Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Racun di Restoran
Hugo tinggal di rumah Meilan dengan nama yang untuk sementara tidak disebut di luar.
Selama beberapa hari, rumah kecil itu terasa lebih sempit tetapi juga lebih hidup. Hugo, yang baru selamat dari api, tetap bisa bersikap sombong saat diberi bubur.
"Aku bisa makan sendiri."
Tangannya gemetar begitu memegang sendok.
Lala langsung meniup bubur di mangkuknya. "Hugo sakit. Lala bantu."
Yan menatapnya dari seberang meja. "Kalau tangan gemetar, tidak usah pura-pura kuat."
Hugo memelototinya. "Aku tidak pura-pura."
Bobo berkata datar, "Sendokmu jatuh."
Sendok Hugo benar-benar jatuh ke lantai.
Sari cepat mengambilkan yang baru. Untuk pertama kalinya sejak kebakaran, Hugo tidak membantah saat Lala menyuapkan satu sendok bubur. Meilan melihatnya dan membiarkan. Anak-anak punya cara sendiri menyembuhkan retakan.
Sementara itu, Cantika mulai bergerak.
Di fabric workshop, Meilan berhasil menyelesaikan rancangan Batik Mekar. Warna hijaunya lembut seperti pucuk daun setelah hujan. Motifnya mengambil bentuk bunga kecil yang terbuka pelan, tidak ramai, tetapi hidup ketika kain bergerak.
Patrick memegang kain itu lama.
"Ini bisa dijual delapan sampai sepuluh juta per potong."
"Untuk pasar menengah atas," kata Meilan. "Jangan murah. Kalau terlalu murah, orang tidak percaya nilainya."
"Kamu dingin sekali soal harga."
"Harga adalah bahasa. Kalau salah bicara, produk bagus pun dianggap murahan."
Ia tidak hanya bicara desain. Ia membuat daftar ukuran, alur quality control, dan sistem pengembalian barang yang membuat Patrick beberapa kali mengusap wajah.
"Aku kira kita baru bikin brand kecil," keluhnya.
"Brand kecil mati karena berpikir kecil."
"Kamu benar-benar tidak memberi ruang untuk napas."
"Napas boleh. Bocor tidak boleh."
Di pojok workshop, Yuni yang datang membantu membungkus sampel menatap kain Batik Mekar dengan mata berkaca-kaca. "Kalau dijual mahal, orang seperti saya tidak bisa beli."
Meilan mendekatinya. "Karena itu nanti ada lini Katun Embun. Harga lebih bersahabat, kualitas tetap bersih. Orang yang belum bisa beli Sutra Serasi tidak boleh dibuat merasa tidak pantas masuk toko."
Yuni mengangguk cepat. Patrick diam-diam menambahkan catatan baru. Ia mulai mengerti bahwa Cantika bukan hanya soal kain cantik. Meilan sedang membuat tangga. Ada yang berdiri di bawah, ada yang naik pelan-pelan, tetapi semuanya boleh melihat ke atas.
Mereka seharusnya merayakan hari itu di Restoran Pangesto.
Namun sebelum piring pertama keluar, seorang pelanggan jatuh dari kursinya.
Jeritan memenuhi restoran.
Pria itu, Ardi, memegang lehernya. Bibirnya membiru, matanya melebar. Temannya, Peng, berteriak paling keras meminta pertolongan. Pelanggan lain panik, kursi bergeser, gelas pecah.
Pak Zhou hampir pingsan. "Makanan kita..."
"Tutup pintu," kata Meilan.
Patrick menatapnya. "Apa?"
"Jangan biarkan orang keluar sebelum datanya dicatat. Panggil ambulans dan Nelson. Pisahkan semua piring, gelas, sendok."
Nada Meilan membuat staf bergerak.
Ardi meninggal sebelum ambulans tiba.
Kabar kematian itu membuat restoran seperti disiram es. Seseorang mulai berteriak bahwa Restoran Pangesto menjual makanan beracun. Seorang pelanggan merekam dengan ponsel.
Meilan berjalan ke tengah ruangan.
