Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
3 jam kelas Oliver sudah selesai, kini ia berjalan menyusuri koridor dengan tatapan kagum yang diperlihatkan oleh mahasiswanya.
"Pak Oliver tunggu!"
Oliver menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Tapi saat sadar jika pemilik suara itu adalah Zafana, dengan cepat ia kembali melangkah, membuat Zafana berlarian mengejarnya dibelakang.
"Pak, saya tau bapak kemarin itu Cuma bercanda sama saya"ucap Zafana saat dirinya sudah berada disamping Oliver dnegan langkah yang cepat mengikuti langkah kaki Oliver yang besar.
"Saya sudah bilang kalau saya serius"jawab Oliver.
"Tapi saya gak mau nikah sama bapak"ucap Zafana.
Oliver menghentikan langkahnya tepat saat mereka berada ditengah-tengah lapangan yang dikelilingi oleh mahasiswa yang sedang bersantai.
"Kasih saya alasan"jawab Oliver datar.
"Ya..bapak sama saya baru aja kenal kan, masa iya saya harus nerima lamaran bapak gitu aja sih?"ucap Zafana.
"Semalam kan kamu sudah minta waktu ke saya, dan saya gak keberatan untuk nunggu kamu"jawab Oliver.
"Pak tapi saya gak mau!"
"Kalau alasan kamu masih tentang waktu, saya akan buat kamu jatuh ke saya dalam waktu singkat"ucap Oliver kemudian berlalu membuat Zafana kesal hingga menghentakan kakinya beberapa kali.
"Ciee Zafa dilamar dosen"
Ucapan dari salah satu mahasiswa laki-laki yang ada disana sontak membuat Zafana tersadar lalu menatap sekelilingnya yang sedang tersenyum padanya.
'Zafana....lo bodoh banget sumpah! Kenapa sihhhhhh?!!'-Zafana menghardik dirinya sendiri dalam hati.
"Zafa, kabarin dong kalu udah mau married!"
"Jadi yang lo omongin di kelas itu maksud lo drama lo sam pak Oliver gitu ya Na?"
"Yahhh jadi mama tiri dong"
"Patah hati deh gue, mau nikung juga yang ditikung jauh lebih didepan"
Dan masih banyak lagi pujian dan beberapa hinaan yang dilontarkan dari teman-teman kampus Zafana. Membuat Zafana sangat pusing sekaligus kesal. Dengan langkah cepat ia berlari keluar dari area kampus. Zafana merasa dirinya benar-benar bodoh sekarang. Sangat bodoh!
Sebenarnya Zafana masih punya 6 jam lagi jadwal kampusnya hari ini, tapi karena ia mendapatkan pesan yang cukup banyak dari teman-temannya yang mempertanyakan mengenai hubungan nya dengan Oliver membuat Zafana memutuskan untuk membolos saja hari ini.
"Lagian ngapain sih lo tuh pakai cegat pak Oliver dan ngomongin itu di kampus Zafana?
Gak cukup apa lo malu didepan mama sama papa pas ketahuan dianter sama pak Oliver, mana ketahuan nginap juga! Ih bodoh banget lo sumpah!"
Zafana kembali menghardik dirinya sendiri saat sudah tiba didalam kamar.
Tok tok
"Na, ada tamu dibawah"ucap Clara setelah mengetuk pintu kamar Zafana.
"Siapa ma?"tanya Zafana.
"Dosen kamu"
Zafana menghela, "Zafa lagi gak enak badan..suruh pulang aja"
"Tapi dia datang bawain kamu makanan banyak banget Zafa!"ucap Clara.
"Zafa gak laper! Buat mama aja!"jawab Zafana.
"Jadi kamu gak mau turun nih?"tanya Clara memastikan.
"Gak!"jawab Zafana cepat lalu menutup wajahnya dengan bantal miliknya.
"Gue udah bilang gue gak mau!"teriak Zafana dibalik bantalnya.
Tok tok
"Ma, Zafana udah bilang Zafana gak mau turun!"
