NovelToon NovelToon
CINTA TAK PERNAH SALAH

CINTA TAK PERNAH SALAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Teras

Prolog
Cinta dan penantian adalah sebuah paket yang berbeda, namun memiliki keterkaitan.
Banyak laki-laki yang datang namun belum ada yang mematahkan penantian Sheina terhadap Dave selama bertahun-tahun?.
Hingga akhirnya Sheina bertemu dengan teman Dave yaitu Rangga.
Apakah Rangga dapat mematahkan penantian Sheina?
Apakah Sheina dapat membuka hatinya untuk Rangga?
Apakah Sheina dan Dave bisa bersatu? Atau justru Sheina dan Rangga yang akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16

BUTUH AMBULANCE

Sia – sia aku menjumpai dedemit itu bukannya mendapatkan passwordnya justru yang ada capek karena harus naik ke lantai empat kampus, gumam Sheina.

Sheina yang tidak memperhatikan jalan menabrak seseorang.

Brukk.

Seketika Sheina mendongakkan kepalanya.

“Maaf, maaf”.

“ Tidak apa-apa, santai saja”.

“Bang Dimas, kapan abang pulang?”.

“Kemarin”.

Dimas adala mahasiswa teladan yang lagi mengikuti olimpiade programmer tingkat nasional.

“Bagaimana kabarnya, Shei?”.

“Alhamdulillah sehat, abang sendiri bagaimana kabarnya?”.

“Seperti yang kamu lihat, kenapa kamu tadi tidak melihat jalan? Apa ada masalah dengan tugas kuliah?”.

“Hehehe, kira-kira begitu lah bang”, Sheina hanya cengar cengir.

“Tugas apa memangnya?”.

“Biasa bang, tugas Web Design”.

“Itu mah mudah sekali tugasnya, Shei, apakah kamu ingin abang bantu?”.

“Mau kali lah bang, tetapi gratis kan?”.

“Hahaha, khusus untuk mu gratis tis tis tis”.

“Mantap, kalau begitu besok – besok saja kita bahasnya bang. Karena abang kan baru tiba pasti capek dan pasti banyak yang harus diurus dan diselesaikan”.

“Kamu memang wanita yang pengertian. Ok deh kalau begitu,nanti ketika kamu ingin membahasnya dengan abang, kita bisa bertemu di tempat biasa”.

“Ok, siap bos”, Sheina mengangkat tanganya memberikan tanda hormat.

“Abang kesana dulu ya”, tunjuk Dimas kesuatu ruangan.

“Ok bang, Sheina pun ingin pulang”.

“Hati-hati Shei, jangan kebut- kebut”.

Sheina mengangkat tangannya dan membentuk huruf “o” sebagai jawabannya.

Dilantai dua kampus ada sepasang mata memperhatikan mereka.

Sheina dengan siapa itu kok sepertinya mereka akrab banget. Apa jangan-jangan itu kekasihnya Sheina? Atau orang yang suka dengan Sheina? hadeuh, sepertinya aku akan memiliki saingan, batin Rangga.

Akhirnya ada jalan keluar juga dan untungnya menabrak bang Dimas. Coba kalau tidak, mungkin tidak akan bertemu dengannya atau tidak akan tahu kalau bang Dimas sudah kembali, gumam Sheina yang menuju parkiran.

Sheina bergegas meninggalkan pelataran kampus dan malam ini hatinya lagi gembira sehingga dia mengendarai motor dengan sangat pelan.

Senandung lagu juga tidak lupa dia lantunkan.

Tak terasa Sheina tiba dirumah, setelah memberi salam dan bersih-bersih, Sheina masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat sebab tubuhnya terasa sangat pegal.

Senja menyapa di sore hari, waktunya Sheina untuk bersiap-siap pergi kekampus. Walaupun hari ini dia tidak memiliki jadwal perkuliahan, namun hari ini hati nya sangat gembira pasalnya tugasnya akan segera selesai.

Setibanya dikampus, Sheina lalu memarkirkan motornya dan bergegas menuju ke suatu ruangan yang telah disepakati untuk pertemuan.

“Assalamualaikum, abang ada dikampuskan?”, salam Sheina mengawali panggilan yang dilakukannya.

“Waalaikumussalam, iya Shei. Memangnya kamu ada dimana?”.

“Ini mau meluncur kesana”.

“Ok, abang tunggu”.

Seketika panggilan pun terputus.

Diseberang parkir ada sepasang mata yang memperhatikannya.

Sheina mau apa datang ke kampus kan dia tidak memiliki jadwal kuliah? dan dia lagi menelepon siapa?, batin Rangga.

Sheina dengan santainya melewati Rangga dan Rangga diam-diam mengikutinya.

Sheina memilih bangku panjang dengan sebuah meja didepannya, kemudian dia mengambil ponselnya.

Sheina : Bang, aku sudah berada diperpustakaan dan sudah diposisi yang biasa.

Dimas :Ok, tunggu sebentar, abang akan segera kesana.

Rangga yang diam-diam mengikuti Sheina akhirnya memilih bangku yang tidak terlalu jauh darinya.

