Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Tirai Sutra
Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun bambu di halaman Paviliun Lanting. Namun, kedamaian pagi itu tidak mampu meredakan ketegangan yang dirasakan oleh Chun’er. Sejak fajar menyingsing, pelayan setia itu terus mondar-mandir di depan pintu kamar, menggigit kukunya karena cemas.
Berita tentang kunjungan tengah malam Kaisar Tang Xuanze ke Paviliun Lanting telah menyebar ke seluruh penjuru istana dalam bagaikan percikan api yang membakar padang kering. Di harem kekaisaran, di mana setiap jengkal tanah diawasi oleh ribuan pasang mata, keistimewaan sebesar itu berarti satu hal: Mu Qingran kini telah resmi menjadi target utama kebencian seluruh faksi bangsawan.
Di dalam kamar, Mu Qingran duduk dengan tenang di depan meja rias perunggu. Jemarinya yang lentik merapikan tusuk konde giok putih pemberian biro istana, menyematkannya di antara rambut hitam legamnya yang tergulung rapi. Tidak ada sedikit pun bayangan kepanikan di wajahnya. Ia justru tampak bagaikan seorang jenderal agung yang sedang menajamkan bilah pedangnya sebelum terjun ke medan perang.
Kriet...
Pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Chun’er yang berlari kecil masuk dengan napas terengah-engah.
"Nyonya! Berita buruk!" seru Chun’er setengah berbisik, wajahnya pucat pasi. "Para pelayan di pasar istana baru saja membisikkan sesuatu. Klan Mei... mereka tidak tinggal diam!"
Qingran bahkan tidak bergeming. Ia melirik bayangan Chun’er dari pantulan cermin perunggu, lalu bertanya dengan nada datar, "Apa yang dilakukan oleh para tikus tua dari Klan Mei di luar istana?"
"Menteri Mei—paman dari Selir Mei—dilaporkan telah mengirimkan petisi rahasia kepada Permaisuri Agung tadi malam," jawab Chun’er dengan suara bergetar. "Mereka menuduh Nyonya menggunakan ilmu hitam dan tipu muslihat rendahan untuk memikat Kaisar, serta mendesak agar Yang Mulia menjatuhkan hukuman pengasingan permanen kepada Nyonya!"
Mendengar itu, sudut bibir Qingran terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin. "Ilmu hitam? Tipu muslihat?" ia mendesis pelan. "Keluarga Mei benar-benar sudah kehabisan akal sehat. Ketika mereka memfitnahku dengan lempengan kayu kutukan beberapa hari lalu, mereka gagal total. Sekarang, mereka menggunakan metode murahan yang sama dengan skala yang lebih besar."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Nyonya?" cemas Chun’er. "Permaisuri Agung memegang kendali atas urusan harem. Jika petisi itu disetujui, kita tidak akan punya kesempatan untuk melawan!"
Qingran perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan jubah panjangnya yang berwarna biru safir dengan bordiran awan perak, memancarkan wibawa yang begitu tenang namun mematikan.
"Jangan cemas, Chun’er," ucap Qingran, suaranya mengalir lembut namun penuh keyakinan mutlak. "Klan Mei mengira mereka sedang menekan seorang selir rendahan yang bisa diinjak kapan saja. Mereka lupa satu hal..."
Qingran melangkah mendekati jendela, menatap ke arah megahnya Aula Utama tempat singgasana kekaisaran berada.
"...Kaisar Tang Xuanze tidak suka diatur oleh klan menteri mana pun. Setiap kali Klan Mei mencoba mendesak istana dalam, mereka sedang menggali lubang kubur mereka sendiri di hadapan sang penguasa."
Sebelum Chun’er sempat merespons ucapan nyonya mudanya, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekati halaman Paviliun Lanting, diiringi teriakan nyaring yang membuat udara pagi mendadak membeku.
"Titah kekaisaran tiba!"
Suara teriakan kasim pengawal itu melengking tajam, memecah keheningan pagi di halaman Paviliun Lanting. Chun’er yang baru saja hendak membuka mulut langsung terperanjat, buru-buru merendahkan tubuhnya dan berlutut di atas lantai batu.
Pintu kayu Paviliun Lanting terbuka lebar. Seorang kasim senior berwajah pucat dengan jubah abu-abu bersulam benang perak melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, dua orang pengawal kekaisaran membawa sebuah kotak kayu berukir naga yang ditutup dengan kain kuning sutra—tanda mutlak bahwa ini adalah titah langsung dari Kaisar Tang Xuanze, bukan sekadar pengumuman biasa dari biro istana.
Mu Qingran berdiri tegak di tengah ruangan. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun rasa gentar. Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu merendahkan tubuhnya dalam-dalam dengan postur yang anggun dan terukur.
Kasim senior itu membuka gulungan titah kekaisaran bertepi emas, lalu membacakannya dengan suara melengking yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.
"Dengarkan titah suci Putra Langit!" Kasim itu menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, "Selir Mu Qingran dari Paviliun Lanting, yang memiliki ketenangan jiwa dan kecerdasan dalam membaca situasi! Mengingat gejolak yang terjadi di dalam harem serta upaya penjagaan kedamaian istana bagian dalam, Kaisar menganugerahkan hak istimewa kepadamu untuk memimpin urusan internal Paviliun Lanting secara mandiri, serta menyerahkan kotak segel giok ini sebagai simbol wibawa!"
Deg.
Chun’er yang mendengarnya hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Kotak segel giok? Hak istimewa memimpin urusan internal secara mandiri? Di dalam harem kekaisaran, hak istimewa seperti itu biasanya hanya diberikan kepada para selir tingkat tinggi atau selir utama yang memiliki pengaruh besar. Bagi seorang selir tingkat menengah yang baru saja naik daun, anugerah ini adalah sebuah pernyataan politik yang sangat terang-terangan dari sang kaisar.
Kasim senior itu melangkah maju, menyerahkan kotak kayu berukir naga tersebut langsung ke hadapan Mu Qingran. Saat menyerahkannya, kasim itu bahkan sempat menundukkan kepalanya sedikit—sebuah tanda hormat yang tidak pernah diberikan kepada penghuni lama Paviliun Lanting.
"Terima kasih atas titah dan rahmat Yang Mulia," ucap Qingran dengan suara lembut namun tegas. Ia menerima kotak giok itu dengan kedua tangannya, merasakan dinginnya permukaan batu giok murni di kulit jemarinya.
Setelah urusan selesai, sang kasim dan para pengawal membungkuk hormat lalu berpamitan mundur, meninggalkan Mu Qingran dan Chun'er di dalam ruangan yang kembali sunyi.
Begitu pintu tertutup rapat, Chun’er langsung melompat berdiri, matanya berbinar-binar penuh kemenangan dan rasa takjub yang luar biasa. "Nyonya! Anda mendengarnya?! Kaisar baru saja memberikan segel wibawa! Ini artinya... seluruh pelayan dan pengawas istana di sekitar sini tidak akan berani lagi memandang rendah kita!"
Qingran meletakkan kotak giok itu secara perlahan di atas meja. Alih-alih tersenyum lebar, ia justru menghela napas tipis, lalu menatap pantulan cahaya matahari pagi di permukaan giok tersebut.
"Jangan terburu-buru merayakan kemenangan, Chun’er," suara Qingran terdengar rendah, memperingatkan pelayannya. "Hadiah ini bukanlah bentuk kasih sayang yang tulus dari seorang pria kepada wanita. Ini adalah pisau bermata dua yang sengaja ditaruh oleh Kaisar di tanganku."
Chun’er mengerjap bingung, senyumannya perlahan memudar. "Maksud Nyonya...?"
"Dengan memberiku segel wibawa ini secara terbuka, Kaisar sedang menggunakan diriku untuk memancing para musuh keluar dari sarang mereka," jelas Qingran, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang penuh perhitungan. "Klan Mei dan Permaisuri Agung yang saat ini sedang merencanakan petisi di balik layar pasti akan murka melihatku diberi kekuasaan sebesar ini. Mereka tidak akan tinggal diam."
Qingran mengangkat kotak giok itu, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam laci tersembunyi. Sepasang matanya memancarkan kilat ketajaman yang luar biasa.
"Biarkan mereka marah. Biarkan mereka menyusun rencana busuk yang lebih besar lagi," bisik Qingran pada dirinya sendiri. "Sebab semakin mereka bernafsu untuk menghancurkanku, semakin dalam pula lubang kubur yang mereka gali untuk diri mereka sendiri."