NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Hasrat Memiliki

Saras memalingkan wajah. "Aku sudah bilang, Ma. Nggak terjadi apa-apa. Bryan ngajak aku minum. Aku mabuk. Aku ketiduran. Pas bangun sudah pagi."

Ranti tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Kalau begitu... Kenapa waktu pulang kamu jalan seperti menahan sakit?"

Pertanyaan itu membuat tubuh Saras menegang. Tetapi ia memaksa tersenyum. "Aku... tersandung karpet. Kakiku sedikit keseleo."

Ranti menyipitkan mata. "Karpet?"

"Iya."

"Di hotel semewah itu?"

"Iya, Ma."

"Lalu kenapa pas di ruang keluarga tadi gak ngomong gitu?"

"Terserah Mama kalau gak percaya."

Tatapan Ranti tidak berubah. Naluri seorang ibu mengatakan putrinya sedang berbohong. Namun ia juga tahu, semakin dipaksa, Saras justru akan semakin menutup diri.

Saras yang menyadari ibunya belum percaya segera memutar otak. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.

"Ma..."

"Hm?"

"Hantaran lamaran Kak Chantika..."

Ranti mengernyit. "Kenapa?"

"Boleh aku minta?"

Ranti tampak bingung. "Buat apa?"

Saras menundukkan kepala. "Aku cuma... kepikiran. Kak Chantika 'kan polisi. Dia gak terlalu suka barang-barang mewah. Daripada cuma disimpan, boleh gak sebagian dikasih ke aku?"

Ranti menatap putrinya cukup lama. Permintaan itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa ini benar-benar karena kamu menyukainya, atau ada alasan lain yang belum kamu ceritakan ke Mama?"

Saras menggigit bibir bawahnya. "Enggak ada alasan lain, Ma."

Namun jauh di dalam hatinya, ia berkata lain. "Kalau kontraknya gagal, setidaknya aku gak boleh rugi total."

Ranti mengembuskan napas pelan. "Sudah malam. Kita lihat besok saja."

"Iya, Ma," sahut Saras.

Namun baru beberapa saat kemudian, ia kembali teringat pada map hitam yang diberikan Enzo kepada Chantika.

Map yang membuat Rahardja begitu terkejut hingga meminta Enzo dan Chantika masuk ke ruang kerja berdua dengannya.

"Ma..."

"Hm?"

"Menurut Mama, apa isi map hitam tadi?"

Ranti menggeleng pelan. "Mama juga gak tahu."

"Tapi Papa kelihatan kaget banget."

Ranti mengangguk. "Iya. Mama juga baru lihat papamu bereaksi kayak gitu."

Saras mengernyit. "Pasti ada sesuatu yang sangat penting di dalamnya."

Ranti mengusap pelan bahu putrinya. "Nanti Mama coba tanya sama Papamu."

"Iya, Ma."

 

Sementara itu, di kamar sebelah beberapa menit lalu...

Chantika baru saja membuka pintu kamarnya. Namun baru selangkah masuk, ia langsung mengembuskan napas panjang.

Enzo sudah duduk santai di atas ranjang, bersandar pada kepala tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Ia sudah berganti pakaian dengan kimono tidur berwarna gelap.

Chantika menutup pintu. "Kamu ini..." keluhnya. "Kenapa ke sini lagi?"

Enzo mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu tersenyum tipis. "Aku pulang ke rumahku."

Ia menunjuk Chantika. "Dan rumah istriku. Emang gak boleh?"

Chantika hanya menggeleng pelan. Ia sudah terlalu malas berdebat dengan pria keras kepala itu. Tanpa menjawab, ia mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur.

Enzo menepuk sisi ranjang di sebelahnya, seolah ia lah pemilik ranjang itu. "Kemari."

Chantika naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.

Seperti malam-malam sebelumnya, Enzo langsung meraih tubuh calon istrinya ke dalam pelukan.

Kali ini, Chantika tidak lagi menolak. Ia justru membiarkan dirinya bersandar nyaman di dada bidang pria itu.

"Sepertinya kamu sudah jadi penyusup tetap di rumah ini," sindir Chantika.

Enzo terkekeh pelan. "Sebentar lagi aku gak perlu manjat dinding atau balkon."

"Kenapa?"

"Karena aku bakal masuk lewat pintu depan dan langsung ke kamar istriku," kata Enzo penuh percaya diri. "Dengan izin dari mertuaku."

"Dasar." Chantika memukul ringan dada Enzo.

Enzo hanya tertawa kecil, lalu mengeratkan pelukannya.

Beberapa saat mereka menikmati keheningan. Hingga akhirnya Chantika kembali teringat sesuatu.

"Kenapa kamu ngasih aku aset sebanyak itu?"

"Kenapa?" Enzo menunduk menatapnya. "Kamu gak suka?"

"Bukan." Chantika menggeleng. "Aku ini manusia normal. Mana mungkin gak suka."

"Lalu?"

"Aku cuma gak nyangka. Apalagi saham itu."

Enzo tersenyum tipis. "Hotel itu kuberikan supaya tetap menjadi aset yang menghasilkan, bahkan kalau suatu hari nanti aku udah gak kerja lagi."

Chantika mendongakkan kepala.