Itu kan Dimas, mau apa dia kesini?. Apa jangan-jangan yang ditunggu Sheina adalah dimas?, batin Rangga.

“Apakah kamu sudah lama disini, Shei?” tanya Dimas yang langsung duduk di samping Sheina.

“Tidak kok bang”.

“Memangnya ada masalah apa dengan tugasmu?”.

“Ini”, Sheina menyodorkan laptopnya.

“Siapa yang memprotectnya?, apakah ini dikerjakan oleh orang?”.

Sheina hanya mengangguk.

“Lalu kenapa di protect?”.

Sheina hanya menggelengkan kepalanya.

“Lain kali kalau kamu ada tugas yang tidak kamu mengerti, kamu bisa mencari abang jangan mencari yang lain, paham”.

“Tapi abang kan lagi ada olimpiade jadi mana mungkin aku tega mengganggu konsentrasi abang”.

“Hmmm, kamu memang pengertian.”

“Apakah abang bisa membuka passwordnya?”.

“Kalau ini mah mudah sekali, Shei”.

“Jangan coba – coba menghancurkan hasil karya orang!”, tiba-tiba Rangga muncul.

“Oh, jadi ini hasil karya mu”, Dimas senyum mengejek.

“Sudah kamu minggir sana biar aku saja yang membuka passwordnya”.

Dimas pun beranjak dari tempat duduknya dan pindah kesisi kiri Sheina.

“Untuk apa kamu masih disini lagian kan sudah ada aku jadi kamu bisa pergi sekarang!. Karena kalau kamu disini hanya akan menyemak saja dan merusak pemandangan”.

“Memangnya apa urusannya dengan mu?”.

Sheina yang melihat kejadian tersebut memilih menjadi penengah.

“Ini sebenarnya mau bantuin atau mau debat sih?, kalau mau debat ya sudah silahkan teruskan dan biar aku mencari orang lain saja untuk membantuku”, seketika Sheina ingin mengambil laptopnya dari Rangga.

“Tidak perlu Shei,biar aku saja yang membantumu”, cegah Rangga.

“Awas Shei ada batu dibalik udang”, celoteh Dimas.

“Yang benar ada udang dibalik batu, dodol”, tegas Rangga.

“Ha, itu maksudnya”, balas Dimas.

Sheina hanya geleng-geleng melihat tingkah dua laki-laki yang bersamanya.

“Shei, abang kesana dulu ya, lagian sudah ada Rangga dan dia juga pintar program seperti abang”.

“Iya bang”.

“Ingat Shei, hati-hati ! ada udang dibalik batu”, Dimas yang berlalu dan tidak lupa mengelus kepala Sheina.

Sheina hanya senyum dan melihat kepergian Dimas.

“Kamu kok bisa kenal dengan Dimas?”.

“Dia penyelamat ku disaat aku buntu waktu ujian Mid algoritma”.

“Memangnya selain dia siapa lagi yang bisa membantumu dalam program”.

“Ada Danu, ada Faisal, ada Yanda dan ada Pak Budi”.

“Ha?, Pak Budi?”, Rangga menoleh kepalanya ke arah Sheina.

“Setengah dari tugas ku yang sekarang kamu pegang adalah campur tangan dari Pak Budi”.

“Jadi”,

“Ya, Dave hanya mengerjakan setengahnya namun belum selesai dan sekarang kamu yang mengerjakan hingga selesai”, jelas Sheina yang langsung memotong perkataan Rangga.

Gila ini perempuan sampai-sampai dosen pun mau membantu untuk mengerjakan tugasnya. Jadi penasaran seperti apa sebenarnya dia, batin Rangga.

“Ini sudah terbuka”, Rangga menyodorkan laptopnya kepada Sheina.

“Aku akan mengeceknya terlebih dahulu”.

Ternyata kamu lebih cantik kalau dilihat dari dekat, eh tunggu dulu, kenapa bibirnya warna merah? Tapi tetap menggoda sih, jarak segini dekatnya pun aku masih tidak bisa mencium mu. Entah aku yang bego atau aku yang takut kamu marah. Tapi sejak kapan aku memperdulikan itu? selama ini apa yang aku mau pasti akan aku dapatkan

tapi kenapa itu tidak berlaku kepada Sheina?,batin Rangga.

“Ini bagaimana cara menggunakannya?”, tanya Sheina.

Sheina yang menolehkan kepalanya ke arah Rangga, seketika mata mereka bertemu dan jarak mereka sangat dekat hingga mereka bisa merasakan nafas masing-masing. Jarak bibir mereka pun hanya satu jari. Kenapa jantungku sepeti ini dan kenapa juga ini tubuhku tiba-tiba seperti stroke?. Argh!! kenapa penyakit komplikasinya kambuh lagi sih. Dan sial, junior ku. Argh! bisa gila aku kalau dekat-dekat dengan Sheina. Please Shei, jangan menggoda juniorku dengan jarak seperti ini karena aku tidak sanggup. Ambulance mana ambulance tolong panggil kan ambulance, teriak batin Rangga.

