Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
BRAK!
Sebuah amplop cokelat berlogo klinik forensik swasta terkemuka di Jakarta mendarat dengan kasar di atas meja kerja kaca milik Devran. Hantaman itu cukup keras hingga membuat cangkir expreso di sudut meja bergetar pelan.
"Buka mata dan telingamu lebar-lebar, Devran Adhitama! Aku sudah membuktikan bahwa selama ini kamu hanya dibodohi oleh wanita jalang itu!"
Siska Lorenza berdiri di seberang meja kerja Devran dengan napas memburu. Dadanya naik turun, sementara wajahnya memerah antara amarah yang meluap-luap dan rasa kemenangan yang terasa sangat memabukkan.
Ia tidak peduli bahwa ia baru saja menyusup masuk ke dalam ruang kerja Petinggi Adhitama Group dengan cara menyuap salah satu petugas kebersihan di basemen VIP.
Devran, yang sedang sibuk meninjau draf akuisisi perusahaan properti, tidak sedikit pun terkejut. Pria itu bahkan tidak repot-repot mendongak.
Ia hanya meletakkan pena emasnya dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, lalu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulitnya.
"Aku ingat dengan sangat jelas, Siska," suara Devran terdengar sangat rendah, dingin, dan mematikan,
"bahwa aku telah menginstruksikan pihak keamanan gedung ini untuk mematahkan kakimu jika kamu berani menginjakkan kaki sejengkal pun ke dalam Adhitama Tower."
"Lakukan saja jika kamu mau! Patahkan kakiku setelah kamu membaca kenyataan pahit di dalam amplop itu!" tantang Siska, tawanya terdengar sumbang dan sedikit histeris.
Ia menunjuk amplop cokelat itu dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Baca, Devran! Baca bagaimana wanita kesayanganmu itu memanipulasi pikiranmu dengan membawa anak haram entah dari pria mana!"
Mata elang Devran perlahan beralih menatap amplop di atas mejanya. Rahangnya mengeras.
"Apa yang kamu bawa ini, Siska?"
"Bukti kehancuran Alana Kirana!" seru Siska dengan mata yang berbinar.
Karena Devran tidak kunjung menyentuh amplop itu, Siska dengan kasar merobek ujungnya sendiri, menarik keluar selembar dokumen resmi berstempel timbul dari laboratorium forensik.
"Kamu terlalu buta oleh pesona desainer miskin itu sampai kamu tidak menggunakan otak bisnismu! Jadi, aku yang mengambil inisiatif untuk melakukan tes DNA tandingan!"
Siska membanting dokumen itu hingga terbuka tepat di halaman kesimpulan. Jari telunjuknya yang dihiasi kuku akrilik merah menyala mengetuk-ngetuk baris kalimat yang dicetak tebal.
"Lihat ini, Tuan Adhitama yang jenius! Probabilitas Paternitas: 0,00%! Kesimpulan laboratorium menyatakan dengan mutlak bahwa sampel DNA dari anak bernama Leo itu tidak memiliki kecocokan genetik apa pun dengan profil DNA-mu yang sudah tersebar di data medis publik!" Siska tertawa lepas, tawanya menggema memenuhi ruang kerja yang kedap suara itu.
"Nol persen, Devran! Anak itu bukan darah dagingmu! Kamu memelihara anak haram orang lain di dalam mansionmu yang agung!"
Devran terdiam. Tubuhnya mendadak menegang, namun bukan karena fakta yang baru saja diteriakkan Siska. Kilat amarah yang sangat gelap dan pekat perlahan menyala di dasar mata elangnya.
"Dari mana kamu mendapatkan sampel profil DNA anakku?" tanya Devran, suaranya kini berubah menjadi bisikan mematikan bak predator yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
Siska yang sedang dimabuk kemenangan tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Ia justru mengangkat dagunya dengan sombong.
"Kamu pikir benteng mansionmu tidak bisa ditembus? Aku menyewa orang terbaik! Dia menyamar menjadi petugas taman kemarin sore dan berhasil mencabut langsung seikat rambut dari kepala bocah tengik itu saat dia sedang bermain di taman mansionmu!"
"Semuanya dilakukan dengan sangat profesional dan dibawa ke laboratorium dalam keadaan steril!"
Krak.
Devran tanpa sadar meremas ujung meja kacanya dengan kekuatan penuh hingga terdengar bunyi retakan halus. Orang suruhan Siska berhasil masuk ke taman mansionnya? Mendekati Leo secara fisik?
