“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam:cemburu buta
"Sayang, bangun..." Alya mengusap pelan pipi Kevin, suaranya lembut membangunkannya.
Kevin membuka mata perlahan, masih terlihat mengantuk. "Masih pagi, Alya... Aku ingin tidur sebentar lagi," gumamnya sambil menarik tubuh Alya untuk dipeluk erat.
"Jangan, nanti kamu kesiangan, Kevin. Hari ini kan ada proyek penting, Sayang," ucap Alya lembut namun tegas.
Mata Kevin seketika terbuka lebar. "Oh iya! Aku lupa banget. Ya sudah, aku siap-siap dulu deh."
Alya tersenyum bahagia. "Ya sudah, sana mandi. Aku buatkan sarapan ya."
Kevin tersenyum lebar, menatapnya penuh cinta. "Makasih ya, Calon Istriku."
Aku berdiri di depan kompor, bingung mau masak apa. Bikin roti bakar aja kali ya, yang simpel gampang. Lagipula aku memang tidak pandai memasak — bahkan masakan Kevin jauh lebih enak daripada milikku.
Aku pun mulai memanggang roti yang diolesi selai kacang. Biasanya aku cuma beli di warung kalau sarapan, jarang sekali bikin sendiri. Tapi kali ini aku mau berusaha bikin sarapan yang sehat untuknya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, lalu suara Kevin.
"Sayang... bau apa ini? Kok kayak ada yang gosong?"
Ya Tuhan! Aku lupa membalik rotinya!
Aku panik memegang kepala — rotinya sudah gosong! Wajahku memerah malu sekali. Aduh, malu banget... nanti diledek Kevin lagi gimana ya?
Kevin datang mendekat, mencium bau itu sambil menahan tawa.
"Tidak apa-apa, Kevin... ini cuma bau masakan saja kok," jawabku canggung berusaha menutupi rasa malu.
Kevin tersenyum lembut, mengusap kepalaku. "Oke, baiklah, Sayang. Nggak apa-apa kok."
"Aku mau coba masakan calon istriku sendiri," ucap Kevin lembut.
"Jangan deh... nanti kamu nggak suka," jawabku cemas.
"Nggak apa-apa, Alya. Biar aku coba lihat dulu."
Aku pun mendekat, membawa piring berisi roti yang agak gosong itu.
"Aku coba ya..." Kevin menggigit pelan. Matanya terpekat sejenak. "Hmm... ada rasa smokey-nya ya. Tapi enak kok, Sayang. Serius."
"Ih, kamu ya... sudah jangan dimakan deh. Nggak enak, pahit gitu," cibirku tak tega.
Kevin tersenyum lembut, meletakkan tangannya di atas tanganku. "Sudah, jangan capek-capek masak lagi ya. Nanti aku suruh Mbak yang memasak. Kamu tinggal bilang saja apa yang kamu mau makan."
"Baik deh..." jawabku pelan.
"Dan jangan ketawa terus ya..." tambahnya sambil tersenyum jahit, membuatku makin malu.
Di dalam hati, Alya merenung pelan. Gimana nih... aku masak aja nggak bisa, gimana caranya jadi istri yang baik buat dia nanti?
Rasa minder perlahan menyusup — melihat Kevin begitu sempurna di matanya, sementara dirinya merasa belum bisa melakukan hal sederhana sekalipun dengan baik. Padahal niatnya tulus, ingin memberi yang terbaik bagi calon suaminya.
Aku dan Kevin berangkat ke kantor bersama di dalam satu mobil. Tak disangka, ada yang melihat kami saat mobil berhenti di area parkir.
Tak lama, bisik-bisik mulai terdengar di antara para karyawan.
"Ih, lu tau gak sih? Si Alya kayaknya simpenan Pak Kevin deh," bisik Clara pada Puput.
"Masa sih?" jawab Puput tak percaya tapi penasaran.
"Lihat aja, masa berangkat bareng ke kantor gitu?"
