NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Malam Berdarah di Depan Pintu

Karina segera menangkap bahu Tuti sebelum gadis itu jatuh tersungkur.

"Berdiri dulu. Pelan-pelan."

Tuti mengangkat wajah. Lebam membayang di bawah mata kirinya. Ada luka tipis di pelipis dan darah kering pada lengan bajunya, tetapi tidak tampak pendarahan deras. Tubuhnya gemetar begitu hebat sampai giginya beradu.

Seorang lelaki tua di dekat sumur hendak mengambil golok yang tadi jatuh. Tuti langsung menjerit dan menyambar gagangnya lebih dulu.

"Jangan!"

Orang-orang mundur.

Karina tidak merebutnya. Ia menjaga jarak dari bilah berkarat itu dan berbicara pelan. "Nggak ada yang akan mengambilnya sekarang. Arahkan ke bawah, ya. Biar kamu nggak terluka."

Tuti menatapnya dengan napas tersengal. Setelah beberapa detik, ujung golok akhirnya turun menghadap tanah.

"Siapa yang mengejar kamu?"

Gadis itu menoleh berkali-kali ke jalan. "Mereka datang. Mereka pasti datang."

"Kita pindah dari sini dulu. Kamu bisa berjalan?"

"Jangan suruh saya balik." Jemarinya memutih di gagang golok. "Saya nggak mau balik."

"Saya nggak akan membawa kamu ke tempat yang kamu takuti. Rumah saya dekat. Kita bicara di sana."

Beberapa warga saling berbisik, tetapi tidak ada yang menawarkan tempat. Luka Tuti dan senjata di tangannya membuat rasa ingin tahu mereka kalah oleh takut terlibat.

Karina memandang Nathan. "Kamu pegang tangan Lucas. Jalan di samping Mama, jangan di belakang Tuti."

Nathan mengangguk. Ia menarik adiknya ke sisi yang jauh dari golok.

Mereka meninggalkan sumur. Karina berjalan di sebelah Tuti tanpa menyentuhnya lagi. Setiap kali terdengar motor dari kejauhan, gadis itu tersentak dan nyaris berlari ke semak.

"Sebentar lagi sampai," ujar Karina.

"Mereka akan bunuh saya."

"Kita cari cara supaya itu nggak terjadi."

Sesampainya di rumah, Karina membuka pagar dan mempersilakan Tuti masuk lebih dulu. Ia menutupnya kembali, lalu membawa gadis itu ke teras kecil di depan ruang utama. Tuti menolak meletakkan golok. Jadi Karina memberinya kain tebal untuk membungkus bilah dan meminta senjata itu tetap berada di lantai, bukan di tangan.

Tuti menurut, meski duduk sangat dekat dengannya.

Karina menuang air matang ke dalam mangkuk. "Minum sedikit-sedikit."

Air mengenai bibir pecah Tuti dan membuatnya meringis. Ia tetap meneguk sampai setengah mangkuk habis.

Lucas bersembunyi di belakang Karina. Matanya terpaku pada bercak darah di lengan gadis itu.

"Mama," bisiknya, mulai menangis. "Kakak itu berdarah."

"Lukanya akan kita bersihkan." Karina meraih tangannya. "Lucas tetap di sini sama Kak Nathan."

Nathan berdiri di depan adiknya. Wajahnya juga pucat, tetapi ia mengusap air mata Lucas dengan ujung lengan.

"Jangan lihat lukanya," katanya. "Lihat Kakak saja."

Karina membawa baskom air bersih dan sisa kasa. Ia tidak langsung mengobati sebelum memastikan Tuti mengizinkan.

"Boleh saya lihat pelipismu?"

Tuti mengangguk. Begitu kain basah menyentuh kulitnya, bahunya melonjak.

"Siapa yang melakukan ini?"

Gadis itu mencengkeram mangkuk. "Orang-orang Bang Jajang."

Nama itu membuat suara ayam dan gesekan daun di halaman terasa mendadak jauh.

Karina pernah mendengar keluarga Karta disebut dengan suara pelan di warung. Mereka punya kebun, beberapa kendaraan bak terbuka, dan sekelompok lelaki yang bekerja sebagai penagih utang sekaligus pengawal. Di desa, orang menyebut mereka preman hanya ketika yakin tak ada anggota keluarga itu yang mendengar.

