NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Lauren mengembalikan jas alex

"Halo, Lauren," sapa Alex, sudut bibirnya tertarik tipis, senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukkan, membuat suasana canggung di antara mereka sedikit mencair untuk sepersekian detik.

Lauren berdiri kaku di ambang pintu, tangannya masih menggenggam gagang kruk erat-erat, jantungnya berdebar campur aduk antara kaget dan gugup. "Alex... kenapa kau tahu alamatku? Aku tidak pernah memberitahumu di mana aku tinggal."

Senyum tipis di wajah Alex perlahan menghilang begitu matanya bergerak turun, menangkap perban yang membalut pergelangan kaki Lauren. Ekspresinya berubah seketika, kembali dingin dan tegas seperti yang biasa Lauren kenal, jauh dari kehangatan sesaat tadi.

"Itu tidak penting sekarang," jawab Alex, suaranya sudah kembali datar, matanya masih menatap kaki Lauren dengan seksama. "Kenapa kakimu masih dibalut begitu? Damian bilang cuma terkilir ringan."

Lauren menghela napas, menyadari percuma mendesak pertanyaan soal alamatnya lebih jauh, mengingat betapa banyak hal tentang Alex yang selama ini memang tidak pernah sepenuhnya bisa ia pahami.

"Pantas saja tadi sore aku sempat mengira paket itu darimu," batin Lauren, teringat kembali betapa yakinnya ia waktu itu. "Ternyata memang masuk akal aku berpikir begitu, mengingat kau saja sudah tahu di mana aku tinggal, bahkan sebelum aku pernah memberitahumu sendiri."

"Cuma perlu waktu untuk sembuh. Petugas medis bilang seminggu paling lama," jawab Lauren akhirnya, memilih tidak melanjutkan pikirannya tadi.

"Boleh aku masuk?" tanya Alex, nadanya tetap tegas meski terdengar seperti pertanyaan, bukan perintah seperti biasanya.

Lauren ragu sejenak, mengingat kesepakatan jaga jarak yang sudah mereka buat berbulan-bulan lalu, tapi melihat kesungguhan di mata Alex, ia akhirnya melangkah mundur, membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."

Alex melangkah masuk, matanya menyapu ruang tamu kecil apartemen itu sekilas sebelum kembali fokus pada Lauren yang berjalan pelan dengan kruknya menuju sofa. Ia duduk di kursi seberang sofa, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan ia tidak berniat pergi sebelum mendapat penjelasan lengkap.

"Aku sudah minta tim keselamatan kerja periksa ulang ruang arsip itu," kata Alex begitu Lauren selesai bercerita, suaranya tegas dan penuh perhitungan. "Tidak akan ada kejadian serupa lagi di sana."

"Terima kasih," jawab Lauren pelan.

Alex menatapnya lekat, memperhatikan setiap gerak-gerik Lauren dengan seksama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan yang dipaksakan gadis itu. "Ada hal lain yang ingin kau katakan?"

Lauren tertegun sejenak. Pikirannya melayang sekilas ke rangkaian bunga lili yang masih tergeletak di meja dapur, ke suara asing di telepon yang masih terngiang di kepalanya. Tapi ia buru-buru menepis pikiran itu, merasa tidak ada gunanya membebani Alex dengan urusan pribadinya. Alex bukan siapa-siapa, tidak ada ikatan apa pun di antara mereka selain urusan pekerjaan, jadi tidak seharusnya ia membuat masalah kecil ini terdengar lebih besar dari yang seharusnya.

"Tidak," jawab Lauren akhirnya, menggeleng pelan, suaranya berusaha terdengar seyakin mungkin. "Cuma itu saja yang terjadi."

Ia bangkit dari sofa, meraih kruknya, melangkah pelan menuju kamarnya, seolah butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari tatapan menyelidik Alex yang masih tertuju padanya. "Tunggu sebentar, ada yang mau kuambilkan."

Alex mengerutkan kening, tidak yakin apa yang dimaksud Lauren, tapi memilih diam menunggu.

Beberapa saat kemudian, Lauren kembali dari kamarnya, membawa sehelai mantel hitam yang sudah agak lusuh, dilipat rapi di kedua tangannya.

Mantel yang sama yang pernah Alex sampirkan ke bahunya bertahun-tahun lalu, di malam hujan pertama mereka bertemu, mantel yang sejak itu tidak pernah sekali pun ia pakai, hanya tersimpan rapi di lemarinya seperti benda paling berharga yang ia miliki.

"Ini," kata Lauren, menyerahkannya kepada Alex. "Sudah lama sekali aku menyimpannya. Kupikir sekarang waktu yang tepat mengembalikannya."

Alex tetap duduk di kursinya, tidak bergerak sedikit pun, hanya menatap mantel yang tersodor di hadapannya, matanya sesaat melunak sebelum kembali tersembunyi di balik ketenangannya yang biasa. Ia tidak mengulurkan tangan sama sekali untuk menerimanya.

"Aku pikir sudah waktunya kau ambil kembali," lanjut Lauren, mengangkat bahu kecil, mencoba terdengar sewajar mungkin, tangannya masih terulur menyodorkan mantel itu. "Sudah cukup lama tersimpan begitu saja di lemariku, tidak ada gunanya."

"Simpan saja," kata Alex akhirnya, suaranya tegas, tidak berniat mengambilnya sedikit pun. "Aku tidak butuh itu kembali."

Lauren menatapnya, tidak menyangka jawaban itu, tangannya masih terulur canggung di udara sebelum akhirnya menarik kembali mantel itu ke dadanya.

"Dulu aku sendiri yang bilang ini penanda, supaya kita bertemu lagi," kata Alex, suaranya kembali dingin dan tegas, tidak menyisakan ruang untuk dibantah. "Selama penanda itu masih ada di tanganmu, anggap saja kesepakatan itu belum selesai."

"Tapi kita sudah bertemu berkali-kali sejak itu," bantah Lauren, mengerutkan kening, mencoba memahami logika yang menurutnya sudah tidak relevan lagi. "Bahkan tanpa mantel ini pun, kita tetap saja terus bertemu. Jadi menurutku penanda itu sudah tidak diperlukan lagi."

Alex menatapnya lama, tidak langsung menjawab, seolah tidak siap dengan bantahan yang begitu logis itu. "Itu urusanku," katanya akhirnya, singkat, nadanya tetap tegas meski terdengar sedikit kurang meyakinkan dari biasanya. "Simpan saja. Itu perintah, bukan permintaan."

Lauren menghela napas, memilih tidak berdebat lebih jauh, mendekap mantel itu kembali ke dadanya meski masih tidak sepenuhnya mengerti alasan sebenarnya di balik keputusan Alex.

"Kalau begitu istirahatlah. Kau butuh waktu untuk pulih," kata Alex, akhirnya berdiri dari kursinya, kembali memasang topeng ketenangannya yang biasa.

"Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini," kata Lauren, meski jauh di dalam hatinya, rasa bersalah karena tidak sepenuhnya jujur mulai menggerogoti dadanya.

"Aku yang memutuskan apa yang perlu dan tidak," jawab Alex. "Kunci pintu ini baik-baik begitu aku pergi."

Lauren mengangguk, mengantarnya sampai ke pintu, menutup dan menguncinya begitu Alex benar-benar menghilang di ujung lorong. Ia bersandar ke pintu itu sejenak, menghela napas panjang, pikirannya masih bergulat dengan keputusan yang baru saja ia ambil.

*****

Di sebuah restoran mewah di jantung kota London, Zara duduk di ruang VIP bersama tiga teman lama sejak masa kuliah, Camilla, Beatrice, dan Sophie, sebotol anggur putih sudah setengah kosong di tengah meja.

"Kau terlihat lelah," kata Camilla, menyesap anggurnya. "Ada apa? Tumben mengajak kami minum tengah minggu begini."

