Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Auman Sang Behemoth dan Runtuhnya Dunia Lama
Suara deru mesin yang terdengar seperti detak jantung monster raksasa menggetarkan seluruh lantai beton Tatanan Besi Hitam. Pintu ganda bengkel utama bergeser terbuka perlahan, memuntahkan kabut uap panas dan bau ozon yang menyengat.
Semua aktivitas di halaman pabrik terhenti seketika. Para pekerja kasar, penjaga, hingga ratusan monster mutan yang sedang menggergaji kayu di luar benteng secara naluriah menoleh ke arah sumber suara.
Dari balik kabut uap tersebut, sebuah monster baja merayap keluar.
Behemoth Naga Darah menampakkan wujudnya di bawah langit siang yang kelabu. Kendaraan lapis baja sepanjang dua belas meter itu bergerak di atas roda rantai ganda yang meremukkan aspal setiap kali berputar. Lambung hitam pekatnya dihiasi urat-urat energi merah menyala yang berdenyut seirama dengan deru mesin. Di bagian atasnya, sebuah laras meriam raksasa menatap lurus ke depan layaknya mata malaikat maut.
Bara dan para penjaga menelan ludah. Hawa intimidasi yang dipancarkan oleh kendaraan itu setara dengan tekanan dari seekor monster puncak.
Lin Tian dan Lin Chen telah bersiaga di depan bengkel, diiringi oleh lima belas penjaga inti terpilih yang semuanya telah menembus Tingkat 4. Mereka mengenakan zirah pelat baja ringan dan membawa senjata yang telah dialiri energi Sistem.
Palka atas Behemoth terbuka. Yudha berdiri di sana, jubah kelamnya berkibar tertiup angin buang dari sistem pendingin reaktor kendaraan.
"Naik," perintah Yudha singkat.
Lin bersaudara dan kelima belas elit Tatanan Besi Hitam itu segera melompat naik ke atas lambung kendaraan dan masuk ke dalam kompartemen kru yang sangat luas. Di dalam, kendaraan itu tidak menggunakan kemudi kuno, melainkan panel antarmuka holografik yang terhubung langsung dengan Daya Komputasi Yudha.
"Bara! Jaga gerbang. Biarkan Inti Wilayah menghisap sisa darah di luar sana sampai aku kembali," suara Yudha menggema dari pengeras suara eksternal Behemoth.
"S-siap, Ketua! Hati-hati di jalan!" jawab Bara sambil memberi hormat militer dengan kaku.
Gerbang baja Tatanan Besi Hitam terbuka. Behemoth Naga Darah meraung, melesat ke luar markas dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk kendaraan seberat lima belas ton. Roda rantainya menghancurkan puing-puing mobil tua di jalan raya, membuka jalur baru menuju selatan kota.
Tiga puluh kilometer dari sana, di perbatasan jalan layang selatan, neraka sedang berlangsung.
Letnan Jenderal Surya, seorang pria paruh baya dengan seragam militer compang-camping, berlindung di balik bangkai panser tua. Di tangannya, sebuah senapan serbu yang telah dimodifikasi dengan Inti Energi Tingkat 3 terus memuntahkan peluru energi, namun wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Di belakangnya, di bawah kolong jalan layang yang runtuh sebagian, lebih dari dua ribu warga sipil meringkuk ketakutan. Suara tangis anak-anak dan doa-doa yang putus asa tenggelam oleh suara tembakan dan jeritan tentara yang sekarat.
Batalyon Baja Mekanis ke-4, yang dulunya merupakan kebanggaan militer zona selatan, kini hanya menyisakan kurang dari seratus prajurit yang masih bisa berdiri.
Musuh mereka bukanlah mutan biasa.
Tanah aspal di sekitar mereka berlubang layaknya sarang semut raksasa. Dari dalam lubang-lubang itu, merayap keluar ribuan makhluk mengerikan. Bentuk mereka menyerupai laba-laba seukuran anjing dewasa, namun tubuh mereka terbuat dari lempengan logam berkarat yang disatukan oleh jaringan daging bermutasi.
