NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Queen..." Zavier menyentuh bahu Queen dengan ragu. "Maafkan aku. Aku tidak tahu pria itu akan..."

"Dia melepaskanku, Zav," isak Queen pecah. Ia menatap telapak tangannya yang kosong, tempat di mana tangan Nial biasanya menggenggamnya dengan posesif. "Dia benar - benar membiarkanku pergi."

Zavier menghela napas panjang, menatap ke arah mobil Nial yang sudah mulai menghilang di kejauhan. "Ayo, aku antar kau pulang. Kau tidak bisa di sini terus. Jika pengawal Nial sudah ditarik, anak buah ayahmu akan menemukanmu dalam hitungan menit. Lebih baik kau pulang bersamaku agar aku bisa melindungimu."

Dengan langkah gontai, Queen membiarkan Zavier menuntunnya masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan, pikirannya kosong. Kebebasan yang ia impikan kini terasa hambar, bahkan menyakitkan.

Beberapa saat kemudian, Mobil Zavier berhenti tepat di depan pilar - pilar raksasa kediaman Arresta yang menjulang angkuh.

Queen menatap bangunan itu—rumah yang dulu ia anggap sebagai istana, namun kini terlihat seperti penjara yang siap menelannya kembali.

"Terima kasih, Zav. Untuk semuanya," ucap Queen lirih. Tangannya sudah memegang gagang pintu mobil, namun jemarinya bergetar hebat.

Zavier tidak segera membuka kunci pintu. Ia menoleh, menatap Queen dengan kecemasan yang nyata. "Kau yakin ingin masuk sendirian? Aku bisa ikut ke dalam, Queen. Aku bisa bicara pada Uncle Louis."

Queen menggeleng perlahan, sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya yang pucat. "Ini urusan keluargaku. Kau sudah melakukan terlalu banyak hari ini. Pulanglah, Zav."

Zavier menghela napas panjang. "Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku serius, Queen," tegasnya, sebelum akhirnya membuka kunci pintu.

Queen hanya mengangguk kecil lalu keluar dari mobil. Ia berdiri di sana, menyaksikan mobil Zavier menjauh hingga hilang dari pandangan, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa - sisa keberaniannya.

Aula Utama Kediaman Arresta

Begitu pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka, hawa dingin langsung menyambutnya. Di tengah aula, duduk Helena Arresta dengan tatapan yang menghunus tajam. Ia tidak kelihatan terkejut melihat keberadaan Queen di rumah itu.

"Lihat siapa yang akhirnya menyerah dan pulang ke rumah." suara Helena berdesis tajam.

Queen berhenti beberapa langkah di hadapannya. "Mom, dengarkan penjelasanku dulu."

"Penjelasan?" Helena tertawa sinis, langkah kakinya terdengar nyaring di atas lantai marmer. "Kau tahu berapa banyak kerugian yang kau buat karena melarikan diri? Kau memalukan nama Arresta!"

"Aku bukan aset, Mom! Aku anakmu!" teriak Queen, suaranya pecah oleh emosi.

PLAK!

Tamparan itu mendarat dengan telak. Queen terhuyung hingga jatuh terduduk di lantai. Rasa panas merambat cepat di pipinya, dibarengi dengan rasa perih di sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah.

"Jangan pernah kau menyebutku dengan panggilan itu!" Helena membungkuk, menjambak rambut Queen dengan kasar. "Setiap kali kau memanggilku 'Mom', aku merasa ingin muntah! Kau pikir aku sudi melahirkan noda sepertimu?"

"A—apa?" Queen tertegun.

"Helena, cukup!" Louis Arresta muncul dari ruang kerja, wajahnya tampak panik. Ia bergegas mendekat, mencoba menarik tangan istrinya. "Jangan bicara omong kosong. Dia baru saja pulang, kita bisa bicara baik-baik."

"Bicara baik-baik?" Helena menghempaskan tangan Louis. "Sampai kapan kau mau menyembunyikan kebusukanmu, Louis? Sampai kapan aku harus berpura-pura mencintai anak dari wanita murahan itu?!"

"Helena, tutup mulutmu!" gertak Louis, suaranya gemetar. Ia melirik Queen yang masih terduduk di lantai dengan mata yang membelalak lebar. "Queen, jangan dengarkan ibumu, masuk ke kamarmu sekarang!"

"Kenapa? Takut dia tahu kalau dia hanyalah sampah yang kau bawa ke rumah ini?" Helena tertawa histeris, mengabaikan tarikan suaminya. "Kau anak haram, Queen! Kau anak dari wanita rendahan. Kau bukan darah dagingku!"

Queen mematung. Dunia seolah berhenti berputar. Kata - kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia terima. Ia menatap Louis, mencari bantahan, namun sang ayah justru memalingkan wajah.

