NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Orang yang Akan Pergi

"AKU BARU SAJA MENDAPATKAN DUA BAKPAO!"

Suara Chu Xuan menggema di seluruh jalan desa.

Tanpa menunggu siapa pun bereaksi, dia langsung berlari ke arah anak kecil yang terjatuh itu.

Sementara itu, kuda perang yang ditunggangi Tuan Muda Wang masih melaju tanpa melambat sedikit pun.

"Dasar rakyat jelata! Menyingkir dari jalanku!"

Penduduk desa menutup mata mereka.

Sudah terlambat.

Jarak antara kuku kuda dan anak itu tinggal selangkah.

Namun, tepat sebelum semua orang mengira tragedi akan terjadi, Chu Xuan menarik kerah pakaian anak kecil itu dan melemparkannya ke pinggir jalan.

BRUK!

"Aduh!"

Anak itu menangis lebih keras.

Chu Xuan menghela napas lega.

"Bagus, dia masih bisa menangis."

"Xiao Xuan!"

Pertapa Qingfeng segera menghampiri.

Di sisi lain, kuda Tuan Muda Wang akhirnya berhenti. Pemuda itu menatap Chu Xuan dengan wajah tidak senang.

"Kau berani menghalangi jalanku?"

Chu Xuan berkedip.

"Tidak."

"Lalu apa yang baru saja kau lakukan?"

"Aku sedang menyelamatkan sumber pendapatan Kuil Qingfeng."

"..."

Seluruh desa mendadak hening.

Bahkan Pertapa Qingfeng menoleh perlahan ke arah cucunya.

"Sumber pendapatan?"

Chu Xuan menunjuk ke arah anak kecil yang masih menangis.

"Kalau dia mati, semua orang akan sedih."

"Lalu?"

"Kalau semua orang sedih, tidak ada yang membeli kayu."

"..."

"Itu akan berdampak pada konsumsi telurku."

Penduduk desa saling berpandangan.

Entah kenapa...

...mereka merasa tersentuh sekaligus ingin memukul anak itu.

Tuan Muda Wang mendengus dingin.

"Anak gunung yang menarik."

Dia mengamati pakaian lusuh Chu Xuan sebelum melemparkan sekeping perak ke tanah.

"Ambil."

Chu Xuan menatap koin perak itu.

"Sekarang, minggir."

Chu Xuan masih menatap koin tersebut.

Untuk seseorang yang belum pernah memegang uang sebanyak itu, benda itu terlihat sangat berkilau.

Pertapa Qingfeng diam-diam menghela napas.

Selesai.

Harga diri cucunya mungkin tidak lebih mahal dari sekeping perak.

Benar saja.

Chu Xuan mengambil koin itu.

Kemudian memasukkannya ke dalam saku.

"Terima kasih."

"..."

Tuan Muda Wang tertawa kecil.

"Aku menyukai anak yang tahu posisinya."

Chu Xuan mengangguk setuju.

"Aku juga."

"Bagus."

"Posisiku saat ini adalah seseorang yang baru saja dibayar karena menyelamatkan hidup orang lain."

Senyum Tuan Muda Wang membeku.

"Sementara posisimu..."

Chu Xuan menatap pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki.

"...adalah seseorang yang hampir membunuh anak kecil dan harus membayar untuk itu."

Keheningan menyelimuti desa.

Penduduk desa langsung pucat.

Pertapa Qingfeng menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Sudah terlambat.

Cucunya baru saja menghina Tuan Muda keluarga Wang di depan semua orang.

Namun, anehnya, Tuan Muda Wang tidak marah.

Sebaliknya, dia tertawa.

"Menarik."

Dia membalikkan tubuh kudanya.

"Anak gunung, siapa namamu?"

"Chu Xuan."

"Aku akan mengingatnya."

Setelah mengatakan itu, dia pergi bersama rombongannya.

Baru setelah sosok mereka menghilang di kejauhan, penduduk desa akhirnya menghela napas lega.

Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju Kuil Qingfeng, Pertapa Qingfeng berjalan dalam diam.

Sementara Chu Xuan sibuk menghitung berapa banyak telur yang bisa dibeli dengan sekeping perak.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Bagaimana jika suatu hari nanti kakek tidak bisa melindungimu?"

Chu Xuan memiringkan kepalanya.

"Kakek pernah melindungiku?"

"..."

Pertapa Qingfeng hampir tersedak.

"Apa maksudmu dengan itu?"

"Aku hanya belum pernah melihat Kakek bertarung."

Untuk sesaat, Pertapa Qingfeng tidak tahu harus tertawa atau merasa sedih.

