Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 JANGAN TATAP AKU KAYAK GITU...!
Di rumah—di atas sofa, Moiro membuka layar ponselnya dan menatap kontak Mika Sano dan Yuka Suzuki—dua kontak pertamanya. Ia tersenyum tipis saat mengetahui kalau dirinya akhirnya mengalami kemajuan karena bisa memiliki kontak teman sekelasnya.
Tapi, senyuman itu tak bertahan lama saat ia mengingat kalau dirinya akan pergi ke kafe bersama Yuka.
Moiro kembali panik sampai berkeringat hanya karena mengingatnya. Ia langsung berlari ke kamar dan melompat ke atas kasur.
Ia mengeram, berguling-guling cepat, lalu melompat tak karuan sambil berteriak di atas kasur karena menyesal telah menerima permintaannya.
Dah balik jadi random ni anak.
Moiro kemudian menjongkok sambil memegangi kepalanya seperti orang depresi, "Gimana ini...?"
Saat ia masih menyesali perbuatannya, waktu tak pernah menunggu. Nada dering pengingat miliknya berbunyi, pertanda dirinya akan segera pergi ke tempat kerja.
Moiro menatap layar ponselnya yang berdering pelan di atas kasur, lalu mengeraskan rahangnya, "Tak ada pilihan lain..."
Ia mengambil ponselnya, mematikan nada dering, lalu mengirim pesan pada Yuka.
...——————————...
Yuka Suzuki (Ketua Kelas): aktif
^^^Ketua kelas, kau yakin tidak akan memberitahukan rahasiaku?^^^
^^^Janji?^^^
Tentu saja.
Percayalah padaku.
^^^Baiklah.^^^
^^^Aku sedang bersiap untuk pergi.^^^
^^^Kau tunggu di taman dekat perempatan.^^^
Oke.
[Stiker kucing hitam imut memberi jempol]
...——————————...
Oke juga Author bikin beginian.
Moiro menatap datar layar ponselnya.
Ia menghela napas pelan, dan segera bersiap.
Saat sudah siap dan ingin segera pergi, ia melihat barang-barang yang belum sempat dijual olehnya.
"Oh iya..." Moiro menatap benda-benda itu datar, "Aku lupa."
Dasar picun.
...***...
Moiro berjalan menuju perempatan.
Sesampainya di sana, ia melihat Yuka yang berdandan seadanya dan terlihat natural tapi tetap terlihat cantik.
Saat itu, Yuka sedang duduk di kursi panjang taman sambil menyingkap rambut pendeknya yang tertiup angin. Dia membawa tas kecil, entah untuk keperluan apa.
Moiro menatapnya dengan perasaan gelisah, masih ragu untuk mendatanginya.
Tak disangka, ternyata Yuka malah melihatnya, dan langsung memanggilnya setelah ia berdiri dari kursi.
Meski sedikit kesal, Moiro terpaksa berjalan ke arahnya.
Saat Moiro sudah sampai dan berada di depannya, Yuka langsung mengajaknya untuk pergi, "Kalo gitu, ayo kita pergi."
Moiro mengangguk malas ambil mengikutinya.
"Bentar..." pikir Moiro sembari berjalan, bingung melihat Yuka yang berjalan di depannya.
Tatapannya menyipit penuh heran, "Kenapa dia yang memimpin jalan?"
Saat suatu dugaan muncul dalam benaknya, Moiro langsung berubah panik, "Apa dia tau ke mana aku akan pergi?!"
Nah loh. Jangan-jangan dah ketahuan?
Meski begitu, Moiro hanya bisa diam sambil terus mengikuti Yuka di depannya.
Tapi, rasa penasaran itu benar-benar menggerogoti dirinya. Ia tak tahan untuk menanyakan hal itu.
Moiro akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung, "Ketua kelas?"
Yuka membalas pelan tanpa menoleh, "Jangan panggil aku begitu. Kita tak sedang berada di sekolah."
"Kalo gitu... Suzuki," lanjut Moiro, "Kenapa kau yang memimpin jalan? Apa kau tau aku mau pergi ke mana?"
Yuka berhenti. Diikuti oleh Moiro yang juga terhenti di belakang.
Yuka menoleh pelan ke belakang, sambil mengangkat tangan dan memperlihatkan layar ponselnya pada Moiro, "Ke sini, kan?"
Moiro dibuat bingung juga gelisah, namun dirinya tetap memutuskan untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan oleh Yuka.
Moiro membelalak dan seketika berkeringat. Wajahnya membiru. Tubuhnya seolah disambar petir dahsyat ketika melihat kafe tempatnya bekerja ada di layar ponsel Yuka.
