Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh
Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wish 15 supaya... hujan ini tidak pernah berhenti ( Senja )
Gerimis.
Senja menatap rinai hujan mengalir turun seperti butiran salju. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca mobil, merasakan permukaannya yang dingin dari rintik-rintik kecil yang mulai mengaburkannya.
"Kamu suka hujan ? " Bara bertanya dari tempat duduknya di balik kemudi. Air keruh kecokelatan mulai menggenang di sisi-sisi jalanan, campuran dari air got yang meluap karena hujan. Mereka sudah terjebak dalam kemacetan selama hampir dua jam, dan langit semakin gelap tak berawan tanpa tanda-tanda hujan akan berhenti. Senja tersenyum tipis dan menggeleng
" Enggak. Aku nggak suka hujan sama sekali. Mendung, kelabu, membosankan karena gak bisa main di luar
Bara ikut mengangguk mendengar jawabannya. " Sama, aku juga. Gak bisa basket outdoor, jalanan becek dan macet di mana-mana, kayak sekarang
"Iya, pokoknya nggak ngenakin."
Bara tersenyum melihat gelagat Senja Terus, kenapa sekarang kamu memperhatikan hujan sampai segitunya?"
Senja memejamkan mata, mendengarkan riuh bunyi hujan yang mulai deras di
sekitarnya. Merasa aman karena dia terlindung di balik kap mobil.
" Raga yang suka hujan," jawabnya. Setiap kali hujan, Raga pasti akan menengadahkan
kepala memperhatikan langit dan menjulurkan tangan untuk menyentuh hujan.
" Raga teman kamu itu ?"
Senja mengangguk. " Kebiasaan yang aneh, kan? Sejak kecil dia begitu."
" Kalian pasti udah lama sekali saling mengenal."
Lagi-lagi, Senja mengiyakan. " kami tumbuh besar bersama. Sering main dan belajar bareng karena rumah kami berseberangan."
Dengan nada hati-hati, Bara mencetuskan rasa penasarannya. " Cuma teman ?
Senja membelalak dan tertawa spontan.
"Maksudnya...?"
Bara mengangkat bahu. " Siapa tahu..."
"Serius, kami hanya sahabat." Senyum Di Senja semakin lebar, diam-diam senang ditanya seperti itu. Dia dapat dengan mudah menangkap nada cemburu dan ingin tahu dari lawan bicaranya.
Tiba-tiba saja, mesin mobil berhenti. Hujan mulai turun dengan deras, dentum airnya
menghantam kaca jendela danatap mobil dengan kerasnya. Bara memucat, mencoba menstater kendarannya berulang-ulang, tetapi tidak berhasil.
"Kenapa ?" Senja bertanya dengan panik, mulai khawatir seiring dengan bunyi klakson
mobil-mobil di belakang mereka yang dengan tak sabar meminta mereka untuk meminggirkan mobil
"Mobilnya mati," desis Bara bingung.
"Mungkin karena mesinnya kemasukan air."
"Jadi Gimana ?"
Bara memandang sekeliling, sulit melihat melalui kaca yang buram oleh air hujan. Air
sudah naik hingga hampir melewati ban, hasil dari hujan yang tidak berhenti sejak
Beberapa jam yang lalu. Bentuk mobilnya yang dimodifikasi sehingga lebih rendah dari kebanyakan sedan lain juga memperparah keadaan.
"Kamu tunggu di sini." Sebelum sempat Senja memprotes, Bara sudah berlari ke luar dan menerobos hujan. Tidak lama kemudian, mobil didorong manual oleh beberapa orang yang sedang nongkrong di warung sekitar. Bara kembali masuk ke mobil dalam keadaan basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kita harus nunggu mobil derek."
"Basah-basah begitu, nanti kamu masuk angin."
Bara mencoba tersenyum, tapi tubuhnya mengigil. "Nggak apa-apa."
Mobil derek baru datang tiga jam kemudian. Mereka berdua berdiri di emperan, melihat mobil tersebut di angkut dan dibawa pergi. Beberapa kendaraan bermotor lainnya juga mogok di tengah jalan, menambah kemacetan di sore yang kelabu ini. Senja memasukkan kedua tangan ke dalam saku terusannya, kini ikut basah karena hujan kiand eras. Bara melepaskan jaketnya yang basah dan melingkarinya di pundak Senja, mereka berdua gemetar kedinginan.
"Kamu nggak apa-apa kan ? Suara Bara terdengar aneh karena gigi yang gemeletuk, membuat Senja ingin tertawa.Pipinya sendiri sudah seputih kertas dengan rambut lembap dan bibir pucat
"Dingin, ya ? Bara bertanya lagi. Senja hanya bisa mengangguk singkat. Bara
menariknya mendekat, lalu merapatkan tubuh untuk menghangatkannya. Hati Dan Senja
berdesir, dengan malu-malu, ia mendongak. Bara tersenyum, lalu meraih tangan Senja dan memasukkannya ke dalam kantong jaketnya, masih dengan tangannya yang membungkus jemari gadis itu.
Mereka berdua seperti itu untuk sementara waktu, menyaksikan hujan berderai-derai, tetapi Senja merasa hangat luar dalam.
#I'm A Special Girl