Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan Warisan
Dimas tiba di rumahnya dengan wajah kesal. Rasa ingin menguasai Kasih cukup besar.
Ia tak lagi dapat mengendalikan dirinya. Setiap kali ia membayangkan wajah Kasih, maka rudalnya akan segera bangkit.
Pesona Kasih sungguh membuat dirinya harus merasakan penderitaan yang luar biasa. Bathinnya terguncang, dan tak dapat tidur dengan nyenyak.
Ia mengambil ponselnya. Lalu menggulir galeri. Disana ia menemukan foto Kasih yang ia ambil secara diam-diam, saat gadis itu pertama kali bekerja di cafe miliknya.
Dimas langsung mengunggahnya, dan menyatukannya dengan caption [My Bini].
Saat bersamaan, Hendra sedang menggulir ponselnya dan berselancar di media sosial.
Tanpa sengaja, ia melihat postingan dari Dimas. Hendra tersenyum licik. "Bagus... Nanti kalau nikah beneran, kita tinggal minta maharnya saja,"
Santi yang mendengarnya langsung naik darah. Ia membanting gelas yang di pegangnya.
Praaang!
Gelas jatuh berserakan. Puing-puingnya berpencar kesegala arah.
Tatapannya tajam menusuk jantung. "Dasar, Brengsek! Kamu memang tidak punya hati!"
"Emangnya kenapa? Dia bukan anak kandung kita!" balas Hendra dengan sengit.
"DIAM!" bentak Santi, sembari menangis. "Aku yang membesarkannya selama delapan belaal tahun!" sentak Santi.
Mendengar omelan Santi, Hendra langsung keluar, dan pergi. Tinggal Santi yang duduk meratap dengan hati sedih di atas lantai.
Perlahan ia bangkit, dan membuka galeri. Foto Kasih saat masih umur seminggu. Dan ia dalam pelukan Santi.
"Maafin Ibu, Nak..." bisiknya dengan hati yang miris.
Di sisi lain, Kasih tertidur di dalam gudang warung lagi. Ia masih memeluk boneka milik Santi.
***
Kabut tebal turun di hutan yang asing. Kasih berjakan tanpa arah. Ia bingung mengapa bisa terjebak dihutan tersebut.
"Aku ada dimana?" pikirnya dengan rasa takut.
Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hanya ada hutan dengan pohon-pohonnya yang tinggi menjulang dan berukuran sangat besar.
Wuuusssh!
Tiba-tiba saja, satu sosok pria tua renta dengan janggut yang memutih, dan mengenakan pakaian serba hitam sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Kasih...." panggilnya dengan suara serak dan menggema.
"Hah!"
Kasih tersentak kaget. Lalu menoleh le sumber suara. Saat ia melihat siapa yang memanggilnya, ia membeliakkan kedua matanya.
"S-siapa, Kamu?!" ucapnya dengan nada bergetar.
Wajah Kasih tampak memucat.
"Jangan takut... Aku adalah darahmu... Aku hanya datang untuk menagih hutang," ucap pria tua tersebut dengan bibirnya yang bergerak pucat dan keriput. Lebih mirip dengan pantat ayam.
"Hutang? Hutang apa? Aku bahkan tidak mengenalmu!" Kasih berjalan mundur dengan wajah pucat pasi.
"Aku adalah Mbah Jati, ayahmu... mendekatlah, Sayang. Sudah saatnya kau berbakti padaku. Berikan aku makanan," ucapnya dengan suara yang serak.
Kasih membeliakkan matanya. "Ayah? Tidak mungkin. Aku tidak mungkin memiliki ayah setuamu, mana jelek lagi," cibirnya.
"Anak sialan! Kalau bukan aku yang mencetakmu dengan ibumu, maka kau tidak akan lahir ke dunia! Mulai sekarang, carikan makanan, aku lapar, dan kau terlahir dengan membawa kutukan!" ucapnya.
Deeegh!
Jantung Kasih seolah hendak terlepas. Dadanya bergemuruh. "Sangat malang nasibku. Memiliki ayah sepertimu, dan mewarisi kutukan." Kasih kerasa sangat kesal dan merutuki nasibnya yang sial.
"Mengapa kau tidak mewariskan kekayaan? Perusahaan, atau emas yang berharga? Tetapi lau hanya mewariskan kutukan. Aku lebih baik tidak terlahir ke dunia, jika harus menderita," sesal Kasih.
"Dasar anak tak tau di untung! Kau itu dapat rupa cantik dan body goals itu dari mana? Kalau bukan aku ayahnya!"
"Cuuuiih!" Kasih meludah. "Aku tak sudi. Aku bukan budak siapapun!" Kasih berjalan mundur, dan ia berbalik arah, bersiap untuk kabur.
Kasih langsung berlari menembus kabut yang tebal.
"Kasih.... Kau tidak akan dapat lari dari kutukan ini. Tumbal tujuh pria harus kau dapatkan..."
Suara Mbah Jati menggema dan masih terdengar di telinga kasih, meskipun ia merasa sudah berpari sangat jauh.
"Huh! Huh! Huh!" suara nafas tersengal.keluar dari mulut Kasih. Ia berlari dengan kencang dan sesekali menoleh ke arah belakang.
Dan tanpa ia duga, satu sosok makhluk Kalajengking dengan kepala manusia berambut botak sedang mengejarnya.
"Aaaaaaaa...." pekik Kasih dengan ketakutan. Sebab sosok mengerikan itu seperti ingin menelannya.
"Kasih.... Bagun," Bu Yati menepuk pipinya. Dan itu berhasil membangunkan Kasih.
"Hah!"
Kasih tersentak kaget. Lalu menatap Bu Yati dengan wajah pucat.
"Kamu mimpi buruk ya?" tanya Bu Yati dengan wajah penuh khawatir.
Kasih menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ayo, tidur di rumah ibu saja," ucapnya dengan lembut.
Kasih menggelengkan kepalanya. Ia merasa sadar diri, dan tak ingin membuat Bu Yati merasa terbebani.
"Bu... Ibu tau gak dimana Panti Asuhan Pelita?" tanya Kasih tiba-tiba.
Bu Yati mengerutkan keningnya. "Memangnya kamu mau ke sana?" tanya Bu Yati dengan wajah penasaran.
Kasih menghela nafasnya dengan berat. Kemusian menatap kepada Bu Yati. "Kasih mau tau siapa yang sudah melahirkan Kasih." ucapnya.
Ia ingin tahu, rahasia apa yang sudah tersembunyi di dalam dirinya.
"Panti Asuhan Pelita ada di Kabupaten sebelah. Jika kamu mau kesana, maka kamu harua mempersiapkan ongkos terlebih dahulu, untuk bekap di perjalanan," jawab Bu Yati.
"Iya, Bu...makasih," jawabnya dengan pelan.
"Ya sudah.. Sekarang kamu tidur lagi," ucap Bu Yati.
****
Kasih baru saja akan memejamkan kedua matanya. Tetapi ia seperti mendengar suara langkh kaki yang berhenti di depan gudang. Kasih menggigil ketakukan, dan semakin erat mendekap boneka beruangnya.
Perlahan suara itu kembali berjalan mundur, dan melangkah menjauh.
Kasih bernafas lega, dan akhirnya dapat tertidur pulas.
Saat mentari baru saja menyingsing dari arah ufuk timur. Kasih terbangun dari tidurnya.
Ia keluar dari gudang, dan berniat akan shalat subuh. Tetapi i di kejutkan oleh sebuah tulisan di kertas HVS yang menggunakan darah ayam.
[Menikah denganku, atau Bu Yati Mati hari ini juga]
Mendadak lutut Kasih terasa lemas. Ia seperti terkena serangan yang tak berdarah.
Dari ujung gang, terlihat sebuah mobil sudah berhenti di tepi jalan, dan kaca pintunya di buka, sengaja ingin memperlihatkan kepada Kasih, jika Bu Yati berada di dalam, dalam kondisi tangan diikat dan mulutnya di lakban.
Tak hanya itu, Dimas juga di sana, membawa sebuah pisau yang tajam, dan di letakkan ke leher Bu Yati, sebagai ancaman.
Kasih akhirnya menyerah. Ia tidak mungkin mengorbankan Bu Yati yang sudah baik padanya. Ia tak.punya pilihan lain.
Akhirnya Kasih melangkah dengan pelan menuju le arah Dimas.
Ia berdiri di depan pintu. "Lepaskan Bu Yati.. Aku akan ikut denganmu," ucapnya dengan pasrah.
Dimas tersenyum. "Baiklah... Akhirnya kau menyerah juga," ucap Dimas dengan bangga.
Bu Yati di lepaskan, dan Kasih menggantikan posisi wanita tersebut, masuk kedalam mobil tanpa bicara apapun.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )