"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Ujian Tengah Semester akhirnya berakhir.
Setelah seminggu penuh disiksa dengan rumus-rumus jahanam dan rentetan soal latihan yang rasanya bisa membuat otak berasap, Almeera berhasil mematahkan keraguan semua orang. Nilai Fisika dan Matematikanya keluar pagi ini, dan angka yang tertera di kertas ujiannya sukses membuat seluruh kelas XI IPS 2 gempar.
82.
Akram Pradana telah membuktikan janjinya. Sang Ketua OSIS tidak perlu turun jabatan, dan Almeera tidak perlu menanggung malu.
Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan akademik tersebut. Karena begitu bel pulang sekolah berbunyi di hari Jumat itu, hitung mundur menuju kiamat jilid dua resmi dimulai.
Pukul 16.00 WIB, Apartemen 2507.
Dua koper berukuran sedang sudah tergeletak di ruang tamu. Almeera mondar-mandir memasukkan baju-bajunya ke dalam koper dengan wajah panik, sementara Akram duduk santai di sofa sambil menyesap kopi hitamnya, menatap istrinya yang sedang senewen layaknya sedang menonton komedi putar.
"Kram, lo bawa kaos polos aja banyakan! Oma itu nggak suka lihat cowok pakai baju yang gambar tengkorak atau band-band metal! Nanti disangka lo aliran sesat!" omel Almeera, menarik beberapa kaos hitam dari koper Akram.
"Gue nggak punya kaos gambar tengkorak, Al," Akram meletakkan cangkirnya, mendengus geli. "Itu kemeja kotak-kotak gue kenapa lo keluarin lagi?"
"Oma benci motif kotak-kotak! Katanya kayak taplak meja warteg!"
Akram memijat pangkal hidungnya. "Al, tenang. Lo panik banget dari tadi."
"Gimana nggak panik, Akram?!" Almeera berkacak pinggang, napasnya memburu. "Oma itu... ugh, lo belum pernah ketemu beliau! Radarnya tajam banget. Kalau kita kelihatan kaku dikit aja, beliau pasti langsung curiga kita nikah paksa!"
Akram berdiri, melangkah mendekati Almeera yang masih sibuk mengacak-acak isi kopernya. Tanpa peringatan, tangan Akram menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu, menghentikan pergerakannya.
"Al, tatap gue," perintah Akram lembut.
Almeera mendongak. Jantungnya otomatis berdebar lebih cepat saat melihat tatapan tenang dan meyakinkan dari mata hitam legam suaminya.
"Gue Ketos. Gue jago akting, jago ngomong di depan umum, dan jago meyakinkan orang," bisik Akram, ibu jarinya mengusap pergelangan tangan Almeera. "Lo cukup ngikutin alur gue. Kalau gue peluk, balas peluk. Kalau gue pegang tangan lo, jangan ditepis. Dan kalau Oma nanya sejak kapan kita pacaran..."
Akram mencondongkan wajahnya, menyunggingkan senyum miring yang luar biasa mematikan. "...biar gue yang ngarang cerita romantisnya sampai Oma nangis terharu."
Wajah Almeera seketika memerah. Ia menarik tangannya dengan salah tingkah. "Y-ya udah! Awas aja kalau akting lo jelek terus kita ketahuan!"
Pukul 18.00 WIB, Kediaman Keluarga Kusuma.
Mobil SUV hitam milik Akram memasuki pelataran rumah keluarga Almeera. Rumah berlantai dua dengan halaman asri itu tampak benderang. Begitu mereka turun dari mobil, Mama Ratna sudah menyambut di teras dengan wajah yang tak kalah tegang.
"Akram, Almeera! Untung kalian udah sampai!" Mama Ratna langsung menarik tangan mereka berdua. "Oma udah ada di dalam. Baru aja selesai mandi dan sekarang lagi duduk di ruang keluarga. Ingat pesan Papa ya, kalian ini pasangan bucin!"
Almeera menelan ludah. Ia melirik Akram di sebelahnya. Cowok itu tampak sangat tenang, bahkan sempat-sempatnya merapikan kerah bajunya.
Akram menoleh ke arah Almeera, lalu secara natural menautkan jemarinya di sela-sela jari Almeera, menggenggamnya erat.
"Siap, Nyonya Pradana?" bisik Akram.
"Gue rasanya mau pingsan aja, Kram," desis Almeera.
"Jangan pingsan sekarang, nanti rating drama kita turun." Akram menarik Almeera melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu mereka melangkah ke ruang keluarga, suasana mendadak terasa sakral. Di atas sofa single berbahan kulit, duduklah seorang wanita paruh baya berusia akhir enam puluhan. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan kebaya santai khas wanita keraton, dengan kacamata baca bertengger di hidungnya. Posturnya tegak lurus, memancarkan wibawa yang membuat siapa pun akan otomatis menunduk hormat.
Itu Oma Ningrum.
Mendengar suara langkah kaki, Oma Ningrum menoleh. Matanya yang tajam dan jeli menyapu sosok Almeera dan Akram dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya berhenti pada tangan mereka yang bertaut erat.