Melihat ekspresi Moiro yang seperti itu, Yuka menurunkan tangannya sambil tersenyum tipis, "Sudah kuduga."
Dengan panik, Moiro langsung berucap cepat, "B-Bagaimana kau bisa—"
"Nanti kamu terlambat. Cepatlah," sahut Yuka cepat, memotong ucapan Moiro, kemudian langsung berjalan meninggalkannya.
Dahi Moiro mengerut, campuran antara kesal dan takut, lalu akhirnya terpaksa mengikutinya.
Sebelum benar-benar sampai di kafe, Moiro tetap berusaha berpikir positif karena tempatnya bekerja memuat dua tema, dan ia berharap kalau Yuka hanya menduga dirinya bekerja di tema yang normal.
Sesampainya di kafe, mereka masuk bersama dan Moiro langsung menuju tempat ganti, yang ternyata Yuka malah mengikutinya.
Moiro sempat melirik ke belakang, menatap Yuka, bingung mengapa tak ada yang mempermasalahkan gadis itu masuk begitu dalam hingga ke ruang para pekerja. Ia pikir Yuka adalah tamu VIP atau apalah sampai punya akses terdalam inti bumi.
Mereka kini sampai di ruangan tempat Moiro berganti pakaian, dan saat itu, Moiro kembali dilanda kecemasan.
"Apa aku harus jujur sekarang...?" pikirnya panik. Pelipisnya sedikit dibasahi oleh bintik-bintik keringat dingin.
Namun, ia tak bisa berbuat lebih. Terpaksa Moiro berhenti saat berada tepat di depan gudang—ruangannya berganti pakaian.
Yuka ikut berhenti melihat itu. Ia sempat menatap Moiro sejenak, lalu bertanya, "Ada apa?"
Dengan ekspresi malu, tanpa menatap ke arah Yuka, Moiro menjawab dengan suara yang gemetaran, "Aku... akan berganti pakaian di sini..."
Yuka seketika bingung, karena ruangan dekat mereka adalah gudang.
Tanpa menunggu Yuka membalas, Moiro dengan cepat masuk dan menutup pintunya kuat-kuat.
Nanti rusak, woi! Kau mau ganti?!
Yuka dibuat bingung karena melihat Moiro masuk ke gudang dengan alasan “berganti pakaian”, namun ia tak memikirkannya lebih jauh dan hanya memutuskan untuk menunggunya. Dia tak menyangka kalau anak itu benar-benar bekerja di sini.
Yuka sedikit menunduk, lalu memegang dagunya dengan telunjuk dan jempol, "Apa yang diceritakannya itu bener?"
Siapa yang membocorkan rahasia negara ini?!
Tiba-tiba, terdengar suara panggilan seorang perempuan yang menghampiri Yuka sambil berlari kecil dengan senyuman di wajahnya. Tangannya melambai tinggi.
"Yukaaa...! Akhirnya kamu datang ke sini!" serunya dan langsung memeluknya erat.
Perempuan itu terlihat mengenakan pakaian maid, dengan rambut yang diikat kuncir di belakang. Dia adalah Hikari Suzuki.
Lah? Ngapain dia?
Yuka yang merasa sedikit tidak enak karena dipeluk tiba-tiba pun berkata pelan, "Kakak... Jangan peluk aku di sini..."
Kakak?! Pantes marganya sama.
"Ahaha... Maaf, ya. Kakak terlalu senang karena kedatanganmu," jawab Hikari sambil melepas pelukannya, "Kakak udah baca pesanmu juga, loh!"
Yuka menatap kakaknya dari bawah ke atas, merasa sedikit ragu, lalu bertanya pelan, "Apa Kakak selalu pakai itu saat bekerja?"
"Tentu saja!" jawab Hikari membanggakan diri, "Imut kan?"
"Iya... Imut sih," balas Yuka pelan, hampir berbisik karena malas meladeni. Sementara itu, kakaknya masih tersenyum.
"Jadi, kenapa kamu datang ke sini?" tanya Hikari kemudian, "Biasanya kamu nolak kalo diajak."
Yuka hanya diam, tak segera membalas, meski di kepala ia bergumam, "Jelas aku nolak kalo ujung-ujungnya bakal pamer, terus malah menyangkal biar terus dipuji."
Yuka memang selalu menolak ajakan Hikari pergi ke kafe ini. Tak lain tak bukan karena malas jika hanya melihat kakaknya yang mencoba membanggakan dirinya sendiri, dan Yuka khawatir kalau dirinya akan menjadi malu sendiri jika kakaknya melakukan kesalahan.
Yuka menjawab pertanyaan kakaknya sambil melipat tangannya, "Aku cuma pengen mastiin apakah yang Kakak ceritain itu bener."
Oalah, jadi Hikari yang bocorin infomasi? Kalo dia mah gapapa.
Yuka menoleh ke arah pintu yang dimasuki Moiro, "Tapi sepertinya dugaanku benar kalo orang yang dimaksud Kakak itu teman sekelasku."
Hikari menoleh cepat ke arah pintu dengan ekspresi terkejut, lalu berpaling pada adiknya, "Jadi, dia itu teman sekelasmu?!"
Yuka menoleh dan mengangguk pelan.
Hikari tersenyum dan memegang kedua tangan adiknya, "Kebetulan banget!"
Hikari mengangkat telunjuknya, meyakinkan Yuka, "Tenang aja, Kakak menjamin seratus persen ucapan Kakak itu benar."
Yuka hanya diam. Dia kembali menoleh ke arah pintu sambil terus menunggu.
Hikari ikut menoleh, lalu kembali menatap adiknya dn langsung nyeletuk sambil tersenyum, "Tanyain aja apa dia sudah selesai berganti atau belum. Seharusnya berganti pakaian gak selama ini."
Yuka melirik kakaknya sekilas lalu kembali menatap pintu, merasa yang dikatakan kakaknya itu masuk akal. Dia mendekat lalu mengangkat kepalan tangannya.
Yuka mengetuk pintu pelan, lalu bertanya nyaring, "Asahi? Kamu sudah selesai?"
Hening sejenak.
Namun beberapa saat setelahnya, terdengar jawaban dari Moiro, "A-Aku sudah selesai..."
"Kalo gitu, buka aja pintunya," balas Yuka setelah mendapat jawaban itu.
"Ta-Tapi..."
"Sudahlah, buka aja. Aku takkan menertawakanmu. Kalau masih diam di sana, nanti kamu bisa terlambat."
Hening. Tak ada jawaban dari Moiro.
Bingung, Yuka pun menoleh pada Hikari di sampingnya.
Hikari dengan cepat memegang pipi adiknya dan memalingkan paksa wajahnya menghadap pintu. Ekspresinya terlihat tidak sabar saat ikut menatap ke arah pintu, "Sudahlah. Kamu fokus saja menatap ke sana!"
Yuka terlihat sebal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Hikari terus memegangi wajah adiknya sambil pindah posisi ke belakangnya, ikut menatap ke arah pintu.
Pintu perlahan terbuka. Decitan pelan terdengar samar mengikuti kecepatan pintu terbuka.
Saat pintu benar-benar terbuka, terlihat Moiro dengan pakaian maidnya dengan ekspresi yang sangat malu.
Wajahnya memerah padam. Matanya menyipit menatap ke bawah, sedikit menyamping. Satu tangannya mencoba menutupi wajahnya karena terlalu malu, dan itu justru membuatnya terlihat sangat imut.
Yuka ternganga. Kacamatanya seolah ikut retak melihat keajaiban dunia di depannya.
Di belakangnya, Hikari justru tersenyum lebar.
Moiro menatap keduanya dengan ekspresi yang masih menahan malu, lalu berucap pelan, "Jangan tatap aku kayak gitu..."
Sroot!
Tubuh Yuka seketika condong ke belakang sambil mengeluarkan darah mimisan.
Hikari tak bisa menahan adiknya sendiri karena dia juga mimisan.
Keduanya terjatuh, lalu Yuka bangkit sendiri sambil mengusap hidungnya.
Moiro hanya menatap keduanya bingung, panik, dan masih sangat malu.
Yuka terlihat menunduk, napasnya terasa berat, lalu berkata pelan dengan suara yang terdengar bergetar ringan, "Aku tak menyangka... Kamu benar-benar seimut ini..."
Hikari bangkit seketika dan menyahut sambil tersenyum di belakangnya, "Ya kan...?! Aku sudah bilang padamu...!"
. . .
"Eh—?!" keduanya tersadar dengan ekspresi yang mirip.
Mereka menunjuk Moiro bersamaan.
"Tapi bukan berarti aku menyukai penampilanmu, ya! Jangan salah paham!" ucap mereka serempak.
Adek-kakak sama aja ternyata. Aku suka!
Moiro hanya menunduk sambil menutup sebagian wajahnya karena malu. Bibirnya mengerucut, wajahnya masih sangat merah.
"Ketahuan sudah semuanya..." ucapnya dalam hati, tubuhnya bergetar halus.
Salah satu teman sekelasnya kini mengetahui identitasnya sebagai pekerja maid yang memalukan, dan kini Moiro merasa terlalu malu sampai-sampai ingin menghilang dengan melompat ke bulan dan jadi alien selamanya. Gak juga sih.