Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Jejak Rahasia
Arya mulai merasa diawasi saat terlalu banyak orang berusaha tidak menatapnya.
Di gerbang sekolah, seorang pedagang minuman baru muncul tiga hari berturut-turut tetapi tidak pernah menjual lebih dari lima gelas. Di halte, motor hitam berhenti pada jam yang sama, pengendaranya selalu memakai helm tertutup meski cuaca panas. Di media sosial, tiga akun berbeda memakai kalimat yang mirip ketika membahas Arya: anak seperti itu tidak muncul tanpa harga.
Rizky menyebutnya paranoia tingkat olimpiade. Putri tidak tertawa.
"Kamu juga melihatnya?" tanya Arya.
Mereka duduk di perpustakaan, meja paling belakang. Rizky menjaga pintu dengan alasan membaca komik fisika, meski komik itu terbalik. Putri membuka laptop dan menampilkan arsip yang berhasil ia pindahkan dari rumah sebelum ayahnya mengunci folder lama.
"Ayahku akhirnya bicara sedikit," katanya. "UNG pernah meminta bantuan arsip kota untuk melacak kasus anak berbakat yang diserang. Ibuku meneliti gerakan anti-intelektual di komunitas lokal. Mereka tidak anggota UNG, tapi pernah membantu. Setelah kebakaran laboratorium tiga belas tahun lalu, mereka berhenti."
Arya membaca daftar tanggal. "Kenapa berhenti?"
"Karena seorang teman mereka meninggal. Resminya kecelakaan lalu lintas. Tapi sebelum meninggal, orang itu mengirim pesan: Bayangan sudah masuk ke sekolah."
Rizky menurunkan komik. "Oke, ini sudah bukan level ekstrakurikuler. Ini level kita butuh orang dewasa yang kompeten."
"Itu masalahnya," kata Arya. "Kita sedang mencari tahu orang dewasa mana yang kompeten."
Putri menggulir dokumen. Ada foto lama gedung sekolah khusus, daftar siswa olimpiade, dan catatan pinggir yang menyebut protokol evakuasi. UNG tampak seperti organisasi yang mencoba melindungi, tetapi juga menyimpan banyak kegagalan. Bayangan tampak seperti kelompok yang tidak punya wajah, tetapi selalu muncul ketika ada anak terlalu menonjol.
"Kamu percaya Rafi?" tanya Putri.
"Belum. Tapi dia menjawab buruk dengan jujur. Itu lebih baik daripada menjawab rapi dengan palsu."
"Kamu punya standar kepercayaan yang melelahkan."
"Standar rendah membuat orang diculik."
Putri tidak punya jawaban untuk itu.
Malamnya, Arya datang ke rumah Putri bersama ayahnya. Budi bersikeras ikut setelah mendengar kata arsip dan Bayangan. Rumah Putri rapi, penuh buku, dan memiliki aroma kopi yang kuat. Ayah Putri, Pak Arman Laksana, menyambut mereka dengan wajah seorang pria yang sudah menyesali percakapan sebelum dimulai. Ibunya, Bu Mira, lebih tenang, tetapi tangannya tidak pernah jauh dari ponsel.
Pak Arman langsung berkata, "Saya tidak akan memberi anak-anak akses ke dokumen lama."
Arya duduk. "Saya tidak meminta akses. Saya meminta Bapak menjelaskan bagian yang bisa membuat Putri tetap hidup."
Ruangan itu diam.
Budi menatap anaknya, lalu menatap Pak Arman. "Maaf kalau anak saya terlalu langsung. Dia biasanya benar, tapi tetap menyebalkan."
Bu Mira hampir tersenyum. Ketegangan turun satu tingkat.
Pak Arman akhirnya membuka map kecil. "Bayangan bukan organisasi tunggal. Itu nama yang dipakai beberapa kelompok yang percaya anak jenius akan menciptakan ketimpangan. Mereka merekrut orang sakit hati, orang yang gagal, orang yang kehilangan pekerjaan karena teknologi atau kompetisi. Mereka memberi musuh sederhana: anak pintar."
"Rahman cocok," kata Arya.
"Ya. Mantan penjaga, merasa dibuang, mudah dibuat percaya bahwa dia sedang membalas dunia."
