Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Tak lama kemudian, aroma nasi goreng memenuhi seluruh ruang tamu. Laras keluar dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng hangat, semangkuk acar, dan secangkir teh susu yang masih mengepulkan uap.
Aurora masih tertidur tenang di dalam baby box, sesekali menggerakkan tangan mungilnya. Laras meletakkan nampan itu di atas meja.
"Silakan, Tuan."
Evan menoleh dan tersenyum.
"Wah ... cepat sekali."
"Saya memang sudah terbiasa memasak." Laras mendorong piring itu sedikit lebih dekat.
"Dimakan selagi masih hangat, Tuan."
Evan mengangguk. "Terima kasih."
Tanpa banyak bicara, ia langsung menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Beberapa detik kemudian matanya membulat.
"Enak."
Laras tersenyum tipis. "Baguslah kalau sesuai selera Tuan."
"Bukan cuma sesuai." Evan kembali mengambil suapan berikutnya.
"Sudah lama aku tidak makan nasi goreng seenak ini." Ucapan itu membuat Laras hanya tersenyum sopan.
Ia berdiri tidak jauh dari baby box, memastikan Aurora tetap tertidur dengan nyaman. Namun, di balik senyum tenangnya. Tatapan Laras perlahan beralih kepada Evan.
Pria itu tampak menikmati setiap suapan dengan wajah yang begitu damai.
Sulit dipercaya, wajah setenang itu pernah menghancurkan seluruh hidupnya. Sulit dipercaya, pria yang kini terlihat hangat di depan putrinya adalah orang yang tega merampas perusahaan, harga diri, bahkan bayinya. Tanpa sadar, kedua tangan Laras mengepal erat di balik tubuhnya.
Kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan sendiri.
'Tenang...' batinnya. 'Belum waktunya.'
Ia menarik napas panjang hingga amarah di dadanya perlahan mereda. Saat kembali mengangkat kepala, Laras menyadari ada beberapa butir nasi menempel di sudut bibir Evan.
"Tuan..."
Evan menghentikan aktivitas makannya. "Hm?"
"Ada..." Laras melangkah mendekat.
"Sebentar."
Sebelum Evan sempat bertanya, Laras mengambil selembar tisu dari atas meja. Dengan gerakan yang sangat alami, ia mengusap pelan sudut bibir Evan.
"Ada nasi." Bisiknya lembut.
Evan membeku, jarak mereka begitu dekat. Tatapan keduanya tanpa sengaja bertemu.Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara. Evan hanya mampu menatap wajah Laras yang diterangi cahaya lampu ruang tamu.
Sementara Laras segera menarik tangannya kembali.
"Sudah bersih, Tuan."
Evan bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.
Suara pintu utama yang dibuka dengan keras memecahkan keheningan.
"Kalian sedang apa?!" Suara wanita itu menggema ke seluruh rumah.
Laras dan Evan spontan menoleh bersamaan.
Di ambang pintu, Carolin berdiri dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi amarah. Tatapannya tepat tertuju pada Laras yang masih berdiri sangat dekat dengan Evan. Sorot matanya seketika berubah tajam.
"Apa yang sedang kalian lakukan?!" Suara Carolin menggema sekali lagi, jauh lebih keras dari sebelumnya.
Suasana rumah yang semula tenang. Dalam sekejap berubah menjadi mencekam. Suara Carolin yang melengking membuat seluruh rumah seketika sunyi. Tatapan tajamnya bergantian mengarah kepada Evan dan Laras.
"Kalian sedang apa?" bentaknya.
Laras langsung mundur selangkah.
"Nyonya, ini tidak seperti yang Nyonya pikirkan."
"Tidak seperti yang kupikirkan?" Carolin tertawa sinis. "Aku melihatnya dengan mataku sendiri!"
Ia menunjuk Laras dengan jari gemetar karena emosi.
"Kau sengaja menggoda suamiku, ya?"
Laras menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya. Saya hanya membersihkan sisa nasi yang menempel di sudut bibir Tuan, itu saja."
"Bohong!" Bentakan Carolin menggema. "Jangan kira aku bodoh! Aku tahu perempuan seperti apa kau!"
Laras menundukkan kepala.
"Saya benar-benar tidak punya niat seperti itu. Maaf kalau tindakan saya membuat Nyonya salah paham."
Carolin justru semakin naik pitam melihat sikap Laras yang tetap tenang.
"Berhenti berpura-pura polos! Kau baru sebulan bekerja di rumah ini, tapi sudah berani mencari perhatian suamiku!"
Mata Laras mulai berkaca-kaca.
"Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari Nyonya. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya."
Melihat Laras terus disalahkan, Evan akhirnya berdiri.
"Sudah, Car."
Carolin menoleh tajam. "Jangan ikut campur!"
"Aku harus ikut campur." Evan menatap istrinya dengan serius.
"Aku ada di sini dari awal. Laras tidak melakukan kesalahan. Aku yang meminta dia mendekat karena ada nasi di bibirku. Dia hanya membantu membersihkannya, itu saja."
Carolin menggeleng tidak percaya.
"Masih sempat membelanya?"
"Aku membela karena memang dia tidak salah."
"Kamu tahu apa yang ku lihat saat masuk? Kalian berdiri sangat dekat! Kalau aku tidak pulang sekarang, entah apa lagi yang terjadi!"
Evan mulai kehilangan kesabaran.
"Carolin! Cukup!" Suara Evan yang meninggi membuat Carolin terdiam sesaat.
"Laras bekerja dengan baik. Dia merawat Aurora siang dan malam. Dia bahkan hampir tidak pernah mengeluh. Jangan menuduh orang tanpa bukti."
Ucapan itu justru terasa seperti tamparan bagi Carolin.
"Kamu lebih percaya dia daripada istrimu sendiri?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
"Sejak dia datang, kamu terus membelanya!" Carolin menatap Laras penuh kebencian.
"Sekarang aku mengerti. Kenapa Aurora lebih nyaman dengannya. Kenapa kamu selalu memujinya." Tatapan Carolin berubah semakin dingin.
"Rupanya memang ada maksud lain."
Laras menggeleng sambil menahan air mata.
"Nyonya ... saya mohon jangan berkata seperti itu. Saya hanya ingin bekerja dengan baik."
Namun, semakin Laras terlihat lemah, semakin besar keinginan Evan untuk melindunginya.
"Cukup, Car." Evan berdiri di depan Laras seolah menjadi pembatas di antara kedua wanita itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu terus menyalahkannya."
Melihat suaminya berdiri membela Laras, hati Carolin terasa semakin panas. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Baik, kalau memang itu pilihanmu..." Carolin tersenyum tipis, tetapi sorot matanya dipenuhi amarah.
"Mulai hari ini ... Aku sendiri yang akan membuktikan siapa sebenarnya perempuan itu."
Setelah mengatakan itu, Carolin berbalik meninggalkan ruang tamu dengan langkah cepat, dan menaiki tangga lantai dua, dengan langkah yang tergesa-gesa.
Pintu kamarnya ditutup begitu keras hingga membuat Aurora yang sedang tertidur di dalam baby box mulai bergerak gelisah.
Sementara Laras menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Rencana yang ia susun perlahan mulai berhasil. Benih-benih keretakan di antara Evan dan Carolin kini tumbuh semakin dalam.
Suasana ruang tamu kembali hening setelah Carolin pergi. Laras masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara kepalanya tertunduk.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang.
"Maafkan saya, Tuan." Suaranya terdengar lirih.
"Saya benar-benar tidak bermaksud membuat rumah tangga Tuan dan Nyonya bertengkar."
Evan menatap Laras. "Ini bukan salahmu."
"Tapi..." Laras menggeleng pelan.
"Tetap saja, kalau saya tidak membersihkan nasi di wajah Tuan, mungkin Nyonya tidak akan salah paham."
Ia mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.
"Tuan memang orang yang sangat baik. Selama saya bekerja di sini, Tuan selalu menghargai saya sebagai karyawan. Orang seperti Tuan ... pasti disukai banyak wanita."
Evan tersenyum kecil mendengar pujian itu.
Namun, Laras segera melanjutkan ucapannya.
"Tapi saya tahu batas saya. Saya sadar Tuan sudah beristri. Saya datang ke rumah ini hanya untuk bekerja dan merawat Baby Aurora. Saya tidak pernah berniat mengambil tempat siapa pun."
Ucapan itu membuat hati Evan terasa hangat.
Di matanya, Laras bukan hanya wanita yang lembut, tetapi juga tahu menempatkan diri. Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.
"Kau terlalu memikirkan semuanya."
"Tuan..."
"Aku mengenal Carolin. Nanti emosinya juga reda."
Laras justru menggeleng.
"Menurut saya, sebaiknya Tuan yang mengalah."
Evan mengernyit. "Mengalah?"
"Iya." Laras tersenyum tipis.
"Bagaimanapun juga, Nyonya adalah istri Tuan. Mungkin tadi beliau hanya cemburu karena melihat kami berdiri terlalu dekat. Kalau saya berada di posisi Nyonya, mungkin saya juga akan salah paham."
Evan terdiam.
"Lagi pula..." lanjut Laras pelan, "rumah tangga tidak akan bertahan kalau tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu. Tuan sebaiknya menemui Nyonya. Jelaskan semuanya baik-baik. Saya tidak ingin menjadi penyebab hubungan Tuan dan Nyonya semakin buruk."
Mata Evan menatap Laras beberapa saat. Semakin lama mengenalnya, semakin ia merasa wanita itu berbeda. Tidak pernah memanfaatkan keadaan. Tidak pernah mencari perhatian. Bahkan, ketika dirinya dibela, Laras justru memintanya untuk mengejar istrinya.
"Kau benar-benar wanita yang baik, Laras."
Laras hanya tersenyum kecil. "Saya hanya tidak ingin ada kesalahpahaman."
Evan mengangguk pelan.
"Baik, aku akan bicara dengan Carolin. Terima kasih sudah mengingatkanku."
"Sama-sama, Tuan."
Evan pun melangkah menuju lantai atas. Sementara itu, Laras tetap berdiri di ruang tamu hingga langkah kaki Evan menghilang di balik tangga.
Perlahan, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Ia menatap ke arah lantai atas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Semakin kau menganggapku wanita yang baik..." batinnya.
"Semakin mudah bagiku membuatmu kehilangan segala yang paling berharga."
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,