NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Keesokan harinya, Valeska terbangun tepat pukul tujuh pagi. Ada rasa sesak yang menyelimuti dadanya, karena sepanjang tidur dalam kondisi tengkurep. Dia tak segera bergegas mandi. Hanya menyikat gigi dan membasuh muka seadanya, lantaran hari ini tak ada rencana keluar rumah. Namun, siang nanti, beberapa temannya akan datang berkunjung ke apartemen.

Saat melangkah keluar kamar, pandangannya tertuju pada Kaivandra, yang tengah menikmati sarapan seorang diri. Rupanya, hari ini dia ada kelas pagi. Valeska mendekat, lalu duduk di sampingnya. Dengan malas, ia mengambil sehelai roti tawar dan memakannya begitu saja tanpa olesan selai stroberi favoritnya.

"Jangan lupa habis ini minum obat, dek," ujar Kaivandra, nada suaranya lembut namun tegas.

Valeska hanya membalasnya dengan anggukan pelan.

"Mana suaranya?" Kaivandra menatapnya, menunggu respons lebih.

Gadis itu menghela napas panjang sebelum menjawab, "Iya, abang. Siap laksanakan."

Kaivandra tersenyum kecil. "Sekarang minum obatnya dulu, ya. Abang tungguin." Dia memberikan obat kepada Valeska.

"Abang, nanti aja ..." balas Valeska lirih, hampir seperti bisikan.

Kaivandra menghela napas panjang, lalu membuka kemasan obat satu per satu. Ia menatanya di atas meja dan dialasi oleh tisu, tepat di hadapan sang adik.

"Demi abang, dek. Tolong."Valeska menatapnya sejenak, ada keraguan di matanya. Namun, perlahan, ia mengambil obat itu dengan wajah cemberut.

"Ya udah, iya." Ucapnya, menyerah.

Kaivandra tersenyum lega, kemudian mengusap lembut kepala adiknya sebelum bersiap berangkat.

"Gitu,dong. Cantiknya abang memang keren, semangat."

***

Anaya mendesis pelan, tanda kesabarannya mulai terkikis. Amarah yang sudah memuncak hanya menunggu waktu untuk meledak, dan Prisha akan menjadi sasarannya. Sementara itu, Valeska dan Laksha memilih bungkam, seolah tak ingin terseret dalam ketegangan di antara mereka.

Dengan santainya, Prisha terus mengusik Anaya, mencolek dagunya tanpa henti. Ketika menyadari Anaya mulai naik pitam, Prisha akhirnya melunak dan mengucapkan permintaan maaf. Anaya membalasnya dengan senyuman tipis, senyum yang terlihat manis di luar, tapi di dalam hatinya ada umpatan demi umpatan yang sedang ia ucapkan.

"Jangan marah dong, maafin gue yaa ..." bisik Prisha, tepat di telinga Anaya membuat gadis itu kegelian.

Anaya menoleh, kemudian mendelik, "Idih, apasih? Memangnya kita kenal? Lo, siapa? Kok, ada di circle ini?" ketus Anaya, dengan ekspresi yang terlihat lucu, memang dasarnya Anaya imut.

Prisha menghentikan langkahnya, lalu meletakkan tangan di dada dengan dramatis. "Ya Tuhan, kenapa dia jadi seperti ini? Kalau dia sakit, siapa yang bakal mengobatinya? Gue nggak rela kalau Ayah gue ngurusin orang kayak dia."

Laksha menoyor kepala Prisha sambil tertawa kecil. "Alay banget, lo!"Sementara itu, Valeska hanya menarik napas panjang.

Kenapa tingkah teman-temannya selalu seperti ini? Valeska masih diam dan membiarkan mereka melanjutkan drama kecil itu. Setelah beberapa detik, Valeska membuka pintu apartemen dan mempersilakan temannya untuk masuk duluan.

"Kalau banyak tingkah, jangan harap gue kasih pizza," ancam Valeska setengah serius.

"Emang pizza nya ada?" tanya Prisha, membuat Laksha nyaris tertawa lagi.

