Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Tua mendukung
Hujan sore telah berubah menjadi gerimis halus saat Davina memarkir mobilnya di halaman rumah sederhana milik ibunya. Rumah itu terletak di pinggiran Kota C, jauh dari kemewahan Rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Rio. Di sini, udaranya lebih segar, dan ketenangannya lebih terasa nyata.
Zahra langsung melompat turun dari mobil, berlari menuju teras depan di mana dua sosok duduk sambil menikmati teh hangat.
"Nenek! Kakek !" seru Zahra ceria.
Ibu Rani, seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah namun penuh kerutan kekhawatiran, tersenyum lebar melihat cucunya. Di sampingnya duduk.
"Hai, sayangku," sambut Ibu Rani, membuka lengan untuk memeluk Zahra.
Davina turun dari mobil dengan langkah berat.Namun rasa dingin di hatinya belum juga hilang apalagi Adit kepo tentang kehidupannya. Ia menghampiri mereka, mencium tangan ibunya, lalu mencium tangan ayahnya.
"Assalamualaikum, Bu, Ayah" ucap Davina pelan.
"Waalaikumsalam, Davina. Ayo duduk," Ucap kedua orangtuanya.
Davina duduk, merasa ada ketegangan udara yang tak kasat mata. Ibunya menuangkan teh ke cangkir baru dan menyodorkannya pada Davina.
"Minum dulu, Nak. Kamu kelihatan lelah sekali," ucap Ibu Davina lembut, membelai punggung putrinya.
Davina menerima cangkir itu, uap panasnya mengepul di wajahnya. "Terima kasih, Bu."
"Davina," Ucap ayahnya dengan nada berat namun penuh kehati-hatian. "Ayah ingin bicara serius sebentar. Bukan soal zahra , tapi soal kamu dan Rio.
Davina meneguk tehnya, tenggorokannya terasa kering. "Ada apa, ayah?"
"Ayah tahu kamu menjalani ini semua dengan berat, namun sekali lagi Ayah tanya.Apakah kamu tidak ada niat untuk kembali bersama dengan Rio nak? "
Jantung Davina berdegup kencang.Davina terdiam seolah ia tidak tahu mau menjawab apa.Bukannya sudah jelas dari awal dia sudah memutuskan untuk berpisah dengan Rio.Kenapa ayahnya bertanya lagi , "ada apa ini ? Davina menggerutu.
"Ibu dan Bapak khawatir," sambung Ibu Rani, matanya berkaca-kaca. "Kami tahu Rio adalah ayah Zahra. Dan kami tahu kamu masih menyimpan luka yang dalam. Tapi Davina... apakah kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu? Apakah kamu tidak berusaha rujuk dengan rio demi zahra nak ? Atau kamu sudah bulat untuk berpisah selamanya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menusuk.
Davina menunduk, menatap cairan cokelat di dalam cangkirnya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa awal pernikahan dengan Rio. Dulu, ia berpikir cinta bisa mengatasi segalanya. Ia berpikir kesabaran akan membuahkan kebahagiaan. Tapi kenyataannya, ego Rio, sikap dinginnya telah menghancurkan kepercayaan Davina.
"Aku..." suara Davina bergetar. "Aku sudah mencoba, Bu, Ayah. Aku sudah mencoba bertahan selama tiga tahun. Aku sudah mencoba memaafkan.
Tapi setiap kali aku memaafkan, dia justru semakin jauh. Dia tidak pernah menghargai pengorbananku."
Pak Radit mengangguk paham. "Ayah mengerti. Tapi Davina, perceraian bukan perkara mudah, apalagi ada anak. Zahra butuh ayahnya. Apakah kamu siap jika nanti Rio menuntut hak asuh? Atau jika masyarakat mulai berbicara?"
"Aku siap," jawab Davina tiba-tiba, suaranya lebih tegas. Ia mengangkat kepala, menatap Pak Radit dan ibunya dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keyakinan. "Aku lebih takut Zahra tumbuh di lingkungan yang tidak baik, penuh kepalsuan daripada tumbuh tanpa ayah. Ayah yang ada tapi tidak hadir secara hati itu lebih menyakitkan daripada tidak ada sama sekali." Lanjut Davina " Rio tidak pernah ada buat kami selama dua tahun belakangan ini " dengan nada lirih.