[Entitas Terdeteksi: Laba-laba Besi Bawah Tanah (Tingkat 3 - Kawanan Hive-Mind)]
"Jenderal! Barisan pertahanan sisi timur jebol!" teriak seorang kapten dengan wajah berlumuran darah. Lengan kirinya buntung, diputus oleh capit baja monster tersebut. "Amunisi energi kita kurang dari sepuluh persen!"
Surya mengertakkan giginya. Ia menatap ke arah kerumunan monster yang terus bertambah dari lubang bawah tanah.
Bukan hanya kuantitas yang membuat mereka hancur, melainkan kehadiran sesosok raksasa yang berada di belakang kawanan tersebut. Seekor Ratu Laba-laba Tingkat 6 setinggi tiga lantai gedung sedang merayap naik dari kawah utama, memuntahkan jaring asam yang melelehkan baja pertahanan militer layaknya lilin.
"Pesan radio tadi... apa ada jawaban?" tanya Surya dengan suara serak, terus menembak hingga laras senjatanya memerah.
"Tidak ada konfirmasi masuk, Jenderal! Tidak ada faksi waras yang mau menerobos ribuan kawanan Hive-Mind hanya demi warga sipil!" sang kapten menjawab sebelum akhirnya tertusuk oleh kaki tajam seekor laba-laba yang melompat dari atas reruntuhan.
Surya memejamkan matanya, rasa pahit memenuhi tenggorokannya. Ia telah gagal melindungi sisa-sisa negaranya.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Getaran itu berbeda dengan gerakan menggali para laba-laba. Getaran ini konstan, berat, dan semakin lama semakin keras, diiringi oleh suara deru mesin yang sangat brutal.
WUUUNGGG... KRAAAAK!
Sebuah gedung reruntuhan di sisi utara jalan layang hancur berantakan, ditabrak hingga runtuh oleh sesuatu yang sangat masif. Dari balik awan debu beton, moncong meriam hitam legam muncul, diikuti oleh lambung kendaraan monster yang memancarkan urat-urat energi merah darah.
Behemoth Naga Darah telah tiba.
Kendaraan raksasa itu tidak melambat. Yudha yang memegang kendali penuh di balik kemudi holografik justru menaikkan kecepatan.
BAM! CRAT! KRAAAK!
Roda rantai ganda Behemoth melindas kerumunan Laba-laba Besi tanpa ampun. Lempengan logam berkarat monster-monster Tingkat 3 itu hancur berkeping-keping di bawah bobot lima belas ton dan kecepatan tinggi. Behemoth bergerak layaknya penggiling daging raksasa, membelah lautan monster dan menciptakan jalur darah dan oli mesin tepat di depan barisan militer yang nyaris hancur.
Pasukan militer dan warga sipil membeku. Mereka menatap monster mekanis hitam itu dengan napas tertahan, tidak tahu apakah ini bantuan dari surga atau mimpi buruk yang baru.
Palka Behemoth bergeser terbuka.
"Pasukan Inti, bersihkan sampah-sampah kecilnya," suara dingin yang diperkuat oleh pengeras suara menggelegar dari atas tank.
Tujuh belas sosok melompat turun dari lambung kendaraan.
Lin Tian mendarat terlebih dahulu. Tombak Plasma Penembus Tulangnya menyala putih. Ia tidak menembak dari jauh seperti para tentara; ia melesat maju menyongsong gelombang laba-laba, menusuk, menebas, dan melepaskan gelombang Qi yang membakar puluhan monster sekaligus.
Di sebelahnya, Lin Chen berubah menjadi puting beliung kelabu. Pedang vibro-nya memotong kaki-kaki baja monster itu seolah sedang memotong udara kosong. Kelima belas elit lainnya menyusul, menggunakan formasi bela diri sekte yang telah dilatih, membantai kawanan musuh dengan efisiensi yang membuat para prajurit militer melongo.
"T-Tingkat 4... Semuanya Tingkat 4, dan dua komandannya Tingkat 5?!" gumam Surya dengan bibir bergetar, melihat alat pemindai militernya. Ia tidak menyangka ada faksi di kota ini yang memiliki prajurit elit sekuat ini sebagai pasukan biasa.
KIIIIEEEEEK!
