Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKAD MENJADI YANG TERBAIK
Dua hari berikutnya, tim Nara dan tim Reksa sama-sama memenangkan pertandingan mereka. Prediksi banyak orang menjadi kenyataan. Kedua tim akan bertemu di semifinal.
Sejak pagi, gedung olahraga dipenuhi pendukung kedua sekolah. Pertandingan itu menjadi salah satu yang paling ditunggu karena rivalitas antara Nara dan Reksa sudah dikenal luas meskipun kebanyakan dimenangkan oleh Nara. Namun tahun ini istimewa, ini tahun terakhir mereka di SMA sebelum fokus ke kelulusan.
Di ruang ganti, pelatih memberikan arahan terakhir. Nara duduk sambil mendengarkan, tetapi pikirannya terasa lebih tenang daripada pertandingan mereka sebelumnya. Ia tahu Reksa akan berusaha memancing emosinya. Ia juga tahu permainan akan berlangsung keras. Namun, Nara tidak lagi melihat pertandingan itu sebagai pertarungan pribadi. Kemenangan harus diraih untuk timnya. Bukan untuk membuktikan bahwa ia lebih pantas berada di dekat Naya. Karena Naya bukan piala yang dapat dimenangkan melalui pertandingan. Keputusan Naya tetap milik Naya sendiri.
Ketika pemain memasuki lapangan, suara sorakan langsung memenuhi gedung. Nara melihat Reksa berdiri di seberang garis tengah. Mereka bertukar tatapan. Tidak ada kemarahan. Hanya tantangan dan hawa rivalitas yang terpancar. Sebelum peluit dibunyikan, Nara melihat ke tribun.
Naya duduk di barisan depan.
Kali ini, ia tidak memakai syal merah gelap ataupun jaket sekolah mereka. Ia tetap menggunakan seragam SMA Perguruan TA dan membawa sebuah kertas putih besar. Ketika Nara melihatnya, Naya mengangkat kertas tersebut. Tulisan tangan berwarna hitam memenuhi permukaannya.
BERMAINLAH UNTUK TIMMU. BUKAN UNTUK MEMBUKTIKAN APA PUN.
Nara membaca kalimat itu. Kemudian ia tersenyum. Di samping Naya, Dimas mengangkat kertas kedua.
TAPI TETAP KALAHKAN KAK REKSA.
Reksa yang melihat tulisan tersebut langsung menggelengkan kepala. “Dasar kalian para pengkhianat kecil.”
Nara tertawa kecil melihat protes dan keluhan dari Reksa seakan menunjukkan bahwa ia selangkah lebih unggul dalam urusan pertandingan. Peluit pertandingan berbunyi. Bola dilempar ke udara.
Pertandingan dimulai dengan cepat. Sejak kuarter pertama, kedua tim bermain dengan intensitas tinggi. Reksa menjaga Nara dengan ketat, sementara Nara berusaha memutus alur serangan Reksa. Beberapa kali tubuh mereka bertabrakan. Namun, tidak ada yang kehilangan kendali. Pada pertengahan kuarter kedua, Reksa sengaja berbisik ketika mereka berdiri menunggu lemparan bebas.
“Naya terlihat lebih sering melihatmu daripada papan skor.”
Nara tidak menoleh. “Itu bukan urusanku sekarang.”
Reksa mengangkat alis. “Tidak cemburu karena Dimas duduk di sebelahnya?”
“Dia sepupunya.”
“Bagaimana kalau lelaki lain?”
Nara akhirnya menatapnya. Namun, bukan kemarahan yang muncul di wajahnya. “Kalau aku ingin tahu, aku akan bertanya kepada Naya. Bukan menyerangmu.”
“Jawaban yang bagus.” Senyum tipis muncul di bibir Reksa.
“Jangan kira aku lupa kau sedang mencoba mengganggu konsentrasiku.”
“Aku hanya memastikan.”
“Fokuslah pada pertandingan.”
