NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membunuh rindu

Satria melangkah mendekat, wajahnya sedikit tegang menyambut sapaan.

"Duduklah di sini. Kami hampir selesai" ucap Raynor. Lalu ia menoleh ke samping. "Vivian, geser ke sini."

Meja itu memang cukup panjang, dengan dua deret kursi yang muat untuk tiga hingga empat orang. Vivian berpindah tanpa bantahan.

Sekali lagi Raynor duduk di tengah, diapit Vivian dan Stela. Di hadapan mereka, duduklah Satria beserta wanita asing itu.

"Satria, kamu mau pesan apa? Ramen seperti biasa? Tapi kamu kan tak kuat pedas..." ujar wanita itu lembut, seolah sudah hafal betul kebiasaan pria di sebelahnya.

Wajah Satria semakin pucat. Matanya tak sengaja melirik ke arah Vivian. Gadis itu yang semula memalingkan wajah, namun perlahan menatap kembali lurus ke arah Satria, seakan kata-kata wanita itu barusan menohok hatinya.

"Sudah sering bersama rupanya... Sampai hafal kebiasaan satu sama lain" Vivian tersenyum miring, getir terasa di sudut bibirnya.

"Tak apa, samakan saja" jawab Satria, suaranya terdengar sedikit bergetar.

Raynor tampak sibuk menatap layar ponselnya, sementara Stela sedari tadi memperhatikan segalanya dengan saksama. Matanya jeli memindai setiap perubahan ekspresi.

Mulai dari saat di pesta pernikahan ayah Raynor, hingga situasi saat ini. Perlahan ia mengambil satu kesimpulan, ada sesuatu yang tak sederhana di antara mereka bertiga. Senyum samar terukir di bibirnya.

"Sayang..." Stela menyandarkan kepala di bahu Raynor dengan nada manja. "Aku ngantuk sekali. Antarkan aku pulang sekarang ya... kepalaku juga terasa sedikit pusing." Ia memegang keningnya, berlagak lemas.

"Ayo," Raynor segera menyimpan ponselnya. Matanya menatap sekilas ke arah Vivian yang terdiam di sampingnya.

Belum sempat ia bersuara, Stela lebih dulu menyambar pembicaraan. "Vivian biar pulang bersama Satria saja. Kalian kan juga satu rumah. Aku ada hal penting yang perlu di bahas bersamamu, sayang. Lagian kalau dia maksa ikut, nanti lama nunggunya, kan kasian. Aku takut Vivian kelelahan." Tuturnya terdengar begitu lembut dan perhatian, meski di baliknya tersembunyi rencana yang telah disusun rapi.

Raynor beralih menatap Vivian. "Kamu pulang bersama Satria dulu ya." Lalu tatapannya berubah tajam seketika saat beralih menatap pria itu. "Jaga dia baik-baik."

Belum sempat Vivian membuka mulut menolak, Satria sudah menyahut lebih dulu. "Iya, biar Vivian bersamaku saja. Aman kok." Jawabnya sambil menahan senyum tipis.

Wanita yang di samping Satria tampak menggerutu tak suka, namun tak berdaya menentang. Satria pun berbisik pelan kepadanya, "Nanti aku langsung pulang bersama sepupuku," tepat saat Raynor dan Stela beranjak meninggalkan mereka.

"Vivian, kamu sudah mengantuk ya. Ayo pulang."

Dengan cepat Satria menggenggam jemari gadis itu, lalu menyeretnya berjalan perlahan namun pasti.

"Satria! Makananmu belum di sentuh..." pekik wanita di belakang mereka, nada bicaranya terdengar kesal dan tak terima.

"Tak sempat lagi. Vivian sudah lelah," jawab Satria singkat beralasan. Ia terus melangkah, tangan itu tak sekalipun melepaskan genggamannya.

Jantungnya berpacu kencang, perpaduan rindu yang mendesak dan rasa lega karena akhirnya bisa lepas dari wanita yang sedari tadi terus menempel padanya.

Vivian pun merasakan hal yang sama. Dadanya bergetar hebat, terbelah antara rindu akan masa lalu yang manis, dan luka yang masih basah.

Sesampainya di dalam mobil, Satria mengendarainya dengan tenang namun melaju cukup jauh, bahkan berbelok dari jalur pulang yang seharusnya. Namun Vivian mana paham arah jalan kota ini.

Pria itu akhirnya menghentikan laju mobilnya di tepi sebuah jembatan yang dihiasi deretan lampu kelap-kelip cantik di sepanjang pagar.

Tatapannya perlahan beralih, jatuh tepat pada wajah Vivian. Gadis itu pun menatapnya balik, berusaha sekuat tenaga menahan segala rasa yang dulu sengaja ia kubur dalam-dalam. Namun, kenapa rasa itu belum juga mati?

Perih yang sama kembali merambat halus menyusup ke relung hatinya. Vivian menunduk dalam, menatap kedua tangannya yang saling menggenggam dan bergetar halus.

"Vivian..." panggil Satria lirih dan lembut. Tangannya meraih jemari dingin itu, lalu mendekapnya erat di dada kiri. Di sana, detak jantungnya berpacu tak kalah hebat, sama dengan detak jantung gadis di hadapannya.

"Aku rindu..." ucapnya nyaris berbisik, penuh kepedihan yang tak terlukiskan.

Ia rindu gadisnya. Rindu pada setiap kata manis yang pernah terucap dari bibir itu. Rindu tingkah laku polosnya. Rindu setiap kali gadis itu memanggilnya "Mas"...

Bersama Vivian, ia pernah benar-benar merasa menjadi pria yang dibutuhkan, dicintai, dan dihargai seutuhnya.

Vivian terpaku. Sepatah kata itu bagai hantaman lembut namun telak, meluluh lantakkan pertahanan yang susah payah ia bangun.

Napasnya tercekat, matanya memanas seketika. Ingin sekali ia membalas rindu yang sama besarnya, ingin ia meluruhkan segala kesombongan dan berlari kembali ke pelukan itu.

Namun bayangan wajah wanita yang berdiri di samping Satria tadi seketika melintas tajam di benaknya. Kata-kata wanita itu, kedekatan mereka, dan fakta bahwa Satria tak pernah menjelaskan apa pun... semuanya kembali menghujam luka lama yang belum pulih sepenuhnya.

Dengan tangan yang masih bergetar halus, Vivian perlahan melepaskan genggaman itu dari dadanya. Ia menunduk dalam, menatap pantulan cahaya lampu di permukaan air yang tenang.

"Sudah malam, Mas. Ayo pulang... Nanti Ibu dan Ayah mencari kita," ucapnya lirih. Setiap kata terucap berat, seiring hati yang perlahan teriris perih.

Malam itu, di bawah rimbunan cahaya lampu yang berkelap-kelip, mereka pulang dalam keheningan yang berat.

Jarak duduk di antara mereka terasa begitu dekat, namun hati keduanya terasa terpisah jauh, terhalang luka yang tak kunjung tersembuhkan, dan rindu yang terpaksa dipendam dalam diam.

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!