"Siapa pun boleh merekam. Rekam juga bahwa kami meminta penyelidikan resmi. Tidak ada yang dibersihkan sebelum petugas datang."
Kalimat itu menghentikan beberapa tuduhan.
Seorang perempuan paruh baya tetap mengangkat ponsel ke wajahnya. "Kalau suami saya mati setelah makan di sini, apa Ibu mau tanggung jawab?"
"Kalau makanan kami penyebabnya, saya tanggung jawab sampai akhir," jawab Meilan tanpa menaikkan suara. "Kalau ada orang sengaja membunuh di restoran ini, saya juga akan seret orang itu sampai akhir. Jadi tolong rekam dengan jelas. Kita semua butuh kebenaran, bukan teriakan."
Nada itu membuat beberapa pelanggan lain ikut menenangkan perempuan tersebut. Patrick memerintahkan staf membagikan air mineral botol yang masih tersegel, bukan dari dapur. Meilan sengaja meminta semua botol dibuka di depan pelanggan. Detail kecil itu membuat kepanikan turun setingkat.
Ia lalu memisahkan staf dapur.
"Tidak ada yang saling menyalahkan. Tulis siapa menyentuh apa. Jujur sekarang lebih aman daripada ketahuan nanti."
Pak Zhou gemetar begitu keras sampai harus duduk. "Saya cek kaldu sendiri. Saya sumpah, Bu."
"Saya tahu. Tapi sumpah tidak cukup untuk polisi. Kita pakai catatan."
Nelson datang cepat. Wajahnya tegang, tetapi tetap profesional. Ia membawa petugas kesehatan dan polisi setempat.
"Meilan, ini serius."
"Karena itu jangan percaya teriakan. Percaya bukti."
Ia memeriksa dapur bersama petugas. Semua menu yang dimakan Ardi juga dimakan pelanggan lain. Tidak ada gejala massal. Minyak, saus, nasi, ayam, semua dicek awal. Tidak ada bau mencurigakan.
Lalu Meilan melihat gelas Ardi.
Posisinya berbeda. Ada bekas sidik jari di dekat bibir gelas, tetapi bukan hanya milik korban. Di dasar gelas, ada sisa bubuk sangat halus yang tidak larut sempurna.
"Gelas ini."
Ia tidak menyentuh langsung. Dari kantongnya, ia mengeluarkan plastik bersih yang biasa dipakai untuk sampel kain, lalu meminta petugas forensik restoran mengambil alih.
Nelson menatap plastik itu. "Kamu bawa benda seperti itu ke mana-mana?"
"Aku bekerja dengan kain. Noda kecil bisa menentukan harga."
Patrick hampir tertawa karena tegang, tetapi wajahnya kembali kaku ketika melihat Ardi sudah ditutup kain putih.
Meilan meminta rekaman CCTV diputar di kantor belakang. Dalam layar buram, Peng terlihat berdiri ketika Ardi menerima telepon. Tangannya bergerak cepat ke gelas. Gerakan itu hanya satu detik, cukup untuk hilang jika orang tidak tahu apa yang dicari.
"Putar ulang," kata Meilan.
Nelson menonton tiga kali. Rahangnya mengeras.
"Itu belum cukup untuk menuduh di tempat."
"Cukup untuk menahan dia bicara."
Peng yang sejak tadi menangis langsung berteriak, "Itu gelas Ardi! Berarti restoran yang kasih racun!"
Meilan menatapnya.
Tangisan pria itu terlalu keras, tetapi matanya terlalu kering.
"Kamu duduk di sebelah Ardi?"
"Iya! Dia sahabat saya!"
"Kamu menuangkan air untuknya?"
Peng terdiam sepersekian detik. "Saya... saya cuma membantu."
Meilan meminta Nelson memeriksa tangan Peng. Pria itu menolak. Ketika petugas memegang pergelangannya, ia mencoba menarik diri. Di sela kuku jempolnya ada sisa bubuk putih.
Wajah Pak Zhou berubah.
Peng panik. "Itu tepung! Saya tadi pegang gorengan!"