Enzo melanjutkan, "Vila itu buat tempat kita beristirahat ketika kamu lelah menjalankan tugas sebagai polisi."

Tatapan Chantika semakin lembut.

"Dan tiga puluh persen saham Arkana Global Logistics..." Enzo menggenggam tangan istrinya. "...kuberi agar mulai hari ini kamu bukan hanya menjadi pendamping hidupku. Tapi juga menjadi pemilik masa depan yang akan kita bangun bersama."

Chantika terdiam beberapa saat. "Kamu berpikir sejauh itu?"

Enzo mengusap lembut pipinya. "Aku selalu berpikir untuk masa depan."

Senyum tipis terukir di bibir Chantika. "Bagus."

Ia kembali mencari posisi paling nyaman dalam dekapan hangat calon suaminya.

Beberapa saat kemudian, Enzo kembali bertanya, "Ngomong-ngomong... kenapa tadi lama sekali di bawah?"

Chantika mengembuskan napas pelan. "Papa membahas kejadian di hotel."

"Sudah jelas semuanya?"

Chantika menggeleng. "Belum. Saras pintar berkelit."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi sudahlah. Kalau memang dia belum siap berkata jujur, aku juga gak bisa maksa dia."

Chantika tersenyum tipis. "Kalau dipikir-pikir... Justru aku seharusnya berterima kasih sama dia."

Enzo mengangkat sebelah alis. "Berterima kasih?"

"Iya." Chantika mengangguk. "Kalau dia gak menjebakku malam itu..."

Chantika menatap mata Enzo sambil tersenyum hangat. "...aku mungkin gak akan pernah ketemu pria yang bentar lagi jadi suamiku."

Mendengar itu, sudut bibir Enzo perlahan terangkat. Ia mengecup lembut kening Chantika.

"Kalau begitu... Kurasa aku juga harus berterima kasih pada takdir."

"Tidak." Chantika tersenyum sambil menggeleng pelan. "Bukan cuma takdir. Melainkan karena kamu memilih tetap bertahan sampai akhirnya aku membuka hati untukmu."

Enzo tersenyum puas, lalu kembali memeluk calon istrinya dengan hangat.

***

Pagi itu, seluruh anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Suasananya terasa jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Hanya suara peralatan makan yang sesekali beradu.

Rahardja membaca koran di samping piringnya. Ranti sesekali mengambilkan lauk untuk Saras. Sementara Chantika menikmati sarapannya dengan tenang.

Tiba-tiba Saras membuka suara. "Kak."

Chantika mengangkat kepala. "Hm?"

"Kain sutra yang ada di hantaran itu... boleh buat aku aja?"

Sendok di tangan Chantika berhenti sejenak. "Kain sutra?"

"Iya." Saras tersenyum tipis. "Kakak, 'kan polisi. Jarang datang ke acara resmi. Sayang kalau kain sebagus itu cuma disimpan."

Ranti ikut mengangguk. "Iya juga. Lagi pula setahu Mama ada beberapa lembar, 'kan?"

Chantika meletakkan sendoknya perlahan. "Kalau kamu memang suka kain sutra, nanti aku belikan."

Saras menggeleng. "Aku maunya yang itu."

"Kenapa?"

"Itu lebih bagus."

Chantika tersenyum tipis. "Justru karena itu aku gak bisa ngasih itu ke kamu."

"Kak..."

"Itu hadiah dari Enzo," potong Chantika. "Bagiku, yang berharga bukan kainnya. Melainkan orang yang memberikannya."

Saras mulai merajuk. "Kan cuma selembar."

Ranti ikut membujuk. "Chantika, adikmu cuma minta satu lembar. Masa sama adik sendiri gak boleh?"

Belum sempat Chantika menjawab, Rahardja melipat korannya. "Ranti."

Semua menoleh.

Rahardja berbicara dengan nada suara tenang. "Hantaran itu sudah menjadi milik Chantika. Kalau dia ingin memberikannya, itu haknya. Kalau dia tidak ingin, itu juga haknya. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya."

Ranti terdiam.

Saras mengepalkan jemarinya di bawah meja. Dadanya kembali dipenuhi rasa iri.

"Selalu saja Papa membela Chantika..."

Rahardja kembali menikmati sarapannya. "Sudahlah. Jangan memperpanjang hal yang bukan milik kita."

Chantika menoleh kepada ayahnya. "Terima kasih, Pa."

Rahardja hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, sarapan kembali berlangsung dalam keheningan.

Saras melirik sekilas ke arah Chantika yang kembali menikmati sarapannya dengan tenang. Ia mengepalkan jemarinya di bawah meja.

"Oke... Kalau kain sutra itu gak bisa kudapatkan..." Tatapannya perlahan berubah. "...aku akan mencari tahu isi map hitam itu."

Saras kembali melirik ke arah Chantika. "Papa sampai merahasiakannya dari kami. Berarti isi map itu jauh lebih berharga daripada kain sutra."

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu... Aku harus mendapatkannya."

 

...🔸🔸🔸...

..."Seseorang yang benar-benar mencintai akan menjaga pemberian sekecil apa pun. Sebab yang disimpan bukan bendanya, melainkan makna di baliknya."...

..."Tidak semua hadiah berharga karena nilainya. Ada yang menjadi istimewa karena ketulusan orang yang memberikannya."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!