Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-15
Hari ini, Tasya dijemput oleh Santi untuk memilih kebaya pengantin yang akan dipakai saat pernikahan nanti.
"Tasya, kamu suka yang ini tidak?" Santi menunjukkan kebaya berwarna putih yang terlihat modern dan sangat indah.
"Ini bagus Bu!" serunya.
"Ya sudah, saat akad nanti kamu pakai yang ini!" ujar Santi senang. Tasya hanya bisa mengangguk saja.
Santi melihat-lihat kebaya yang lain. Pasalnya, Santi ingin melihat Tasya menggunakan tiga kebaya yang berbeda. Meskipun pernikahan ini mendadak, tapi Santi ingin pernikahan anak satu-satunya itu terlihat sempurna dan menjadi kesan yang indah, hingga selalu dikenang.
Mata Tasya tertuju pada gaun berwarna ungu muda. "Kamu suka gaun itu?" tanya Santi, tanpa sadar Tasya mengangguk.
"Mbak, saya ingin gaun yang itu!" Santi menunjuk gaun yang diinginkan Tasya.
"Ibu... i-ini semua pasti sangat mahal!" ujar Tasya.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu suka dan nyaman saat hari pernikahan nanti!" ucap Santi sambil tersenyum.
"Oh ya, ini..." Santi mengambil sejumlah uang dari dompetnya. "Ini gajimu selama bekerja di salon!" sambungnya.
"T-tidak perlu Bu. Tasya mempunyai hutang yang sangat besar pada Ibu. A-anggap saja, itu---"
"Tidak Tasya, ini adalah hakmu!" Santi meletakkan uang itu di telapak tangan Tasya. "Soal itu kan kamu sudah bersedia menikah dengan anak Ibu. Jadi, kamu tidak punya hutang apapun pada Ibu." Tuturnya.
"Tapi Bu---"
"Tasya, Ibu tidak ingin ada penolakan. Oh ya, jangan panggil Ibu lagi, panggil aku Mama."
"Seperti Angga memanggil Mama, kamu juga akan menjadi anakku." Sambungnya, Santi tersenyum senang.
"B-baik Ma..." jawabnya kaku.
***
BRAK!
Angga mengeryit, menatap wanita yang telah mengganggunya yang tengah sibuk bekerja.
"Angga! Kenapa? Kenapa kamu mengkhianatiku!" ucap Mona sambil marah-marah.
"Mengkhianatimu?" Angga menatap Mona bingung.
"Ya, orang-orang bilang kamu akan menikah! Siapa? Siapa wanita yang berani merebutmu dariku! Siapa?!" teriak Mona, ia menarik-narik kerah baju yang dipakai oleh Angga.
"Mona!" bentak Angga.
"Apa-apaan kamu ini hah?! Pergi dari sini! Aku sedang sibuk!" tambahnya.
Mona mulai menangis, melepas lemah tangannya dari kerah baju Angga. "Ga... aku mohon, jangan menikah dengan orang lain, a-aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain... ak-aku sangat mencintaimu. Aku mohon Ga... jangan menikah dengan wanita itu, huu..."
Angga mengusap wajahnya gusar. Angga segera menelepon seseorang. "Cepat datang ke ruanganku!"
"K-kamu menelpon siapa?" tanya Mona gugup.
Tok... Tok...
"Masuk!"
"Tuan memanggilku?" tanya satpam.
"Bawa dia keluar, aku sedang sibuk!" tegas Angga.
"Baik Tuan, ayo Nona!" satpam itu akan membawa Mona keluar.
"Tidak! Lepaskan aku!" Mona memberontak.
"Angga! Aku ini teman bisnismu! Kita sudah bekerjasama! Kau tidak boleh melakukan ini padaku!"
Angga tersenyum kecut, "Apa kau tidak tahu? Kalau kau telah berbohong padaku?" Angga mendekati Mona dan mencengkram dagunya.
"Ibumu tidak sakit bukan? Semua itu palsu! Apa kau pikir aku tidak tahu?" ia terdiam sejenak.
"Cih! Kalian sekeluarga memang licik! Tidak pernah berubah. Pergi dari sini, atau aku akan melaporkanmu atas kasus penipuan!"
"Angga... m-maafkan aku, aku melakukan itu untuk bisa kembali padamu. Aku mohon Ga... jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu..." lirihnya.
"Kita sudah tidak bekerjasama lagi. Satpam, bawa dia pergi dari sini! Pastikan kalau dia tidak akan memasuki perusahaanku lagi! Cepat!"
"Baik Tuan! Ayo Nona!" kata satpam itu.
"Angga... Angga! Kau akan menyesal karena telah membuatku seperti ini!"
Mona telah dibawa keluar oleh satpam itu, "Nona, jangan pernah datang ke sini lagi!" kata satpam itu.
"Kau!" Mona meninggalkan tempat itu dengan penuh amarah, saat mengendarai mobilnya pun, Mona tidak fokus pada jalanan.
"Arrghhh!!!" teriak Mona frustrasi, ia melajukan mobilnya dengan kencang, sampai ia tak menyadari ada truk di hadapannya.
BRAK!
***
Beberapa hari kemudian. Hari pernikahan pun telah tiba.
"Mama senang, akhirnya kamu mau menikah dengan Tasya," ucap Santi senang.
"Ini semua untuk Mama..." lirih Angga pasrah.
Sebenarnya, Angga tidak ingin menikahi Tasya. Wanita yang tidak pernah dicintainya, dan wanita yang selalu membuatnya kesal. Angga terpaksa menerima pernikahan ini demi Santi.
Flashback On
"Dasar gadis barbar! Bisa-bisanya dia muntah di dalam mobilku!" Angga berjalan memasuki rumahnya dengan kesal.
"Mama," gumamnya, ia melihat Santi sedang duduk di depan televisi.
"Ma... tadi Angga ketemu Tasya di jalan. Dia bolos kerja tuh! Mama pecat aja dia!"
"Ma, kenapa Mama diam?" Santi tidak menanggapi apa yang dikatakan anaknya itu. Tentu saja, ini adalah taktiknya agar Angga setuju untuk menikah dengan Tasya.
"Ma... ayolah, Angga benar-benar tidak ingin menikahinya," lirih Angga.
Santi mengambil pulpen dan kertas yang memang sengaja sudah ia siapkan untuk situasi seperti ini. Santi menuliskan sesuatu di kertas itu. Lalu memberikan kertas itu pada Angga.
Angga membaca isi kertas itu, "Mama sudah bilang, kalau Mama tidak ingin bicara sebelum kamu setuju untuk menikah dengan Tasya," Angga menghela nafas panjang.
"Mama, aku tetap tidak ingin menikahinya!" Angga pergi meninggalkan Santi menuju kamarnya.
Hari berikutnya, Santi tetap tidak berbicara sepatah katapun pada Angga. Angga menjadi serba salah. Di satu sisi, ia tidak mencintai Tasya, dan di sisi lain ada mamanya yang sangat ia sayangi. Selama ini, ia selalu menolak wanita yang akan dijodohkan dengannya. Ia juga sudah lelah dengan semua ini. Tasya? Menikah dengan Tasya? Apakah masa depannya akan buruk? Mengingat Tasya yang selalu membuatnya kesal. Tapi, sebenarnya Tasya memang tidak terlalu buruk. Tasya memang baik, tapi dia juga sangat menyebalkan.
"Apa yang harus kulakukan?!" gumam Angga, ia mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Angga berjalan menuju kamar Santi, berharap Santi bisa memahami keinginannya.
"Hiks..." Angga melihat mamanya yang sedang menangis.
"Apa Mama menangis karena aku?" batin Angga.
Isakan tangis Santi semakin terdengar kencang. Itu membuat Angga semakin merasa bersalah. Niatan untuk membujuk mamanya sirna sudah.
"Ma, aku bersedia menikah dengan Tasya!"
Flashback Off
Akhirnya Angga dan Tasya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Dalam satu tarikan nafas, Angga mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan lancar. Itu semua membuat Santi senang dan merasa terharu. Akhirnya ia bisa melihat anak satu-satunya itu menikah.
Ratih dan Dessy pun turut bahagia. Sebenarnya Ratih masih belum benar-benar pulih. Tapi ia memaksa untuk menyaksikan pernikahan Tasya. Akhirnya ia terpaksa datang dengan menggunakan kursi roda.
"Nona, selamat. Bibi ikut bahagia dengan pernikahanmu ini," ucap Ratih terharu.
"Makasih Bi, Tasya sangat menyayangi Bibi." Tasya memeluk Ratih dengan sayang.
"Tasya, selamat ya! Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah."
"Amin. Terima kasih Dessy! Aku juga sangat menyayangimu!" ujar Tasya, ia beralih memeluk Dessy.
***
Happy reading 😘
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