Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Hasrat Memiliki
Saras memalingkan wajah. "Aku sudah bilang, Ma. Nggak terjadi apa-apa. Bryan ngajak aku minum. Aku mabuk. Aku ketiduran. Pas bangun sudah pagi."
Ranti tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Kalau begitu... Kenapa waktu pulang kamu jalan seperti menahan sakit?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Saras menegang. Tetapi ia memaksa tersenyum. "Aku... tersandung karpet. Kakiku sedikit keseleo."
Ranti menyipitkan mata. "Karpet?"
"Iya."
"Di hotel semewah itu?"
"Iya, Ma."
"Lalu kenapa pas di ruang keluarga tadi gak ngomong gitu?"
"Terserah Mama kalau gak percaya."
Tatapan Ranti tidak berubah. Naluri seorang ibu mengatakan putrinya sedang berbohong. Namun ia juga tahu, semakin dipaksa, Saras justru akan semakin menutup diri.
Saras yang menyadari ibunya belum percaya segera memutar otak. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Ma..."
"Hm?"
"Hantaran lamaran Kak Chantika..."
Ranti mengernyit. "Kenapa?"
"Boleh aku minta?"
Ranti tampak bingung. "Buat apa?"
Saras menundukkan kepala. "Aku cuma... kepikiran. Kak Chantika 'kan polisi. Dia gak terlalu suka barang-barang mewah. Daripada cuma disimpan, boleh gak sebagian dikasih ke aku?"
Ranti menatap putrinya cukup lama. Permintaan itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa ini benar-benar karena kamu menyukainya, atau ada alasan lain yang belum kamu ceritakan ke Mama?"
Saras menggigit bibir bawahnya. "Enggak ada alasan lain, Ma."
Namun jauh di dalam hatinya, ia berkata lain. "Kalau kontraknya gagal, setidaknya aku gak boleh rugi total."
Ranti mengembuskan napas pelan. "Sudah malam. Kita lihat besok saja."
"Iya, Ma," sahut Saras.
Namun baru beberapa saat kemudian, ia kembali teringat pada map hitam yang diberikan Enzo kepada Chantika.
Map yang membuat Rahardja begitu terkejut hingga meminta Enzo dan Chantika masuk ke ruang kerja berdua dengannya.
"Ma..."
"Hm?"
"Menurut Mama, apa isi map hitam tadi?"
Ranti menggeleng pelan. "Mama juga gak tahu."
"Tapi Papa kelihatan kaget banget."
Ranti mengangguk. "Iya. Mama juga baru lihat papamu bereaksi kayak gitu."
Saras mengernyit. "Pasti ada sesuatu yang sangat penting di dalamnya."
Ranti mengusap pelan bahu putrinya. "Nanti Mama coba tanya sama Papamu."
"Iya, Ma."
Sementara itu, di kamar sebelah beberapa menit lalu...
Chantika baru saja membuka pintu kamarnya. Namun baru selangkah masuk, ia langsung mengembuskan napas panjang.
Enzo sudah duduk santai di atas ranjang, bersandar pada kepala tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Ia sudah berganti pakaian dengan kimono tidur berwarna gelap.
Chantika menutup pintu. "Kamu ini..." keluhnya. "Kenapa ke sini lagi?"
Enzo mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu tersenyum tipis. "Aku pulang ke rumahku."
Ia menunjuk Chantika. "Dan rumah istriku. Emang gak boleh?"
Chantika hanya menggeleng pelan. Ia sudah terlalu malas berdebat dengan pria keras kepala itu. Tanpa menjawab, ia mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur.
Enzo menepuk sisi ranjang di sebelahnya, seolah ia lah pemilik ranjang itu. "Kemari."
Chantika naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Enzo langsung meraih tubuh calon istrinya ke dalam pelukan.
Kali ini, Chantika tidak lagi menolak. Ia justru membiarkan dirinya bersandar nyaman di dada bidang pria itu.
"Sepertinya kamu sudah jadi penyusup tetap di rumah ini," sindir Chantika.
Enzo terkekeh pelan. "Sebentar lagi aku gak perlu manjat dinding atau balkon."
"Kenapa?"
"Karena aku bakal masuk lewat pintu depan dan langsung ke kamar istriku," kata Enzo penuh percaya diri. "Dengan izin dari mertuaku."
"Dasar." Chantika memukul ringan dada Enzo.
Enzo hanya tertawa kecil, lalu mengeratkan pelukannya.
Beberapa saat mereka menikmati keheningan. Hingga akhirnya Chantika kembali teringat sesuatu.
"Kenapa kamu ngasih aku aset sebanyak itu?"
"Kenapa?" Enzo menunduk menatapnya. "Kamu gak suka?"
"Bukan." Chantika menggeleng. "Aku ini manusia normal. Mana mungkin gak suka."
"Lalu?"
"Aku cuma gak nyangka. Apalagi saham itu."
Enzo tersenyum tipis. "Hotel itu kuberikan supaya tetap menjadi aset yang menghasilkan, bahkan kalau suatu hari nanti aku udah gak kerja lagi."
Chantika mendongakkan kepala.
Enzo melanjutkan, "Vila itu buat tempat kita beristirahat ketika kamu lelah menjalankan tugas sebagai polisi."
