Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Yang Mustahil
Bab 4
Karin mematung beberapa detik.
Keberadaan Gio di depan gerbang kampus benar-benar di luar dugaannya.
Padahal, di kehidupan sebelumnya, pria itu baru mulai sering datang setelah hubungan mereka semakin dekat. Namun kini, semuanya terasa lebih cepat.
Seolah perubahan yang ia lakukan justru membuat alur takdir ikut berubah.
"Karin?"
Suara Nia membuyarkan lamunannya.
"Itu siapa?"
Karin mengulas senyum tipis.
"Kenalan orang tua."
"Kelihatannya ganteng, lho."
Karin hanya mengangguk sekilas tanpa menanggapi.
Baginya, wajah tampan Gio hanyalah topeng. Di balik senyum ramah itu tersembunyi sosok yang sanggup menghancurkan siapa saja demi memenuhi ambisinya.
Gio berjalan menghampiri dengan langkah tenang.
"Halo, Karin."
"Halo."
"Kebetulan aku ada urusan di sekitar sini," katanya santai. "Kupikir sekalian menjemputmu."
"Aku tidak minta dijemput."
Jawaban Karin membuat senyum Gio sedikit kaku.
"Oh... aku cuma ingin berbuat baik."
"Terima kasih."
"Tapi aku bisa pulang sendiri."
Nia melirik Karin bergantian dengan rasa penasaran.
Suasana berubah canggung.
Namun Gio tampaknya tidak berniat menyerah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Tidak lama."
"Maaf."
"Aku sudah punya janji."
Padahal itu bohong.
Gio memperhatikan wajah Karin beberapa saat.
"Janji dengan pacarmu?"
"Iya."
Jawaban singkat itu membuat mata Gio menyipit tipis.
"Berarti... pacarmu sudah pulang?"
Karin sempat terdiam.
Ia hampir lupa kalau sebelumnya mengatakan bahwa pacarnya sedang berada di luar kota.
"Iya. Semalam."
Untungnya kebohongan itu masih terdengar masuk akal.
"Kalau begitu kapan aku boleh bertemu dengannya?"
Karin mengangkat alis.
"Untuk apa?"
"Penasaran saja."
"Tidak perlu."
Jawaban dingin itu membuat Nia sampai menahan napas.
Baru kali ini ia melihat seseorang berbicara setegas itu kepada pria seramah Gio.
Namun anehnya, Gio justru tersenyum.
"Baiklah."
"Aku tidak akan memaksa."
"Tapi aku tetap berharap kita bisa berteman."
Tanpa menunggu jawaban, Gio melangkah pergi. Mobil hitamnya perlahan meninggalkan area kampus.
Nia langsung menarik lengan Karin.
"Ya ampun!"
"Itu siapa sebenarnya?"
"Teman Papa."
"Cuma teman?"
"Iya."
"Kalau lihat caranya memandangmu, sepertinya bukan cuma teman."
Karin tersenyum hambar.
"Sudahlah."
"Ayo pulang."
-
-
-
Di sisi lain...
Gio tidak langsung pulang. Mobilnya berhenti di sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari kampus. Ia duduk di dekat jendela sambil mengingat kembali sikap Karin.
"Aneh..."
Menurut cerita Om Wirawan, Karin adalah gadis yang lembut dan mudah akrab dengan orang baru. Namun gadis yang ditemuinya hari ini benar-benar berbeda.
Tatapan Karin penuh kewaspadaan. Bahkan seperti... kebencian. Padahal mereka baru bertemu dua kali.
"Apa aku pernah melakukan kesalahan?"
Gio menggeleng pelan.
Tidak mungkin. Ia bahkan baru mengenal Karin.
Kalau begitu...
Kenapa gadis itu bersikap seolah sudah mengenalnya sejak lama?
Semakin dipikirkan, rasa penasarannya justru semakin besar.
-
-
-
Sementara itu, Karin memilih duduk sendirian di taman kampus sebelum pulang.
Angin sore berembus pelan.
Namun kepalanya terasa semakin berat.
"Aku tidak bisa terus-terusan berbohong."
Hari ini ia berhasil menghindar.
Besok?
Lusa?
Bagaimana jika Gio benar-benar meminta bertemu dengan pacarnya?
Atau bahkan datang lagi ke rumah?
Semakin dipikirkan, semakin buntu.