"Ya kan dia sekretarisnya... tapi aneh juga ya," sahut Puput.
"Masa iya cuma sekretaris? Jangan-jangan Alya cuma mau uangnya doang, manfaatin Pak Kevin begitu..." bisik Clara lagi, suaranya terdengar penuh tuduhan.
Sinta yang kebetulan lewat mendengar percakapan itu, wajahnya langsung berubah kesal.
"Anjir, sialan juga anak kampung itu... makin berani saja ya."
Ia mencengkeram tangan erat, tatapannya tajam. "Lihat aja lu... gue bikin dia pergi dari sini."
Sementara itu, Alya berjalan menuju ruang kerjanya. Hatinya mulai merasa aneh — semua staf yang ia temui menatapnya dengan pandangan yang berbeda, penuh bisik-bisik dan tatapan sinis.
"Ih... pada kenapa dah? Kok mereka lihat aku begitu ya?" batinnya bingung dan tak nyaman.
Sinta yang masih menyimpan kekesalan itu tiba-tiba masuk ke ruangan Alya dengan wajah tak bersahabat.
"Tolong bereskan berkas ini, Alya. Urgent, saya butuh segera," ucapnya ketus sambil meletakkan tumpukan berkas setinggi gunung di meja.
"Baik, Mbak," jawabku pelan, berusaha tetap sopan walau terkejut.
Sinta menatapnya sinis sambil tersenyum tipis penuh kemenangan. Rasain lu... berkas sebanyak itu, mana bakal selesai secepat itu.
Aku menatap tumpukan berkas yang menutupi meja kerjaku. Banyak banget... Dia kasih kerjaan nggak pakai perhitungan ya?
Di dalam hati, rasanya kesal sekali. Tapi aku sadar siapa diriku saat ini — aku cuma anak magang. Tak punya hak untuk menolak atau mengeluh. Hanya bisa menunduk dan menerima semuanya.
Tanganku terasa berat, tubuh pun terasa lelah sekali setelah mengerjakan tumpukan berkas itu. Aku memutuskan membuat secangkir kopi hangat di dapur kantor — semoga dengan minum kopi, tenaga kembali dan semangat bertambah.
Saat sedang mengaduk kopi, mataku tak sengaja melihat Sinta berjalan masuk ke ruangan Kevin sambil membawa secangkir kopi juga.
Ih... jadi cewek cari muka banget deh. Ngapain coba dia ke ruangan Kevin bawa-bawa kopi begitu?
Tanganku mengaduk kopi itu makin kencang, rasa kesal perlahan menyusup.
Dasar nenek sihir... gara-gara dia aku capek banget ngerjain kerjaan yang nggak masuk akal itu.
Aku kembali ke ruanganku dengan hati yang tak tenang. Rasa cemburu menyelinap pelan. Ih... ngapain dia lama banget di sana?
Namun aku segera menggeleng pelan, menenangkan diri sendiri. Alya, dia kan juga karyawan di sini. Wajar kalau ada urusan kerja. Ngapain sih cemburu begitu? Lagipula... Kevin cinta cuma sama aku. Hanya aku. Tidak perlu takut.
Kevin menatap dingin sikap wanita yang berusaha mendekatinya itu.
"Ada keperluan apa, Sinta?" tanyanya datar, tanpa senyum sedikit pun.
Sinta mencoba merayu dengan segala caranya, namun tak satu pun berhasil. Kevin langsung menepis pelan tangan yang menyentuh lengannya.
"Jaga batasanmu, Sinta. Kita cuma rekan kerja saja."
Sinta tak terima, suaranya meninggi. "Kenapa kamu nggak pernah ada rasa sama aku? Kurang aku tuh apa?! Aku cantik, aku pintar, Kevin!"
"Terima kasih. Tapi aku memang nggak suka sama kamu," jawab Kevin tegas tanpa ragu.
"Kenapa nggak suka? Aku bisa kok... aku bisa bikin kamu suka sama aku," ucapnya tak menyerah, masih berusaha mendekat.