Tatapan Chantika semakin lembut.
"Dan tiga puluh persen saham Arkana Global Logistics..." Enzo menggenggam tangan istrinya. "...kuberi agar mulai hari ini kamu bukan hanya menjadi pendamping hidupku. Tapi juga menjadi pemilik masa depan yang akan kita bangun bersama."
Chantika terdiam beberapa saat. "Kamu berpikir sejauh itu?"
Enzo mengusap lembut pipinya. "Aku selalu berpikir untuk masa depan."
Senyum tipis terukir di bibir Chantika. "Bagus."
Ia kembali mencari posisi paling nyaman dalam dekapan hangat calon suaminya.
Beberapa saat kemudian, Enzo kembali bertanya, "Ngomong-ngomong... kenapa tadi lama sekali di bawah?"
Chantika mengembuskan napas pelan. "Papa membahas kejadian di hotel."
"Sudah jelas semuanya?"
Chantika menggeleng. "Belum. Saras pintar berkelit."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi sudahlah. Kalau memang dia belum siap berkata jujur, aku juga gak bisa maksa dia."
Chantika tersenyum tipis. "Kalau dipikir-pikir... Justru aku seharusnya berterima kasih sama dia."
Enzo mengangkat sebelah alis. "Berterima kasih?"
"Iya." Chantika mengangguk. "Kalau dia gak menjebakku malam itu..."
Chantika menatap mata Enzo sambil tersenyum hangat. "...aku mungkin gak akan pernah ketemu pria yang bentar lagi jadi suamiku."
Mendengar itu, sudut bibir Enzo perlahan terangkat. Ia mengecup lembut kening Chantika.
"Kalau begitu... Kurasa aku juga harus berterima kasih pada takdir."
"Tidak." Chantika tersenyum sambil menggeleng pelan. "Bukan cuma takdir. Melainkan karena kamu memilih tetap bertahan sampai akhirnya aku membuka hati untukmu."
Enzo tersenyum puas, lalu kembali memeluk calon istrinya dengan hangat.
***
Pagi itu, seluruh anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Suasananya terasa jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Hanya suara peralatan makan yang sesekali beradu.
Rahardja membaca koran di samping piringnya. Ranti sesekali mengambilkan lauk untuk Saras. Sementara Chantika menikmati sarapannya dengan tenang.
Tiba-tiba Saras membuka suara. "Kak."
Chantika mengangkat kepala. "Hm?"
"Kain sutra yang ada di hantaran itu... boleh buat aku aja?"
Sendok di tangan Chantika berhenti sejenak. "Kain sutra?"
"Iya." Saras tersenyum tipis. "Kakak, 'kan polisi. Jarang datang ke acara resmi. Sayang kalau kain sebagus itu cuma disimpan."
Ranti ikut mengangguk. "Iya juga. Lagi pula setahu Mama ada beberapa lembar, 'kan?"
Chantika meletakkan sendoknya perlahan. "Kalau kamu memang suka kain sutra, nanti aku belikan."
Saras menggeleng. "Aku maunya yang itu."
"Kenapa?"
"Itu lebih bagus."
Chantika tersenyum tipis. "Justru karena itu aku gak bisa ngasih itu ke kamu."
"Kak..."
"Itu hadiah dari Enzo," potong Chantika. "Bagiku, yang berharga bukan kainnya. Melainkan orang yang memberikannya."
Saras mulai merajuk. "Kan cuma selembar."
Ranti ikut membujuk. "Chantika, adikmu cuma minta satu lembar. Masa sama adik sendiri gak boleh?"
Belum sempat Chantika menjawab, Rahardja melipat korannya. "Ranti."
Semua menoleh.
Rahardja berbicara dengan nada suara tenang. "Hantaran itu sudah menjadi milik Chantika. Kalau dia ingin memberikannya, itu haknya. Kalau dia tidak ingin, itu juga haknya. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya."
Ranti terdiam.
Saras mengepalkan jemarinya di bawah meja. Dadanya kembali dipenuhi rasa iri.
"Selalu saja Papa membela Chantika..."
Rahardja kembali menikmati sarapannya. "Sudahlah. Jangan memperpanjang hal yang bukan milik kita."
Chantika menoleh kepada ayahnya. "Terima kasih, Pa."
Rahardja hanya mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, sarapan kembali berlangsung dalam keheningan.
Saras melirik sekilas ke arah Chantika yang kembali menikmati sarapannya dengan tenang. Ia mengepalkan jemarinya di bawah meja.
"Oke... Kalau kain sutra itu gak bisa kudapatkan..." Tatapannya perlahan berubah. "...aku akan mencari tahu isi map hitam itu."
Saras kembali melirik ke arah Chantika. "Papa sampai merahasiakannya dari kami. Berarti isi map itu jauh lebih berharga daripada kain sutra."
Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu... Aku harus mendapatkannya."
...🔸🔸🔸...
..."Seseorang yang benar-benar mencintai akan menjaga pemberian sekecil apa pun. Sebab yang disimpan bukan bendanya, melainkan makna di baliknya."...
..."Tidak semua hadiah berharga karena nilainya. Ada yang menjadi istimewa karena ketulusan orang yang memberikannya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.