"Tinggal beli, susah amat," jawab Valeska santai. Saat

Laksha lalu menarik tangan Prisha. "Masuk dulu, nih pintu mau gue tutup,"

"Tutup aja sekalian, biar dia di luar," sambung Anaya, ikut menggoda.

"Ish, buruan dong, Prisha. Masuk," Laksha menarik tangan Prisha lebih keras, sementara Anaya tak mau ketinggalan dengan kembali menoyor kepala temannya itu, puas membalas rasa kesalnya tadi.

Prisha mengaduh sambil cemberut. "Main tarik, main toyor. Kalau otak gue geser, atau tangan gue, patah gimana?!"

"Tinggal diperbaiki. Bukannya Ayah lo, dokter?" jawab Laksha santai dengan seringai jahil.

Prisha siap membalas, namun Valeska tiba-tiba membekap mulutnya.

"Cukup! Bisa nggak kalian diam sebentar? Kalian ke sini buat mengerjakan tugas, bukan bikin keributan. Gue nggak suka," tegur Valeska, kali ini dengan nada dingin.

Tegurannya telah sukses membuat ketiga temannya bungkam. Kalau seorang Valeska sudah bersikap seperti ini, mereka tahu, ia sudah benar-benar muak. Dengan rasa bersalah yang perlahan menjalar, mereka akhirnya memilih menahan diri, setidaknya untuk sementara waktu.

***

Valeska dan teman-temannya baru saja menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia. Di mana, mereka diminta menulis cerita tentang liburan selama seminggu terakhir. Setelah menutup buku dan merapikan alat tulis, mereka pun mulai memasukkan barang ke dalam ransel masing-masing. Saat Valeska meraih botol minum di meja, alisnya spontan berkerut saat melihat pintu apartemen terbuka.

Kaivandra mulai membuka sepatunya. Tapi bukan itu yang membuat Valeska terkejut, dia tidak datang sendiri. Di belakangnya, ada tiga sosok lelaki lainnya yang ikut masuk, mereka adalah Arjuna, Satya, dan Vikara.

"Apartemen lo rame amat, Kai. Ada acara apa?" tanya Satya, mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.

"Mungkin ada teman-teman adik gue. Yang terkahir masuk, tolong pintunya ditutup," jawab Kaivandra santai sambil melangkah masuk.

Satya tertawa kecil sambil menunjuk sepatu mungil berwarna pastel di dekat pintu. "Ini sepatu siapa? Kecil banget, kayak sepatu barbie."

Valeska yang masih berdiri di dekat meja hanya tersenyum ramah. Ia mendekat dan menyapa dengan nada ceria, "Wah, apartemennya jadi seramai ini, ya. Bang, di sana ada teman-teman adek, gabung aja nggak apa-apa."

Kaivandra melirik ketiga temannya sambil mengangguk singkat. "Ya udah, kalian nimbrung aja sama mereka. Tapi jangan dijailin, mereka teman adik gue."

"Tapi kalau dipacarin boleh nggak?" canda Satya, menyeringai jahil.

"Nggak! Mereka masih anak kecil, belum waktunya pacaran. Udah, sana bergabung. Gue mau ganti baju dulu," balas Kaivandra sambil melangkah ke kamarnya, meninggalkan ketiga temannya yang hanya bisa saling melirik sambil tersenyum geli.

Valeska menghela napas dan memandang teman-temannya dengan tatapan meminta maaf, lalu kembali tersenyum. Hari ini tampaknya akan menjadi lebih ramai dari yang ia bayangkan.

"Kak, kok baru jam satu siang udah pada pulang?" tanya Valeska,"

"Hari ini dosen yang ke dua nggak masuk, dek. Jadi ke sini deh buat transit," jawab Satya.

"Kalian mau minum apa? Biar aku ambilin,"

"Mau air mineral tapi yang dingin, ada?" tanya Arjuna, pada Valeska.

"Ada, sebentar ya."Saat Valeska mengambil air minum kemasan di dalam kulkas, Vikara tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Kalian kelas berapa?" tanya Vikara, pada ketiga teman Valeska.

"Kita kelas sepauluh, jurusan IPA," jawab Laksha.

"Oalah, pantes wajahnya masih kayak anak SMP hee." Laksha, Anaya, dan Prisha, tertunduk malu. Meski ini bukan pertama kalinya mereka bertemu, tapi tetap saja rasa canggung masih ada.

***

Pukul 14 : 30, siang.

"Kenapa?" bisik Anaya pelan, tapi nadanya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang menggelegak di dadanya.

"Dicancel," jawab Valeska pelan, namun cukup jelas terdengar di antara mereka.

Anaya mengerutkan kening. "Kok bisa?"

Valeska mengangkat bahu ringan, napasnya terdengar seperti mendesah. "Mungkin karena hujan. Drivernya nggak sanggup nganterin pesanan kita,"

Laksha yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Jadi, kita gagal menikmati pizza hangat ditemani soda dingin? Padahal, gue udah ngebayangin gimana lezatnya makanan itu,"

Valeska tersenyum kecil, meski tak sepenuhnya menghapus gurat kecewa di wajahnya. "Santai aja. Di kulkas masih banyak stok makanan. Ambil aja kalau kalian mau."

Sementara itu, di meja makan yang berjarak tak jauh, ada Kaivandra dan teman-temannya sedang bergulat dengan tugas kuliah. Dua jam berlalu, dan suasana mereka mulai terlihat letih. Kaivandra, yang menyadarikeributan kecil dari arah adiknya, akhirnya menoleh.

"Adek," panggilnya lembut.

Valeska menoleh cepat. "Iya, kenapa, bang?"

"Kalian nggak makan? Atau minimal nyemil? Memangnya nggak laper?" tanyanya sambil menyipitkan mata ke arah teman adiknya yang terlihat masam.

"Laper, bang," jawab Valeska, menyeret pandangannya ke arah ketiga temannya yang duduk lesu.

"Tapi pizza kita dicancel. Padahal udah nunggu lama,"

"Kasian banget mereka," bisik Arjuna pada Vikara, yang duduk di sampingnya.

Vikara mengangguk tipis, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau cuma dikasihani, nggak bakal bikin mereka kenyang. Mending pesenin makanan, Jun. Kebetulan gue juga laper."

Arjuna tersenyum kecil, mengangguk setuju. "Bener juga. Udah, tenang aja, biar Kakak yang urus. Kalian duduk manis aja. Bentar lagi makanannya datang,"

"Jun," sahut Kaivandra cepat, "pesan yang banyak, ya. Nanti gue transfer duitnya,"

Arjuna mendengus, lalu menyeringai jahil. "Santai, aja. Gue pesannya dari restoran bokap. Gratis kok."

Kaivandra mengangkat sebelah alis, sorot matanya menegur tanpa perlu bicara keras. "Gratis apaan? Bokap lo, uga butuh income buat bayar karyawan, ya tetap gue harus bayar. Jangan kayak gitu, Jun ..."

Arjuna tertawa pendek. "Oke, oke, tapi setengah harga aja, deal?"

Kaivandra menghela napas, lalu mengangguk pasrah. "Ya udah, deal."

Tanpa banyak bicara lagi, Arjuna mulai memesan berbagai menu makanan dari restoran ayahnya. Arjjna menghubungi salah satu karyawan untuk mengantarkannya ke apartemen ini

***

Hari mulai beranjak senja, namun hujan seolah enggan mereda. Jarum jam menunjukkan pukul 17:45 saat Prisha, Anaya, dan Laksha melangkah keluar kamar sambil menggendong ransel masing-masing. Di belakang mereka, tampak Valeska yang sudah berganti piyama berwarna biru, menyusul dengan langkah ringan.

Saat ketiganya sibuk mengenakan sepatu, tiba-tiba Kaivandra muncul bersama tiga temannya. Kehadiran mereka membuat perhatian langsung tertuju pada kelompok Valeska. Dengan senyuman ramah, mereka lun perlahan mendekat untuk menyapa.

"Astaga! Kak, bikin kaget aja!" seru Laksha sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang.

Rupanya Vikara telah duduk di sampingnya tanpa sepatah kata pun, membuat Laksha tersentak. Anaya dan Prisha pun tak kalah terkejut ketika menoleh ke samping kanan dan kiri.

"Nggak ada niat buat ngagetin, kok," ujar Satya sambil tersenyum tipis.

"Eh, kalian mau pulang sekarang? Kalau iya, kebetulan kita juga mau pulang. Bareng aja, yuk," ajaknya ramah.

Prisha menunduk sedikit, terlihat tak enak hati. "Maaf, Kak, aku udah dijemput sama, Ayah. Kebetulan Ayah udah sampai di lobi." Vikara terkekeh kecil sambil menepuk bahu Satya.

"Sabar, bro. Belum waktunya lo deketin dia," godanya.

Satya meliriknya tajam, tapi memilih menahan diri. "Kalau Anaya gimana? Mau bareng Kak Vikara, nggak?" tanya Satya, mana tahu keberuntungan sedang berpihak padanya.

"Eum ... nggak usah, Kak. Di lobi udah ada sopir jemputanku. Maaf, ya," jawab Anaya dengan suara lembut yang nyaris berbisik.

Kaivandra menepuk punggung Vikara, seraya tertawa kecil. "Yang sabar, Vik. Jangan buru-buru, dia anakorang kaya, lho."

Satya mendengus geli, sementara Arjuna, yang sedari tadi diam, kini ikut bicara. "Kalau Laksha gimana?Pulang sama siapa? Kali aja kita searah," Laksha tersenyum tipis.

"Aku dijemput sama Om, Kak. Terima kasih, ya."

"Astaga! Jun, lo tuh udah punya pacar, masih aja cari-cari lagi. Serakah banget sih!" ejek Satya sambil menepuk jidatnya sendiri.

Arjuna mendelik, lalu menoyor kepala Satya. "Nggak gitu maksud gue! Gue cuma nawarin diri takutnya dia pulang sendiri, dasar otak negatif."

Kaivandra menggeleng sambil menahan tawa. "Jaga sikap, deh. Masa mau ribut di depan anak-anak SMA?Nggak malu apa?" katanya dengan nada serius.

Mendengar itu, teman-temannya malah tergelak ringan. Sementara Valeska, dia memperhatikan semuanya dengan senyum kecil di bibirnya.

"Udah selesai, kan?" tanya Valeska pada teman-temannya.

"Udah kok," jawab Prisha.

"Semua barang aman? Nggak ada yang ketinggalan?" Valeska memastikan, menatap ketiga temannya bergantian. Mereka menggeleng serempak.

"Kalau begitu, kami pamit ya, Kak. Terima kasih untuk waktunya hari ini, juga makanannya. Semuanya enak banget. Sampai jumpa lagi," ucap Anaya sopan, mewakili temannya.

Valeska melambaikan tangan dengan senyum lebar. "Hati-hati di jalan, sampai ketemu di sekolah besok."

Satu per satu mereka beranjak pergi, begitu juga dengan teman Kaivandra. Langit mulai menggelap, dan mereka tahu esok pagi akan kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing. Bagi Valeska, besok adalah hari istimewa, hari pertama kembali ke sekolah setelah libur panjang selama seminggu.

"Cantiknya abang, udah minum obat belum?" tanya Kaivandra sambil menutup gorden.

"Masih jam segini, bang. Kan obatnya harus diminum sebelum tidur, apa abang lupa?" sahut Valeska, matanya memperhatikan Kaivandra sembari menggendong Moli, kucing kesayangannya yang sedang bermanja.

"Oh iya, abang lupa, dek," jawab Kaivandra dengan senyum kecil, mengusap lehernya seolah baru sadar.

"Kalau gitu, gimana kalau nyemil buah dulu? Mau, nggak?" tawarnya dengan nada penuh perhatian.

"Mau dong, adek mau makan buah." Valeska menjawab dengan semangat, matanya berbinar ceria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!