Diangkat dari kisah nyata yang sedikit dibumbuhi oleh tulisan karya Author dan mengganti nama tokoh didalamnya.
Kisah ini berawal dari rumah tangga Indra Wiguna seorang pengusaha kayu tersukses, usahanya telah diekspor sampai keluar negri, Indra Wiguna memiliki seorang Istri bernama Widiya Sari, seorang wanita yang cantik dan anggun.
Sebagai istri pengusaha sukses dia sangat dimanja oleh suaminya dan setiap keinginannya selalu dituruti.
namun pada suatu ketika konflik rumah tangganya terjadi dan Widiyapun menjadi membuka diri kepada setiap orang.
yok baca kisah selanjutnya dalam novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra Al - Bantani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB - 16
Bu Tina berjalan menghampiri Putri yang ada duduk di sofa yang sedang asyik menonton tv.
"Non Putri, kalau mau sarapan silahkan, sarapannya udah siap" kata bi Tina sambil berlalu keluar rumah dengan membawa keranjang sampah dari sisa-sisa makanan dan juga keperluan rumah tangga lainnya.
"Iya bi.." jawab Purti kemudian memencet tombol pada remot tv nya agar televisi itu mati, dan Putri segera beranjak menuju ke ryang makan.
Ditariknya sebuah kursi makan dan kemudain dia mengambil piring kaca yang tertelungkup di hadapannya.
Nasi dan lauknya kini sudah memenuhi piring Putri, segera dia melahap sarapan paginya.
"Hari ini kamu masuk pagi rupannya?" tanya Widiya yang saat ini juga sedang mengambil nasi dan lauknya untuk bersantap pagi bersama anaknya, Widiya yang duduk dihadapan Putri tidak sedikitpun menoleh padanya, matanya hanya tedtuju dengan makanan yang diambilnya.
"Biasa ma, jam sepuluh" jawab Putri yang terus menikmati setiap detik kunyahan makanan yang ada di mulutnya.
Putri juga tidak memandang mamanya, dia sibuk dengan makanan yang dia nikmati.
"Terus, kenapa hari ini bangunnya pagi?" tanya mamanya, "atau nggak bisa tidur lantaran mikirin pacar?" lanjut Widiya sedikit meledekin Putri seraya tersenyum kecil.
Wajah putri cembeeut, dia melancipkan bibirnya mendengar ucapan mamanya, " ah mama, ada-ada aja" jawab Putri sambil terus menikmati makannya, "memang Putri lagi mau bangun pagi aja" jawab anak itu datar.
"Oh...., baguslah, kalau begitu tiap hari kan bagus juga" kata Widiya dengan menaikkan alismatanya yang sebelah kanan, dia sedikit melirik Putri dengan ekor matanya.
Putri hanya diam dan tidak menjawab apapun dari ibunya.
Sesaat kemudian, Putri berdiri dan membawa piring kotor bekas makannya ke dapur untuk di cuci.
Setelah mencuci piring itu dia mengambil sebuah gelas yang ada di rak piring dan kemudian menuangkan air yang ada di ceret pelastik ke dalam gelasnya, sedikit demi sesikit, Putri meneguk air tersebut hingga gelas itu kembali kosong.
Widiya yang masih menikmati makan oaginya terliat santai saja memperthatikan anak gadisnya.
Putri berjalan kearah belakang rumah yang terdapat sebuah kolam renang dan taman.
Putri duduk di sebuah kursi panjang dan matanya menatap nanar ke arah langit.
Sepertulinya Putri masih saja memikirkan hal kemarin saat bersama Rendy, yang saat itu adalah saat pertama dia melakukan sebuah kecupan.
Putri kemudian berdiri dan menuju kamar kecil yangbada di dekat kolam renang itu, disambarnya sebuah baju renang yang terjemur di ujung kolam.
Setelah dia mengganti baju tidurnya dengan baju renang, dia segera melompat kedalam kolam renang.
Byuuuuurr........,
Sesaat Putri sudah nongol di ujung kolam, dia segera mengayuh tangannya kepinggiran kolam.
Tubuhnya yang berkulit kuning langsat dan memiliki rambut hitam telah dibasahi oleh air kolam, dengan pakaian renang terlihat jelas lekuk-lekuk indah tubuh gadis itu, dua gunung indah yang menempel di dadanya masih begitu padat dan keras, kelihatan sekali belum pernah dijamah oleh tangan-tangan kumbang nakal, yang semuanya telah basah tanpa sisa oleh air kolam.
