Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Firasat
Henry memohon agar diri Cynthia tidak meninggalkannya, namun hatinya sudah bulat. Pikiran ini sudah benar, jika dirinya tidak mungkin bisa melewati rintangan yang lebih berat daripada ini. Cukup sudah memaksakan keadaan yang sangat berbeda untuknya. Sebaiknya Cynthia pergi sebelum semuanya terlanjur lebih jauh.
Kehilangan seseorang ketika sedang sayang-sayangnya adalah pembunuhan terhadap satu jiwa. Sedangkan hatiku masih saja membara untuknya. [Cynthia, Bye London]
***
Jika sebelumnya datang ke London dengan perasaan bersemangat, bahkan ketika harus berlari dan terluka, semua yang dilalui hanya untuk bersama Henry. Sudah cukup untuknya, ketika melihatnya baik-baik saja. Pergi meninggalkan London dengan perasaan terluka, Cynthia tidak ingin membuatnya semakin parah.
Melihat awan mendung yang berjelaga di balik jendela pesawat jet ini, seperti pertanda kemuraman hatinya. Kilat yang menyalak bersahutan, berderu-deru semakin membuat gaduh hati. Cynthia mencoba menarik napas panjang dan mengelus dada, sakitnya tetap di sini. Tidak hilang meskipun sudah diperintahkan.
Setelah 14 jam perjalanan hingga sampai di tanah air, melangkahkan kaki menuruni tangga pesawat ini, Cynthia di antar oleh supir hingga ke rumah nenek. Hamparan perkampungan yang masih asri dan sederhana, berbeda dengan kota. Bahkan perasaannya, tetap merasa rindu dan nyaman berada di kampung sendiri meskipun baru saja melihat London yang menakjubkan.
Cynthia menyapa Bibi dan nenek yang sudah menyambutnya di depan rumah. Memeluknya dengan erat. Cynthia bersyukur nenek sudah lebih baik dan bisa berjalan. Membawa oleh-oleh yang diberikan Henry untuk nenek sebagai kenang-kenangan darinya. Sebuah baju hangat berwarna cokelat muda dengan gambar kota London di belakangnya. Sedangkan Bibi dan Paman mendapatkan kaos dengan tulisan I Love London.
Hingga semua tetangga berkerumun melihat tulisan kaos itu, satu-satu kaos yang tersisa diberikan pada tetangga.
Duduk di depan teras sembari melihat anak-anak mengejar layangan yang jatuh ke sawah. Nenek menghampirinya untuk mengajak makan siang. Saat ini pukul 11.00 siang, sedangkan di London pukul 01.00 dini hari. Henry pasti masih bekerja saat ini. Aku merindukannya.
“Cynthia, kenapa kamu tidak kembali ke kota dan bekerja?” ujar Nenek sembari duduk di atas kursi goyang yang sudah lebih tua usianya ketimbang usia nenek.
“Nenek enggak senang aku di sini,” ucapku sembari membelah ilalang menjadi dua dan membuangnya di halaman.
“Nenek senang … cuma melihatmu sendu begitu, seperti pitik kehilangan induknya, bikin nenek kepikiran saja,” ungkap Nenek, seakan membaca raut sedih wajahku.
“Baiklah Nek, aku akan kembali ke kota dan bekerja, tapi nenek harus sehat ya!”
“Ehm, iya … nenek baik-baik saja.”
Sebelum Cynthia kembali ke kota, Nenek berpesan jika dirinya harus berani dan ikuti kata hati. Jangan biarkan sesuatu membuatnya takut dan tidak berani melangkah.
Ucapan itu yang mengiringi kepergianku ke kota dengan pikiran yang lebih ringan.
***
Keesokan paginya, Cynthia berangkat ke kantor. Cutinya yang sangat panjang yang melebihi dari tanggalnya membuatnya resah pagi itu. Rasanya ingin menghindar dan mencari pekerjaan lain, tetapi jika tidak dihadapi perusahaan ini akan memberikan resume yang buruk tentang kinerjaku.
Bagaimana ini?
Teringat pesan Nenek yang tidak boleh takut dan harus berani menghadapinya.
Memasuki ruangan semua orang melihat Cynthia, apalagi Mbak Silvi yang memberi ekspresi tegang. Benar saja, dirinya dimarahi habis-habisan oleh Pak Darma. Seharusnya Cynthia sudah dipecat dari perusahaan ini, namun karena pekerjaannya sangat baik, akhirnya Cynthia hanya dipindahkan ke kantor cabang.
“Hari ini juga kamu harus pindah ke cabang,” bentak Pak Darma. Kegeramannya sangat menakutkan.
