"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 22, Flower
Malam yang seharusnya menjadi penanda bertambahnya usia sebuah pernikahan mendadak berubah seperti langit yang kehilangan gugusan bintangnya. Cahaya lampu gantung tetap memantulkan rona keemasan di atas meja makan, dua gelas minuman masih terisi setengah, sementara aroma mentega dari steak wagyu yang telah mendingin perlahan menghilang, seolah ikut membawa pergi kehangatan yang beberapa menit lalu masih sempat singgah di antara keduanya.
"Ayo bercerai, Mas!"
Kalimat itu telah terucap begitu jelas, tidak bisa ditarik lagi dan gamblang di dengar oleh Jeevan.
Kalimat itu melayang di udara seperti kabut yang enggan menghilang, memenuhi setiap sudut apartemen dengan kesunyian yang terasa begitu berat hingga napas pun terdengar asing.
Jeevan tidak segera menjawab.
Pria itu hanya memandang Anna, tatapan matanya tetap datar. Nyaris tanpa riak. Wajah tampan yang selama ini selalu tampak sulit di tebak itu tidak menunjukkan kemarahan, tidak pula keterkejutan berlebihan. Rahangnya memang sedikit mengeras, namun hanya orang yang mengenalnya dengan sangat baik yang mampu menyadari perubahan sekecil itu.
Beberapa detik berlalu.
Detik-detik yang terasa lebih panjang daripada bertahun-tahun usia pernikahan mereka.
Barulah bibir Jeevan bergerak pelan. "...kenapa?" tanyanya pendek.
Namun menghantam dada Anna jauh lebih keras daripada bentakan.
Perempuan itu menundukkan pandangan. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memucat. Ada ribuan jawaban yang memenuhi kepalanya, tetapi satu pun sanggup keluar menjadi suara.
Karena jawaban yang sebenarnya terlalu menyakitkan.
Karena aku sakit, Mas...
Aku takut suatu hari penyakit ini membuatmu ingin tenggelam. Aku takut kamu menghabiskan hidupmu untuk merawat seseorang yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku ingin pergi sebelum kamu membenciku.
Kalimat-kalimat itu berputar di dalam benaknya seperti ombak yang terus menghantam karang, tetapi semuanya hanya tinggal gema di ruang hati.
Ia tidak sanggup mengatakannya.
Kalau Jeevan tahu tentang depresi yang perlahan menggerogoti dirinya, tentang kecemasan yang setiap harinya merampas ketenangannya, tentang malam-malam ketika ia menangis diam-diam tanpa sebab yang mampu di jelaskan, laki-laki itu pasti tidak akan pernah melepaskannya.
Dan justru itulah yang paling Anna takutkan.
Ia ingin menyelamatkan Jeevan.
Sekali pun caranya harus menghancurkan dirinya sendiri. Anna mengangkat wajahnya perlahan.
"Aku...ingin berpisah."
Suaranya nyaris bergetar, tetapi ia memaksanya terdengar tegas. "Aku mohon, Mas mengerti."
Jeevan belum juga mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap sama, tenang dan sulit di baca. Namun justru ketenangan itu membuat dada Anna semakin sesak.
Pria tersebut menarik napas pelan sebelum kembali berbicara.
"Selama ini...kamu tidak bahagia hidup bersamaku?"
Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada seseorang yang sedang mencoba mencari letak kesalahannya.
Anna menggigit bibir bagian dalam. Belum sempat ia menjawab, Jeevan kembali bertanya.
"Atau...selama ini kamu kurang nyaman sama keluargaku?"
Ruangan kembali hening, hanya terdengar sesekali jam dinding yang berdetak pelan dan teratur. pendingin ruangan terus mengembuskan hawa dingin yang kini terasa menusuk kulit.
Anna memejamkan mata sepersekian detik. Lalu, demi memaksa pria itu melepaskannya, ia memilih menjadi tokoh antagonis dalam kisah cintanya sendiri.
"Iya."
Jawaban itu keluar tanpa ragu. Pendek, tegas dan tajam. Seperti pisau yang sengaja ia arahkan ke dada laki-laki yang paling dicintainya.
Padahal jauh di lubuk hati yang paling dalam, Anna mencintai Jeevan. Sangat mencintainya--bahkan mungkin terlalu dalam.
Ia selalu mencintai pria yang selalu berangkat bekerja sebelum matahari benar-benar meninggi. Mencintai laki-laki yang diam-diam selalu memastikan tabung gas di dapur telah di matikan.
Mencintai sosok yang tak pandai mengucapkan kata romantis, tetap diam-diam mengganti lampu yang mati, memperbaiki keran bocor, mengisi ulang obat-obatan di kotak P3K, hingga memastikan apartemen selalu menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Jeevan memang bukan laki-laki yang pandai merangkai kalimat manis. Kasih sayangnya lebih sering hadir dalam bentuk tindakan kecil yang nyaris tak terlihat. Meski pun bagi Anna, terkadang sifat Jeevan menyebalkan.
Namun entah mengapa, di tengah semua perhatian itu pernikahan mereka terasa seperti teh cangkir hangat yang lupa di beri gula.
Tidak pahit, namun juga tidak benar-benar manis. Seolah ada ruang kosong yang tidak pernah berhasil mereka isi bersama.
Kesunyian kembali mengambil alih. Tidak ada yang berani bicara terlebih dahulu, bahkan mereka pun tidak berani untuk bergerak. Seperti dua manusia yang sama-sama terluka dengan cara yang berbeda.
Hingga suara bel pintu apartemen memecah keheningan tersebut.
Ting tong...
Suara bel pintu apartemen kembali terdengar nyaring.
Ting tong...
Suaranya semakin nyaring, membuat keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu. Anna mengusap sudut matanya yang mulai memanas.
"Biar aku yang buka." Tawarnya seraya berdiri dari duduknya.
Jeevan tidak menjawab.
Ia hanya terdiam memandangi steak wagyu tinggal sepotong yang sudah dingin.
Anna melangkah perlahan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai apartemen berubah menjadi lumpur yang menahan kakinya.
Begitu gagang pintu diputar, tampak seorang kurir laki-laki berdiri di depan unit apartemen sambil membawa sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar. Kelopak-kelopaknya mekar sempurna, di balut dengan kertas berwarna hitam elegan dengan pita satin merah tua yang terikat rapi.
"Malam, Mbak Anna?" sapanya ramah.
Anna mengangguk pelan. "Iya."
"Ini ada kiriman uang mbaknya. Seseorang meminta kami mengantarkan buket ini ke alamat rumah ini."
Anna tampak kebingungan.
"Untuk saya?" tanya Anna seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Mbak. Ini.... silahkan di terima." Ujarnya seraya menyodorkan.
Tanpa banyak bertanya, Anna menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih..." ucap Anna.
"Sama-sama. Selamat malam," pamitnya.
Pintu kembali tertutup.
Anna memandangi bunga mawar itu beberapa saat. Harumnya langsung memenuhi indera penciuman, lembut sekaligus asing.
Ia berbalik.
Di ruang tengah, Jeevan kini sudah berdiri beberapa langkah darinya. Jarak di antara mereka hanya beberapa meter. Namun malam itu, rasanya seperti dipisahkan oleh lautan yang tak bertepi.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Tak ada kemarahan dan tidak suara yang meninggi, yang tersisa hanyalah kelelahan.
Jeevan membuka suara terlebih dahulu. "...soal perceraian," pria itu berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata yang paling tepat. "...kita bahas besok. Di akhir pekan."
Nada bicaranya tetap rendah. "Hari ini...aku sedikit lelah."
Tidak ada tuduhan, tidak ada larangan atau pula permohonan agar Anna mengurungkan niatnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeevan membalikkan badan dan lalu melangkah pelan menuju lorong pendek ke arah kamar lain.
Bukan kamar utama yang sering mereka tempati seperti biasa untuk melepas lelah, melainkan kamar tamu.
Anna memperhatikan pergerakan Jeevan yang tengah membuka pintu kamar tersebut. Dan setelah pintu kamar itu terbuka, Jeevan gegas masuk dan kembali menutup pintu.
Klik...
Mungkin sebagai orang bunyi 'KLIK' adalah bunyi sederhana. Namun bagi Anna, bunyi itu seperti garis pemisah yang perlahan di gambar di tengah kehidupan mereka.
Kini, apartemen itu kembali sunyi. Anna masih berdiri di tempatnya, memandangi pintu kamar itu tertutup rapat sambil masih memeluk buket mawar merah besar tersebut.
Perlahan pandangannya turun ke arah sebuah kertas memo yang di lipat dan di selipkan di antara kelopak bunga mawar. Ia meraihnya dan membukanya, matanya memindai kalimat sederhana itu.
...From your husband; ...
...{Happy anniversary yang ke lima}...
Anna kembali mengangkat wajahnya dan menatap pintu kamar yang sudah tertutup.
"*Perasaan apa ini? Kenapa hatiku sakit?Tidak Anna...k*ini yang harus aku tolong, bukan orang lain...tetapi diriku sendiri. Aku ingin bahagia."
...💞💞💞...
Maaf Yehppee telat update bab terbaru.
Jangan lupa like, vote, subscribe, komen, dan bintang limanya.
...BERSAMBUNG ...