Pertandingan berlangsung semakin ketat. Memasuki kuarter terakhir, skor hanya terpaut satu poin. Tim Reksa unggul. Sisa waktu tinggal dua puluh detik. Bola berada di tangan Nara. Ia melewati satu pemain, kemudian berhadapan langsung dengan Reksa. Seluruh tribun berdiri. Nara bisa saja memaksakan tembakan. Ia memiliki peluang mencetak poin kemenangan dan menjadi pahlawan pertandingan.
Namun, Ekky berdiri bebas di sudut lapangan. Sesaat, Nara mengingat dirinya yang dahulu. Nara yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Nara yang lebih memilih mengambil tembakan sulit daripada memberikan kesempatan kepada orang lain. Namun ia juga mengingat bahwa permainan basket adalah permainan yang membutuhkan kekompakan tim, Pertandingan ini bukan tentang dirinya sendiri ini tentang harga diri Tim Basket SMA Perguruan TA.
Nara mengoper bola kearah Ekky, dan lelaki itu menerima umpan tersebut serta melanjutkan aksinya dengan melepaskan tembakan tiga angka kearah ring.
Bola melayang. Waktu seolah melambat. Bola menyentuh ring, memantul sekali, kemudian masuk. Peluit akhir berbunyi. Skor berubah. Tim Nara menang dengan selisih dua poin. Gedung olahraga meledak oleh sorakan.
Para pemain berlari menghampiri Ekky. Nara ikut memeluk bahu temannya, tertawa sambil mengacak rambutnya. Ekky hampir menangis karena menjadi pencetak poin kemenangan setelah sekian lama tak pernah mendapatkan kesempatan berharga itu.
Di tengah keramaian, Nara mencari Reksa. Lelaki itu berdiri beberapa langkah darinya dengan tangan di pinggang. Wajahnya menunjukkan kekecewaan karena kalah, tetapi ia tetap berjalan mendekati Nara.
“Operan yang bagus,” katanya.
“Tembakan Ekky yang bagus.” Lanjut Nara.
“Kau bisa saja menembak sendiri.”
“Dia memiliki posisi yang lebih baik dan aku tidak boleh egois sebagai kapten. Bukankah menciptakan banyak bintang lebih baik dibandingkan hanya menjadi satu-satunya bintang?”
Reksa mengangguk. “Kau benar-benar berubah. Kau lulus.”
“Aku tidak membutuhkan pengakuanmu. Tapi aku berterima kasih atas kehadiran adikmu dengan segudang buku-buku penuh petuahnya. Aku perlahan menemukan irama diriku sendiri setelah sekian lama melarikan diri dibalik popularitas ini.” Nara tersenyum sambil mengulurukan tangan kanannya
“Tapi kau tetap senang mendengarnya.”
“Mungkin sedikit.” Reksa mengulurkan tangan dan Nara pun menyambutnya. Kali ini, jabat tangan mereka tidak hanya menjadi simbol persaingan, tetapi juga penghormatan.
“Aku tetap akan mengawasimu,” kata Reksa.
“Aku tidak berharap sebaliknya.”
“Jangan membuat Naya menangis.”
Nara menatap tribun, tempat Naya berdiri sambil tersenyum kepadanya. “Aku akan berusaha.”
Reksa mengikuti arah pandangnya. “Pergilah. Dia menunggumu.”
Nara melepaskan jabatannya, kemudian berjalan menuju tepi lapangan. Naya sudah turun dari tribun. Ketika mereka berhadapan, gadis itu langsung mengulurkan botol minuman.
“Kakak bermain sangat baik,” katanya.
“Kami menang.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak mendapat pelanggaran karena marah.”
“Aku melihatnya.”
“Berarti aku pantas mendapat hadiah.”
Naya tersenyum. “Kakak masih memikirkan hadiah?”
“Tentu.”
“Bukankah tadi aku sudah menjawab pertanyaan Kakak?”
“Itu hadiah untuk pertandingan sebelumnya.”
Naya tertawa tidak percaya. “Kakak serakah.”
“Aku hanya konsisten.”
“Jadi, sekarang Kakak ingin apa?”
Nara menatap sekeliling. Lapangan masih dipenuhi pemain dan pendukung. Reksa berdiri cukup jauh, tetapi jelas memperhatikan mereka. Nara kembali memandang Naya.