"Kita berdua itu cocok, Kevin. Pasangan yang serasi banget," ucap Sinta tak menyerah, semakin mendekat.
Kevin menahan amarahnya sekuat tenaga, suaranya rendah namun tegas. "Kalau bukan karena Pak Hadi, kamu nggak bakal kerja di sini. Jaga batasanmu, Sinta. Aku nggak suka kamu."
Namun Sinta tak peduli, tangannya berusaha meraih lengan Kevin. Tepat saat itu, pintu terbuka.
"Permisi, Pak..." Alya berdiri di ambang pintu, matanya tak sengaja menangkap pemandangan itu — Sinta berdiri sangat dekat dengan Kevin, tangannya menyentuh lengan pria yang dicintainya itu.
"Aku mau ambil berkas proyek Kota Bandung," lanjut Alya pelan, berusaha menyembunyikan guncangan di hatinya.
"Silakan, Alya. Ambil saja," jawab Kevin lembut, tak sempat menjauhkan diri.
Alya mengambil berkas itu dengan tangan gemetar. Ih... apa-apaan ini? Kok dia sedekat itu sama cewek lain? Rasa cemburu dan sakit hati menyergap seketika. Tanpa menatap mereka lagi, ia hanya diam dan berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan hati yang perih.
"Dasar semua cowok sama saja! Baru ditinggal sebentar, sudah dapat cewek lain..." batin Alya, cemburu meradang di dadanya. Ia mencoba menenangkan diri dan kembali menyelesaikan pekerjaannya, tapi tangannya gemetar menahan rasa sakit.
Sementara itu di ruangan, Kevin melihat kepergian Alya dengan cemas. Ya Tuhan... pasti dia salah paham tadi. Padahal aku nggak ada apa-apa sama Sinta sama sekali!
Ia menoleh dan melihat Sinta masih berdiri di sana. Wajahnya langsung berubah dingin dan tegas.
"Kalau tidak ada kepentingan lain, silakan keluar. Kerjakan tugas yang harus dikerjakan dan selesaikan pekerjaanmu," ucapnya ketus, mengusir wanita itu tanpa ragu.
Sinta berjalan keluar dengan senyum penuh kemenangan, hatinya penuh dengki. Rasain lu, Alya! Kevin suka sama gue. Nggak mungkin dia suka sama lu — muka lu kayak cewek desa begitu, mana selevel sama gue!
Kevin cemas memikirkan Alya. Takutnya dia ngambek lagi... lalu pergi dari rumah seperti kemarin. Ia yakin sepenuhnya — gadis itu pasti salah paham melihat kejadian tadi. Duduk di kursi kerjanya, ia terus memikirkan cara menenangkan hati Alya.
Kasih bunga dan camilan aja ya... Dia suka banget ngemil, kan? Anak itu memang suka jajan segala macam.
Tiba-tiba panggilan dari resepsionis terdengar lewat telepon ruangan.
"Mbak Alya... ada paket untuk Mbak."
"Hah? Paket apa ya, Kak?" tanyaku bingung.
"Belum tahu isinya, Mbak. Mbak Alya langsung ambil di lobi saja ya."
"Baik... terima kasih ya," jawabku penasaran sekali.
Aku berjalan menuju lift untuk mengambil paket itu. Sesampainya di lobi, resepsionis langsung menyerahkan bungkusan itu.
"Ini, Mbak. Titipannya."
"Makasih ya, Kak."
Aku tertegun — buket bunganya besar sekali, cantik memikat. Dari siapa ya?
Mataku lalu jatuh ke secarik kertas yang terselip di sana. Kubaca pelan:
Sayang, jangan cemburu ya. Aku nggak ada apa-apa sama dia.
Seketika aku paham — ini dari Kevin! Bukan sogokan, melainkan penenang hati yang tulus. Di samping bunga, ada kotak berisi makanan ringan kesukaanku dan makan siang yang tampak lezat.
Ih... kebetulan banget aku lagi lapar sekali!