Monika seorang mahasiswi jurusan kedokteran disuatu universitas swasta yang bolak-balik harus berurusan dengan pihak kepolisian karena melanggar aturan lalu lintas, membuatnya bertemu dengan Evan seorang polisi tampan yang membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit. Namun dari situasi sulit itulah yang membuat mereka harus berpura-pura untuk saling mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alesha Neova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Pelangi
Hallo reader... sebelum kita lanjutkan ceritanya, author mau kasih gambaran untuk pemeran cast tokoh pendukung yang ada di cerita novel ini ya. Semoga kalian menyukainya🤗🤗
Pemeran cast sebagai Andrean
Andrean, cowok berkulit putih dengan mata yang sipit merupakan mahasiswa kedokteran satu kampus dengan Monika. Ia merupakan keturunan dari campuran darah Indonesia dengan Cina. Kedua orang tuanya tinggal di luar negeri, Andrean melanjutkan kuliahnya di Indonesia dan tinggal disebuah apartemen elit milik orang tuanya.
Pemeran cast sebagai Doni
Doni adalah sahabat sekaligus rekan kerja Evan dikantor, ia sudah cukup lama bersahabat dengan Evan. Doni memiliki karakter yang terkadang sulit untuk ditebak, namun jiwa sosialnya begitu tinggi.
Pemeran cast sebagai Sandra
Sandra ialah sahabat dan teman juga teman dekat Monika, mmereka bersahabat sejak masih duduk dibangku SMA. Sandra memiliki kkarakter yang lembut, manja dan juga sangat perhatian terhadap temannya.
Nah itu merupakan sebagian visual cast dari tokoh pendukungnya ya, semoga kalian menyukainya dan semakin suka terhadap cerita novel ini😊
Sekarang lanjutin ceritanya yuk, selamat membaca😘😘
Selesai makan siang Monika dan Andrean kembali lagi melanjutkan perjalanannya, sebelum mereka memutuskan untuk pulang kerumah mereka jalan-jalan terlebih dahulu. Mereka memilih untuk jalan-jalan ke sebuah taman, taman itu sangat indah karena ditumbuhi dengan pepohonan yang rindang, dan hamparan rumput yang berwarna hijau membuat tempat ini terlihat menjadi lebih segar. Selain itu tak jauh dari taman ini terdapat sebuah danau, orang menyebutnya dengan nama danau pelangi. Konon pada zaman dahulu warna air didanau itu berwarna-warni, sehingga banyak orang menamai danau itu dengan nama danau pelangi.
Taman ini adalah tempat favorit mereka yang biasa mereka kunjungi untuk menghilangkan penat. Selain udaranya yang lebih segar, taman ini memanjakan pengunjungnya dengan memberikan keindahan pemandangan. Banyak orang berdatangan mengunjungi taman ini untuk sekedar berekreasi, foto selfi bahkan tak sedikit juga bagi mereka yang melakukan foto pra wedding untuk sebuah pernikahan.
Sesampainya di taman, Andrean memarkirkan mobilnya diarea parkir yang disediakan oleh pihak pengelola taman. Kali ini Monika dan Andrean memilih untuk berjalan santai menyusuri taman yang dikelilingi pohon yang rindang dan juga rumput yang berwarna hijau. Banyak daun kering yang jatuh dari dahannya membuat taman ini telihat lebih asri. Dalam perjalanan tampak mereka bergandengan tangan, bercerita dan juga bercengkerama.
“Mon.. lihatlah orang itu.” Ucap Andrean sambil menunjuk pada orang yang berada didepan sana sedang melakukan foto pra wedding.
“Iya, kenapa?” tanya Monika pada Andrean yang masih tetap berjalan bergandengan tangan dengannya.
“Suatu saat nanti apa kamu juga ingin melakukan hal yang sama dengan orang itu disini, ditempat ini?” tanya Andrean kembali.
Seketika langkah Monika terhenti, ia menatap netra sipit milik Andrean sedikit tertegun dan membuat Monika berpikir.
Pra wedding, kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu padaku? Apa mungkin dia akan melamarku? Sekarang? Oh God, what should I do? Gumam Monika dalam hati dan pikirannya kini dipenuhi dengan bayangan-bayangan indah tentang tentang mereka.
Terlihat senyuman dibibir Monika, matanya terpejam membayangkan moment indah itu. Tiba-tiba Andrean menggoyangkan pundaknya dan membuyarkan pikiran Monika.
“Hey.. apa yang kamu lakukan, bukannya menjawab pertanyaanku malah senyum-senyum sendiri.” Ucap Andrean yang sedikit bingung dengan tingkah Monika.