"Oma!" Almeera melepaskan tangan Akram dan berlari menghampiri neneknya, menyalimi tangan beliau dengan hormat, lalu memeluknya. "Almeera kangen banget sama Oma."
"Cucu Oma yang paling bandel akhirnya pulang juga," suara Oma Ningrum terdengar tegas namun ada kehangatan di sana. Beliau menepuk-nepuk punggung Almeera, lalu melerai pelukan itu.
Mata Oma Ningrum kini beralih sepenuhnya pada sosok jangkung yang berdiri dengan postur tegap sempurna di belakang Almeera.
"Jadi," Oma Ningrum memicingkan matanya. "Ini cowok yang katanya bikin kamu tergila-gila sampai maksa Papa kamu buat nikahin kalian secepatnya?"
Uhuk!
Almeera nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar narasi berlebihan yang dikarang oleh papanya. Tergila-gila?! Maksa nikah secepatnya?! Astaga, Papa ngarang bebas banget! jerit batin Almeera panik.
Akram, dengan ketenangan layaknya seorang diplomat ulung, melangkah maju. Ia tersenyum sangat sopan, membungkuk sedikit, dan menyalimi punggung tangan Oma Ningrum dengan takzim.
"Selamat malam, Oma. Saya Akram Pradana. Suami Almeera," sapa Akram dengan suara baritonnya yang berat, renyah, dan sangat maskulin.
Oma Ningrum tidak langsung merespons. Beliau memindai wajah Akram, menilai ketampanan, kerapian, dan wibawa cowok itu. Oma Ningrum terkenal sangat pemilih soal laki-laki. Namun, melihat postur Akram yang sopan dan percaya diri, raut wajah tegas sang nenek perlahan mengendur.
"Ganteng. Kelihatan cerdas," puji Oma Ningrum pelan, membuat Almeera membelalak tak percaya. Oma memuji orang di pertemuan pertama?!
"Terima kasih, Oma," Akram tersenyum hangat. Ia melangkah ke samping Almeera, lalu dengan sangat natural, lengan kokohnya melingkar di pinggang istrinya itu, menarik Almeera hingga tubuh mereka menempel mesra. "Tapi sejujurnya, Almeera yang lebih sering bikin saya tergila-gila, Oma. Makanya saya yang desak Papa Hendra supaya saya bisa cepat-cepat menghalalkan Almeera. Saya takut dia direbut orang."
BAM!
Wajah Almeera meledak semerah cabai. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Oma bisa mendengarnya. Akting Ketos ini bener-bener nggak ada obatnya!
Mendengar penuturan Akram, senyum lebar akhirnya terukir di wajah Oma Ningrum. Beliau mengangguk-anggukkan kepalanya puas.
"Bagus. Laki-laki memang harus agresif kalau sudah menemukan tulang rusuknya," Oma Ningrum tertawa pelan. "Kata Hendra, kalian pacaran dari kelas sepuluh ya? Diam-diam karena takut ketahuan sekolah?"
Akram mengangguk tanpa keraguan sedikit pun, ibu jarinya diam-diam mengusap pinggang Almeera untuk memberikan sinyal agar gadis itu tidak kaku. "Betul, Oma. Almeera ini dulu galak banget pas awal masuk ekskul. Saya yang kebetulan panitia MOS, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama lihat dia marah-marah."
Almeera menunduk, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan tawa campur panik. Sejarah asli mereka di kelas sepuluh adalah Akram membentaknya karena ia memukul drum terlalu keras saat jam istirahat. Jatuh cinta pada pandangan pertama dari Hongkong!
"Ya sudah, Oma senang lihat kalian rukun. Kalian pasti capek," Oma Ningrum berdiri dibantu oleh Mama Ratna. "Sana masuk kamar. Bersih-bersih. Kita makan malam sama-sama nanti."
Begitu pintu kamar Almeera tertutup dan terkunci, Almeera langsung menjauh dari Akram, membuang napas yang seolah sudah tertahan di tenggorokannya selama setengah jam.
"Gila lo, Kram! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Takut direbut orang?!" omel Almeera, menutupi wajahnya yang masih memanas. "Lo kalau ngarang cerita yang masuk akal dikit kek! Gue rasanya mau menghilang aja pas lo ngomong gitu di depan Oma!"
Akram bersandar di pintu kamar yang baru saja ia kunci. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, terkekeh pelan melihat istrinya yang salah tingkah akut.
"Ngarang cerita apa? Gue ngomong jujur kok," balas Akram santai.
Almeera menghentikan langkahnya yang hendak menuju lemari. Ia menoleh perlahan, menatap Akram dengan kening berkerut. "Jujur apaan? Waktu MOS lo kan ngamuk-ngamuk ke gue!"
Akram memiringkan kepalanya, senyum miring andalannya terbit. "Gue ngamuk karena itu satu-satunya cara biar lo merhatiin gue, Al. Kalau gue bersikap manis kayak cowok lain, lo pasti cuma nganggap gue angin lalu."