"Ceritakan dari awal semampumu," kata Karina. "Kalau perlu berhenti, kita berhenti."

Tuti menarik napas patah-patah.

Ia berasal dari luar kecamatan. Setelah orang tuanya meninggal, seorang kerabat menawarinya pekerjaan di rumah makan. Alih-alih bekerja, dokumennya ditahan dan ia dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain sampai akhirnya dibawa ke wilayah keluarga Karta.

Bang Jajang melihatnya dan memutuskan hendak menjadikannya istri.

"Saya bilang nggak mau." Tuti menutup mulut, menahan tangis. "Mereka bilang saya sudah dibayar. Saya nggak pernah menerima uang. Tapi setiap kali saya melawan, katanya utang saya tambah."

"Mereka memukulmu?"

Tuti mengangguk.

Karina menekan kemarahan agar tidak terlihat sebagai gerakan mendadak. "Bagaimana kamu bisa lari?"

"Tadi pagi mereka sibuk. Saya keluar lewat belakang gudang." Tuti menatap golok yang terbungkus kain. "Saya ambil itu dari tumpukan kayu. Saya cuma mau menakut-nakuti kalau ada yang mengejar."

"Kenapa kamu yakin mereka akan membunuhmu?"

Pertanyaan tersebut membuat seluruh tubuh Tuti kaku.

Ia menatap Nathan dan Lucas. Bibirnya bergerak, tetapi suara tak keluar.

Karina memahami. "Nathan, bawa Lucas masuk ke ruang depan sebentar."

Nathan memeluk bahu adiknya. "Mama tetap di sini?"

"Mama di teras. Pintunya tetap terbuka."

Kedua anak itu mundur beberapa langkah. Lucas masih bisa melihat Karina dari dalam, tetapi tak lagi berada tepat di hadapan Tuti.

Tuti membungkuk. Suaranya turun menjadi bisikan.

"Tiga malam lalu saya bangun karena dengar mobil. Dari celah dinding gudang, saya lihat Bang Jajang sama beberapa orang bawa sesuatu ke belakang bukit. Bentuknya... seperti orang dibungkus terpal."

Karina menahan napas.

"Saya dengar mereka bilang galiannya kurang dalam." Air mata Tuti menetes ke tangannya. "Besoknya salah satu orang lihat saya dekat gudang. Sejak itu saya dikunci. Mereka tanya apa yang saya lihat. Saya bilang nggak lihat apa-apa, tapi mereka nggak percaya."

Ia mengangkat wajah dengan tatapan kosong.

"Kalau saya balik, saya mati."

"Kamu nggak akan kembali bersama mereka hari ini."

"Mereka punya orang di mana-mana."

"Hari ini kamu tetap di sini. Sesudah aman, kita cari bantuan dan pikirkan langkah berikutnya."

Tuti menggeleng berkali-kali. "Nggak ada yang berani bantu. Mereka bisa bikin satu keluarga hilang."

"Saya sudah bilang kamu tetap di sini."

Nada Karina tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Tuti berhenti menggeleng.

Karina mengambil HP. Tidak ada sinyal. Ia berjalan ke dekat jendela, mengangkat perangkat itu, lalu mencoba halaman dan sisi sumur. Satu garis muncul, hilang sebelum panggilan tersambung.

Ia bisa mencoba mengirim pesan atau mencari titik sinyal di jalan atas. Namun polisi dari kecamatan pun membutuhkan waktu untuk mencapai desa. Tuti membutuhkan perlindungan sekarang, bukan beberapa jam kemudian.

"Nathan," panggil Karina. "Ambil sapu dari sudut dan bawa ke sini. Bukan untuk dipakai. Taruh dekat pintu."

Nathan menurut tanpa bertanya. Ia meletakkan sapu di dinding teras, lalu membawa Lucas lebih dalam ke ruang depan.

Karina memeriksa kait pagar dan daun pintu. Kayunya tua. Tidak akan bertahan menghadapi banyak orang, tetapi masih bisa memberi waktu.