Melihat anak-anaknya dibantai, Ratu Laba-laba Tingkat 6 marah besar. Ia mengabaikan para tentara dan mengarahkan moncongnya ke arah Behemoth, menyemburkan gumpalan jaring asam raksasa yang berbau busuk.
Di atas Behemoth, Yudha yang hanya memunculkan setengah badannya dari palka, menatap jaring mematikan itu dengan tatapan bosan. Ia tidak repot-repot menghindar.
Jaring asam itu menghantam kubah tak kasat mata yang melapisi Behemoth—sebuah miniatur perisai energi yang diadaptasi dari teknologi pertahanan markas. Asam itu mendesis dan menguap tanpa bisa menyentuh pelat baja kendaraan.
"Massa tubuh besar, tapi tidak punya pelindung energi," evaluasi Yudha dingin. Tangannya bergerak di atas panel holografik. "Target terkunci. Meriam Plasma Darah, lepaskan satu tembakan."
Urat-urat merah di lambung Behemoth menyala terang benderang. Energi murni dari Inti Naga Darah dipompa lurus ke laras meriam utama. Udara di depan laras tersebut terdistorsi karena panas ekstrem.
DUUUUUAAARRR!
Sebuah pilar cahaya merah keemasan melesat dari moncong meriam, jauh lebih besar dan destruktif daripada senjata genggam Yudha. Pilar itu menghantam lurus ke dada Ratu Laba-laba.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada ledakan tertahan.
Sinar plasma itu langsung menguapkan setengah tubuh sang ratu monster. Cahaya itu terus melesat sejauh tiga ratus meter ke belakang, melelehkan aspal dan ratusan laba-laba kecil yang berada di jalurnya, sebelum akhirnya membelah sebuah bukit puing di kejauhan.
Ratu Laba-laba Tingkat 6 yang membuat batalyon militer putus asa kini hanya tersisa sepasang kaki belakang yang masih berasap, sebelum akhirnya ambruk menjadi abu.
Keheningan seketika menyelimuti medan perang. Sisa laba-laba kecil yang kehilangan kendali Hive-Mind langsung berhamburan lari ke dalam lubang-lubang tanah, didorong oleh insting bertahan hidup.
Warga sipil perlahan keluar dari tempat persembunyian mereka, menatap takjub pada benteng berjalan yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka. Para prajurit militer menangis haru, beberapa menjatuhkan senjata mereka dan saling berpelukan.
Letnan Jenderal Surya merapikan seragamnya yang kotor. Matanya dipenuhi rasa hormat dan syukur yang luar biasa. Ia berjalan tertatih mendekati Behemoth, bersiap memberikan penghormatan militer tertinggi kepada pahlawan yang telah menanggapi panggilan radionya.
Yudha melompat turun dari kendaraannya. Lengan Baja Peleburnya mendengung pelan, jubahnya berkibar. Aura intimidasi Tingkat 8 yang memancar darinya membuat langkah Surya tersendat secara naluriah.
"Terima kasih... Terima kasih banyak," ucap Surya dengan suara bergetar, menelan harga dirinya sebagai jenderal dunia lama. "Saya Letnan Jenderal Surya. Anda telah menyelamatkan ribuan nyawa warga sipil dan menjaga harapan kemanusiaan tetap hidup. Negara ini tidak akan pernah melupakan jasa—"
"Tutup mulutmu," potong Yudha dingin. Suaranya tidak keras, namun ketajamannya memotong udara layaknya pedang es.
Surya terdiam kaku. Warga sipil yang baru saja hendak bersorak menelan kembali suara mereka.
Yudha melangkah maju, berhenti tepat satu meter di depan sang jenderal. Tatapan matanya tidak memiliki sedikit pun simpati layaknya seorang pahlawan. Yang terpancar hanyalah kalkulasi dingin dari seorang penguasa mutlak.
"Aku tidak datang kemari karena peduli pada pangkatmu, kemanusiaanmu, atau warga sipil yang menangis di belakangmu," ucap Yudha, suaranya menggema di bawah jalan layang yang sunyi. "Aku datang untuk transaksi."
Yudha mengulurkan telapak tangan kirinya.
"Sesuai siaran radiomu. Mana cetak biru rudal balistiknya? Serahkan, dan kalian semua resmi menjadi properti Tatanan Besi Hitam."