“B-baik Pak, saya akan segera berangkat.” ucapku sembari mengambil barang-barang pribadi dimeja.
Tidak ada yang berani memberikan salam perpisahan, semuanya tertunduk. Hanya Mbak Silvi yang menyalaminya untuk terakhir kali sebelum Cynthia pergi.
“Hati-hati disana, semoga kamu betah,” tutur Mbak Silvi berbisik.
“Cepat pergi!” bentak Pak Darma sekali lagi.
“Kasihan Cynthia yah, padahal kan cuti karena merawat neneknya yang sedang sakit,” ucap Mbak Silvi.
“Aku dengar, itu hanya alasannya saja. Cynthia pergi liburan ke Eropa …,” celoteh lainnya.
“Ah … masa sih, darimana uang sebanyak itu, enggak mungkin ah…,” balas Mbak Silvi tidak percaya. Lalu, karyawan lainnya membisiki Mbak Silvi, memberikan informasi jika Cynthia seorang simpanan Bos.
“Ah … masa sih!” terang Mbak Silvi terkejut.
"Tapi, kalau simpanan Bos, kenapa sekarang dipindahkan ke kantor cabang?...," sambung Mba Silvi lagi.
"Mungkin Bos, sudah bosan kali!" sembari memberikan gestur mengangkat kedua bahu, seakan kebingungan sendiri.
***
“Terima kasih Pak,” ucap Cynthia pada supir kantor yang sudah mengantarnya hingga ke depan kantor cabang. Kantor cabang yang cukup besar, namun terasa asing bagi Cynthia. Hatinya tidak gentar meskipun ada firasat buruk.
Naik ke lantai empat, kantor kepala cabang bernama Abraham Wood, biasa di panggil Pak Bram. Menunggu sekitar sepuluh menit, Cynthia sangat gelisah karena belum sering mendengar kabar jika Pak Bram orang yang genit.
“Masuk,” ujar seorang sekretaris yang tinggi semampai dengan rok pendek, belahan paha yang tinggi dan belaian dada yang terbuka. Dengan raut wajahnya yang terlihat sinis menatap Cynthia, seperti ancaman baginya.
“Selamat datang, Cynthia,” Pak Bram menyambutnya dengan gembira sembari memberinya jabatan tangan. Tangannya tidak ingin lepas darinya dan menatap wajah lugunya seperti ingin menerkam.
Cynthia melepas genggaman itu karena tidak nyaman.
“Saya Cynthia Pak Bram, dipindahkan ke …,” ucapannya terpotong.
“Oiya, Lulu … kamu bisa keluar sekarang,” ujarnya memerintahkan Lulu, sekretarisnya untuk meninggalkan ruangan. Lulu terkejut dan semakin kesal pada Cynthia.
“Silakan duduk, Cynthia,” ucap Pak Bram sangat ramah. Wajah tampan keblaster-blasterannya memang terkesan Don Juan alias playboy.
Sembari mengitari Cynthia di sofa itu, Pak Bram berhenti di belakang punggung Cynthia. Membuatnya sangat terkejut. Pak Bram berbisik padanya, “kamu akan menjadi favoritku, sekarang!”
Apa maksudnya?
“Baiklah, kamu boleh kembali keruanganmu dan meminta Lulu untuk memberikan tugas-tugasmu.” sangat angkuh berlagak tidak terjadi apa-apa. Padahal apa yang dilakukannya barusan telah melecehkannya.
Cynthia hanya berusaha menahan diri dengan ucapan yang membuatnya sangat rendahan.
***
“Steven … Steven ….”
Cynthia memanggilnya berulang kali, Steven yang berlari di depannya. “Jangan pergi, kumohon!” teriak Cynthia memanggilnya. Sembari mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangannya yang semakin dekat.
“Raih tanganku, Cynthia,” ucap Steven. Cynthia tidak bisa meraihnya, Steven semakin jauh. Tiba-tiba, Steven jatuh ke sungai yang deras, menggulung tubuhnya hingga tenggelam.
“Jangaaaan!” teriakku terbangun dari mimpi buruk.
“Henry … Henry!” tanpa sadar aku memanggil namanya. Cynthia terbiasa terbangun dari mimpi dan Henry selalu berada disampingnya. Kali ini Cynthia benar-benar sendirian menghadapi traumanya.
Melihat jam sudah pukul 03.00 dini hari, Cynthia tidak bisa kembali tidur. Hanya belaian, tepukkan di bahu yang bisa membuatnya tenang. Cynthia semakin rindu pada Henry, teringat sikapnya yang lembut.
Baru dua hari tanpanya sudah membuatku gila.
***
Langsung pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp