Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Nasib Winarsih
"Kelak kalau Mas sudah berhasil di Jepang, kita bangun rumah sendiri. Kamu nggak usah capek-capek kerja lagi."
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Winarsih Larasati setiap kali ia memandang jalan tanah yang membelah Desa Sekar Sari. Baru dua bulan menikah ia langsung di tinggal suaminya Benni Ardiansyah, berangkat menjadi TKI ke Jepang.
Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, Winarsih sebenarnya masih ingin menikmati masa-masa awal pernikahan, namun kenyataan berkata lain.
Kini ia sudah harus menjalani hari-harinya sendirian. Benni berangkat dengan harapan bisa mengubah nasib keluarga mereka. Upah bertani di desa tak cukup untuk membayar hutang orang tua Benni.
Ia juga terpaksa menjual sawah milik mendiang Ayahnya demi bisa berangkat ke Jepang. Maka dengan berat hati, ia meninggalkan istrinya dan menitipkannya kepada sang ibu.
"Aku titip Winarsih ya, Bu. Tolong dijaga seperti anak sendiri," ucap Benni saat berpamitan.
"Iya... tenang saja," jawab ibunya sambil tersenyum.
Saat itu Winarsih percaya, ia tidak tahu bahwa senyum itu hanyalah topeng. Rumah sederhana milik keluarga Benni berdiri di pinggir sawah. Dindingnya masih berupa papan kayu, sebagian sudah mulai lapuk.
Mertua Winarsih yang bernama Sulastri, dikenal hampir seluruh warga sebagai perempuan yang suka berhutang. Ke mana-mana ia meminjam uang dengan alasan berbeda-beda. Ada yang untuk biaya berobat, modal usaha, dan ada pula yang katanya demi biaya keberangkatan Benni.
Padahal sebagian besar uang itu habis untuk memenuhi gaya hidupnya sendiri. Sayangnya, Benni tidak mengetahui semuanya. Selama bekerja di Jepang, ia percaya penuh kepada ibunya.
Satu bulan setelah Benni bekerja, gaji pertamanya akhirnya dikirim. Jumlahnya cukup besar jika dibandingkan penghasilan di desa. Winarsih membayangkan uang itu bisa digunakan untuk memperbaiki rumah atau menabung, namun harapan itu sirna.
"Ini uang buat kebutuhan rumah."
Sulastri meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan di atas meja.
Winarsih terdiam sejenak sambil mengambil uang itu. "Bu... cuma segini?" tanyanya gugup.
"Iya," jawabnya dengan ketus.
"Tapi... bukannya Mas Benni kirim lebih banyak?" tanya Winarsih pelan.
Tatapan Sulastri langsung berubah tajam. "Kamu mau ngatur uang anakku?"
"Bukan begitu, Bu. Saya cuma..."
"Cukup!" Suara Sulastri menggema memenuhi rumah. "Sebagai ibu, saya lebih tahu uang itu harus dipakai untuk apa! Lagi pula banyak hutang yang harus dibayar."
Winarsih menggigit bibirnya.
"Tiga ratus ribu itu cukup untuk makanmu sebulan."
"Tapi, Bu..."
"Kalau kurang, ya cari kerja!" bentaknya.
Kalimat itu menusuk hati Winarsih, bukan karena nominal uangnya. Melainkan karena ia merasa bukan lagi dianggap sebagai keluarga.
Sejak hari itu, Winarsih mulai hidup hemat. Ia memasak nasi dengan lauk seadanya, kadang hanya tempe, sayur bayam hasil memetik di pekarangan. Bahkan beberapa kali ia memilih menahan lapar agar uangnya tidak cepat habis.
Tetangga mulai memperhatikan perubahan itu. "Winarsih kok makin kurus ya?"
"Iya. Kasihan. Baru juga nikah sudah ditinggal suami."
Namun tak seorang pun berani ikut campur urusan keluarga Sulastri. Memasuki minggu ketiga, uang tiga ratus ribu itu hampir habis.
Winarsih duduk termenung di depan rumah. "Aku nggak mungkin terus begini..."
Ia teringat sebuah pabrik roti kecil di ujung desa. Pabrik itu milik Juragan Warso, pengusaha yang dikenal baik hati dan sering membantu warga sekitar.
Keesokan paginya, Winarsih memberanikan diri datang. Bangunan pabrik itu tidak terlalu besar, tetapi aroma roti hangat langsung memenuhi udara begitu ia masuk ke halaman. Beberapa pekerja sedang mengangkat loyang-loyang berisi roti yang baru matang.
"Permisi..."
Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun menoleh. Wajahnya ramah dengan senyum yang menenangkan.
"Kamu siapa, Nak?"
"Nama saya Winarsih, Juragan."
"Ada perlu apa?"
Winarsih menundukkan kepala. "Saya... ingin mencari pekerjaan."
Juragan Warso memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Pakaiannya sederhana, wajahnya pucat. Tetapi sorot matanya penuh kesungguhan.
"Kamu pernah kerja?"
Winarsih menggeleng pelan. "Belum pernah, Juragan. Tapi saya mau belajar."
"Kenapa mendadak cari kerja?" tanya Juragan Warso sambil menatap wajah Winarsih.
Winarsih sempat ragu, namun akhirnya ia berkata jujur. "Suami saya kerja di Jepang, jadi saya harus memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri."
Juragan Warso tidak banyak bertanya, dia hanya mengangguk pelan. "Baiklah, besok kamu sudah bisa kerja."
"Sungguh, Juragan?" tanya Winarsih dengan mata yang berbinar.
"Iya," jawab Juragan Warso sambil tersenyum. "Tapi gajinya nggak besar."
"Tidak apa-apa, Juragan. Yang penting saya bisa bekerja disini." Air mata Winarsih hampir jatuh. "Terima kasih banyak, Juragan."
***
Winarsih Larasati
Keesokan harinya, Winarsih resmi bekerja. Tugasnya sederhana, mengaduk adonan, membungkus roti, membersihkan meja produksi. Pekerjaan itu cukup melelahkan, tangannya pegal, punggungnya terasa sakit.
Namun setiap kali mengingat dirinya kini bisa memperoleh uang sendiri, semua rasa lelah seolah menghilang. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Sore hari ketika pulang, Sulastri sudah berdiri di depan pintu dengan wajah masam.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang!"
Winarsih menundukkan kepala dan menjawab pelan, "saya habis kerja bu."
"Siapa yang nyuruh kamu kerja?" tanyanya sambil melipat tanyanya di dada.
"Saya sendiri."
"Memangnya uang yang saya kasih itu kurang?"
Winarsih menunduk. "Saya cuma ingin membantumu, Bu."
Sulastri mendengus sinis. "Bagus, kalau begitu nanti gajimu serahkan ke saya."
Winarsih langsung mengangkat kepala. "Bu?"
"Kamu tinggal dimana, jadi... semua penghasilanmu itu wajib di setor ke saya."
Jantung Winarsih berdegup kencang, ia baru saja mendapatkan secercah harapan. Namun kini, bayangan penderitaan itu kembali menghantuinya.
Winarsih mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah ibu mertuanya. "Maaf, Bu... gaji itu ingin saya simpan untuk kebutuhan saya sendiri."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Winarsih hingga tubuhnya terhuyung. Belum sempat ia menyeimbangkan diri, Sulastri kembali menarik rambutnya dengan kasar.
"Berani sekali kamu melawan! Sejak Benni pergi, kamu merasa paling berkuasa, ya?"
Air mata Winarsih jatuh tanpa suara. "Saya tidak melawan, Bu. Saya hanya ingin punya uang untuk makan dan membeli kebutuhan saya."
"Jangan banyak alasan!"
Sulastri merampas tas lusuh yang dibawa Winarsih. Ia membongkarnya tanpa izin hingga menemukan amplop berisi uang muka gaji dari Juragan Warso.
"Nah, ini dia!"
Dengan cepat uang itu dimasukkan ke dalam sakunya.
"Itu uang saya, Bu... tolong kembalikan," pinta Winarsih sambil menahan tangis.
"Tidak akan! Semua yang kamu dapat adalah hak saya."
Saat Winarsih hendak merebut kembali uangnya, suara deru sepeda motor terdengar dari depan rumah. Seorang kurir berhenti sambil membawa sebuah amplop cokelat.
"Permisi... ada surat dari Jepang untuk Mbak Winarsih."
Namun sebelum Winarsih sempat menerimanya, Sulastri lebih dulu merebut amplop itu. Begitu membaca isi surat tersebut, senyum licik perlahan terukir di bibirnya.
"Bagus... akhirnya kesempatan itu datang juga."
Tanpa diketahui Winarsih, surat itu akan menjadi awal fitnah yang menghancurkan rumah tangganya.