Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bima tersenyum tipis merespons kekhawatiran itu.
"Biarkan saja mereka datang."
"Saya seorang dokter, dan sudah tugas saya untuk membasmi penyakit, baik itu bakteri maupun manusia berhati kotor."
Kiara menatap Bima dengan sorot mata penuh kekaguman.
Keberanian pemuda di depannya ini benar-benar tidak bisa diremehkan.
"Dokter Bima, kami sangat berterima kasih atas semua ini."
"Uh..."
Tiba-tiba, ucapan Kiara terhenti di tengah kalimat.
Wajah wanita cantik itu mendadak berubah pucat pasi seperti kertas.
Dia memegangi dada kirinya dengan tangan gemetar.
Prang!
Cangkir teh yang dipegang Kiara jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
"Kiara! Ada apa, Nak?!" teriak Kakek Darma panik dan langsung berdiri dari kursinya.
Napas Kiara terdengar sangat pendek dan tersengal-sengal.
Keringat dingin seketika membanjiri dahi dan lehernya.
"Sakit... dada Kiara sakit sekali, Kek," rintih Kiara dengan suara sangat lemah.
Tubuh Kiara perlahan merosot dari kursi, namun Bima bergerak secepat kilat.
Srekk.
Bima melompat melewati meja makan dan menangkap tubuh Kiara sebelum jatuh ke lantai.
"Sistem, pindai tubuhnya sekarang juga!" batin Bima berteriak panik.
[Peringatan Darurat.]
[Kardiomiopati Hipertrofik pasien sedang mengalami eksaserbasi akut.]
[Otot jantung pasien menegang secara berlebihan dan menghalangi aliran darah keluar dari bilik kiri.]
[Denyut jantung melonjak hingga 180 kali per menit.]
[Estimasi waktu sebelum henti jantung total: 3 menit.]
Tulang punggung Bima terasa sedingin es membaca peringatan itu.
Bom waktu di dalam dada Kiara benar-benar meledak malam ini.
Bibir Kiara mulai berubah warna menjadi kebiruan karena tubuhnya kekurangan oksigen secara ekstrem.
"Bima! Tolong cucuku!"
"Apa yang terjadi padanya?!" Kakek Darma berteriak histeris dengan wajah penuh ketakutan.
Bima merebahkan tubuh Kiara di atas karpet tebal di ruang makan itu.
"Kakek Darma, jangan panik!"
"Nona Kiara sedang mengalami serangan jantung akibat penebalan otot bilik kirinya."
"Pelayan! Cepat bawakan sebaskom air es batu penuh dan sebuah handuk!" teriak Bima ke arah para pelayan yang kebingungan.
"Cepat lakukan apa yang dia suruh!" bentak Kakek Darma mengulangi perintah Bima.
Bima segera melonggarkan kerah gaun Kiara agar jalan napasnya lebih terbuka.
"Sistem, aku tidak punya alat kejut jantung atau obat Beta Blocker di sini."
"Beri aku solusi dari perpustakaan medis untuk menstabilkan detak jantungnya!" tuntut Bima dalam hatinya.
[Akses Perpustakaan Medis diizinkan.]
[Menyarankan kombinasi Manuver Vagal dan Stimulasi Refleks Menyelam Mammalia.]
[Instruksi: Berikan kejutan suhu dingin ekstrem pada saraf wajah pasien untuk mereset pacu jantung alaminya.]
[Lanjutkan dengan pijatan kuat pada sinus karotis di leher kanan.]
Otak Bima memproses informasi itu dalam hitungan milidetik.
Ini adalah teknik pengobatan darurat tanpa obat yang sangat berisiko, tapi ini satu-satunya cara.
"Ini air esnya, Dokter!"
Seorang pelayan pria datang berlari membawa sebuah baskom perak berisi air dan pecahan es batu.
"Pegang kepalanya, jangan biarkan dia meronta!" perintah Bima pada pelayan itu.
Bima mengambil handuk kering dan mencelupkannya sepenuhnya ke dalam baskom es.
Handuk itu menjadi sangat dingin dan kaku seketika.
"Maafkan aku, Nona Kiara."
"Ini akan terasa sangat tidak nyaman," gumam Bima.
Byurr!
Bima menempelkan handuk basah dan sangat dingin itu tepat menutupi seluruh wajah Kiara.
Kejutan suhu ekstrem itu membuat tubuh Kiara tersentak hebat.
Air es mengalir membasahi rambut dan gaun mewahnya.
Sistem saraf trigeminal di wajah Kiara langsung bereaksi terhadap rasa dingin yang tiba-tiba.