Matahari bergerak tinggi lalu perlahan turun. Tuti akhirnya menghabiskan sedikit nasi. Karina membersihkan luka di pelipis dan lengannya, lalu memintanya berbaring. Namun gadis itu tidak pernah benar-benar menutup mata.

Menjelang sore, anjing-anjing di ujung jalan mulai menggonggong.

Tuti langsung duduk.

Suara beberapa lelaki terdengar dari kejauhan. Tawa kasar, langkah cepat, dan benturan benda keras pada pagar rumah tetangga.

"Mereka," bisik Tuti.

Nathan menarik Lucas ke belakangnya. Lucas menutup kedua telinga, tetapi bentakan dari luar semakin jelas.

"Tuti! Keluar!"

Seorang lelaki menendang pagar Karina. "Jangan bikin kami masuk sendiri!"

Karina mengintip dari celah dinding. Lima orang berdiri di jalan. Yang paling depan bertubuh besar, mengenakan jaket hitam meski udara tidak terlalu dingin. Sebatang kayu tebal bersandar di bahunya.

Bang Jajang.

"Bu Karina!" teriaknya. "Ini urusan keluarga kami. Serahkan Tuti, kami pergi."

"Tuti bilang dia nggak mau ikut."

"Dia sudah jadi milik keluarga Karta. Kerabatnya terima uang. Kamu jangan ikut campur."

"Orang bukan barang yang bisa dimiliki setelah dibayar."

Tawa para lelaki itu hilang.

Bang Jajang mendekati pagar. "Kalau kamu sembunyikan dia, rumah ini ikut menanggung akibat. Serahkan sekarang, atau kalian sekeluarga ikut dikubur."

Nathan mendengar ancaman itu. Wajahnya memutih. Meski demikian, ia tetap memindahkan Lucas ke belakang tubuhnya dan meraih tangan Tuti.

Karina berdiri di depan mereka. "Masuk ke ruang belakang. Jangan keluar apa pun yang kalian dengar."

"Mama?" Lucas menangis.

Karina mengangkatnya sebentar, menempelkan tubuh kecil itu ke dada. "Mama di sini. Ikut Kak Nathan dulu."

Ia menurunkan Lucas dan menatap Nathan. "Pegang adikmu. Bawa Tuti masuk."

Nathan mengangguk meski bibirnya bergetar. Ia menarik Lucas dengan satu tangan dan mencoba menggandeng Tuti dengan tangan lain.

Namun Tuti memandangi jendela seperti orang yang sudah melihat akhir hidupnya.

"Mereka akan masuk," gumamnya. "Mereka akan bunuh kalian karena saya."

"Tuti, masuk dulu."

Benturan pertama menghantam pagar.

Duk!

Kayunya berguncang. Debu jatuh dari sambungan atap teras. Lucas menjerit.

Karina menahan daun pintu dari dalam dan menyelipkan balok kayu pada kaitnya. "Nathan, sekarang!"

Anak itu menarik Tuti. Gadis tersebut bergerak dua langkah, lalu melihat golok terbungkus kain di dekat tikar. Ia melepaskan tangan Nathan dan meraihnya.

"Jangan," kata Karina. "Letakkan itu."

Benturan kedua terdengar lebih keras.

Krak!

Salah satu papan pagar pecah. Ujung tongkat menerobos celah sebelum ditarik kembali.

Tuti membuka kain pembungkus dengan tangan gemetar.

"Tuti, lihat saya." Karina menjaga suara tetap rendah. "Mereka belum masuk. Jangan lukai dirimu."

"Kalau saya mati, mereka nggak perlu masuk."

"Bukan kamu yang membuat mereka begini. Kamu nggak perlu membayar kekerasan mereka dengan hidupmu."

Bang Jajang berteriak dari luar, memerintahkan orang-orangnya menghantam bersama-sama.

Tiga batang kayu terangkat.

Karina bergerak ke arah Tuti.

Pagar dihantam serentak. Daun kayu tua itu retak dengan suara memekakkan.

Tuti mundur dan mengangkat golok ke lehernya sendiri.

"Jangan mendekat!" jeritnya. "Aku lebih baik mati!"

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!