"Restoran ini tidak menyajikan gorengan tepung hari ini," kata Pak Zhou gemetar.
Nelson memberi tanda kepada petugas.
Peng meronta.
Di tengah keributan, suara motor meraung dari luar. Seorang pria berhelm hitam melintas melewati pintu restoran yang terbuka.
Meilan melihat kilatan logam.
"Turun!"
Ia menarik Nelson dan Patrick menunduk.
Suara tembakan memecah kaca.
Peng jatuh.
Satu peluru menancap di rak botol kecap. Botol pecah, cairan hitam mengalir seperti luka. Seorang pelayan muda menjerit, kakinya tergores kaca. Meilan meraih taplak meja, menekannya ke luka itu.
"Tekan. Lihat aku, bukan darah."
Pelayan itu mengangguk sambil menangis.
Nelson sudah mengeluarkan ponsel, memberi perintah dengan suara pendek. Patrick ingin mengejar keluar, tetapi Meilan menahan kerahnya.
"Jangan jadi target kedua."
"Dia membunuh orang di restoran keluargaku!"
"Karena dia ingin kita panik."
Patrick berhenti. Napasnya berat, tetapi ia memaksa dirinya mundur. Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti anak orang kaya yang biasa memanggil orang lain menyelesaikan masalah. Ia terlihat seperti seseorang yang baru sadar bahwa mempertahankan nama keluarga membutuhkan darah dingin.
Jeritan kembali memenuhi ruangan. Petugas mengejar keluar, tetapi motor itu sudah hilang di jalan BSD yang ramai.
Peng tewas sebelum sempat mengaku.
Meilan berdiri di antara pecahan kaca. Darah di lantai membuat beberapa staf menangis. Nelson memerintahkan penutupan area. Patrick memegang meja, wajahnya pucat karena akhirnya paham: ini bukan sekadar sabotase restoran.
Ini perang.
Meilan berjalan ke luar. Dari gedung di seberang, di balik jendela lantai dua Rumah Makan Lianto, Leo Lianto berdiri menatap.
Jarak mereka jauh, tetapi kebencian di wajahnya jelas.
Meilan tidak menunjuk. Tidak berteriak. Ia hanya menatap balik.
Leo akhirnya mundur dari jendela.
Di parkiran, beberapa pelanggan masih menggigil. Seorang remaja mengunggah video dengan judul yang sengaja provokatif. Meilan meminjam ponsel Patrick, mengetik klarifikasi singkat di akun resmi Restoran Pangesto: restoran menyerahkan penuh penyelidikan kepada polisi, semua barang bukti diamankan, keluarga korban akan didampingi sampai proses selesai.
"Kamu masih sempat memikirkan media?" tanya Patrick.
"Kalau kita diam, orang lain menulis cerita untuk kita."
"Dan kalau cerita mereka lebih keras?"
"Kita beri fakta lebih cepat."
Malam itu, Nelson mengumumkan penyelidikan awal: sumber racun bukan dapur Restoran Pangesto, melainkan gelas korban. Restoran tidak ditutup permanen, tetapi kasusnya akan berlanjut.
Pak Zhou menangis lega.
Beberapa staf langsung sujud syukur di dekat dapur, masih gemetar hebat. Meilan tidak menghentikan mereka. Setelah darah dibersihkan, orang memang butuh sesuatu untuk dipegang.
Patrick duduk di kantor belakang, kedua tangan menutup wajah. "Kalau kamu tidak tenang tadi, semuanya habis."
"Belum habis," kata Meilan.
"Apa maksudmu?"
"Orang yang mengirim Peng belum selesai. Dan aku juga belum."
Ketika ia pulang, anak-anak sudah tidur. Sari menunggu di ruang depan.
"Mbak Mei, makan dulu?"
"Nanti."
Meilan masuk kamar, mengganti pakaian dengan setelan olahraga hitam. Ia mengambil masker, topi, sarung tangan tipis, dan ponsel yang baterainya penuh.
Sari berdiri di pintu, wajahnya cemas.
"Mbak Mei, mau ke mana?"
Meilan mengencangkan tali sepatu.
"Melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan."