Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan di Balik Bayang-Bayang
Malam di kediaman besar itu terasa mencekam, seolah-olah pepohonan di taman sedang membisikkan rahasia kelam klan Mo, Hou, dan Shen. Di bawah naungan cahaya lampion yang temaram, ketiga pria itu berdiri melingkar, menciptakan aura kekuasaan yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat dan menekan.
"Jangan pernah menganggap dia hanya sekadar pajangan atau mainan, meski selama ini kita dengan sengaja mengabaikannya," suara Mo Jiu memecah kesunyian. Suaranya berat, serak oleh kewibawaan yang selama ini ia pelihara sebagai pemimpin klan Mo. Ia berdiri dengan tangan tertaut di belakang punggungnya, menatap lurus ke arah kegelapan taman.
"Tang Anning tetaplah istri sah dari klan kita. Dia membawa beban nama besar Jenderal Tang, dan meski kita membencinya, kita tidak bisa memungkiri bahwa ia adalah bagian dari takdir yang terikat secara hukum. Tidakkah kalian menyadari betapa berbahayanya jika dia benar-benar berpaling atau, lebih buruk lagi, menggunakan posisinya untuk melawan kita?"
Shen Changge, yang biasanya paling vokal dan temperamental, terdiam. Ia berdiri di sana, terkurung dalam dilema yang menyesakkan dada. Ada kebenaran pahit dan telak dalam kata-kata Mo Jiu, namun ego serta perasaannya terhadap Yu Rou—wanita yang ia anggap sebagai penyelamat masa kecilnya—masih bersikeras untuk menghalangi logika. Ia menunduk, menatap sepatu botnya yang kotor karena debu, sementara bayangan wajah Anning yang menantang di gerbang tadi terus terngiang di kepalanya.
"Kakak Pertama, kau benar," sahut Hou Juntian, suaranya lebih tenang namun mengandung kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Tang Anning benar-benar berbeda hari ini. Amarahnya... cara dia menatap kita, itu bukan tatapan wanita yang lemah lagi. Tapi yang membuatku merasa sangat janggal adalah saat dia bilang tidak akan cemburu meski kita membawa wanita lain ke rumah. Bukankah itu terlalu aneh untuk seorang istri yang seharusnya menuntut kasih sayang?"
Shen Changge hanya bisa membisu, seolah lidahnya telah kelu. Ia teringat kembali keberanian Anning, pedang yang ia todongkan justru dibalas dengan tatapan yang lebih tajam daripada baja.
Sementara itu, tepat di balik rimbunnya pohon maple tua yang bersembunyi dari sorotan lampion, aku menyimak setiap patah kata mereka dengan napas yang kutahan. Setiap detak jantungku terasa begitu nyaring di keheningan malam.
Hihihi... sungguh menggelikan, batinku sambil menahan tawa yang hampir meledak. Mereka mengira aku akan menangis tersedu-sedu karena pengabaian mereka, ternyata mereka justru ketakutan sendiri karena perubahan sikapku. Benar-benar karakter buatanku ini, mereka tidak menyadari bahwa ketenangan adalah senjata yang paling mematikan.
Tiba-tiba, mata elang Mo Jiu menyipit, menoleh tajam ke arah bayang-bayang pohon di belakangnya. "Mau sampai kapan kau terus menguping, Anning?"
Aku tersentak. Seluruh otot di tubuhku menegang. Sial, intuisinya terlalu tajam! Dengan napas yang kuatur agar tetap tenang, aku melangkah keluar dari persembunyian. Langkahku sengaja kubuat seanggun mungkin, seolah-olah aku memang berniat untuk muncul di sana. Angin malam yang bertiup kencang secara tiba-tiba membuat cadar tipisku tersingkap sedikit, namun dengan gerakan refleks yang sangat cepat, aku menahannya dengan jemari.
Hampir saja, kalau ketahuan wajahku yang sebenarnya secara utuh, rencanaku bisa berantakan total. Aku masih butuh waktu untuk membuat mereka percaya pada 'topeng' ini, batinku dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang.
"Aku tidak menguping, aku hanya kebetulan sedang berjalan-jalan menikmati udara malam," kataku dengan nada sedatar dan sesantai mungkin, meski hatiku berteriak waspada. Namun, saat aku menatap mereka satu per satu, aku melihat perbedaan yang mencolok dalam cara mereka menatapku. Tatapan Hou Juntian tampak teduh, terselip rasa bersalah yang selama ini ia pendam.
Mo Jiu menatapku dengan intensitas yang seolah ingin menembus jiwaku, penuh dengan keinginan untuk menghancurkan namun di saat bersamaan ada keraguan yang menahannya. Sementara Shen Changge? Tatapannya masih penuh amarah yang meluap, tatapan yang benar-benar ingin kucolok matanya jika saja aku tidak ingat bahwa aku butuh dukungan politiknya.
"Ning'er, jika kau mendengar pun tidak masalah," suara Hou Juntian memecah kesunyian. Ia melangkah mendekat, auranya yang lembut kontras dengan dua pria lainnya. "Kami sebagai suami memang bersalah karena mengabaikanmu selama ini. Kami tidak punya alasan untuk itu."
Hou Juntian saja yang bisa bersikap manusiawi. Sementara dua pria lainnya di depanku ini seolah ingin mencekik leherku hanya dengan tatapan mata, pikirku sinis.
"Tidak masalah, aku tidak peduli dengan penyesalan kalian," ujarku, sengaja memancing emosi mereka. "Tapi, apakah kalian benar-benar tidak mendengar titah Kaisar tadi siang, atau kalian sengaja berpura-pura tuli karena takut?"
Mereka semua terdiam, menunggu kelanjutan kalimatku dengan tegang. Napas mereka seolah tertahan.
"Titah apa? Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan pertanyaan itu," jawab Mo Jiu dengan dahi yang berkerut dalam, tampak benar-benar bingung sekaligus frustrasi.
Aku tersenyum misterius, sebuah senyuman yang kubentuk dengan hati-hati di balik cadarku, yang membuat suhu di sekitar kami seolah meningkat tajam. "Pertanyaan tentang kapan kita bisa punya... keturunan, sesuai pesan Baginda Kaisar tadi siang."
Suasana mendadak kaku seperti es yang membeku di tengah musim dingin. Hou Juntian yang tadi bersikap lembut pun terbatuk, wajahnya tampak sangat tidak nyaman.
Sementara Shen Changge dan Mo Jiu, dua pria yang paling disegani di Utara, tampak tidak mampu menyembunyikan wajah mereka yang memerah padam karena malu dan canggung yang luar biasa. Pemandangan mereka yang biasanya tampak tak terjamah, kini menjadi hancur berkeping-keping di depanku.
"Ning'er, lebih baik kau kembali ke kamar dan beristirahat. Ini sudah larut," potong Hou Juntian dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menghentikan pembicaraan yang semakin tidak terkendali itu sebelum mereka kehilangan harga diri sepenuhnya.
Aku melihat wajah mereka yang kacau, dan itu adalah pemandangan paling memuaskan yang pernah kulihat seumur hidupku. Mereka yang sombong, dingin, dan penuh dengan ego, kini tampak seperti remaja yang sedang dipermalukan di depan umum.
"Baiklah, aku akan kembali," kataku sambil berbalik, langkahku ringan seolah sedang menari di atas penderitaan mereka. Sebelum benar-benar meninggalkan mereka di taman yang kini terasa begitu sunyi, aku menoleh sekali lagi dan berbisik dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh mereka bertiga, "Jangan lupa, Yang Mulia Kaisar sedang menunggu kabar baik mengenai keturunan kita. Jika kalian tidak ingin mengecewakan beliau, mungkin mulai besok kalian harus mulai berdiskusi tentang siapa yang akan menjadi yang pertama masuk ke kamarku."
Aku berlari menjauh dari mereka, menyembunyikan tawa yang akhirnya meledak di balik cadarku. Malam ini, aku bukan lagi Tang Anning yang pasrah dan menangis di sudut kamar.
Aku adalah sang dalang yang sedang menarik benang-benang takdir mereka, dan aku baru saja memulai permainan yang akan membuat mereka terus terjaga setiap malam, dihantui oleh ketidakpastian. Setiap langkahku adalah langkah menuju kemenangan, dan mereka tidak akan pernah sadar bahwa setiap reaksi mereka, setiap kemarahan mereka, dan setiap rasa malu mereka hanyalah bagian dari rencana besarku untuk menghancurkan ego mereka dari dalam.
Tunggu saja, ini baru babak pertama, bisikku dalam hati saat aku memasuki kamarku dan menutup pintu dengan rapat, membiarkan mereka bertiga terjebak dalam kebingungan dan rasa malu yang mendalam di tengah taman yang sunyi. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka, dan itu hanyalah awal dari semua pembalasan dendam yang telah kupersiapkan dengan sangat matang.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