Bruk.
Seseorang meletakkan tas di bangku sebelah.
Karin menoleh.
Seorang mahasiswa duduk tanpa berkata apa pun. Rambut hitamnya sedikit berantakan.
Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku.
Kai.
Ia tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan Karin.
Atau mungkin...
Memang tidak peduli.
Kai membuka botol minum, lalu meneguk air beberapa kali. Di sudut bibirnya, masih terlihat luka kecil akibat perkelahian tadi.
Entah mengapa, Karin merasa kasihan.
"Masih sakit?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Kai menghentikan gerakannya.
Ia menoleh.
"Kamu bicara denganku?"
"Iya."
Kai menyentuh sudut bibirnya.
"Oh...Lumayan."
Hening.
Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan.
Kai kembali meneguk air minumnya.
Karin menggigit bibir bawah.
Haruskah ia bertanya?
"Tadi...Kenapa kamu membela mahasiswa baru?"
Kai tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis.
"Karena aku tidak suka melihat orang lemah ditindas."
Jawaban itu begitu sederhana. Namun membuat Karin terdiam.
Seseorang yang dicap badboy ternyata memiliki prinsip seperti itu.
"Semua orang menganggapmu suka berkelahi."
Kai terkekeh pelan.
"Memangnya salah?"
"Bukan begitu."
"Kamu tidak pernah menjelaskan."
"Buat apa?"
Kai menutup botol minumnya.
"Orang selalu percaya pada apa yang ingin mereka percaya."
Ucapan itu membuat Karin merenung.
Benar juga.
Bukankah ia sendiri dulu ikut percaya semua gosip tentang Kai?
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Kai berdiri.
"Aku pergi dulu."
Baru dua langkah berjalan, Karin spontan memanggilnya.
"Kai."
Kai berhenti.
"Ada apa?"
Karin membuka mulut.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin meminta bantuan. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Tidak.
Belum sekarang.
Ia bahkan baru berbicara beberapa menit dengan Kai.
"Terima kasih."
Kai terlihat bingung.
"Untuk apa?"
"Karena sudah membantu mahasiswa baru tadi."
Kai mengangguk pelan.
"Lain kali...Kalau mau berterima kasih...Belikan aku es teh."
Setelah mengatakan itu, Kai pergi begitu saja.
Karin menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Tanpa sadar ia tersenyum kecil.
Pria itu ternyata tidak sedingin yang dibicarakan orang.
-
-
-
Sore itu, sesampainya di rumah, Karin mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu.
"Kamu baru pulang?" tanya Pak Wirawan.
"Iya, Pa."
"Duduk dulu."
Nada suara ayahnya terdengar serius.
Karin mulai merasa tidak enak.
"Ada apa?"
Pak Wirawan saling berpandangan dengan Hesti.
"Tadi Gio datang lagi."
Deg.
Jantung Karin langsung berdegup lebih cepat.
"Dia bilang ingin mengenalmu lebih dekat. Kami sudah bilang kalau kamu punya pacar. Tapi dia tetap tidak keberatan."
Karin mengepalkan tangan.
Persis seperti kehidupan sebelumnya. Gio memang bukan tipe pria yang mudah menyerah.
"Papa juga bilang...Kalau memang pacarmu sudah pulang, ajak dia makan malam di rumah akhir pekan ini."
Dunia Karin seakan berhenti berputar.
Makan malam?
Akhir pekan?
Artinya ia hanya punya waktu beberapa hari untuk menghadirkan seorang pacar yang bahkan tidak pernah ada.
"Karin?"
Hesti menggenggam tangan putrinya.
"Kalau memang belum siap, tidak usah dipaksa."
Namun Karin tahu. Kalau ia terus mengulur waktu, kebohongannya akan terbongkar.
Malam itu, setelah masuk ke kamar, ia duduk termenung di tepi ranjang.
Nama demi nama muncul di kepalanya. Namun tidak ada satu pun yang bisa dimintai bantuan.
Hingga akhirnya...
Wajah seorang pria dengan rambut sedikit berantakan kembali terlintas.
Kai.
Karin menghela napas panjang.
"Mungkin..."
"Hanya dia satu-satunya harapanku."
Keputusan itu memang terdengar gila.
Tetapi demi mengubah takdirnya...
Ia tidak punya pilihan lain.
-
-
-
Bersambung...