"Jadi ... itu sebabnya kau selalu bersikap dingin padaku?" bisik Queen dengan suara parau yang menyayat hati.

Helena kembali mendekat, tangannya terangkat lagi ingin memaki, "Ya! Dan sekarang kau—"

"Hentikan, Mom!"

Suara langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah ketegangan. Axel Arresta muncul dari arah tangga marmer. Wajahnya begitu kaku, auranya sangat dominan hingga Helena secara naluriah menghentikan ucapannya.

Axel menuruni tangga satu per satu, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah Helena. Ia berdiri di antara Queen dan ibunya, menghalangi akses Helena untuk kembali menyakiti adik perempuannya.

"Cukup sampai di sini," ucap Axel rendah namun penuh penekanan. "Mom, masuklah ke kamar. Jangan biarkan emosi membuatmu kehilangan martabat sebagai seorang Arresta."

"Tapi Axel, dia sudah—"

"Masuk. Sekarang!" perintah Axel tanpa bantahan.

Helena yang biasanya keras kepala pun terdiam di bawah intimidasi putranya. Dengan dengusan kesal, wanita itu berbalik dan melangkah pergi dengan langkah kasar.

Aula kembali sunyi. Axel berbalik perlahan, menatap Queen yang masih terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Meskipun wajahnya tetap tanpa ekspresi, Axel membungkuk perlahan.

Ia tidak membantunya berdiri dengan lembut, namun tangannya memegang lengan Queen dengan mantap, membantunya bangkit dari lantai yang dingin.

"Masuk ke kamarmu," ucap Axel. Suaranya masih dingin, namun ada nada yang sedikit berbeda—bukan kebencian, melainkan perlindungan yang kaku. "Obati lukamu. Aku akan menyuruh pelayan membawakan obat."

Queen menatap kakaknya dengan mata sembap. "Apa yang dia katakan benar, Axel? Aku bukan adikmu?"

Axel terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, merapikan sedikit helai rambut Queen yang berantakan dengan gerakan yang sangat kaku.

"Kau tetap seorang Arresta di mataku," jawab Axel datar. "Dan itu berarti kau adalah adikku. Pergilah."

Queen berbalik, melirik ayahnya yang tampak diam seribu bahasa. Ia ingin menuntut penjelasan. Tentang asal usulnya. Tentang siapa ibu kandungnya, namun ia tahu, ini bukanlah waktu yang tepat.

Dengan langkah yang penuh kesedihan serta kekecewaan, Queen menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Axel menatap punggung Queen yang menjauh. Meskipun tidak menjelaskannya lebih jauh, semua orang tahu, Axel adalah orang yang selalu melindungi Queen, menganggap Queen sebagai adiknya, terlepas dari fakta pahit yang baru saja diungkap oleh ibunya.

Kini, tatapannya beralih pada Louis, memberikan pandangan tajam sebelum akhirnya pergi dari sana.

•••

Di dalam kamarnya yang luas dan dingin, Queen meringkuk di sudut lantai, memeluk lututnya sendiri. Ia mengabaikan kemewahan di sekelilingnya yang kini terasa asing. Kata - kata Helena terus terngiang, berputar - putar seperti kaset rusak yang menyayat nuraninya.

"Kau bukan darah dagingku."

"Pantas saja..." Queen berbisik pada kegelapan, suaranya parau dan gemetar. "Pantas saja pelukanmu tidak pernah terasa hangat."

Ia tertawa hambar di tengah tangisnya. "Aku menghabiskan seluruh hidupku dengan mencoba menjadi putri yang sempurna agar kau mencintaiku, Mom. Tapi ternyata, keberadaanku saja sudah merupakan luka untukmu."

Tangannya meraba pipinya yang masih berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih mendalam.

Bayangan Nial tiba - tiba melintas. Pria itu mengusirnya saat ia baru saja mendapatkan kebebasan yang palsu. "Nial ... apa kau tahu, ternyata aku ... bukan siapa - siapa di rumah ini."

Pukul tujuh malam, suasana di meja makan keluarga Arresta terasa begitu mencekam. Hanya denting alat makan yang beradu dengan piring porselen. Kursi Queen kosong.

Louis menghela napas berat, selera makannya sudah hilang sejak sore tadi. Ia menoleh pada seorang pelayan di dekatnya. "Siapkan nampan. Antarkan makanan ke kamar Queen. Pastikan dia makan."

"Baik, Tuan."

Baru saja pelayan itu hendak bergerak, Axel meletakkan sendoknya dengan suara denting yang tegas. Ia bangkit dari duduknya, merapikan kemeja hitamnya yang tanpa cela.

"Biar aku yang mengantarnya," ucap Axel datar.

