NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:135.6k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN AURA LUMINAR

Tak

Tak

Tak

Aura melangkah masuk dengan tenang, suara ketukan sepatu hak tingginya terdengar tegas memecah keheningan aula pesta, bibirnya melengkungkan senyum miring yang amat dingin dan mematikan saat matanya mengunci pandangan Luis dan Elisabeth.

"Maafkan keterlambatan saya, Yang Mulia Kaisar," ucap Aura dengan suara nyaring dan tenang yang memenuhi seluruh ruangan.

"Tampaknya, ada yang baru saja mengumumkan kematian saya sebelum saya sempat menyapa seluruh tamu malam ini," lanjut Aura penuh penekanan.

Para tamu undangan berbisik-bisik riuh, keterkejutan bercampur menjadi satu memenuhi ruangan aula megah itu.

Luis mematung di tempatnya, matanya melotot lebar, melihat gadis yang dia dorong ke danau tiga hari yang lalu.

Di sisi lain, Elisabeth mencengkeram lengan Luis begitu erat hingga kuku-kukunya hampir menancap di kulit sang pangeran, wajah Elisabeth yang tadinya penuh kemenangan kini berubah pucat.

"A-aura...?" gumam Luis terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan ludahnya sendiri.

Aura berhenti tepat di tengah aula, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap Luis dan Elisabeth dengan tatapan menghina yang setara dengan melihat serangga menjijikkan.

"Kenapa, Pangeran? Kenapa wajahmu pucat sekali seperti baru melihat hantu?" sindir Aura dengan suara yang cukup nyaring untuk didengar seluruh penjuru aula.

"Bukankah tadi kamu dengan bangganya bilang kalau aku sudah mati tenggelam dan bunuh diri di dasar danau?" lanjut Aura, menyunggingkan senyum miring yang begitu sarkas.

Luis membuka mulutnya, mencoba merangkai kata untuk membela diri, namun otaknya mendadak buntu. Ia benar-benar tidak menyangka gadis bodoh yang didorongnya ke danau beberapa hari lalu kini berdiri di hadapannya dalam keadaan hidup, bahkan tampil jauh lebih memukau dari sebelumnya.

Di tengah keheningan yang mencekam, suara tawa kecil terdengar dari sudut barisan tamu.

Baron Kenny Velis, ayah dari Elisabeth, maju beberapa langkah bersama istrinya, Baroness Olivia Velis.

Meski wajah mereka sedikit pucat karena terkejut, Baron Kenny langsung memasang senyum licik khas penjilat yang merasa posisinya masih aman.

"Ah, Lady Aura! Ya ampun, Anda masih hidup!" seru Baron Kenny dengan nada yang dibuat-buat lega, meski matanya menyiratkan kepanikan.

Tentu saja pria paruh baya itu tahu apa yang dilakukan oleh putri nya dan Pangeran Luis pada gadis itu beberapa hari yang lalu.

"Kami sekeluarga sangat cemas mendengar rumor Anda hilang, tapi sungguh, cara kemunculan Anda ini agak tidak sopan, tahu!" lanjut Baron Kenny, mencoba membalikkan keadaan.

Baroness Olivia, istri sang Baron, langsung menimpali dengan nada sinis sambil melipat kedua tangan di dadanya.

"Benar sekali, Lady Aura! Anda ini anak perempuan dari seorang Duke, tapi kenapa hobi membuat sensasi murahan seperti ini?" cibir Baroness Olivia tajam.

"Hanya karena masalah sepele dengan Pangeran Luis, Anda sengaja bersembunyi lalu muncul di acara ulang tahun Kaisar demi mencari perhatian? Sungguh tidak tahu malu!" lanjut wanita paruh baya itu dengan dagu terangkat tinggi.

Mendengar hinaan itu, Duke Daren yang berdiri di samping Aura langsung mendengus murka, auranya sebagai seorang panglima perang yang ditakuti langsung menekan seisi ruangan.

"Jaga mulut kotor kalian, Baron Kenny! Beraninya kalian menuduh putriku mencari perhatian?!" bentak Duke Daren dengan suara menggelegar, membuat Baron Kenny langsung ciut dan mundur selangkah.

Sebelum ayahnya bertindak lebih jauh, Aura mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar Duke Daren tenang.

Aura melangkah maju perlahan, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Baron Kenny dan Baroness Olivia. Senyum mengejek terukir di bibirnya.

"Wah, wah... lihat siapa yang berbicara tentang sopan santun dan tidak tahu malu," ucap Aura dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun menusuk tajam.

"Baron Kenny dan Baroness Olivia, keluarga bangsawan kelas rendahan yang kerjaannya cuma menjilat dan menempel pada kekuasaan orang lain," lanjut Aura meremehkan.

Wajah Baroness Olivia langsung memerah padam karena marah.

"L-Lady Aura! Jaga ucapanmu!" jerit Baroness Olivia tidak terima.

"Kenapa? Tersinggung?" potong Aura cepat, suaranya kini terdengar jauh lebih dingin dan mendominasi.

"Kalian bilang aku tidak tahu malu? Lalu bagaimana dengan putri kalian, Elisabeth, yang dengan sangat tidak tahu malunya bergelayut di lengan tunangan orang lain bahkan sebelum jasadku benar-benar ditemukan?" cecar Aura, menunjuk tepat ke arah Elisabeth.

