Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Saat A Bao mengatakan hal itu, Zhao Xuan segera membekap mulut A Bao, ia tidak membiarkannya bicara lebih banyak. Ibu Xiu Cai ini terlihat sangat licik. Ia pasti ingin mengambil keuntungan dari keluarga mereka. Zhao Xuan masih tidak mengerti mengapa ibunya setuju membeli tanah mereka seharga satu tael perak.
Meskipun mulutnya di bekap oleh Zhao Xuan,A Bao tetap molotot kan mata besarnya menatap ibu Xiu Cai.
"Kakak ipar, apa kau ingin membeli? sapu ini sepuluh keping tembaga per ikat, kami mengikatnya sendiri," Wang chunniang bangkit dan menjelaskan sambil tersenyum.
"Mengikatnya sendiri ya, kita kan bertetangga, kenapa harus menagih uang?" tanya ibu Xiu Cai sambil menatap sapu yang terlihat sangat kuat itu.
Wang chunniang seketika tertawa, "Kakak ipar, kita kan bertetangga, kalau begitu tanah mu yang kau berikan untuk kami tanami tidak perlu di bayar, bukan?"
Ibu Xiu Cai terdiam, lalu buru-buru berjalan keluar.
Begitu ibu Xiu Cai pergi, Zhao Xuan menanyakan kebingungannya, "Ibu, kalau memang tanah itu tidak bisa di tanami, kenapa ibu mau membelinya?"
" Karena kami membelinya bukan untuk menanam biji-bijian." Wang chunniang melambaikan tangan. "Besok ibu akan kalian ajak lihat. A Bao, kemari, saatnya bibi mengukur ukuran bajumu."
A Bao segera berlari dan merentangkan tangan kecilnya.
"Sepertinya berat badan mu bertambah lagi," kata Lin Xiang pelan.
Wajah tembam A Bao langsung cemberut.
Ibu Xiu Cai bertindak cepat. Tak lama kemudian ia kembali membawa akta tanah. Wang chunniang mengambil dan membacanya sekilas. Tulisannya rapi dan indah, kemungkinan besar sudah di siapkan sejak lama oleh putranya yang seorang Xiu Cai (Sarjana). Hanya perlu di tambahkan jumlah uang satu tael perak saja.
" Kakak ipar, aku tidak terlalu bisa membaca. Kau tidak menipuku kan?"Wang chunniang bertanya sambil tersenyum setelah membaca sebentar.
Mendengar Wang chunniang mengaku tidak bisa membaca, rasa superioritas ibu Xiu Cai langsung Muncul lagi.
"Oh, ternyata kau tidak bisa membaca ya? Ini tidak mungkin salah. Ini di tulis oleh putraku. Aku tadi hanya meminta kepala desa jiao membantu menulis angka satu tael di atasnya." kata ibu Xiu Cai sambil terkekeh.
"Baiklah,kalau begitu sudah di sepakati," Wang chunniang pura-pura berhati-hati saat memberikan uang perak, sambil terus mengawasi akta tanah itu.
Ibu Xiu Cai diam-diam memutar bola mata, namun melihat ada tiga anak di halaman keluarga Zhao, setelah menerima uang, ia tak bisa menahan diri untuk tidak berkata dengan gembira, "chunniang, putraku mengajar di sekolah di kota kabupaten. Biaya belajarnya dua tael perak per tahun. Apa anakmu mau ikut sekolah? "
" tentu saja mau! Aku juga ingin anak-anakku sehebat putramu nanti. tapi kakak ipar, kita kan satu desa, apa biayanya tidak bisa lebih murah? Kalau kami kirim satu anak, apa dua anak kecil itu bisa ikut menumpang belajar juga?" Wang chunniang bertanya dengan pura-pura malu-malu.
Ibu Xiu Cai:"......"
"Aku ada urusan lain,aku pergi dulu," kata ibu Xiu Cai,lalu ia berlari lebih cepat dari siapa pun.
Wang chunniang melihat akta tanah di tangannya,lalu mengangkat alis,"Berhasil."
Namun,seluruh keluarga tidak tahu apa rencana yang sedang ia susun.
Lin Xiang dan Wang chunniang sedang berdiskusi bagaimana membuat pakaian untuk A Bao. Sementara itu,A Bao merengek meminta Zhao Xuan mengajaknya jalan untuk membeli permen Migaotang (permen beras ketan). Jiang Ting yang berdiri di samping menatap Zhao Heng, tetapi ia tidak berani melangkah maju.
"Melihat apa?" tanya Zhao Heng saat menyadari Jiang Ting menatapnya untuk kesekian kalinya.
Jiang Ting melihat Zhao Heng berbicara ke arahnya. Ia berfikir sejenak, lalu tiba-tiba berlutut di depan Zhao Heng.
"Apa yang kau lakukan?" Zhao Heng tidak bereaksi, tetapi Lin Xiang dan Wang chunniang yang mendengar suara itu segera ingin membantu Jiang Ting berdiri.
