Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tujuh hari berlalu sekejap mata, namun hari-hari yang lewat terasa begitu panjang dan penuh ketegangan. Kediaman Dante kini tampak berbeda dari biasanya. Orang-orang kepercayaan Dante datang dan pergi sejak fajar menyingsing, langkah kaki mereka tergesa namun tetap tenang dan teratur.
Pengamanan diperketat di setiap sudut kediaman, sepasang mata yang waspada tak pernah lepas mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi di luar pagar tinggi itu.
Pagi itu, cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar tak sepenuhnya mampu menghangatkan udara yang masih terasa dingin. Clark berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang lentik merapikan lipatan jas hitam sederhana yang ia kenakan hari itu.
Pintu terbuka perlahan. Dante melangkah masuk, pandangannya seketika tertuju pada sosok yang berdiri mematut diri di hadapan cermin itu. Ia terdiam sejenak, membiarkan tatapannya menyapu wajah yang begitu ia cintai.
"Kau tampak begitu cantik..." ucapnya pelan, meski matanya menyiratkan kekaguman yang jauh lebih dalam dari sekadar kata-kata yang terucap.
Clark tersenyum malu-malu menatap pantulan pria itu di cermin. "Kita akan menghadiri rapat keluarga, bukan pesta dansa," candanya pelan berusaha mencairkan suasana yang masih terasa kaku.
Dante melangkah mendekat hingga berdiri tepat di belakangnya, menatap pantulan wajah mereka yang berdiri berdampingan.
"Aku tahu. Itulah sebabnya aku ingin mereka semua melihatnya dengan mata kepala sendiri—wanita yang berdiri di sampingku adalah istriku, dan tak ada yang berhak meremehkannya."
Ia berbalik perlahan, lalu meraih jemari istrinya dan menggenggamnya erat.
"Gugup?" tanyanya lembut, membelai punggung tangan itu dengan ibu jarinya.
Clark mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang tak seperti biasanya.
"Sedikit..."
"Itu wajar. Kau tak perlu mengucapkan sepatah kata pun jika tak kauinginkan. Biarkan aku yang berbicara atas nama kita berdua."
Clark menatapnya lekat-lekat, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang kini tampak jauh lebih tenang.
"Namun jika aku ingin berbicara sendiri?"
Dante terdiam sejenak, lalu senyum tipis yang tak sering ia tampakkan menyungging di sudut bibirnya.
"Kalau begitu... katakanlah apa yang ingin kaukatakan. Tak ada yang berani menyakitimu selama aku berdiri di sisimu."
"Dan jika mereka menyinggung perasaanku?"
"Maka aku yang akan memutus pembicaraan itu."
"Dan jika mereka berani menghina nama keluarga kita?"
Tatapan Dante seketika berubah tajam dan dingin bagaikan es abadi.
"Maka mereka akan menanggung akibat yang jauh lebih buruk sekalipun."
Clark terkekeh pelan, ketegangan yang sempat melingkupi hatinya pun sedikit demi sedikit mencair.
Di halaman depan, mobil hitam telah menunggu dengan mesin yang menyala pelan.
Dante membukakan pintu untuk istrinya, namun sebelum melangkah masuk, Clark berhenti dan menatapnya dalam-dalam.
"Dante... apa pun yang kelak terjadi di dalam sana..." suaranya bergetar pelan, namun matanya tak beralih sedikit pun dari wajah suaminya. "...jangan lepaskan genggaman tanganku."
***
Sesampainya di tempat tujuan, Dante mengulurkan tangannya menyambut tangan yang terulur dari dalam mobil. Begitu kaki Clark menyentuh tanah yang dingin itu, bisik-bisik samar segera terdengar di antara kerumunan yang berdiri berjejer di sepanjang jalan setapak batu.
"Itukah wanita yang ia pilih?"
"Terlihat begitu biasa... dengar-dengar dia juga bukan keturunan mafia mana pun."
"Bagaimana mungkin Dante mempersunting wanita yang tak memiliki apa-apa?"
'Ah.. kalian pasti iri karna tak bisa menjadi istri Dante, kan?, karna kalian kalah dariku.. baik di kehidupan yang lalu atau sekarang..,' batin Clark dengan senyum kecil di wajahnya kala memandang mereka.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