"Kalian sekeluarga tidak punya cermin, ya? Atau memang urat malu kalian sudah putus sejak lahir?" lanjut Aura telak, membuat seisi aula menahan napasnya mendengar kepedasan mulut sang Lady Luminar.

Beberapa bangsawan di belakang bahkan kedapatan menutup mulut menahan tawa mendengar skakmat telak itu.

Sementara Elisabeth hampir menangis karena malu, dia bersembunyi di balik punggung Luis sambil menarik-narik lengan pangeran itu.

"Pangeran... lihat dia! Dia menghina keluargaku!" adu Elisabeth dengan suara bergetar.

Luis yang merasa harga dirinya diinjak-injak di hadapan sang Kaisar akhirnya nekat maju, dia menatap Aura dengan kilatan amarah di matanya.

"Aura! Cukup! Jangan membuat keonaran di acara ulang tahun Kaisar!" hardik Luis dengan suara tinggi, mencoba menutupi rasa paniknya.

"Kalau kamu memang tidak mati, kenapa kamu tidak langsung pulang ke kediamanmu malam itu, dan ada rumor tentang kematian mu? Lalu kini kamu malah datang ke sini membuat keributan?! Jelas-jelas kamu sengaja ingin mempermalukan aku dan Elisabeth!" lanjut Luis menuduh.

Aura mendengus sinis, ia menatap Luis dari atas sampai bawah dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi.

"Mempermalukanmu?" ulang Aura dengan nada mengejek.

"Pangeran Luis yang terhormat, tanpa aku lakukan apa pun, kebodohan dan kebusukanmu itu sudah lebih dari cukup untuk mempermalukan dirimu sendiri di depan seluruh kekaisaran," jawab Aura tajam.

"Dan tentu saja aku melakukan itu agar bisa melihat ekspresi kepanikan di wajah kalian saat melihatku hidup kembali," lanjut Aura tersenyum miring.

"Cukup!"

Suara berat dan dingin memecah perdebatan itu.

Kaisar Zane, yang sedari tadi duduk tenang di atas singgasananya sambil mengamati drama tersebut, akhirnya berdiri dari kursi kebesaran nya.

Seluruh aula kembali menunduk hormat, sementara Luis dan Elisabeth langsung gemetar ketakutan karena menyadari mereka kini seperti nya tidak akan selamat dari kemarahan Kaisar Zane.

Kaisar Zane berdiri tidak jauh dari posisi Aura dan Luis, tatapan tajamnya menyapu wajah mereka satu per satu.

"Luis," panggil Kaisar Zane dengan suara berat yang menggetarkan dada.

Glek

Luis meneguk ludahnya susah payah, lalu membungkuk kaku.

"S-saya, Yang Mulia..." jawab Luis, terbata-bata.

"Kemarin, kamu berdiri di hadapanku dan bersumpah dengan penuh percaya diri bahwa gadis ini sudah mati bunuh diri karena stres," ucap Kaisar Zane, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh ancaman mematikan.

"Sekarang, jelaskan padaku... bagaimana bisa orang yang kamu bilang sudah mati, kini berdiri di sini dengan sangat sehat dan menuntut keadilan?" lanjut Kaisar Zane, menatap Luis tajam.

1
Osie
emang kudu di matiin nih si luis biar berkurang orang jahat
mery harwati
Zane Zane ada cuti kerja juga bwt kaisar seperti dirimu ya 😀
mery harwati
Zane ini ada vote bwt mu agar jangan mlehoy menghadapi musuh²mu Zane 💪
mery harwati
Bagus Zane, penggal kepala Luis & juga kepala ibu kandung Luis serta ayah kandung Luis juga
kaylla salsabella
di tunggu karya terbaru nya mak 😍😍😍 sehat selalu😍😍😍
kaylla salsabella
alhamdulillah akhirnya happy ending😍😍😍😍 terimakasih atas karya " mal thor....
kaylla salsabella
akhirnya mati juga si luiz
kaylla salsabella
tak.... kepala terlepas🤣🤣🤭🤭
kaylla salsabella
alhamdulillah cuman mimpi
Choirul Ipanani
di tunggu karya barunya Thor sukses selalu buat mu Thor 💪💪
Tiara Bella
ehhh udh tamat aja ditunggu cerita lainnya Thor sehat selalu.....😍
Pa Muhsid
kaisar eror beraninya lagi tidur😴 coba kalau lagi melek berani gak tuh
miss blue 💙💙💙
kaaaakkk, kamu bikin gelisah 😭😭😭😭
IG : hofi03_skrniii: tenang kak, tenangggg😆
total 1 replies
Osie
eh luis beneran kabur n nyaman jd pelayan istana kan???? moga inspeksi dadakan nich berbuah hasil n luas ditangkap
Osie
aaacchhh tadinya udah kecewa banget aku gegara aura meninggal..syukurlah hanya mimpi dan jgn sampai jadi kenyataan 💪💪💪💪
Choirul Ipanani
pokonya sukse buat athotr
IG : hofi03_skrniii: terimakasih sayangggg 🫶🏻
total 1 replies
Choirul Ipanani
😄😄😄 Thor kamu sukaes bikin para pembaca emosi
Sartin Gusasi
mantap kembar
Tiara Bella
ceritanya bagus aku suka bngt cerita author satu ini bener² luar biasa
IG : hofi03_skrniii: terimakasih sayangggg 🤍
total 1 replies
Tiara Bella
bahagia selalu ya Aura sm Zane....sm anak² mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!