Angin sore bertiup pelan melewati jalan setapak pegunungan.

Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, Pertapa Qingfeng berkata:

"Aku harap... kau tidak perlu melihatnya."

Chu Xuan tidak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

...dia melihat punggung kakeknya tampak jauh lebih kecil daripada biasanya.

Waktu terus berlalu...

Musim dingin datang lebih cepat tahun itu.

Salju tipis mulai menyelimuti Pegunungan Tianyun, mengubah jalan setapak menuju Kuil Qingfeng menjadi hamparan putih yang sunyi.

Chu Xuan yang kini berusia lima belas tahun sedang berdiri di atas bangku kayu sambil berusaha menambal atap kuil.

Tiga kali.

Atap itu sudah bocor tiga kali bulan ini.

"Suatu hari nanti..."

Dia mengencangkan jerami di tangannya.

"...aku akan membeli atap baru."

Pertapa Qingfeng yang sedang menyapu halaman tersenyum kecil.

"Kau mengatakan hal yang sama setiap tahun."

"Karena setiap tahun atapnya tetap bocor."

"Itu juga benar."

Lima tahun telah berlalu sejak kejadian di desa.

Selama lima tahun itu, tidak banyak yang berubah.

Chu Xuan masih malas.

Pertapa Qingfeng masih miskin.

Dan Kuil Qingfeng masih menolak untuk roboh, seolah memiliki harga diri yang aneh.

Namun, ada satu hal yang mulai berubah.

Pertapa Qingfeng mulai lebih sering batuk.

Awalnya, Chu Xuan tidak terlalu memikirkannya.

Bagaimanapun, kakeknya sudah tua.

Orang tua memang suka batuk.

Setidaknya, itulah yang dia pikirkan.

Sampai suatu malam...

"Batuk! Batuk!"

Chu Xuan terbangun dari tidurnya.

Dia mengucek matanya sebelum berjalan menuju halaman belakang.

Di bawah cahaya bulan, dia melihat Pertapa Qingfeng sedang duduk sendirian sambil menutupi mulutnya dengan kain.

"Kakek?"

Pertapa Qingfeng sedikit terkejut.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Aku mendengar suara orang yang mencoba membangunkanku."

"Itu hanya batuk."

"Batukmu terlalu berisik."

Chu Xuan duduk di sampingnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Angin malam bertiup pelan.

Di kejauhan, suara serangga malam terdengar samar.

"Kakek."

"Hm?"

"Orang tua bisa hidup sampai berapa lama?"

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Itu tergantung."

"Kalau Kakek?"

"Entahlah."

Chu Xuan mengernyit.

"Itu bukan jawaban."

"Lalu jawaban seperti apa yang ingin kau dengar?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Cukup lama untuk melihatku menjadi kaya."

Pertapa Qingfeng tertawa pelan.

"Itu mungkin akan memakan waktu yang sangat lama."

"Itu artinya Kakek harus hidup lebih lama."

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan menyadari sesuatu.

Rambut kakeknya tampak lebih putih daripada tahun lalu.

Punggungnya sedikit lebih bungkuk.

Dan tangan yang dulu mampu mengangkat dua ember air sekaligus kini terkadang bergetar saat memegang mangkuk.

Sejak kapan?

Chu Xuan tidak tahu.

Dia hanya tahu bahwa orang yang selalu ada di sampingnya perlahan mulai menua.

"Kakek."

"Hm?"

"Jangan mati."

Pertapa Qingfeng terdiam.

Nada bicara Chu Xuan tetap datar seperti biasanya.

Namun, justru karena itulah kalimat itu terdengar jauh lebih tulus.

"Aku akan berusaha."

"Itu tidak cukup."

"Lalu?"

Chu Xuan menundukkan kepalanya.

"Kalau Kakek mati..."

Dia berhenti sejenak.

"...siapa yang akan membuat bubur?"

Untuk beberapa detik, Pertapa Qingfeng hanya menatap cucunya dalam diam.

Kemudian, dia tertawa.

Tertawa begitu keras hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang menyentuh."

"Itu sangat menyentuh."

"Bagian mana?"

"Aku tidak ingin makan rumput liar."

Pertapa Qingfeng menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Anak bodoh."

Malam itu, mereka duduk bersama di bawah cahaya bulan untuk waktu yang sangat lama.

Tidak ada yang menyadari bahwa bagi salah satu dari mereka...

...waktu yang tersisa sudah tidak banyak lagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun kehidupannya, Chu Xuan mulai takut.

Takut bahwa suatu hari nanti, dia akan bangun dan mendapati Kuil Qingfeng kembali sunyi seperti sebelum dirinya datang.

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!