“Besok siang, temani aku pergi.”
Naya terlihat terkejut. “Ke mana?”
“Toko buku dan ke café tempat sepupuku.”
“Toko buku dan café? Memangnya ada hubungan linear diantara keduanya?”
“Aku butuh buku baru untuk belajar bisnis dengan sepupuku yang workaholic itu jika tak mau dilaporkan kepada orang tuaku bahwa aku mulai membolos dari pelajaran sebagai calon pewaris.” Jawab Nara seenaknya. “Kalau kamu tak percaya, kamu bisa menanyakan kepada Ekky.”
Naya menyipitkan mata. “Kakak benar-benar ingin membeli buku atau hanya mencari alasan?”
Nara tersenyum. “Keduanya.”
Naya menunduk sesaat, kemudian mengangguk. “Baik.”
“Hanya baik?”
“Aku akan menemani Kakak.”
Nara menahan senyum lebar. Naya menunjuk wajahnya. “Jangan terlalu percaya diri. Itu bukan kencan.”
“Aku tidak mengatakan itu kencan.”
“Tapi Kakak memikirkannya.”
“Mungkin.”
“Kak Nara.” Rengek Nara.
“Baik. Bukan kencan.”
Naya mengangguk puas. Namun, ketika ia berbalik hendak kembali ke tribun, Nara memanggilnya.
“Nay.”
“Ya?” Naya menoleh.
“Aku senang kamu melihatku hari ini. Terima kasih sudah menjadi pendukung dan penyemangatku selama bertanding basket.” Nara membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Naya.
Wajah Naya memerah. Ia teringat perkataannya sendiri setelah pertandingan pertama. Bahwa ia ingin Nara melihatnya. Kini, di tengah keramaian gedung olahraga, Naya menyadari bahwa perasaan itu berlaku sebaliknya.
Ia juga ingin melihat Nara. Bukan Nara yang terkenal. Bukan Nara yang dipuja para penggemarnya. Melainkan Nara yang belajar mempercayai orang lain, mengendalikan emosinya, dan memberikan bola kemenangan kepada temannya. Naya tersenyum.
“Aku juga senang Kakak melihatku.”
Kemudian ia berjalan pergi sebelum Nara sempat menggoda lebih jauh. Di sudut lapangan, Reksa menyaksikan semuanya sambil menggelengkan kepala.
Dimas berdiri di sampingnya. “Kau sepertinya sudah kalah dua kali hari ini,” kata Dimas.
Reksa menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Kalah pertandingan dan kehilangan adikmu.”
Reksa menyilangkan tangan di depan dada. “Aku tidak kehilangan Naya.”
“Tapi dia jelas lebih memikirkan Nara sekarang.”
Reksa mendesah pelan. Ia memandang Nara yang masih berdiri sambil memperhatikan Naya kembali ke tribun. Ada ketulusan dalam tatapan lelaki itu. Reksa masih belum sepenuhnya mempercayainya. Mungkin ia tidak akan pernah berhenti mengawasi Nara. Namun, setidaknya hari itu Nara telah membuktikan satu hal.
Ia mampu memilih kepercayaan daripada prasangka. Ia mampu memilih tim daripada ambisi pribadi. Dan mungkin, suatu hari nanti, ia juga mampu menjaga perasaan Naya dengan cara yang benar.
Sementara itu, Nara masih berdiri di tengah lapangan dengan senyum yang tidak dapat disembunyikannya. Timnya akan bermain di final.
Besok, ia akan pergi ke toko buku sekaligus café tempat sepupunya, Ganendra Adiwilaga bersama Naya. Ia ingin perlahan mengenal sisi dunianya yang lain kepada Naya. Naya boleh menyebutnya bukan kencan. Namun, Nara tahu dirinya sudah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada pertandingan semifinal.
Sebuah kesempatan. Bukan kesempatan dari Reksa. Melainkan kesempatan yang diberikan Naya sendiri kepadanya. Dan kali ini, Nara berjanji tidak akan merusaknya hanya karena sebuah kesalahpahaman.
***