"Butuh jeda saja," jawab Zara, tertawa kecil. "Ayahku terus menekan soal pernikahan, seolah aku bisa memaksa Alex menentukan tanggal begitu saja."

"Orang tua memang begitu," sahut Sophie, mengangkat bahu. "Punya cara sendiri bikin kita pusing."

Mereka tertawa bersama, suasana yang tadinya berat perlahan mencair.

"Sudah dengar soal pameran seni bulan depan?" tanya Camilla, mengalihkan topik. "Galeri Chelsea katanya akan pamerkan koleksi baru."

"Kita harus datang bareng," sahut Beatrice antusias. "Sudah lama sekali kita tidak jalan bersama seperti dulu."

"Aku ikut," kata Zara, tersenyum lebih tulus, lega bisa membicarakan sesuatu yang jauh dari urusan pertunangannya.

"Kau harus lebih sering begini, Zara," kata Sophie, menyenggol lengannya pelan. "Jangan biarkan urusan keluarga dan bisnis membuatmu lupa bersenang-senang sesekali."

"Kau benar," jawab Zara, menghela napas lega, meski jauh di dalam hatinya, kekhawatiran soal masa depannya bersama Alex masih mengintai di sudut pikirannya, tidak sepenuhnya hilang meski untuk sesaat ia berhasil menyingkirkannya di tengah tawa dan obrolan ringan bersama sahabat-sahabat lamanya.

"Ingat liburan ke Santorini dulu?" kata Camilla. "Kita nekat sewa kapal tanpa rencana sama sekali."

"Dan kau hampir jatuh dari dermaga," goda Beatrice, tertawa. "Videonya masih kusimpan, lho."

"Jangan pernah tunjukkan itu ke siapa pun," protes Camilla, wajahnya memerah, ikut tertawa.

Zara tertawa lepas, suara tawanya terdengar lebih ringan dari yang sudah lama tidak ia rasakan. "Kita rencanakan liburan lagi. Sudah terlalu lama cuma ketemu buat urusan formal."

"Musim panas ini bagaimana?" usul Sophie, mengangkat gelasnya. "Cari destinasi baru, jauh dari keramaian."

Mereka bersulang, gelas beradu pelan, dan Zara membiarkan dirinya sejenak larut dalam kehangatan itu, menikmati momen langka menjadi dirinya sendiri, jauh dari topeng sempurna yang biasa ia kenakan di depan keluarga maupun di kantor.

******

Lauren masih terjaga di sofa, mantel hitam yang gagal ia kembalikan tadi tergeletak di sampingnya, pikirannya belum sepenuhnya tenang sejak kepergian Alex.

Kakinya yang masih dibalut perban ia sandarkan lagi di atas bantal, tapi rasa gelisah di dadanya tidak kunjung mereda. Ia melirik jam dinding, hampir pukul sepuluh malam, dan Ivy masih belum juga pulang dari lemburnya.

Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.

"Kau masih di kantor? Ini sudah malam sekali."

Pesan itu terkirim, tapi tidak ada tanda dibaca yang muncul setelahnya. Lauren menunggu beberapa menit, menatap layar ponselnya, mulai merasa gelisah tanpa alasan yang jelas, mengingat betapa banyak hal aneh yang terjadi hari ini.

Terdengar suara langkah kaki tergesa di lorong luar, disusul suara kunci yang berusaha dimasukkan ke lubangnya berkali-kali, gemetar dan tidak stabil.

Lauren menatap pintu, jantungnya berdebar kencang. "Ivy?"

Pintu akhirnya terbuka, dan Ivy berdiri di ambangnya, napasnya memburu, wajahnya pucat pasi, matanya menyapu ruang tamu dengan tatapan panik sebelum akhirnya terkunci pada sosok Lauren.

"Lauren," bisik Ivy, suaranya bergetar hebat. "Ada orang yang mengikutiku dari kantor tadi."

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!