Ibunya menarik napas panjang, air mata menetes di pipinya. "Ibu hanya ingin kamu bahagia, Davina. Ibu tidak ingin kamu menderita sendirian seperti ini."
"Aku tidak sendirian, Bu," ucap Davina, menyentuh tangan ibunya. "Aku punya Ibu dan Ayah. Aku punya Zahra. Dan aku punya pekerjaan yang membuatku bangga. Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak harus bergantung pada pria lain."
Pak Radit tersenyum tipis, tampak lega. "Itu jawaban yang matang, Davina. Ayah senang mendengarnya. Jika hatimu sudah bulat, maka Ayah akan mendukungmu sepenuhnya. Kalo kamu butuh bantuan , ayah dan ibu akan membantumu secara hukum jika Rio membuat kesulitan. Kami tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri."
Davina merasakan beban di dadanya sedikit terangkat. Dukungan dari orang-orang terdekatnya adalah kekuatan terbesar yang ia miliki saat ini.
Namun, di sudut pikirannya yang paling dalam, bayangan Adit muncul lagi. Pria yang tadi siang memberinya jaket, yang bertanya tentang "suaminya" dengan tatapan menyelidik.
Adit...
Jika Davina benar-benar bercerai, apakah itu berarti pintu bagi Adit terbuka lebar? Atau justru itu akan membuat Adit semakin agresif? Davina belum tahu. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan bab lamanya dengan Rio terlebih dahulu sebelum ia bisa memikirkan bab baru dengan siapa pun, termasuk Adit.
"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Bu," ucap Davina lirih.
Zahra yang sejak tadi bermain dengan kucing peliharaan neneknya, tiba-tiba berlari menghampiri. "Mamah, Zahra lapar! Masak nasi goreng ya?"
Davina tertawa kecil, mengusap kepala putrinya. "Iya, Sayang. Nanti Mamah buatkan nasi goreng spesial."
Momen kehangatan itu menutup pembicaraan serius tadi. Namun, di balik senyuman Davina, ada tekad baru yang membara. Ia akan mengurus perceraian dengan Rio secepat mungkin. Ia akan menutup pintu masa lalunya rapat-rapat. Dan memulai lembaran baru bukan karena Adit datang di kehidupannya.Tapi melainkan Davina ingin membuka lembaran baru untuknya dan Zahra.Karena masa depan zahra Bergantung padanya.
Karena Davina akan menjadi ibu sekaligus Ayah untuk anaknya.Davina mengambil dua peran yang cukup berat, namun Davina bukan orang pesimis , dia selalu berpikir optimis.Untuk masa depan putrinya.
Davina menuruti permintaan zahra putrinya.Ia berjalan masuk ke dapur.Mengambil bahan - bahan, apa saja yang di butuhkan untuk memasak nasigoreng.
Aroma nasigorengnya mulai kecium ke luar, sehingga zahra masuk ke dapur.
" yeayy nasi goreng kesukaanku !" ucap zahra ceria.
Davina tersenyum hangat, ia mengambil piring dan menyajikan nasigoreng di dalam sana.Davina menyodorkan sepiring nasi goreng untuk zahra.
" ayok sayang, ini tuan puteri nasi goreng kesukaanmu sudah siap !" ucap Davina dengan senyum hangat.
" makasih mamah, masakan mamah paling juara " Ucap zahra mengajukan jempolnya.Zahra meletakkan nasi gorengnya di atas meja.Ia duduk di kursi dan melahap nasi goreng buatan mamahnya.
Davina hanya geleng - geleng kepala , melihat kelakuan putrinya.Melihatnya saja sudah membuatnya senang.Dia tidak akan habis pikir kalo seandainya Rio mengambil zahra darinya.
Mungkin bisa jadi dia gila, kehilangan penyemangat hidupnya.Dia akan pastikan sendiri bahwa zahra akan selalu ada disisinya.Dia tidak akan membiarkan zahra berada di tangan Rio.
Davina tidak akan sanggup berpisah dengan zahra putrinya.Bahkan jika di tukar dengan uang-pun , dia tidak akan menukar putrinya.Zahra adalah nyawanya, kehilangan putrinya sama saja kehilangan harapan hidupnya.