Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Batas Yang Mulai Kabur
Kegelapan pekat yang tiba-tiba menyelimuti penthouse mewah itu seolah menghentikan alur waktu dalam seketika. Di tengah riuh suara hujan deras dan terpaan angin malam yang menghempas dinding kaca gedung tinggi SCBD, hanya ada hembusan napas yang saling bertabrakan dan detak jantung yang berpacu liar di dalam ruangan sunyi itu.
Aura terpaku kaku dalam pelukan Reno. Kedua tangannya tanpa sadar meremas erat bagian dada kemeja putih Reno demi menopang tubuhnya yang sempat kehilangan keseimbangan akibat tersandung. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh dan kekokohan dada pria itu dari jarak yang begitu dekat. Aroma parfum kayu cendana bernuansa maskulin yang khas menyeruak begitu kuat, memabukkan indra penciumannya di tengah kegelapan malam.
"Kamu tidak apa-apa?" suara Reno terdengar sangat dekat, berbisik tepat di atas kening Aura. Suara berat yang biasanya sarat akan ketegasan itu kini bergetar halus, kehilangan nada dingin yang selalu menyertainya.
Aura menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras menguasai suaranya yang mendadak tercekat di tenggorokan. "S-saya tidak apa-apa. Terima kasih banyak..."
Reno tidak langsung melepaskan pelukannya. Untuk beberapa detik yang terasa begitu melambat, pria berhati es itu membiarkan posisi mereka tetap seperti itu merengkuh pinggang mungil Aura di tengah kegelapan, seolah enggan mengurai kehangatan asing yang mendadak merayapi hatinya. Namun, kesadaran dan rasionalitas dengan cepat merayapi benak sang CEO. Reno berdehem pelan, perlahan membantu Aura berdiri tegap kembali sebelum menarik tangannya dengan canggung dari pinggang wanita itu.
Dengan satu tangan yang terampil, Reno merengkuh ponsel di atas meja makan dan menyalakan lampu kilatnya. sinar cahaya putih yang terang itu seketika menerangi wajah mereka berdua yang hanya berjarak beberapa jengkal.
Aura dengan cepat menundukkan pandangannya, merapikan bagian depan bajunya dan meyakinkan ujung hijab pink lembutnya terpasang rapi. Wajahnya terasa panas membakar, merah padam oleh rasa canggung dan debaran dada yang teramat sangat.
"Kakimu tersandung apa tadi? Ada bagian yang sakit atau terkilir?" tanya Reno seraya mengarahkan cahaya ponselnya ke bawah, memeriksa posisi kaki Aura dengan raut khawatir yang tersirat tipis.
"Hanya tersandung tepi karpet tebal tadi. Saya benar-benar baik-baik saja, tidak ada yang terluka," jawab Aura pelan, berusaha bersikap setenang dan seprofesional mungkin di hadapan pria itu.
Reno menatap raut wajah Aura yang masih menyisakan raut terkejut. Pria itu kemudian menekan tombol darurat dari sistem smart home di dinding, yang seketika mengaktifkan lampu cadangan bernuansa warm yellow yang lembut dan menenangkan di sudut-sudut ruangan.
"Duduklah di sofa dulu," titah Reno, nadanya berusaha kembali datar meski matanya tak bisa menyembunyikan perhatiannya pada Aura. "Sistem genset cadangan gedung ini biasanya butuh waktu sekitar lima menit untuk menyala total."
Aura menurut tanpa bantahan. Ia melangkah perlahan menuju sofa kulit di ruang tengah dan duduk di sana dengan menyatukan kedua tangannya di pangkuan. Sementara itu, Reno melangkah kembali ke meja makan, meraih cangkir porselen berisi teh chamomile hangat yang baru saja diseduhkan Aura sebelum lampu padam tadi. Pria itu menyesapnya perlahan.
Rasa hangat dan harum aroma bunga chamomile menyapa tenggorokannya, memberikan efek tenang yang ajaib di dalam dadanya yang sempat bergejolak hebat. Reno melirik Aura yang duduk diam menatap rintik hujan di balik jendela kaca.
"Tehnya... sangat enak," ujar Reno pelan, meletakkan kembali cangkir porselen itu ke atas meja. "Terima kasih."
Aura mendongak, sedikit terkejut mendengar pujian yang begitu tulus dari bibir pria yang terkenal irit bicara itu. Senyum tipis yang amat hangat dan manis perlahan terukir di bibirnya. "Baguslah kalau kamu menyukainya. Teh chamomile memang sangat bagus untuk meredakan stres dan membuat tidur lebih nyenyak setelah seharian bekerja keras."
Reno terpaku menatap senyuman itu. Ada sesuatu yang sangat berbeda pada cara Aura tersenyum padanya malam ini sebuah senyuman tulus yang bukan dibuat-buat untuk kepentingan kamera siaran berita atau demi menyenangkan Nenek Ratna, melainkan senyuman dari seorang wanita yang benar-benar peduli padanya. Perasaan aneh yang sangat asing mendadak menyelinap masuk, mengikis sedikit demi sedikit kebekuan di dalam hatinya.
Keesokan paginya,kilau sinar matahari pagi yang hangat menembus dinding kaca tebal penthouse, menggantikan nuansa kelam hujan deras semalam. Suasana rumah yang luas itu terasa jauh lebih hidup dengan kehadiran Bu Ning, pekerja rumah tangga paruh waktu yang baru saja selesai menyiapkan hidangan sarapan di area dapur bersih.
Aura sudah tampil rapi sejak pukul tujuh pagi. Ia mengenakan setelan tunik elegan berwarna pink pastel dan hijab yang terpasang sempurna, memancarkan kesan anggun dan bersahaja. Saat melangkah menuju area meja makan, ia melihat Reno sudah duduk di sana dengan kemeja bahan berwarna abu-abu gelap. Namun, ikatan dasinya masih tergantung longgar di lehernya seraya matanya fokus membaca tumpukan berkas rapat di layar tablet.
"Selamat pagi, Nona Aura," sapa Bu Ning dengan senyum ramah seraya meletakkan piring berisi sarapan dan secangkir teh di meja.
"Selamat pagi juga, Bu Ning. Terima kasih banyak ya," balas Aura ramah dengan senyuman hangatnya yang khas.
Reno mendongak dari layar tabletnya. Pandangan matanya sempat terpaku sejenak, menikmati penampilan Aura pagi ini yang terlihat begitu segar, anggun, dan menenangkan jiwa.
"Rapat direksi dengan investor asing dimajukan jadi jam delapan lima puluh pagi ini," kata Reno seraya mematikan layar tabletnya. Pria itu berdiri dari kursi, mencoba merapikan dan mengikat dasinya sendiri. Namun, gerakan jemarinya sedikit kaku karena konsentrasinya terpecah oleh tumpukan beban pekerjaan di kepalanya.
Aura yang memperhatikan hal tersebut sempat ragu-ragu sejenak. Namun, mengingat peran barunya sebagai seorang istri meski berawal dari sebuah lembaran kontrak,Aura memberanikan diri mengambil satu langkah mendekat.
"Boleh saya bantu merapikan dasinya?" tawar Aura lembut.
Reno menghentikan gerakan jemarinya di leher. Ia menatap ke dalam mata Aura yang jernih dan polos, lalu mengangguk pelan tanpa mengluarkan sepatah kata pun.
Aura mengikis jarak di antara mereka berdua. Ia mengulurkan kedua tangannya yang halus, memegang pangkal dasi Reno dan mulai merapikan simpulnya dengan gerakan jemarinya yang terampil dan telaten. Jarak yang kini hanya terpaut belasan sentimeter ini membuat aroma segar sabun mandi dan parfum kayu cendana milik Reno kembali menyerbak memenuhi indra penciuman Aura.
Reno menunduk, menatap raut wajah cantik di depannya dari jarak yang sangat dekat. Dari posisi ini, ia bisa melihat betapa lentiknya bulu mata Aura dan betapa halusnya kulit pipi wanita itu. Hembusan napas Aura yang teratur dan hangat terasa begitu lembut menyapu bagian dada kemejanya.
"Nah, sudah selesai dan rapi," bisik Aura seraya menepuk pelan permukaan dasi yang kini terikat sempurna di kerah kemeja Reno.
Reno meraba simpul dasinya sekilas, lalu memalingkan pandangannya kembali menatap tepat ke dalam manik mata Aura. "Terima kasih banyak, Aura," ucapnya dengan nada suara yang sangat dalam dan hangat.
Bu Ning yang melihat pemandangan manis dan penuh perhatian itu dari sudut area dapur hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Bagi siapa pun yang melihat mereka berdua pagi ini, tidak akan ada satu orang pun yang mengira bahwa pernikahan pasangan ini hanyalah selembar kesepakatan bisnis di atas kertas.
"Saya pergi ke kantor sekarang," ujar Reno seraya mengambil jas resmi dan tas dokumennya dari atas kursi. "Pak Aslan sudah saya minta untuk mengantarmu ke rumah sakit jam setengah sepuluh nanti untuk melihat perkembangan pengobatan ibumu."
Dada Aura membuncah oleh rasa lega, haru, dan bersyukur. Pria yang di luar terlihat begitu dingin dan arogan ini ternyata menyimpan perhatian yang luar biasa pada keselamatan dan kenyamanan ibunya tanpa perlu ia minta berulang kali.
"Terima kasih banyak, Reno. Hati-hati di jalan ya," ucap Aura tulus seraya mengantarkannya hingga ke depan pintu.
Reno mengangguk singkat. Namun, tepat sebelum pintu lift pribadi penthouse itu tertutup rapat, Reno sempat memalingkan wajahnya kembali hanya untuk menatap Aura yang berdiri melambaikan tangan pelan padanya—sebuah pemandangan hangat dan utuh yang belum pernah ada dalam sejarah hidup sang CEO berhati es itu sebelumnya.