Udara di kamar itu mendadak berhenti mengalir. Almeera menelan ludah. Tatapan Akram terlalu intens, terlalu dalam, mengikis habis logika yang selama ini ia bangun.
Apakah Akram beneran... suka sama gue dari dulu? Pertanyaan itu berputar di kepala Almeera, membuat perutnya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan liar.
Sebelum Almeera sempat membalas, matanya menangkap sesuatu yang janggal di kamarnya.
Kamar Almeera tidak sekecil itu, namun kasurnya adalah kasur Queen Size, jauh lebih sempit dibandingkan ranjang King Size di apartemen Akram. Dan yang lebih fatal...
"Guling gue ke mana?!" pekik Almeera histeris, menatap ranjangnya yang hanya menyisakan dua bantal kepala.
Akram menaikkan sebelah alisnya, lalu menunjuk sebuah tumpukan bantal di sudut ruangan. "Tadi pas Mama Ratna masuk bantuin bawain koper, gue denger dia nyuruh Mbak Nur buang gulingnya ke gudang sementara."
"DIBUANG?!"
"Biar kita tidurnya pelukan, katanya," lanjut Akram santai, melangkah mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu. Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya. "Mama mertua gue emang pengertian banget. Sayang anak."
"Akram! Ini kasurnya sempit! Kalau nggak ada guling, kita bisa tabrakan terus semalaman!" protes Almeera panik.
"Bagus dong. Biar acting bucin kita nggak luntur sampai alam bawah sadar," goda Akram, menopang kepalanya dengan sebelah tangan, menatap Almeera dari atas kasur layaknya model iklan. "Atau lo takut iman lo goyah kalau tidur sedeket itu sama cowok terganteng di sekolah?"
"Pede gila! Najis!" Almeera melempar bantal ke arah Akram, yang dengan mudah ditangkap oleh cowok itu.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pelan di pintu membuat perdebatan mereka terhenti.
"Al, Akram... ini Oma bawain teh chamomile biar kalian rileks." Suara Oma Ningrum terdengar dari luar.
Sistem saraf Almeera langsung konslet. Ia dan Akram saling berpandangan.
"Cepet naik!" desis Akram dengan suara berbisik, bangkit dari posisinya dan menarik selimut.
Almeera melompat ke atas kasur dengan kecepatan kilat, menyusup ke balik selimut yang sama dengan Akram. Ranjang Queen Size itu membuat bahu mereka saling bersentuhan rapat.
"I-iya, Oma! Masuk aja, nggak dikunci!" seru Almeera dengan suara agak bergetar.
Pintu terbuka. Oma Ningrum masuk membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Begitu melihat posisi mereka di atas kasur, senyum sang Oma mengembang lebar.
Di atas kasur itu, Akram tidak hanya duduk berdampingan dengan Almeera. Lengan kanan cowok itu melingkar erat di bahu Almeera, menarik tubuh gadis itu hingga kepala Almeera bersandar di dada bidangnya. Tangan kiri Akram menggenggam jemari Almeera di atas pangkuan mereka. Sebuah pose suami-istri yang sedang bersantai dengan sangat intim.
"Duh, pengantin baru. Belum apa-apa udah kelon aja," goda Oma Ningrum, meletakkan nampan teh di atas nakas.
Almeera membeku. Wajahnya disembunyikan di dada Akram agar Oma tidak melihat betapa merah pipinya saat ini.
"Almeera capek banget habis ujian, Oma. Jadi saya kelonin biar dia rileks," jawab Akram luar biasa mulus, suaranya diatur sedemikian rupa hingga terdengar sangat lembut. Bahkan, untuk menyempurnakan aktingnya, Akram menunduk dan mengecup puncak kepala Almeera tepat di depan mata Oma Ningrum.
Almeera memejamkan mata, meremas kaos Akram kuat-kuat. Gila, gila, gila! Akram beneran mau bunuh gue pakai cara ini!
"Ya sudah, diminum tehnya. Oma keluar dulu, nggak mau ganggu kalian pacaran," Oma Ningrum terkekeh puas, berbalik dan menutup pintu kamar.
Begitu pintu berbunyi klik, Almeera langsung mendorong dada Akram menjauh, meronta keluar dari pelukan itu dengan napas tersengal-sengal.
"Kram! Akting lo kelewatan!" jerit Almeera berbisik.
Akram tertawa pelan, tawanya menggetarkan kasur di bawah mereka. Ia meraih cangkir teh dari nakas, menyesapnya dengan santai.
"Akting apanya?" Akram menoleh, menatap Almeera yang sedang menetralkan detak jantungnya. Senyum miring yang memabukkan itu kembali muncul. "Siapa bilang gue lagi akting, Al?"
Malam itu, Almeera resmi menyadari bahwa Operasi Bucin Paripurna ini bukan sekadar ancaman bagi kebohongannya di depan Oma, tapi ancaman paling mematikan bagi kewarasan jantungnya sendiri.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