Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Hari Duel-bagian pertama-
Hari berganti dengan cepat. Raja Durasec beserta ketiga ratu dan anak-anak mereka, lalu Lacus dan Yula berkumpul di lapangan yang biasa dijadikan tempat latihan fisik dan magica bagi keluarga kerajaan. Lapangan ini terletak di sayap kanan istana, dan memiliki tempat duduk berjajar hingga ke atas.
Lacus meminta izin untuk memulai duel pada Raja dengan memberi salam hormat. Setelah itu ia dan Yula pergi ke tepi lapangan dimana telah berdiri lima calon perwakilan, lima anak Raja yang tertarik dengan perjalanan ini.
Tiba-tiba saja seseorang berjalan mendekati kelima calon perwakilan tersebut membuat semua orang kaget setengah mati melihat kehadirannya. Sedangkan Yula tersenyum lega juga mengandung kesan sinis melihat kehadiran laki-laki itu, entah kenapa ia sangat tak suka melihat wajah ketusnya itu. Lacus menyapanya, dan Esha membalasnya dengan penuh hormat dan sopan.
“Apa gerangan yang membuatmu ikut dalam pertandingan ini, Esha?” heran Seiger, anak laki-laki dari ratu kedua. Ia terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Esha di lapangan.
“Karena suatu hal yang tak bisa kusebutkan pada sembarangan orang,” jawab Esha sinis tak memandang wajah Seiger.
“Apa?!” Seiger merasa diremehkan.
“Sudah! Sudah!” lerai Lylia, anak perempuan dari ratu pertama. Pandangan Lylia sama dengan Seiger, tapi ia tak merasa curiga pada Esha. “Aku memang tak tahu alasanmu mengikuti pertandingan. Ini menjelaskan bahwa kau juga berminat menjadi perwakilan Durasec.” Lalu ia beralih pandang pada Lacus. “Dengan keikutsertaannya Esha, kita pas menjadi enam orang, benar begitu bukan, Tuan Putri Lacus?”
“Ah, iya benar! Aku tak menyangka ada tambahan peserta. Saya senang Anda juga berminat dalam perjalanan bersamaku, Pangeran....”
“Esha Duraxson,” koreksi Yula langsung.
“Pangeran Esha,” jawab Lacus cepat. Ia bertingkah seolah tak tahu nama Esha di depan yang lain.
“Dia bukan pangeran kerajaan ini, Putri,” koreksi Seiger cepat. “Maaf, aku hanya sedikit membenarkan suatu hal,” sambungnya langsung saat yang lain melihat ke arahnya.
Lacus dan Yula terkejut karena tanpa basa-basinya Seiger mengatakan hal itu dengan ringan. Esha sama sekali tak merespon perkataan kakak angkatnya, tetap tenang dan tangannya yang dilipat ke depan.
“Jangan permasalahkan hal ini lebih jauh lagi. Aku tak suka membuang waktu. Segera mulai pertandingan ini,” sesak Lylia. Ia bermaksud agar perhatian mereka teralih dari perkataan Seiger yang sedikit menyinggung, permasalahan keluarga yang tak baik diketahui oleh orang lain.
Yula berdeham, mengerti kondisi yang terjadi. Ia pun mendekati para calon perwakilan, berdiri di depan mereka berenam. “Baiklah. Saya Yula Athhra akan memimpin duel hari ini. Duel untuk menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan Kerajaan Durasec dalam perjalanan menemani Tuan Putri Woerlt, Lacus Wallt, mencari Batu Kristal Kehidupan. Kalau begitu saya akan menjelaskan duel hari ini.”
“Karena para calon perwakilan berjumlah genap, saya akan merubah persyaratan duel hari ini. Jangan berkomentar dulu!” Yula langsung menyanggah salah seorang yang ingin protes padanya. “Sebelumnya, silakan ambil sebuah kertas dalam kotak ini.”
Para peserta menuruti dan mengambil satu kertas dalam kotak kecil yang sudah disediakan oleh Yula sebelumnya. Kertas itu digulung dan berisi angka.
“Kalian akan mendapatkan angka satu, dua dan tiga. Orang yang memegang nomor yang sama dengan Anda merupakan lawan yang harus Anda lawan.”
“Tunggu sebentar!” Rowlita tunjuk tangan, anak perempuan kira-kira seumuran dengan Yula, ia anak terakhir dari ratu kedua. “Tadi malam Putri Lacus menyebutkan tidak ada pertarungan, hanya memperlihatkan magica yang kita punya. Kenapa harus bertarung?” katanya gugup.
“Ya, awalnya memang begitu, karena kami berpikir jumlah yang ikut hanya dua-tiga orang. Tapi kenyataannya hari ini jumlah partisipan lebih dari yang diperkirakan. Jadi saya pikir akan lebih baik dilakukan duel dalam bentuk pertarungan.”
Rowlita kaget dan cemas. Ia tak memiliki keberanian yang kuat seperti Yula, gadis yang berdiri di depannya tanpa gentar sedikit pun. Ia heran kenapa gadis seusianya telah memiliki aura magica yang kuat yang tak mampu ia capai.
“Jika tak ada niat untuk ikut perjalanan ini, silahkan dengan kesadaran diri untuk menonton dari atas,” saran Yula. Ia bersikap tegas, ia berpura-pura terlihat keras.
“Kau sangat sombong, mentang-mentang kau rekan pertama. Hanya beberapa hari kau berjalan dengan Putri Lacus sudah berlagak tahu segala hal tentang perjalanan mencari kristal,” kesal Cathia, putri dari ratu ketiga pada Yula. Maksud Cathia tak lain ialah untuk membela Rowlita. “Aku melihat kau yang hanya berbicara dengan Daisy saat Putri Lacus menerangkan tentang duel hari ini. Lalu kau menentukan syarat duel sesuai keinginanmu!”
“Maaf. Semua tata cara duel telah diserahkan seluruhnya padaku oleh Tuan Putri Lacus. Jika tidak dengan pertarungan, bagaimana cara kita menyeleksi calon perwakilan dengan benar. Karena dalam perjalanan tidak hanya mencari batu kristal tapi kita tak ada yang tahu apa yang akan kita temui dalam perjalanan. Jika kalian semua tak memiliki niat untuk bertarung, kalian tak akan bertahan dalam perjalanan bersama Tuan Putri!”
Cathia masih belum puas dengan jawaban Yula. Ia semakin geram. “Dan Tuan Putri, kenapa Anda hanya diam dengan apa yang dikatakan oleh rekan Anda yang satu ini? Tidakkah ini di luar kesepakatan?”
“Mohon maaf. Semalam kami banyak berbincang untuk duel hari ini, hingga kami tak bisa tidur, semua itu untuk kebaikan kita semua. Kami menentukan, jika yang mengikuti duel hari ini sedikit, kurang dari tiga orang, maka kami sendirilah yang menentukan hanya dengan calon perwakilan memperlihatkan magica mereka. Tapi ternyata yang ikut lebih dari yang kita bayangkan, maka dari itu kami meminta kalian untuk duel dalam pertarungan.
“Saya benar-benar minta maaf atas kelancangan tindakan saya, karena saya hanya tidak ingin memilih orang yang salah. Bukan berarti yang tak terpilih taklah hebat, tapi magica yang tak bisa mengendalikan batu kristal yang saya takutkan. Saya sudah mengatakannya tadi malam, jika perwakilan tak dapat mengendalikan batu kristal, mereka akan berbalik menyerang kita.”
Semua terdiam.
Raja dan ketiga ratu serta anak-anak mereka yang kecil melihat para calon perwakilan yang berdiskusi dengan Lacus dan Yula sehingga mereka tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Tapi terlihat ada yang tidak berjalan baik, terlihat wajah ketidakpuasan dari anak-anaknya membuatnya sangat bingung. Terlebih, saat Raja melihat Esha yang bergabung terakhir di lapangan. Ia mengerti alasan Esha sebenarnya mengikuti duel itu. Ya, hanya ia yang tahu. Dan Raja akan menyerahkan seluruh penentuan pada Putri Woerlt, apapun itu hasilnya.
“Jadi bagaimana? Jika semuanya telah siap untuk duel hari ini, maka saya akan segera memulainya. Apa ada pertanyaan?” Yula kembali bicara saat semuanya mencoba memahami maksud Lacus. Ia kembali meyakinkan para calon perwakilan akan duel tersebut. Bukan apa-apa, bagi para anak raja yang telah terbiasa bertarung, lalu bagaimana dengan Rowlita yang seumuran dengan Yula? Tampaknya ia tak pernah berduel sama sekali.
Rowlita pun mengangkat tangannya. Yang lain melihat ke arahnya. Ia mengembalikan kertas yang ia genggam pada Yula. Tangannya bergetar saat mengulurkan tangannya. “Aku.....”
Yula mengerti keadaan Rowlita dan mentalnya. Ia tersenyum ramah. “Tak apa. Jangan dipaksakan.”
Rowlita terkejut. Tatapan Yula yang menjadi ramah membuatnya tak lagi takut. Ia mengangguk dan menyeka air mata yang tak menetes dari pelupuk matanya. Yula mengulurkan tangannya pada Rowlita, menarik ke arahnya lalu mengambil kertas kecil itu sekalian. Rowlita melihat ke kakak sulungnya, Seiger, yang kesal dengan tindakan kecut adiknya itu. Mulutnya menggumamkan kata maaf yang tak terdengar kecuali Yula di sampingnya.
Yula menyuruh Rowlita berdiri di samping Lacus untuk menyaksikan duel, dan Lacus memegang kedua pundak Rowlita dengan lembut. Menyambutnya agar gadis itu tak perlu merasa cemas lagi. Apa yang ia pilih itu telah benar, jika diteruskan mungkin ia bisa terluka oleh siapa saja yang menjadi lawannya.
Yula melihat ke arah Lacus yang ada di belakangnya. Sedikit berbisik pada Lacus akan bagaimana duel ini berlangsung. Dan Lacus terlihat mengangguk dengan apa yang dibisikkan oleh Yula. Yula? Ia terlihat sangat senang!
“Yang memegang nomor tiga siapa?” tanya Yula pada para calon perwakilan. Satu lagi anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan Yula mengangkat tangan. Ia bernama Nemuz, anak kedua dari ratu ketiga. Yula tersenyum sedikit nakal pada Nemuz. “Yang menjadi lawan Anda tidak ada, Pangeran Nemuz. Bagaimana menurut Anda? Apa Anda ingin diloloskan saja ke babak selanjutnya atau merasa tak adil dan ingin dicarikan lawan berduel?” tanya Yula.
Ia terlihat kebingungan. Cathia sebagai kakak meminta Nemuz mengambil pilihan pertama. “Jika diizinkan, saya ingin memiliki pilihan yang sama dengan yang lainnya. Saya tak ingin terlihat lemah di depan kakak-kakak saya yang berpikir bahwa saya hanyalah anak-anak.”
Yula merasa senang dengan jawaban Nemuz. Sebuah pilihan yang bijak!, benaknya senang. “Dianggap anak kecil dan lemah itu sangat menyebalkan, bukan? Saya juga tak suka dengan anggapan itu!”
“Apa pun pilihan Anda, saya akan menghormatinya, Putri Yula,” jawab Nemuz sopan.
Yula turun dari panggung dan berdiri di depan Nemuz. Ia menepuk kedua pundaknya, membuat laki-laki itu terkejut. “Persiapkan dirimu!” katanya riang.
Ketiga calon perwakilan lainnya terkejut, mereka dan Nemuz langsung mengerti maksud Yula itu apa. Sedangkan Esha tersenyum sinis dan menggumamkan ‘menarik’ dengan suara pelan.
Yula kembali menatap mereka berempat. “Nah, mari kita mulai dari petarung pertama! Yang memegang kertas bernomor satu, silakan ke tengah lapangan!”
Lylia menatap nomornya. Ia dengan sigap ke tengah lapangan tanpa ragu. Lalu ia sadar akan siapa lawannya karena lawannya juga langsung ke tengah lapangan mengikuti Lylia. Setiba di tengah lapangan, Lylia dan Cathia saling beradu pandang dan tersenyum miring.
“Aku tak menyangka pertandingan pertama akan dilakukan oleh duel perempuan. Mari kita perlihatkan duel yang menarik untuk ditonton, Cathia,” sapa Lylia pada lawannya.
“Dan jangan mengecewakan yang lain. Duel ini juga untuk Rowlita,” kata Cathia sambil mengambil ancang-ancang.
Dan yang lainnya menjauh duduk di tepi lapangan. Yula memanfaatkan ilmu magica anginnya untuk menyampaikan suaranya pada Lylia dan Cathia hal praktis agar tidak berteriak.
“Pertandingan akan segera dimulai. Ingat, pertandingan akan dianggap selesai jika salah satu dari kalian tak sanggup untuk melanjutkan pertandingan, kehabisan kekuatan atau menyerah. Jika saya mencium hawa untuk membunuh, tak segan akan saya diskualifikasi langsung!”
“Sudah siap?” tanya Yula sekali lagi.
“Ya!” jawab Lylia dan Cathia bersamaan.
“Silakan dimulai!”