" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Aturan Lama
Sore ini Sean pulang ke rumah utama keluarganya karena Ayah meminta dia pulang untuk membicarakan beberapa hal penting.
Sejak beranjak dewasa, Sean tidak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya, tetapi juga sudah memiliki rumah sendiri.
"Kak Sean mau ke mana? Kok arah pulangnya beda?" tanya Ara begitu mobil Sean berhenti di lampu merah tepat di samping motornya.
Sean langsung menoleh begitu mendengar suara itu karena kaca mobil memang terbuka cukup lebar.
"Kak Sean?" panggil Ara lagi karena Sean hanya diam menatapnya.
"Pulang ke rumah utama," jawab Sean singkat sambil menatap dengan mata menyipit gadis pengganggu yang selalu ada di mana-mana.
"Ooooo, titip makanan ini buat calon mertua Ara, ya," kata Ara sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengulurkan satu paper bag dari tiga paper bag yang dipegangnya ke dalam mobil.
"Ara," kata Melly yang sedang menyetir motor sambil menampar paha sahabatnya yang kenekatannya bikin geleng-geleng kepala.
Tidak satu pun kesempatan dia lewatkan. Jika bertemu Sean, pasti dipepet.
"Daaaa, Sayang!" teriak Ara memberikan kiss jarak jauh ketika lampu hijau menyala dan Melly menancap full gas motornya.
Sean menaikkan kaca mobilnya sampai ke atas dan duduk melamun menatap paper bag di atas pangkuannya ketika sopir kembali menjalankan mobil.
Sesampai di rumah utama, Sean berjalan melewati pintu utama dan disambut pelayan serta bodyguard di sekitarnya.
"Selamat datang, Tuan Muda. Apa perlu kami bawakan paper bag-nya?" tanya kepala pelayan dengan sopan, melihat Sean yang berjalan menenteng satu paper bag di tangannya.
"Tidak perlu," jawab Sean singkat sambil menarik napas berat. Keluarga besar Sean adalah keluarga yang masih menjaga tradisi dan budaya turun-temurun.
Di dalam rumah, semua diatur, mulai dari makan, berpakaian, bersikap, dan juga tata krama, walaupun tidak seketat ketika kakeknya masih hidup.
Sebab itu, Sean memilih tinggal di rumahnya sendiri!
"Sean, akhirnya kamu datang, Nak," ucap Ibu dengan senang sambil berlari memeluk Sean dengan excited.
"Ayah, kita sudah hidup di zaman yang modern. Kenapa masih mematuhi aturan kuno itu? Apa salahnya berlari sedikit selagi tidak membahayakan?" kata Sean sambil membalas pelukan hangat Ibunya.
"Sean, jangan membantah. Ikuti saja peraturan selagi itu baik," ucap Ayah dengan tegas yang sedari dulu selalu berlawanan dengan Sean.
"Aku hanya akan mengikuti peraturan yang masuk logika," pernyataan Sean yang tidak menyukai budaya patriarki yang berkembang sejak lama.
Di mana laki-laki dianggap seperti raja dalam keluarga yang harus dipatuhi, dituruti, dan segala keinginannya harus dipenuhi, seolah-olah perempuan hanya bisa menurut, padahal sejatinya perempuan punya hak yang sama.
Terlalu banyak aturan untuk perempuan, dan Sean tidak suka melihat Ibunya harus melakukan hal-hal yang kadang tidak diinginkannya.
"Sean!" teriak Ayah menatap anaknya yang selalu membangkang, bahkan tidak mau mematuhi aturan keluarga. Dia benar-benar independen dan hidup sesuai keinginannya.
"Ayah, berapa kali harus Sean bilang kalau kita itu berhak atas kebahagiaan kita hari ini sampai ke masa depan, bukan terikat pada masa lalu?" ucap Sean.
"Jadi, kamu pikir aturan yang sudah turun-temurun dalam keluarga kita tidak perlu atau bisa ditukar begitu saja?" tanya Ayah dengan emosi.
"Tentu saja bisa. Ayah saja yang terlalu terpaku dengan peraturan masa lalu yang sangat kolot," kata Sean yang kadang kasihan melihat Ibunya yang harus melakukan banyak hal yang tidak dia senangi hanya karena terikat aturan keluarga.
"Sean!" teriak Ayah dengan emosi.
"Sudah, sudah," kata Ibu menengahi pertengkaran anak dan Ayah yang selalu terjadi setiap kali mereka bertemu.
"Sean, duduklah, Nak," ucap Ibu pada putranya yang sudah hampir dua bulan ini tidak pulang ke rumah utama.
....
"Ada apa Ayah memanggilku ke sini?" tanya Sean setelah beberapa saat duduk dan meletakkan paper bag yang sedari tadi dipegangnya di atas meja.
Ayah yang duduk di sofa mengambil dan membuka paper bag yang Sean taruh di atas meja.
"Sean, kau membawakan ini untuk Ayah?" ucap Ayah tiba-tiba sambil memeluk Sean, seolah lupa dengan pertengkaran mereka barusan.
Sean langsung membeku ketika Ayahnya yang selama ini selalu marah-marah tiba-tiba memeluknya dengan senang setelah membuka paper bag itu. Bahkan, Sean sendiri tidak tahu isinya apa.
"Sean membawakan Ayah apa?" tanya Ibu yang jadi heran sambil mengeluarkan isi paper bag itu.
"Bolu pandan," senyum Ibu yang sangat tahu kalau suaminya menyukai bolu pandan, hanya saja beberapa tahun terakhir suaminya tidak pernah lagi memakannya. Mungkin itu yang membuat suaminya tiba-tiba senang.
Sean menatap Ayahnya yang belum dua menit sudah menghabiskan separuh bolu pandan yang sepertinya sangat dia sukai.
Padahal, jujur saja, sebagai seorang anak, Sean sama sekali tidak tahu kalau bolu pandan adalah makanan kesukaan Ayahnya.
"Sinta, cobalah ini. Sangat enak," kata Ayah secara spontan sambil menyuapi Ibu.
Setelah bolu itu habis, Sean tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" Ayah sensi, merasa Sean sedang mengejeknya.
Mungkin karena makan bolu kebanyakan.
"Ayah, sepertinya kau lupa kalau dalam aturan keluargamu, laki-laki tidak seharusnya melayani perempuan," senyum kecut Sean yang melihat Ayah menyuapi Ibu sampai empat kali.
"Aku, aku hanya berbagi kebahagiaan dengannya," jawab Ayah yang langsung kembali ke mode seriusnya.
"Jangan sampai karena alasan kebahagiaan mengabaikan peraturan," ucap Sean mengatakan kalimat template yang selalu Ayahnya ucapkan setiap kali Sean tidak mematuhinya.
Sejak dulu, Sean memang tidak pernah akrab dengan Ayahnya karena selalu berbeda pendapat dan berakhir bertengkar.
"Katakan, kenapa Ayah memanggilku ke sini?" ucap Sean sambil mengulum senyum melihat Ayahnya yang biasanya selalu angkuh dan berwibawa itu kini diam tak berkutik karena termakan omongannya sendiri.
"Ayah ingin kamu kembali mengurus perusahaan," pernyataan Ayah yang sudah mulai merasa kewalahan.
"Mengurus perusahaan?" tanya Sean sambil mengangkat sebelah alisnya, mengingat empat bulan yang lalu Ayah sudah mencoretnya dari tahta seorang pewaris.
"Kau adalah putraku satu-satunya. Jika ada yang lain, aku tidak akan menyuruhmu," pernyataan Ayah dengan egonya yang masih sangat tinggi.
"Coba ingat-ingat lagi. Barangkali aku ada saudara tiri yang bisa mewarisi harta dan semua peraturan kolot itu," ucap Sean tanpa ragu.
Ayah langsung berdiri dan menarik kerah baju Sean.
"Dengar, Sean! Di dalam keluarga kita hanya ada satu pewaris sejak dulu karena jika sudah dua, maka akan menimbulkan perpecahan dan rasa tidak adil," pernyataan Ayah.
"Sekali lagi kamu berpikir seperti itu, awas!" kata Ayah yang sudah benar-benar marah dan emosi hingga membuat Sean takut juga.