Drt drt drt. Seketika Sheina mengalihkan pandangannya dan melihat ponselnya, segera Sheina menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.

“Assalamualaikum, ada apa man?”,salam Sheina.

“Waalaikumussalam, apakah kakak tahu dimana lipstik ku?”, tanya Manda.

“Oh, kakak lupa mengatakan kalau tadi kakak menggunakannya karena punya kakak habis. Dan lipstiknya kakak simpan dilemari hias, kamu bisa mencarinya tetapi jangan diobrak abrik ya!”.

“Ok”.

Setelah sambungan telpon terputus Sheina kemudian mengarahkan pandangannya ke Rangga.

“Kamu kenapa Rang kok berkeringat gitu?”, Sheina menunjuk kening Rangga.

“Aku tidak apa – apa, Shei”.

“Benaran kamu tidak apa-apa?”, tanya Sheina yang memastikan keadaan Rangga, seketika dia meletakkan punggung tangannya kekening Rangga untuk mengecek suhu tubuhnya.

Ya ampun Shei, sentuhan mu membuat juniorku semakin meronta ronta. Ini bukan keringat karena sakit Shei, tetapi

ini keringat tersiksa, sesak. Jangan sampai aku khilaf, Shei, bisa – bisa bibir mu yang akan menjadi santapan ku. Betul –betul butuh ambulance dan iman ku dipertaruhkan berada didekat mu, Shei, batin Rangga.

“Aku tidak apa-apa, Shei, aku akan membeli minum dulu ya”, Rangga seketika melepaskan tangan Sheina dari keningnya dan dia segera berlalu dari sana.

Bel pun berbunyi menandakan telah berakhirnya les terakhir.

Hmmm, tidak terasa juga ya sudah bel pulang, ya sudah lah aku beres-beres dahulu sekalian menunggu Rangga kembali dari beli minum, gumam Sheina.

Syukurlah sudah bel kalau tidak bisa mati keringetan aku gara-gar hasrat yang bergejolak ini, tetapi kenapa setiap dekat dengan Sheina aku seperti terkena komplikasi ya? apa aku benaran cinta dengan Sheina? rasanya aku bukan hanya ingin bibirnya tetapi ingin semua yang ada di Sheina, aku ingin mengikatnya agar dia menjadi milikku, batin Rangga.

Setelah melakukan pembayaran, Rangga pun bergegas menuju tempat dimana Sheina masih menunggunya.

“Maaf lama”, Rangga yang baru muncul dari kantin.

“Santai saja aku pun lagi beres-beres”.

“Ini minum untukmu?”.

Seketika Sheina menerima botol minumnya dan meletakkannya diatas meja sebab Sheina masih sibuk beres beres.

Rangga yang sudah merasa kehausan dan butuh menyegarkan tubuhnya yang panas, dengan rakusnya menenggak minumannya hingga tersisa setengah.

Giliran Sheina yang kehausan, tanpa melihat dengan cepat Sheina mengambil dan menenggak minumannya yang ada didekatnya.

Rangga yang mmelihatnya menaikkan alisnya.

“Itu minuman milikku, Shei dan itu juga bekas bibirku”, jelas Rangga.

Byuurr!

Seketika minuman yang ada dimulut Sheina keluar tanpa permisi.

Sheina menoleh ke arah Rangga dengan tatapan tak percaya.

Itu artinya kami berciuman walaupun secara tidak langsung, batin Sheina.

“Iya kamu benar,Shei, itu artinya kita berciuman walaupun tidak sengaja, apa kamu mau ciuman yang sungguhan?”, jawab Rangga yang seolah olah tahu apa yang sedang dipikirkan Sheina.

Seketika semburat merah muncul di wajah Sheina. Pasalnya Sheina belum pernah melakukan ciuman dan ini adalah ciuman pertamanya, walaupun tidak sengaja.

Sheina bergegas pergi meninggalkan Rangga.

“Kamu mau kemana, Shei?”.

“Pulang”.

Tunggu, ada apa dengan gadis itu dan kenapa wajahnya tadi memerah? apa jangan-jangan ini pertama kalinya dia berciuman?, hahaha, dia malu rupanya, Rangga berbicara sendiri.

1
Yasmine Hafidzah
Luar biasa
Yasmine Hafidzah
Terima kasih sarannya Thor, sarannya sangat membngun sekali 😁
Ryu Zen
Halo thor, mau ngasi saran dikit. Sehabis tanda tanya g perlu koma lagi. Semangat yaa
Yasmine Hafidzah: Terima kasih thor untuk saran membngunnya 😁
total 1 replies
FTA
lanjutkan karya nya, semangat 🤩
mboke Ayux
semangat ya thor
Yasmine Hafidzah: ok mboke ayux
ditunggu saran yang membangunnya
total 1 replies
mboke Ayux
ayo dong Thor up lagi..jgn lama2.semangat ya thor
Yasmine Hafidzah: terima kasih sarannya mboke
maaf, authornya cuma bisa up setiap pagi saja

ditunggu saran lainnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!