Tok tok
"Mama please"
Tok tok
Rheyna menghela lalu dengan terpaksa bangkit dan membuka pintu secara kasar.
"Ma, Zafa gak mau ketemu----"
"Katanya kamu sakit, saya bawakan bubur buat kamu"sela Oliver cepat sambil melangkah masuk kedalam kamar Zafana dan menyimpan semangkuk bubur diatas nakas.
"P-pak Oliver ngapain disini?"tanya Zafana.
"Salah satu cara agar kamu cepat suka sama saya"jawab Oliver terus terang.
Zafana membulatkan matanya tidak habis pikir, "pak, jangan gila deh"
"Saya gak gila, malah sepertinya kamu yang gila karena gak mau nerima lamaran dari pria seperti saya"sela Oliver.
Zafana berdecih, "saya gak suka duda"
Oliver mengangkat sebelah alisnya lalu berjalan mendekat kearah Zafana, mengikis jarak diantara keduanya membuat Zafana melangkah mundur. Ia tidak tau kenapa Oliver menjadi sosok yang berbeda sekarang, di kampus tadi Oliver sangat terlihat cuek dan dingin saat berbicara dengannya.
Tapi sekarang, dia benar-benar melakukan segala hal untuk menarik perhatiannya.
"P-pak, ini rumah saya! Jangan macam-macam ya bapak disini!"ucap Zafana.
Oliver menyunggingkan sebelah ujung bibirnya lalu mengangkat tangannya membuat Zafana semakin ketakutan.
Plukk
Oliver menyimpan punggung tangannya didepan dahi Zafana dan merasakan suhu tubuh gadis dihadapannya ini.
"Kamu gak panas, katanya sakit"ucap Oliver.
"Bapak apa-apaan sih?!"Zafana segera menurunkan tangan Oliver dari dahinya.
"Kamu bohong?"Oliver balik bertanya membuat Zafa panik mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Oliver yang satu ini.
"Euuhh.....uhuk uhuk, saya sakit pak..uhuk"ucap Zafana berlagak batuk didepan Oliver.
Takk
Oliver menyentil dahi Zafana membuat Zafana berhenti berpura-pura dan mengusap dahinya yang sedikit terasa sakit.
"Masih ada 6 jam ngampus, kenapa pulang?"tanya Oliver dengan raut yang kembali datar dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Ya terserah saya dong, mang gak boleh?"jawab Zafana sambil berkacak pinggang mengikuti gaya Oliver.
"Saya dosen kamu, lulus atau enggak nya kamu itu tergantung keputusan saya dan dosen pembimbing"ucap Oliver.
Zafana terdiam menatap manik Oliver lekat. Jujur, menatap mata Oliver lebih dari 5 detik itu sudaah cukup bagi Zafana untuk jatuh kedalam hatinya.
"Balik lagi ke kampus"ucap Oliver sambil menarik lengan Zafana.
"Ih bapak gak mau!"teriak Zafana sambil berjongkok.
"Balik ke kampus atau saya seret kamu?"tanya Oliver.
"Mama pak Oliver mau perkosa Zafana ma tolong!!!!"teriak Zafana.
Oliver sontak melepaskan pegangan tangannya pada tangan Zafana. Ternyata trik ini cukup sulit dari yang ia bayangkan. Zafana memang berbeda dari wanita kebanyakan yang baru ditatap saja sudah menjerit untuk dinikahi. Sedangkan Zafana, sudah diminta baik-baik untuk menikah dengannya eh malah ditolak. Bahkan disaat Oliver berusaha untuk membuat Zafana mencintainya malah sesusah ini.
"Siap-siap, saya tunggu kamu dibawah"ucap Oliver lalu berjalan keluar menutup pintu kamar Zafana rapat-rapat.
Melihat Oliver sudah pergi Zafana langsung menyentuh jantungnya yang terasa berdenyut. Ia meringis ngeri pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa menjadi seaneh ini?