"Sekarang pijatannya," batin Bima dengan fokus tingkat tinggi.
Dia menggunakan dua jarinya untuk menekan bagian samping leher kanan Kiara, tepat di atas denyut nadi karotis.
Bima memijat titik itu dengan gerakan memutar sambil memberikan tekanan yang cukup kuat.
Ini adalah manuver untuk menipu otak agar menurunkan detak jantung secara drastis.
"Satu, dua, tiga..." Bima menghitung di dalam hatinya.
Tangan kirinya terus memegang handuk es di wajah Kiara, sementara tangan kanannya terus memijat saraf di leher.
Kakek Darma hanya bisa menonton dengan napas tertahan dan doa yang terus dipanjatkan.
Satu menit yang terasa seperti neraka akhirnya berlalu.
[Pembaruan Status.]
[Manuver Vagal berhasil memberikan respons.]
[Denyut jantung pasien perlahan turun ke angka 110 kali per menit.]
[Sumbatan aliran darah mulai terbuka.]
Bima segera mengangkat handuk es itu dari wajah Kiara.
"Hahhh!"
Kiara mengambil napas dalam-dalam yang terdengar sangat serakah akan udara.
Warna biru di bibirnya berangsur-angsur menghilang dan berganti menjadi pucat.
Mata Kiara perlahan terbuka, menatap langit-langit dengan pandangan kosong dan lelah.
"Nona Kiara, apakah Anda bisa mendengar suara saya?" tanya Bima dengan lembut.
Kiara menoleh lemah ke arah Bima dan mengangguk pelan.
"Dada... dadaku sudah tidak terlalu sakit," bisik Kiara dengan suara serak.
Bima menghela napas lega hingga tubuhnya terasa lemas.
Dia berhasil menyelamatkan wanita ini dari ambang kematian tanpa alat medis apa pun.
Kakek Darma langsung jatuh berlutut di samping cucunya.
Dia menangis bahagia sambil menggenggam tangan Kiara yang dingin.
"Syukurlah... syukurlah kau selamat, Sayang."
"Kakek pikir Kakek akan kehilanganmu malam ini," isak pria tua yang biasanya tangguh itu.
Kakek Darma lalu menatap Bima dengan pandangan penuh tanda tanya dan ketakutan.
"Bima... penyakit apa yang sebenarnya bersarang di tubuh cucuku?"
"Dia rutin melakukan cek kesehatan, dan dokternya bilang dia sangat sehat."
Bima duduk bersila di atas karpet sambil mengatur napasnya sendiri.
"Nona Kiara menderita Kardiomiopati Hipertrofik, Kakek Darma."
"Ini adalah kelainan genetik bawaan di mana otot jantungnya tumbuh terlalu tebal."
"Penyakit ini sangat pendiam dan tidak terdeteksi oleh EKG standar sampai serangan fatal pertama terjadi."
Mendengar penjelasan itu, Kiara meneteskan air mata di sudut matanya.
"Apakah... apakah aku akan mati, Dokter Bima?" tanya Kiara putus asa.
Bima menatap lurus ke dalam mata Kiara dengan tekad yang membara.
"Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan penyakit apa pun mengambil nyawamu, Nona Kiara."
"Serangan malam ini hanya peringatan."
"Aku akan menggunakan semua pengetahuanku untuk mencari cara menyembuhkan jantungmu tanpa harus melakukan operasi bedah yang berisiko tinggi."
Ucapan Bima terdengar sangat meyakinkan, membuat Kiara dan Kakek Darma merasa memiliki harapan baru.
[Peringatan Sistem.]
[Kondisi jantung pasien sangat tidak stabil.]
[Host harus mencapai Level Reputasi: Dokter Spesialis Senior dalam waktu 30 hari untuk membuka prosedur penyembuhan genetik.]
[Misi Utama Tahap Dua diaktifkan.]
Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Waktu tiga puluh hari adalah tenggat yang sangat singkat di dunia medis.
Tapi demi menyelamatkan wanita yang mulai mengisi hari-harinya ini, Bima siap membalikkan seluruh rumah sakit.
Bima menggendong tubuh Kiara yang masih lemas dengan kedua lengannya.
"Siapkan kamar istirahatnya, Kakek Darma."
"Saya akan berjaga di sampingnya semalaman ini untuk memastikan detak jantungnya tetap stabil."
Kakek Darma mengangguk cepat dan segera memerintahkan pelayan untuk membuka kamar utama.
Malam itu, Bima menyadari satu hal penting.
Musuhnya kini bukan hanya dokter korup atau sindikat gelap.
Musuh terbesarnya saat ini adalah waktu yang terus berdetak di dalam dada Kiara.