Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.puncak Duel
Aula Agung semakin memanas seiring berjalannya bagan pertandingan. Sesuai dengan prediksi awal, dominasi Ren mutlak tak tergoyahkan di jalur warga biasa, sementara Julian van Asche berhasil membantai lawan-lawannya menggunakan kekuatan Mana angin yang telah didorong oleh ramuan penguat faksi bangsawan.
Kini, di tengah arena batu yang telah retak di beberapa sudut, kedua rival itu berdiri saling berhadapan. Duel final Tingkat Satu untuk memperebutkan slot Turnamen Lima Juru Pedang Global resmi dimulai.
"Kau benar-benar serangga yang ulet, Ren," Julian berbisik dengan nada penuh kebencian, wajahnya agak tirus dengan lingkaran hitam di bawah matanya—efek samping dari konsumsi ramuan terlarang secara berlebihan. "Tapi hari ini, di hadapan para diplomat global, aku akan menunjukkan bahwa darah kotor dari perbatasan tidak akan pernah bisa melampaui keagungan bangsawan!"
*WUUUSH!*
Julian menghunus pedang anggar tipis (*rapier*) miliknya. Seketika itu juga, Mana elemen angin berwarna hijau keemasan meledak di sekeliling tubuhnya, menciptakan badai kecil yang tajam hingga menggores lantai arena. Tekanan energinya melesat naik hingga menyentuh batas Tingkat 4 Awal.
Para petinggi Kekaisaran di kursi VIP berbisik kagum melihat lonjakan Mana Julian.
Ren hanya berdiri tenang, membiarkan jubah hitamnya berkibar diterpa angin buatan Julian. Tangan kanannya bertumpu santai di gagang pedang besi standarnya. Sepasang mata crimson-nya menatap Julian dengan *smug* dingin yang berbahaya, seolah sedang melihat badut yang sedang menari di atas panggung penjarangan.
"Bicara yang tinggi selalu menjadi keahlianmu, Julian," ucap Ren datar, nadanya begitu tenang namun mematikan. "Mari kita lihat seberapa lama ramuan terlarang itu bisa menopang kesombonganmu."
"Mulai!"
*SHIIING!*
Julian menghilang dari tempatnya berdiri. Didorong oleh kecepatan angin murni, ia melesat maju seperti kilat hijau, melepaskan teknik *Storm Pierce*—ratusan tusukan beruntun secepat jarum hujan yang mengarah langsung ke titik-titik vital di dada dan leher Ren.
Kecepatan serangan itu membuat para penonton menahan napas. Bahkan Master Vargas di pinggir lapangan bersiap melompat jika nyawa Ren terancam.
Namun, di dalam benak Ren, dunia bergerak lambat. *Blood Circulation* miliknya bekerja dengan presisi mutlak, mempercepat persepsi otaknya yang cerdas untuk mengurai setiap lintasan tusukan rapier Julian.
*TAK! TAK! TAK! TAK!*
Suara benturan besi terdengar berentetan bagai senapan mesin. Ren tidak mundur satu langkah pun. Menggunakan satu tangan, ia mengayunkan pedang besinya dengan gerakan melingkar yang super efisien—dasar pertahanan dari *Blood-Forged Style*. Setiap ketukan pedang Ren tepat mengenai ujung *rapier* Julian, membelokkan lintasannya hanya satu milimeter dari kulitnya.
"Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu?!" Julian berteriak frustrasi, matanya mulai memerah karena kemarahan yang membakar logikanya. Ia memaksakan sisa ramuan di tubuhnya bekerja lebih keras, membuat Mana anginnya meletup tidak stabil.
**"Dia sudah kehilangan kendali atas energinya, Ren! Sekarang! Hancurkan mainan pirang ini!"** Crimson berseru puas di dalam kepala Ren, tato di lengannya berdenyut kencang.
Ren menarik sudut bibirnya, menampilkan sebuah seringai dingin. *'Ujianmu sudah selesai, Julian.'*
*Dug!*
Jantung Ren berdenyut sekali dengan keras. Menggunakan akselerasi *Blood-Stride* yang disamarkan, Ren sengaja membiarkan pedang Julian menusuk jubah hitamnya yang kosong, sementara tubuh aslinya sudah bergeser ke area buta di sisi kanan Julian.
Ren menarik pedangnya ke belakang, membiarkan sedikit energi kompresi murni melapisi bilahnya, lalu melayangkan satu hantaman horizontal dengan bagian datar pedangnya tepat ke arah rusuk Julian.
*BRRAAAK!*
"Ughaaaa!"
Julian menjerit kesakitan saat pelindung zirah anginnya pecah berantakan. Tubuhnya terlempar jauh, berguling-guling di atas lantai arena sebelum akhirnya menghantam dinding pembatas hingga retak. Rapier miliknya terlepas, berdenting jatuh jauh di luar jangkauan tangannya.
Julian terkapar, memuntahkan darah, dan tidak mampu bangkit kembali akibat syok energi dari ramuannya sendiri yang berbalik menyerang organ dalamnya.
Seluruh Aula Agung kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.
Ren berjalan mendekat secara perlahan, menatap Julian yang mengerang di bawahnya dengan tatapan sekaku es. Satu mata crimson Ren berkilat intens dengan aura streaks energi merah yang tajam di balik poni rambut perak abu-abunya.
Wasit mengangkat tangannya dengan gemetar. "Pemenang... dan perwakilan resmi Tingkat Satu untuk Turnamen Global... Ren dari Perbatasan Barat!"
Sorakan gemuruh langsung meledak dari sudut asrama nomor tujuh, di mana faksi warga biasa berdiri dan mengangkat tinju mereka ke udara. Mereka telah memenangkan babak pertama.
Ren menyarungkan pedangnya, lalu menatap ke arah langit-langit aula dengan senyuman tipis penuh kemenangan. Slot menuju Turnamen Global telah berada di tangannya, dan bersamanya, jalan menuju Reruntuhan Gorgona serta penghancuran Kekaisaran kini terbuka lebar.