka bukan datang sebagai tamu penting. Mereka datang sebagai keluarga yang berduka.
Beberapa pelayat dari Cirebon berbisik pelan saat melihat Hendra menunduk di depan foto Oma Ong. Mereka mungkin tidak mengenal dunia bisnis Jakarta, tetapi mereka tahu sikap hormat ketika melihatnya. Tidak ada jarak tinggi-rendah di sana. Yuliana bahkan membantu Bu Yanti merapikan dupa dan memastikan kursi untuk tetangga lama Oma cukup.
Eve melihat semua itu dari sudut mata. Hatinyanya terlalu mati rasa untuk merasa hangat sepenuhnya, tetapi bagian kecil dalam dirinya mencatat: Oma tidak pergi sendirian, dan ia tidak mengantar Oma sendirian.
Dan berdiri di depan altar cukup lama.
Ia menunduk dalam-dalam, lalu berbisik, "Terima kasih untuk teh jahe dan gula merah waktu kecil."
Feli yang berdiri di sampingnya menoleh.
"Kamu kenal Oma?"
"Dulu waktu ikut ibuku ke Cirebon, aku pernah sakit perut karena makan terlalu banyak gorengan. Oma Ong membuatkan teh jahe. Lalu menyalahkan aku karena gula merahnya habis."
Feli hampir tertawa, lalu langsung menutup mulut karena merasa bersalah.
Dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Kadang orang yang pergi ingin kita ingat bagian lucunya juga."
Feli menatapnya, mata merah. "Terima kasih sudah datang."
"Aku datang untuk Eve. Dan..." Dan melirik altar. "Untuk perempuan yang pernah menyelamatkan perutku."
Valen datang menjelang siang.
Ia memakai setelan biru tua, wajahnya muram secukupnya. Eve melihatnya dari jauh. Ada sesuatu yang salah pada cara Valen memandang ruangan. Ia tidak seperti orang berduka. Ia seperti orang menghitung posisi kamera, pintu keluar, dan siapa berdiri di dekat siapa.
Edric memberi isyarat kecil pada Fajar.
Fajar langsung bergerak.
Setengah jam sebelum prosesi kremasi, kekacauan terjadi.
Sekelompok reporter masuk dari pintu samping, terlalu cepat untuk dicegah petugas rumah duka. Lampu kamera menyala. Mikrofon didorong ke arah Eve.
"Nyonya Kho, benar Oma Anda berasal dari kampung?"
"Ibu Anda meninggal karena depresi, apakah Anda punya riwayat yang sama?"
"Sebagai menantu keluarga Kho, apakah Anda merasa pantas?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terdengar seperti mencari berita. Mereka terdengar seperti pisau yang dibayar untuk menemukan daging paling lunak.
Eve membeku.
Selama bertahun-tahun, ia belajar menyimpan cerita Mama Lili di tempat yang tidak bisa disentuh orang luar. Di sana ada foto lama, bau teh melati asli, dan pertanyaan yang tidak pernah selesai. Para reporter itu membuka pintu tempat rahasia itu dengan sepatu kotor, lalu menyebutnya berita.
Kata ibu membuat seluruh tubuhnya dingin. Kata depresi membuka pintu lama yang bahkan belum sempat ia kunci setelah kematian Oma. Kamera mendekat. Seseorang hampir menyenggol peti.
Feli meledak lebih dulu.
"Kalian tidak punya hati!"
Ia merebut kamera dari salah satu reporter yang terlalu dekat dan membantingnya ke lantai. Lensa pecah. Reporter itu berteriak. Dan langsung berdiri di depan Feli, menahan dua orang yang mencoba mendorongnya.
"Mundur," kata Dan, suaranya lebih rendah daripada biasanya.
Edric tidak berteriak.
Ia hanya menoleh pada Fajar.
"Bersihkan."
Dalam kurang dari satu menit, tim keamanan mengambil alih. Kamera, kartu memori, dan ponsel kerja reporter disita sementara sebagai barang bukti pelanggaran area privat. Para reporter dibawa keluar dari Rumah Duka. Beberapa masih berteriak soal kebebasan pers, tetapi suara mereka dipotong oleh pintu yang tertutup.
Eve masih berdiri kaku.
Edric memegang wajahnya dengan dua tangan. "Lina. Lihat saya."
"Mereka bicara tentang Mama."
"Saya tahu."
"Kenapa mereka tahu?"
Edric tidak menjawab langsung.
Matanya mencari Valen. Sepupunya berdiri di sudut, wajahnya tampak prihatin, tetapi Edric melihat kilatan kecil di matanya. Belum ada bukti. Belum.
Prosesi kremasi tetap dilakukan.
Eve berdiri di balik kaca. Peti Oma Ong bergerak perlahan menuju ruang kremasi. Syal biru ikut bersamanya. Di detik terakhir, Eve ingin berlari dan menariknya kembali, seperti anak kecil yang tidak rela selimut kesayangannya dicuci.
Pintu tertutup.
Api menyala.
Lutut Eve kehilangan tenaga.
Edric menangkapnya sebelum ia jatuh. Wajah Eve pucat, bibirnya tidak berwarna. Dokter Sari yang hadir sebagai dokter keluarga segera memeriksa denyut nadi dan tekanan darah.
"Bawa ke ruang istirahat," katanya.
Di ruang kecil belakang Rumah Duka, Eve berbaring setengah sadar. Yuliana memegang tangannya. Oma Liana berdiri di dekat pintu, berdoa pelan. Feli masih gemetar karena marah, tetapi Dan menjaga jarak dekat tanpa mengganggu.
Dokter Sari selesai memeriksa dan meminta semua orang keluar sebentar kecuali Edric.
Edric berdiri di samping ranjang, wajahnya tegang.
"Ada masalah?" tanyanya.
Dokter Sari menatapnya dengan hati-hati, lalu suaranya melembut.
"Tuan Kho, istri Anda hamil. Sekitar tiga minggu."
Edric tidak bergerak.
Tangannya yang hendak menyentuh selimut berhenti di udara.
"Hamil?"
"Saya sarankan pemeriksaan lanjutan setelah kondisi emosinya lebih stabil. Tapi tanda awalnya jelas."
Edric menatap Eve yang masih pucat di ranjang. Dunia baru saja mengambil Oma dari tangan istrinya. Kini dunia yang sama meletakkan kehidupan kecil di dalam tubuhnya.
Ia tidak tahu harus menangis atau bersyukur.
Yang ia tahu hanya satu hal: mulai detik itu, setiap ancaman terhadap Eve memiliki arti baru. Bukan hanya istrinya yang harus ia lindungi, tetapi juga kehidupan kecil yang belum sempat mereka sapa, belum punya nama, bahkan belum diketahui oleh ibunya sendiri.
Rasa takut datang lebih dulu daripada bahagia. Lalu di bawah takut itu, sangat pelan, muncul keajaiban.
Oma Liana masuk setelah Dokter Sari memberi tahu keluarga. Ia mendekati Eve, menggenggam tangan yang lemah itu.
"Oma pergi," bisiknya, "tapi meninggalkan nyawa baru untuk menemanimu."
Edric menunduk.
Di luar Rumah Duka, ponsel Fajar bergetar tanpa henti.
Berita sudah naik.
Kho Group Intimidasi Wartawan menjadi topik pertama di media sosial.
Di dalam ruang istirahat, Eve belum tahu bahwa dunia kembali terbakar.
Ia juga belum tahu bahwa di tengah abu putih hari itu, sesuatu yang baru diam-diam mulai hidup.