Kemarahan Devran sebagai seorang ayah seketika memuncak hingga ke ubun-ubun. Namun, logikanya sebagai penguasa bisnis tetap bekerja dengan sangat jernih.
Devran akhirnya meraih dokumen laboratorium tersebut. Matanya yang setajam silet mulai memindai lembar demi lembar laporan medis itu.
"Bagaimana rasanya, Devran?" ejek Siska, melipat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum sinis.
"Bagaimana rasanya ditipu mentah-mentah oleh wanita yang...."
"Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya, Siska," potong Devran tanpa menaikkan nada suaranya, namun efeknya langsung membuat Siska terbungkam seketika.
Devran mengabaikan halaman depan yang berisi kesimpulan 0%. Matanya langsung tertuju pada halaman kedua, bagian lampiran data mentah pemetaan kromosom yang jarang dipahami oleh orang awam.
Kening Devran mulai berkerut halus. Ia membaca deretan angka dan istilah biologi molekuler yang tertera di sana.
Analisis Karyotype... Total Kromosom: 78.
Deteksi Penanda Spesifik (Marker): Menunjukkan anomali pada rantai DNA manusia.
Identifikasi Sub-Spesies (Lampiran Lanjutan): Canis lupus familiaris.
Selama beberapa detik, keheningan total menyelimuti ruang kerja itu.
Devran memandangi deretan kata Latin tersebut, lalu teringat pada laporan harian kepala keamanan mansion tadi pagi yang menyebutkan bahwa Leo kemarin sore bermain di taman bersama Baron, anjing ras Samoyed kesayangan keluarga Adhitama yang memiliki bulu seputih salju.
Ia juga mengingat rekaman CCTV yang menunjukkan Leo melakukan gerakan menghindar yang aneh saat petugas taman palsu itu mendekatinya.
Perlahan, kerutan di kening Devran menghilang. Sudut bibirnya mulai tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang teramat mengerikan. Senyuman itu kemudian berubah menjadi kekehan rendah.
"Heh... hehehe..."
Siska mengerjapkan matanya, mundur selangkah karena merasa ngeri melihat reaksi Devran. "K-Kenapa kamu tertawa?! Apa kamu sudah gila karena tidak sanggup menerima kenyataan?!"
Tawa Devran semakin keras. Pria itu menjatuhkan kembali dokumen forensik mahal itu ke atas meja seolah benda itu hanyalah selembar tisu toilet yang tidak berharga.
Ia menatap Siska dengan pandangan meremehkan yang luar biasa tajam, seakan menatap makhluk paling bodoh yang pernah diciptakan di muka bumi.
"Kamu benar-benar membuatku terhibur hari ini, Siska Lorenza," ucap Devran, suaranya masih bergetar oleh sisa tawa sinisnya.
"Aku selalu tahu bahwa kapasitas otakmu tidak terlalu cemerlang dalam mengurus bisnis, tapi aku tidak menyangka bahwa kamu juga buta huruf dalam membaca laporan medis yang kamu bayar sendiri."
"Apa maksudmu?! Dokter forensiknya sendiri yang membacakan kesimpulan itu padaku pagi ini!" jerit Siska tidak terima.
"Jelas-jelas tertulis probabilitasnya nol persen!"
"Tentu saja hasilnya nol persen, Siska yang bodoh!" bentak Devran, suaranya tiba-tiba menggelegar.
Devran bangkit dari kursinya, mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap Siska dengan sorot mata yang menguliti harga diri wanita itu. "Tahukah kamu berapa jumlah kromosom manusia yang sehat secara biologis?"
Siska menelan ludahnya, wajahnya mulai pucat. "A-Apa urusannya dengan kromosom?! Aku bukan dokter!"
"Manusia memiliki 46 kromosom, Siska," jelas Devran dengan artikulasi yang sangat lambat dan tajam, sengaja mempermalukan wanita di depannya.
Pria itu mengambil pena emasnya, lalu mengetuk-ngetuk tulisan kecil di halaman kedua laporan tersebut.
"Sementara sampel rambut yang dikirimkan oleh pembunuh bayaranmu yang sangat mahal ini... tercatat memiliki 78 kromosom."
Mata Siska membelalak. "T-Tujuh puluh delapan? Lalu... lalu apa artinya itu?!"
"Artinya, kamu tidak sedang menguji DNA manusia, Siska," Devran menyeringai kejam, sebuah senyuman kebanggaan seorang ayah meledak di dadanya.
"Spesies yang tertera di lampiran ini adalah Canis lupus familiaris. Kamu tahu apa itu? Itu adalah anjing peliharaan!"
"Pembunuh bayaranmu yang bodoh itu tidak mencabut rambut putraku! Dia mencabut sejemput bulu anjing Samoyed putih milikku yang sengaja diserahkan oleh putraku sebagai umpan!"
Siska terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak rak buku di belakangnya.
"T-Tidak... Tidak mungkin! Orang suruhanku bilang dia berhasil mencabutnya langsung dari kepala anak itu! Anak itu sempat berontak!"
"Putraku yang baru berusia lima tahun baru saja mengelabuhi dan mempermalukan pembunuh bayaranmu di siang bolong, Siska," desis Devran, nada bangga dalam suaranya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Anakku sengaja menukar sampel rambutnya dengan bulu anjing tepat di depan mata agen suruhanmu. Leo tahu ada penyusup di taman, dan bukannya menangis ketakutan, dia justru memainkan kalian semua seperti sekumpulan badut sirkus yang menyedihkan!"
"Tidak! Kamu pasti berbohong! Kamu sengaja mengarang cerita untuk menutupi aib wanita itu!" Siska berteriak histeris, menolak percaya bahwa seluruh rencana liciknya telah dihancurkan oleh seorang balita.
"Kamu bisa membawa laporan ini ke dokter hewan mana pun di Jakarta jika kamu masih tidak percaya bahwa kamu baru saja membuang uang ratusan juta untuk mengetes DNA seekor anjing," balas Devran dingin.
Devran kemudian menekan tombol interkom di meja kerjanya. "Reno. Masuk ke ruanganku. Sekarang."
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum pintu ganda ruang kerja itu terbuka. Reno masuk bersama dua orang petugas keamanan bertubuh kekar.
"Ya, Tuan Besar?" sahut Reno sigap, menatap jijik ke arah Siska yang kini tampak berantakan dan pucat pasi.
"Wanita ini baru saja mengakui secara terang-terangan bahwa dia menyewa orang untuk menyusup ke kediaman pribadiku dan mencoba melakukan penyerangan fisik terhadap putraku," perintah Devran, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah ketakutan Siska.
"Hubungi kepala kepolisian resor Jakarta Selatan. Aku ingin Siska Lorenza dan seluruh agen suruhannya diseret ke penjara atas tuduhan percobaan penculikan anak di bawah umur, pelanggaran wilayah privat, dan terorisme domestik."
"Pastikan dia tidak melihat cahaya matahari sampai rambutnya memutih."
"T-Tidak! Devran, kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Ayahku akan membunuhmu!" Siska meronta hebat saat dua petugas keamanan itu meringkus kedua lengannya dengan kasar.
"Ayahmu sedang sibuk bertahan hidup dari kebangkrutan yang kuciptakan, Siska. Dia tidak akan peduli padamu lagi," balas Devran tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Bawa sampah ini keluar dari pandanganku, Reno."
Saat jeritan histeris Siska semakin menjauh dan pintu ruangan tertutup rapat, Devran kembali berdiri sendirian dalam keheningan ruang kerjanya.
Pria itu menunduk, menatap kertas laporan DNA yang masih tergeletak di atas mejanya. Ia menyentuh tulisan tentang 78 kromosom anjing itu, lalu perlahan tawanya kembali pecah.
Seumur hidupnya, Devran tidak pernah merasa sebangga ini. Leo Adhitama bukan hanya mewarisi darah langkanya, tapi juga mewarisi otak licik dan keberaniannya yang tak tertandingi.
Namun di sisi lain, insiden ini menjadi peringatan keras bagi Devran. Siska mungkin bodoh, tetapi musuh-musuh Adhitama di luar sana tidak akan berhenti mengincar kelemahan barunya.
Devran mengambil ponsel khususnya, lalu menekan sebuah nomor panggilan langsung ke tim hukum pribadinya.
"Siapkan dokumen legalitas pernikahan sipil secepatnya. Aku tidak peduli bagaimana caranya, potong semua birokrasi negara yang ada," perintah Devran dengan suara mutlak yang tidak menerima bantahan saat panggilan itu tersambung.
"Aku akan meresmikan Alana Kirana sebagai istri sahku dan Leo sebagai pewaris tunggal Adhitama Group sebelum akhir pekan ini."