Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Adista menghentikan mobil sedannya di halaman rumah dengan terburu-buru. Jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul dua siang. Perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya sejak di kantor tadi membuat Adista tidak bisa bertahan lebih lama lagi di tempat kerja. Ia mengabaikan semua urusan perusahaan demi satu tujuan: membawa Bram keluar dari rumah ini hari ini juga.
"Bram! Bram!" panggil Adista setengah berteriak begitu ia melangkah masuk melewati pintu depan.
Suasana di dalam rumah terasa sangat sunyi, bahkan jauh lebih sunyi dari biasanya. Hawa dingin yang aneh langsung menyambut kulit Adista saat ia berdiri di ruang tengah. Bau anyir yang samar-samar kembali tercium oleh hidungnya, membuat bulu kuduknya merinding seketika.
Adista berjalan cepat melewati ruang tengah. Matanya sempat melirik ke arah lukisan perempuan menangis darah itu. Kali ini, Adista merasa ada yang sangat berbeda. Warna merah pada air mata di lukisan itu tampak sangat tebal dan berkilau, seolah-olah catnya baru saja digoreskan beberapa menit yang lalu. Di bawah bingkai emas lukisan itu, ada setitik cairan merah kental yang menetes ke lantai kayu.
Jantung Adista berdegup kencang. Firasat buruknya semakin kuat. Tanpa memedulikan lukisan itu lagi, ia berlari menuju ke koridor kamar tamu.
"Bram! Bangun, Bram! Kita pergi dari sini sekarang!" teriak Adista sambil menggedor pintu kamar tamu dengan keras. BRAK! BRAK! BRAK!
Tidak ada jawaban dari dalam. Keheningan yang mencekam justru terasa semakin menekan dada Adista.
Adista mencoba memutar kenop pintu. Beruntung, pintu itu tidak terkunci. Dengan sekali dorongan kuat, pintu kamar tamu itu terbuka lebar.
BLAM!
Bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menyembur keluar dari dalam kamar, menghantam wajah Adista. Bau amis darah segar bercampur bau bangkai itu begitu kuat hingga membuat Adista refleks menutup hidung dan mulutnya dengan tangan, sambil terbatuk-batuk menahan mual.
Namun, rasa mual itu langsung hilang lenyap, berganti dengan rasa syok dan ngeri yang mematikan saat matanya melihat ke arah ranjang tempat tidur.
"N-nggak... Nggaaakk! BRAM!!!" jerit Adista histeris. Tas jinjing dan map dokumen yang dipegangnya langsung jatuh berantakan di atas lantai. Kedua lutut Adista terasa lemas seolah tulang-tulangnya lolos begitu saja. Ia terduduk di lantai kamar dengan tubuh yang gemetar hebat.
Di atas kasur yang kini sudah berubah warna menjadi merah pekat karena banjir darah, jasad Bram tergelonggok kaku dengan kondisi yang sangat mengerikan. Mata sepupunya itu melotot lurus ke atas dengan tatapan penuh ketakutan yang luar biasa, seolah-olah melihat maut yang sedang mencabut nyawanya.
Kondisi tubuh Bram benar-benar hancur. Di bagian dada kirinya, terdapat sebuah lubang besar yang menganga lebar. Kulit dan tulang dadanya robek secara kasar, memperlihatkan rongga dada yang kosong tanpa jantung. Jantung Bram telah hilang, meninggalkan genangan darah kental yang terus mengalir membasahi seprai.
Lebih mengerikan lagi, bagian bawah celana Bram tampak robek besar dan berlumuran darah pekat. Organ kemaluannya telah hilang lenyap, diputus secara paksa dan kejam.
Pemandangan sadis itu persis seperti apa yang menimpa kakak kandungnya, Ronald. Kematian Bram tidak kalah mengerikan, seolah-olah pembunuh yang sama telah kembali datang ke rumah ini untuk berpesta darah.
Air mata penyesalan mengalir deras di pipi Adista. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya dengan begitu telak.
"Maafkan aku, Bram... Maafkan aku... Aku bodoh... Aku nggak percaya sama kamu..." ratap Adista di tengah tangisnya yang pecah.
Adista teringat kembali kata-kata Bram seminggu lalu yang memohon agar dirinya percaya bahwa soto itu berisi daging manusia. Ia juga teringat bagaimana tadi pagi ia mengabaikan bau darah di dalam gelas Bram dan justru menganggap sepupunya itu hanya mabuk-mabukan karena stres. Andai saja tadi pagi ia langsung membawa Bram pergi dari rumah ini, andai saja ia mendengarkan ketakutan sepupunya, Bram pasti masih hidup sekarang.
Di tengah rasa duka dan histeria yang melanda Adista, hawa dingin di dalam kamar tamu itu mendadak turun secara drastis. Lampu kamar yang mati tiba-tiba berkedip-kedip sendiri dengan suara berdengung yang mengganggu telinga.
...Adista...
Sebuah suara bisikan perempuan yang sangat halus terdengar tepat di belakang telinga Adista. Suara itu bernada pilu, namun ada nada kepuasan yang sangat dingin di dalamnya. Aroma wangi bunga mawar yang manis tiba-tiba muncul, bercampur dengan bau busuk darah dari jasad Bram.
Adista seketika menghentikan tangisnya. Tubuhnya menegang kaku. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini mencengkeram seluruh badannya hingga ia tidak bisa bergerak dari lantai.
...Darah yang kotor... sudah dibersihkan lagi... bisik suara itu kembali bergaung, kali ini langsung di dalam kepala Adista.
Adista memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang secara perlahan. Di bawah remang-remang cahaya kamar, ia melihat sesosok bayangan wanita berambut panjang hitam yang acak-acakan sedang berdiri di sudut kamar, tidak jauh dari pintu. Wajah wanita itu pucat pasi seperti mayat, dan dari kedua matanya yang melotot, mengalir darah segar yang menetes ke lantai. Wanita itu menatap Adista sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.
Adista tahu, makhluk itulah yang telah membunuh Ronald. Makhluk itulah yang baru saja membantai Bram dengan keji. Dan sekarang, setelah berhasil menghabisi dua orang pria di rumah itu, sepasang mata berdarah milik hantu wanita tersebut kini terkunci rapat pada tubuh Adista.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya