Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Makan Malam
Seline berhasil menyembunyikan tablet dan sketsa-sketsanya di dasar koper, tetapi ia tidak berhasil menyembunyikan kegelisahan dari dirinya sendiri.
Sejak melihat gambar Lampion Girl di tangan Kevin, setiap suara langkah dari arah taman belakang membuat bahunya menegang. Setiap kali ada yang menyebut nama Kevin, jari-jarinya otomatis menyentuh pergelangan tangan, seolah gelang giok dari Oma bisa menahan rahasia Tao agar tidak keluar dari mulut siapa pun.
Untungnya, dua hari berikutnya perhatian rumah Hartono tertuju pada tes Darren.
Jason benar-benar datang pagi-pagi dengan mobil putihnya. Ia tidak hanya mengantar, tetapi juga menunggu di luar Sekolah Pelita Harmoni sampai Darren selesai. Seline sempat berkali-kali meminta Jason pulang dulu, tetapi pria itu hanya membeli kopi susu di kios seberang dan berkata, "Aku sudah terlanjur jadi sopir hari ini."
Darren keluar dari ruang tes dengan wajah pucat, lalu langsung berkata, "Matematikanya gampang. Bahasa Inggrisnya jahat."
Jason tertawa sampai hampir tersedak. "Kalau sudah bisa bilang jahat, berarti masih hidup."
Seline menahan senyum. "Kamu sudah berusaha. Apa pun hasilnya, Kakak bangga."
Darren menatapnya. "Kalau tidak lulus?"
"Kita cari cara lain."
Jason yang membuka pintu mobil menoleh. "Dia lulus. Anak yang keluar sambil marah pada soal biasanya nilainya bagus."
Darren terlihat ingin percaya. Seline berterima kasih dengan mata, dan Jason membalas dengan senyum yang terlalu lama sedikit. Ia cepat memalingkan wajah, pura-pura mengatur sabuk pengaman Darren.
Sore itu, kabar hasil tes belum keluar. Namun Tante Chen sudah membuat Seline merasa seolah bantuan keluarga Hartono harus dibayar dengan sikap lebih tahu diri.
"Malam ini makan bersama lagi," katanya saat berpapasan di lorong. "Oma ingin suasana ramai. Pakailah baju yang pantas."
"Baik, Tante."
Seline memilih blus biru muda yang paling rapi. Ia mengikat rambut setengah, memastikan gelang giok tidak tertutup lengan baju. Bukan untuk pamer. Lebih tepatnya, ia tidak ingin ada yang mengira ia menyembunyikan pemberian Oma.
Di meja makan, suasana lebih ringan daripada makan malam pertama. Michelle membahas persiapan acara keluarga, Jessica mengeluh karena diminta mencoba terlalu banyak kebaya modern, Ryan bercerita soal pertandingan basket, dan Jason menggoda Darren yang masih memikirkan soal Bahasa Inggris.
"Kalau nanti masuk Pelita Harmoni, siap-siap. Kantinnya mahal," kata Jessica.
Darren langsung menoleh pada Seline. "Kak..."
"Dia bercanda," kata Seline cepat.
Jessica tertawa. "Setengah bercanda. Tapi jangan khawatir, aku tahu menu murah yang enak."
Seline merasa sedikit lebih mudah bernapas. Di antara semua aturan rumah ini, Jessica seperti jendela yang sengaja dibuka.
Kevin datang beberapa menit terlambat.
Begitu ia masuk, percakapan di meja turun setengah nada. Ia memakai kemeja gelap, wajahnya tenang, rambutnya kembali rapi. Seline menunduk pada mangkuknya, berusaha tidak mengingat ruangan gym, amplop cokelat, dan gambar di tangan pria itu.
Tentu saja, Vivian memilih saat itu untuk berbicara.
"Ko Kevin," katanya manis, "aku dengar koleksi lukisanmu bertambah lagi."
Sumpit Seline berhenti sepersekian detik.
Kevin duduk tanpa melihat Vivian. "Siapa yang bilang?"
"Pelayan bilang ada paket dari galeri." Vivian tersenyum, seolah informasi dari pelayan adalah hal biasa. "Aku cuma penasaran. Ko Kevin kan jarang suka sesuatu sampai mengoleksi."
Oma Mei mengangkat mata dari supnya. "Kevin memang suka gambar sejak kecil."
Jason langsung menyela, "Suka diam-diam. Waktu kecil kalau kita masuk ruangannya, dia langsung tutup buku gambar."
"Jason," Lilian menegur lembut.
Kevin menatap adiknya. "Kamu masih hidup karena dulu aku sabar."
Ryan hampir tertawa, tetapi menahannya setelah melihat wajah Kevin.
Vivian tidak menyerah. "Aku ingin lihat suatu hari nanti. Katanya yang terbaru sangat cantik. Tema lampion, ya?"
Dada Seline seperti ditarik.
Jessica yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kamu tahu detail sekali, Viv."
"Aku cuma dengar." Vivian mengangkat bahu. "Lagi pula, rumah ini besar. Informasi kecil gampang lewat."
Kalimat itu ringan, tetapi mata Vivian bergerak ke Seline, cepat sekali. Seolah ia ingin melihat apakah Seline bereaksi.
Seline mengambil sayur dengan tenang. Tangannya tidak boleh gemetar. Ia mengunyah pelan, lalu menyuapi Darren sepotong ayam karena anak itu sibuk mendengar pembicaraan orang dewasa.
"Makan dulu," bisiknya pada Darren.
Darren menurut.
Oma Mei berkata, "Seline, kamu diam saja. Makanannya tidak cocok?"
Semua perhatian bergeser padanya.
Seline menelan makanan dengan hati-hati. "Cocok, Oma. Saya hanya mendengarkan."
"Dia memang pendiam, Oma," Vivian masuk lagi, senyumnya halus. "Mungkin belum terbiasa dengan obrolan keluarga."
Jessica langsung berkata, "Atau mungkin karena tidak semua obrolan perlu ditanggapi."
Vivian melirik tajam, tetapi kembali tersenyum.
Seline merasakan suasana meja berubah tipis. Tante Chen menatapnya seperti memberi peringatan agar ia tidak menyeret Jessica ke konflik kecil. Seline memilih tersenyum pada Oma.
"Di Surabaya, saya lebih sering mendengar daripada bicara. Kalau Darren yang bicara, baru rumah ramai."
Oma Mei tertawa pelan. "Anak ini pintar menghindar."
Beberapa orang ikut tersenyum. Ketegangan turun sedikit.
Seline baru saja merasa selamat ketika ia menyadari Kevin sedang menatapnya.
Bukan sekilas seperti di gerbang. Bukan tatapan dingin orang yang melihat benda asing. Kali ini tatapannya lurus, diam, dan terlalu sadar. Seperti pria itu sedang menyusun dua potong informasi yang belum pas.
Seline menunduk, tetapi suara Kevin datang sebelum ia sempat bernapas lega.
"Kamu suka melukis?"
Seluruh meja makan mendadak sunyi.