Helena, yang sejak tadi hanya mengaduk makanannya dengan wajah ketus, langsung mendongak. "Tidak perlu, Axel! Biarkan saja dia lapar. Lagipula, untuk apa kau masih memanjakannya? Kau sudah dengar semuanya tadi sore. Dia bukan adikmu. Dia bukan bagian dari kita."

Helena meletakkan garpunya dengan kasar. "Berhenti bersikap seolah dia masih putri di rumah ini. Dia hanya pengingat akan dosa ayahmu."

Axel menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan, menatap ibunya dengan tatapan yang begitu dingin hingga Helena sedikit tersentak.

"Maka harusnya Ibu menghabisinya sejak dia lahir," suara Axel rendah, namun menggelegar di ruang makan yang sunyi itu.

"Axel!" Tegur Louis, namun Axel tak berniat sedikitpun untuk diam. Ia maju dua langkah. Matanya lekat menatap ibunya.

"Jika Ibu begitu membencinya, harusnya Ibu tidak membiarkannya tumbuh besar di hadapanku sebagai adikku. Tapi Ibu membiarkannya hidup, dan selama dua puluh tahun, dialah adik yang aku kenal."

Helena terpaku, wajahnya pucat pasi.

"Siapa pun wanita yang melahirkannya, itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah seorang Arresta. Jadi, jangan mengaturku tentang bagaimana aku memperlakukan adikku sendiri," sambung Axel telak, sebelum ia mengambil nampan dari tangan pelayan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang menghadap ke lampu - lampu kota, suasana terasa jauh lebih kacau. Botol whisky yang sudah setengah kosong berdiri di atas meja kaca.

Nial berdiri di balkon, membiarkan angin malam menusuk kulitnya. Rahangnya terkatup rapat. Seharusnya ia merasa tenang karena beban "melindungi" Queen sudah hilang. Seharusnya ia merasa menang karena telah melepaskan wanita yang ia anggap berkhianat.

Tapi nyatanya, pikirannya justru dipenuhi oleh bayangan Queen yang menangis saat ia tinggalkan di pinggir jalan tadi.

"Sialan!" umpat Nial pelan, lalu menenggak minumannya hingga tandas. Rasa terbakar di tenggorokannya tidak mampu mengalahkan gejolak di dadanya.

Ia menatap ponselnya yang tergeletak di meja. Ia ingin tahu apakah wanita itu sudah sampai di rumahnya, apakah ayahnya menyakitinya, atau apakah Zavier—pria brengsek itu—masih bersamanya.

"Kenapa aku harus peduli?" geram Nial pada dirinya sendiri. Ia membanting gelas kosongnya ke lantai hingga hancur berkeping - keping.

"Aku yang mengusirnya! Aku yang bilang jangan pernah muncul lagi!" Ia berteriak pada kesunyian. Napasnya memburu. Nial menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar, terlihat frustrasi yang luar biasa.

"Tapi kenapa aku masih memikirkannya?" bisiknya dengan suara serak. "Kau benar - benar membuatku gila, Queen."

Rayden, yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan seperti bayangan, hanya memperhatikan punggung bosnya. Ia telah bersama Nial cukup lama untuk memahami bahwa keheningan pria itu saat ini jauh lebih berbahaya daripada amarahnya yang meledak - ledak.

"Tuan," suara Rayden memecah kesunyian, tenang namun terukur.

Nial tidak bergeming. Ia hanya merogoh saku celananya, mencari pemantik api dengan gerakan yang kaku.

"Mungkin..." Rayden menjeda kalimatnya, menimbang risiko sebelum melanjutkan. "Mungkin sebaiknya anda menghubungi Nona Queen."

Mendengar nama Queen disebut, rahang Nial mengeras seketika. Ia berbalik dengan gerakan kilat, menatap Rayden dengan sorot mata tajam.

"Hubungi dia?" desis Nial, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. "Setelah apa yang kulihat tadi? Kau ingin aku merendahkan diriku untuk wanita yang menangis dipelukan pria lain saat aku baru saja membalikkan punggung?"

Rayden tetap tenang, meski ia tahu ia sedang berdiri di tepi jurang. "Saya hanya berpikir, emosi Anda mungkin sedang—"

"Jangan pernah menyarankanku melakukan hal bodoh, Rayden!" potong Nial cepat. Ia melangkah mendekat, memancarkan aura dominan yang mencekik ruangan itu. "Aku yang mengusirnya. Aku yang melepaskannya. Dan aku tidak akan menjilat ludahku sendiri hanya karena rasa rindu sialan ini."

"Tentu, Tuan. Jangan menjilat ludah sendiri," Rayden tidak beranjak. Sebaliknya, ia melipat tangan di depan dada dengan ekspresi yang sangat datar—ekspresi yang biasanya ia gunakan saat sedang menghitung strategi atau, dalam kasus ini, memancing emosi tuannya. "Tapi Anda masih merindukan Nona, Queen. Jangan menyiksa diri sendiri."

Nial mendongak lambat. "Aku ralat ucapanku. Aku tidak merindukan wanita penghianat itu. Aku hanya kesal."

Rayden melipat bibirnya, menahan tawa. "Tapi setahu saya, orang yang sedang tidak rindu biasanya tidak mabuk - mabukan dan membanting gelas kristal seharga mobil kelas menengah.

Nial menoleh tajam. "Kau sedang meledekku, Rayden?"

"Tidak, Tuan. Saya hanya sedang mengobservasi seorang pria yang sedang jatuh cinta tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya," balas Rayden tanpa kedipan.

"Jatuh cinta?" Nial tertawa sinis. "Pada wanita keras kepala dari keluarga Arresta itu? Kau sudah gila. Dia hanya mainan yang kebetulan menarik perhatianku sebentar. Itu saja."

Rayden justru mengangguk-angguk kecil, seolah sedang mendengarkan dongeng yang tidak masuk akal. "Tentu saja. Mainan yang membuat Anda terbang langsung dari Seattle tanpa tidur, hanya untuk memberikan kejutan, lalu sekarang berakhir seperti singa yang baru saja kehilangan wilayah kekuasaannya."

Nial melangkah maju, mempersempit jarak. "Sialan. Jaga bicaramu, Rayden."

"Saya yakin Anda jatuh cinta, Tuan," timpal Rayden lagi, kali ini dengan nada yang lebih yakin. "Sangat jatuh cinta hingga melihat dia dipeluk sahabatnya saja membuat otak cerdas Anda berhenti berfungsi."

"Brengksek!" Nial mencengkeram kerah kemeja Rayden dengan satu tangan, menariknya mendekat hingga mereka berdiri berhadapan. "Kau ingin mati, hah?"

"Tentu saja tidak, Tuan. Mati sekarang akan sangat merugikan bagi perusahaan," jawab Rayden tenang, suaranya tetap stabil. "Saya hanya ingin memberikan saran terakhir sebelum Anda benar-benar pingsan karena mabuk."

"Saran?" Nial mendesis, matanya berkilat penuh emosi gelap. "Saran apa lagi? Kau mau aku membawakan bunga dan berlutut di depannya setelah dia memeluk pria lain?"

"Bukan, Tuan," sela Rayden cepat. "Saran saya, jika Anda memang ingin membuang 'mainan' ini, tolong buang ke tempat yang jauh. Karena kalau Anda terus menatap ponsel dan menenggak whisky seolah besok dunia kiamat, saya takut Anda akan berakhir meneleponnya sambil menangis dalam kondisi mabuk. Itu akan sangat memalukan bagi reputasi Percy Group."

Nial tertegun sejenak. Otaknya yang biasanya bekerja dengan logika tajam mendadak hangus mendengar kalimat "menelepon sambil menangis".

"Tutup mulutmu, Rayden!" teriak Nial, kemudian. Wajahnya memerah padam. Ia menyentakkan kerah Rayden hingga asistennya itu terdorong mundur.

Tangan Nial lantas menyambar botol whisky di atas meja—bukan botol yang sudah kosong, melainkan yang masih terisi seperempat. Tanpa pikir panjang, ia melempar botol itu ke arah Rayden dengan kecepatan penuh.

Praaang!

"Tuan? Oh shit! Rayden mengusap dadanya sambil bernapas lega. Hampir saja botol itu mengenai kepalanya.

"Keluar! Pergi kau dari sini!"

"Saya anggap itu sebagai izin untuk pulang lebih awal," seru Rayden sambil berjalan cepat menuju pintu keluar. Ia sempat menoleh sedikit, memberikan tatapan simpati yang sangat menyebalkan. "Selamat bergalau ria, Tuan. Semoga gengsi Anda cukup kuat untuk menemani malam yang panjang ini."

"Sialan kau, Rayden! Brengsek!" amuk Nial, tangannya mencari benda lain untuk dilempar, namun Rayden sudah lebih dulu melesat keluar dan menutup pintu dengan rapat.

Nial berdiri terengah-engah di tengah ruangan yang kini sunyi. Ia menatap pecahan botol di depan pintu lift, lalu beralih menatap ponselnya yang masih tergeletak di meja.

Amarahnya perlahan mereda, menyisakan kekosongan yang menyesakkan.

"Jatuh cinta katanya?" Nial bergumam sinis pada dirinya sendiri. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa mewah, menutup matanya dengan lengan. "SIALAN!"

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!