Setengah jam Putri bermain di kolam renang pribadi ruumahnya, dia segera keluar dari kolam itu dengan menggunakan handuk panjang dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai bermain di kolam dan membasuh tubuhnya dengan air bersi, kemudian Putri berlalu menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Waktu telah menunjukkam pukul sembilan pagi, Putri telah terlihat bersiap menuju kampusnya.
"Ma, Putri pergi ya.." ucap Putri kepada Widiya yang tengah asyik merawat bunga-bunganya di halaman depan rumah.
"Iya.., jam berapa kamu pulang?" tanya Widiya sembari menoleh ke arah Putri dengan memegang sebatang kembang ros di tangannya.
"Biasa ma, jam-jam dua siang gitu" jawab Putri yang menghenyikan langkah saat akan ke garasi motornya, "Ada apa ma?" Putri melontarkan peetanyaan ke Widiya.
"Mama ntar siang mau pergi kerumah teman, ada undangan acara Syukuran" jawab Widiya yang masih menoleh ke arah Putri, "jadi kalau Putri ada waktu, temenin mama ya?" lanjut Widiya.
Memang selama ini setial kali Widiya akan keluar rumah tanpa suami, Widiya selalu mengajak Putri menemaninya, baik hanya sekedar jalan, makan, belanja sampai bertemu dengan teman-temannya.
Itulah yang membuat teman-teman Widiya oada mengenal Putri.
"Oh, ya udah, nanti Putri temanin" jawab Putri sambil berlalu ke garasi motornya.
Motor metic berwarna merah maroon telah menyala, sesaat Putri memanaskan motornya dan kemudian dia melaju keluar Rumah untuk menuju ke kampusnya.
......................
Siang hari seperti yang telah disepakati, kira-kira pukul dua lewat Putri telah kembali dari kampusnya, dia segera masuk kedalam rumahnya.
"Jadi kita pergi ma?" kata Putri yang sudah mulai akrab kembali dengan mamanya, yang sebelumnya mereka tidak saling tegur karena Putri merasa selalu di omelin oleh mamanya, begitu juga Widiya yang tidak mau menegur anaknya lantaran kesal dengan tingkah Putri, namun itu tidak berlangsung lama hanya sehari atau dua hari saja.
"Iya jadi.." jawab Widiya ringkas, saat dia sedang berada diruang keluarga untuk menonton acara tv, "mama siao-siap dulu ya?" kata Widiya sambil mematikan layar tv dan menuju ke kamarnya.
Putri hanya berlalu menaiki anak tangga sutu demi satu untuk menuju ke kamar tidurnya yang berada di lantai dua.
Setengah jam kemudian, mereka berkumpul di ruang tamu, putri yang turun dari tangga melihat mamanya telah menunggunya di ruang Keluarga.
"Kita berangkat sekarang ma?" ajak Putri yang telah berada dihadapan Widiya.
"Apa kamu nggak makan dulu?" tanya Widiya.
"Ah nanti ajalah ma, disana nanti kita kan bisa makan?" jawab Putri yang sembari membenahi pakiannya, "inikan acara syukuran, pasti ada makan-makannya dong, kalau Putri makan sekarang, ntar disana Putri nggak bisa makan dong?" sebut Putri.
"Oh iya ya..., ya sudalah, yuk kita berangkat sekarang" ajak Widiya dengan menyambar sebuah tas yang ada di sofa kemudian melangkah keluar rumah menuju garasi.
Putri mengikutingnnya dari belakan, yang juga menuju ke garasi mobil.
Mobil Pajero Sport berwarna hitam telah menyala, Putri dan Widiya sudah berada didalamnya, perlahan Widiya yang menyetirnya mulai menginjak pelan pedal gas dan Pajero itu berjalan perlahan menuju pagar rumah.
Seorang Security penjaga segera membukakan pintu pagar itu untuk bisa keluar mobil yang dikendarai oleh Widiya.
Setelah pintu pagar terbuka, mobil itu segera melaju ke arah jalan raya menuji jalan besar.
Setelah mobil tersebut keluar, Security itu segera menutup pagar rumahnya.
Ditengah cuaca yang sangat panas, saat ini Kota Medan dan Sekitarnya tengah mengalami musim kemarau.
lanjut👍👍👍👍