“Eh iya Andrean... tadi kamu nanya apa?” ucap Monika dengan wajah yang merah merona karena tersipu malu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan ketidak fokusannya.
“Kamu ngalamun? Waaah.. jangan-jangan tadi kamu lagi mengkhayal kalau kita juga akan melakukan hal yang sama seperti orang itu ya?” Ucap Andrean menggoda Monika, wajah Monika bertambah memerah karena menahan malu.
Dengan cepat Monika menggelengkan kepalanya, ia mengelak untuk untuk menutupi rasa malunya.
“Enggak kok, siapa juga yang lagi menghayal. Tadi aku lagi fokus liatin mereka aja.” Ucap Monika dengan datar.
“Yakin dengan perkataanmu? Aku tidak percaya.” Ucap Andrean kembali menggodanya.
“Iya, kenapa tidak.”
“Kamu tidak pandai berbohong Monika.” Ucap Andrean dengan meletakkan kedua tangannya dipundak Monika lalu sedikit memutar tubuh Monika hingga kini mereka berhadap-hadapan.
“A- aku...” ucap Monika terbata ingin mencari alasan.
Tiba-tiba Andrean memegang dagu Monika, mengangkatnya hingga kini wajah Monika tertengadah memandang wajah Andrean, kemudian dengan cepat Andrean menempelkan bibirnya tepat dibibir Monika. Mata Monika terbelalak, jantungnya berdegup dengan kencang, tak banyak yang ia lakukan hanya menikmati moment ini.
Andrean melingkarkan tangannya kepinggang Monika, menariknya agar lebih dekat lagi dengan tubuhnya. Mata mereka terpejam menikmati moment ini, ciuman yang berhasil menciptakan semburat bahagia untuk mereka, bukan ciuman panas dengan ******* ataupun lilitan namun itu sudah cukup membahagiakan.
Andrean melepaskan pelukannya, memandangi wajah kekasihnya yang tersipu malu atas tingkahnya. Kemudian ia mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
“I love you Monika.”
Senyum indah kembali terpancar diwajah Monika, ia menganggukkan kepalanya seolah mengatakan bahwa ia juga mencintainya. Kemudian mereka kembali berjalan, menapaki jalanan dengan hamparan rumput hijau yang dihiasi daun kering. Andrean mengambil kamera digitalnya, mengambil foto-foto Monika dengan berbagai gaya yang cantik. Mereka juga melakukan foto berdua, ia memasang timer lalu meletakkan kameranya diatas rumput yang dialasi dengan tas Andrean, agar kamera pas dengan fokus objeknya.
Kemudian Monika dan Andrean duduk berjongkok, berdampingan dan saling memandang, mereka mengambil sebuah foto dengan pose sedang duduk berjongkok seolah Monika sedang mengambil sebuah daun kering yang terjatuh dari pohonnya dan Andrean yang berada disampingnya duduk memandangi Monika.
Hari semakin sore, mereka memutuskan untuk segera kembali. Mereka berjalan kembali menuju area parkir mobil, Andrean melajukan mobilnya untuk menuju kerumah Monika. Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk menempuh perjalanan pulang ke rumah Monika. Sesampainya dipintu gerbang rumah Monika, mobil Andrean berhenti dan ia mengatakan tidak bisa ikut masuk kerumah karena waktu yang sudah semakin sore.
“Sory ya sayang.. aku enggak mampir kerumah, udah sore soalnya.” Ucap Andrean sambil mengusap puncak kepala Monika.
“Beneran nih enggak mampir dulu, jam segini biasanya mamah sama papah udah pada di rumah, enggak pengin ketemu?” ucap Monika yang seolah ingin Andrean ikut masuk ke dalam rumah.
“Lain kali saja ya, salam dulu buat mamah dan papah kamu.”
“Salam dari siapa?” ucap Monika menggoda Andrean.
“Salam dari calon menantu. Haha.” Ucap Andrean sambil tertawa.
Mendengar ucapan Andrean barusan membuat pipi Monika kembali merona dan mata indahnya kembali berbinar.
“Ya udah aku turun dulu ya, kamu hati-hati dijalan kabarin aku kalau sudah sampai rumah.”
“Iya pasti sayang.”
Kemudian Monika membuka pintu mobil Andrean dan keluar dari dalam mobil, ia menunggu Andrean melajukan mobilnya hingga tak terlihat lagi dari pandangannya baru ia bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
padahal dah ditungguin lho😪
kok blm up lagi sich?