Bu Mira menambahkan, "UNG melindungi beberapa anak, tapi tidak selalu bersih. Ada faksi yang ingin menjaga anak berbakat agar bebas, ada yang ingin mengarahkan mereka untuk kepentingan negara atau sponsor. Jangan percaya siapa pun sepenuhnya, termasuk UNG."
Budi mengerutkan kening. "Lalu kenapa membiarkan mereka mendekati Arya?"
"Karena Bayangan sudah melihatnya," jawab Pak Arman. "Tanpa jaringan perlindungan, keluarga biasa akan kalah informasi. Dengan UNG, setidaknya ada akses."
Arya mencatat tiga kata: akses, faksi, harga.
Putri melihat catatan itu. "Jadi apa rencanamu?"
"Biarkan UNG melakukan evaluasi. Paksa mereka membuka sebagian aturan. Gunakan panggung publik secukupnya supaya Bayangan sulit bergerak diam-diam. Dan jangan biarkan siapa pun membawa kita ke tempat tanpa saksi."
Rizky yang ikut lewat panggilan video dari ponsel Putri mengangkat tangan. "Saya ingin menambahkan aturan: jangan ikut mobil orang berjaket abu-abu meski dia membawa kartu nama keren."
"Diterima," kata Arya.
Pak Arman menatap Arya lebih lama. "Kamu tidak terdengar seperti anak yang baru tahu ada bahaya."
"Saya baru tahu namanya. Bahayanya sudah lama ada."
Bu Mira menutup map. "Kalau begitu dengarkan satu hal. Bayangan tidak selalu menyerang yang terkuat. Mereka menyerang orang di sekitar yang membuat target tetap manusia."
Rizky di layar berhenti bergerak. Putri menunduk. Budi menggenggam lututnya.
Arya menatap semua orang di ruangan itu dan untuk pertama kalinya malam itu wajahnya benar-benar serius. "Maka mulai sekarang, tidak ada yang menjadi titik buta."
Pak Arman kemudian memberi satu contoh yang membuat semua orang diam. Dulu ada siswa bernama Edo, juara robotik tingkat nasional, yang tiba-tiba dituduh mencuri komponen sekolah. Tuduhan itu palsu, tetapi videonya viral lebih dulu. Beasiswa Edo batal, keluarganya pindah kota, dan dua tahun kemudian UNG baru menemukan bahwa akun penyebar pertama terhubung dengan jaringan Bayangan.
"Mereka tidak selalu menyerang tubuh," kata Pak Arman. "Kadang mereka menyerang kepercayaan orang terhadapmu. Kalau semua orang melihatmu sebagai ancaman, mereka tidak perlu menculikmu. Masyarakat akan mengusirmu sendiri."
Budi menggenggam gelas sampai buku jarinya memutih. "Jadi kami harus melakukan apa?"
Bu Mira menjawab, "Catat semua hal aneh. Jangan melawan rumor dengan emosi. Simpan bukti. Jangan biarkan Arya sendirian saat konflik publik. Dan yang paling sulit, jangan menjadikannya satu-satunya orang yang harus menyelesaikan semua masalah."
Kalimat terakhir menembus lebih dalam daripada yang lain. Arya terbiasa memegang beban karena orang di sekitarnya lambat. Tetapi jika semua orang membiarkannya menjadi pemecah tunggal, Bayangan hanya perlu menjatuhkan satu titik. Putri melihat kesadaran itu lewat perubahan kecil di mata Arya.
Mereka akhirnya membuat daftar sederhana di meja makan: rute pulang bergilir, kode pesan darurat, orang dewasa yang boleh dihubungi, dan kata sandi untuk memastikan panggilan tidak dipaksa. Rizky memberi usul nama sandi yang terlalu konyol lewat video, lalu Putri menolaknya sebelum Arya sempat menilai.
Budi melihat daftar itu dan merasa dadanya berat. Anak-anak seumur mereka seharusnya membahas ujian. Protokol ancaman terdengar terlalu berat untuk meja makan. Namun ia juga tahu menolak kenyataan hanya akan membuat mereka lebih mudah diserang.
Daftar itu akhirnya ditempel di balik sampul buku Putri. Dinding terlalu mudah dilihat orang. Semua orang sepakat satu hal: aturan keamanan hanya berguna jika musuh tidak ikut membacanya.
Di luar rumah, motor hitam melewati gang tanpa berhenti. Pengendaranya tidak menoleh. Namun kamera kecil di helmnya sudah merekam jendela ruang tamu.