"Paman Zhao, bolehkah saya meminta paman mengajari saya ilmu bela diri?" tanya Jiang Ting setelah menarik napas panjang.
"Kau ingin belajar agar bisa membunuh musuh dengan tanganmu sendiri?" Zhao Heng mengangkat alis.
Jiang Ting tidak mengangguk maupun menggeleng, "juga untuk melindungi diri."
"Aku orang buta, tidak ada yang bisa ku ajarkan padamu," Zhao Heng menggeleng.
Setelah Zhao Heng bicara, Jiang Ting tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya terus berlutut di sana.
Zhao Heng ;"......"
Melihat Jiang Ting berlutut, A Bao juga berlari tap tap tap dan ikut berlutut di sana dengan bunyi Bong!
" Apa kau ingin lobang di bajumu bertambah banyak? "Zhao Heng memijat pelipisnya, seolah yang berlutut di depannya bukanlah dua anak kecil, melainkan dua masalah besar.
A Bao mengulurkan tangan mungilnya dan menutupi lubang di bajunya.
"Kalian mulai latihan dasar dengan kakak kalian dulu. Setelah itu baru bicarakan yang lain,"Zhao Heng bangkit dan meraba-raba kembali ke dalam kamar.
Jiang Ting pun bangkit,lalu membantu A Bao berdiri.
***
kabar keluarga Zhao membeli dua mu (lahan) tanah dari ibu Xiu Cai dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Pagi itu,saat keluarga Zhao berjalan menuju lahan di tepi sungai,banyak penduduk desa yang memperhatikan mereka.
"Ibu, aku merasa tatapan mereka melihat kita seperti melihat orang bodoh yang tertipu," bisik Zhao Xuan saat berjalan di samping Wang chunniang.
Telinga kecil A Bao bergerak. Ia menarik lengan baju Jiang Ting dan bertanya," Kakak kecil,orang bodoh tertipu itu apa?"
Jiang Ting berpikir sejenak,lalu menjawab,"Itu artinya orang bodoh."
A Bao ber-oh,lalu melihat kesana kemari dengan penasaran. Keluarga mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju lahan di tepi sungai. Tanah itu penuh dengan rumput liar,namun sebagian besar di tumbuhi bayam merah liar (Hong Xiancai). Wang chunniang melihat bayam merah itu sudah tumbuh setinggi mata kaki.
" Kakak ipar, apa kita perlu mencabut rumput liarnya?"tanya Lin Xiang pada Wang chunniang.
"Tidak perlu,hari ini kita hanya datang untuk melihat-lihat saja." jawab Wang chunniang. Ia lalu berjalan sendirian ke tepi sungai. Jelas terlihat bayam merah yang tumbuh di lahan itu jauh lebih tinggi dari pada yang tumbuh di tepi sungai.
"Ibu, sepertinya...akan turun hujan," kata A Bao tiba-tiba saat orang dewasa sedang mendiskusikan tentang lahan itu.
Seketika seluruh keluarga mendongak ke langit. Cuaca sangat cerah,bahkan terasa agak panas.
Zhao Xuan mengulurkan tangan menyentuh dahi A Bao,"Tidak demam kok."
" Sungguh Bu,ayo kita pulang,pulang,"kata A Bao sambil menarik tangan Wang chunniang.
Wang chunniang selalu percaya pada si kecil, meskipun ucapannya terdengar tidak masuk akal.
"Kalau benar-benar hujan,itu bagus sekali. Tahun lalu di desa ini kekeringan parah, hasil panen sedikit. Hujan musim semi itu semahal minyak." ujar Wang chunniang dengan penuh harap.
Keluarga itu datang tergesa-gesa,dan pulang tergesa-gesa.
Mereka Baru saja sampai di rumah,belum sempat setengah jam,hujan deras sudah mulai turun. Awalnya mereka mengira hujan akan berhenti sore hari.
Namun,hujan itu terus turun hingga malam.
A Bao sekarang tidur bersama Lin Xiang. Malam itu,ia meringkuk di dalam pelukan Lin Xiang. suara hujan di luar sangat besar. A Bao semakin menyusut,lalu berkata dengan suara pelan,"bibi,aku belum pernah lihat hujan sebesar ini sebelumnya."
Lin Xiang mengira A Bao takut. Ia memeluk A Bao erat-erat, menepuk punggungnya dengan lembut,dan membujuknya tidur.
"Semoga besok pagi hujannya sudah berhenti." kata Lin Xiang penuh harap.
A Bao menggelengkan kepala kecilnya,"Masih akan hujan,tidak akan berhenti...."
"A Bao berlebihan,cepat tidur," Lin Xiang mengira anak kecil itu hanya mengoceh.
Ternyata hujan itu.... benar-benar turun hingga tengah hari keesokan harinya.
Saat makan siang, Lin Xiang tak tahan untuk bertanya,"A Bao, bagaimana kamu tahu hujan akan turun selama ini?"
Mendengar pertanyaan itu,hati Wang chunniang tiba-tiba mencelos....