NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:258.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu jatuh

"Kamu serius, May?"

Nada suara Amelia terdengar meninggi, matanya menyipit tajam.

Maya mengangguk pelan. "Iya, Mah. Elina dan Tante Aurel belanja berlian hingga miliaran," jelasnya, suaranya masih menyimpan kekesalan yang belum reda.

Sejak keluar dari mall tadi, perasaan Maya tak juga membaik. Pemandangan Elina yang begitu mudah menghamburkan uang untuk perhiasan mahal terus terbayang di kepalanya, membuat dadanya terasa panas. Rasa iri dan kesal bercampur menjadi satu. Karena itu, sepulang dari mall, Maya langsung menemui Amelia. Hanya pada calon mertuanya ia bisa meluapkan kekesalan, terlebih setelah melihat Elina dengan santainya membeli berlian bernilai fantastis seolah tak berarti apa-apa.

Amelia yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan punggungnya. Alisnya terangkat tinggi, matanya menyipit penuh perhitungan.

"Berlian?" ulangnya pelan, seolah tak percaya, "Hingga miliaran?"

"Iya, Mah," sahut Maya cepat, nada suaranya masih terdengar kesal. "Mereka masuk toko berlian paling mahal di mall. Elina ambil satu tanpa pikir panjang, kayak beli permen."

Amelia mendengus tajam. Tangannya mengepal di atas paha. "Kurang ajar. Jadi uang masih banyak, ya? Atau... dia sengaja pamer?"

Ia tersenyum miring, senyum yang sama sekali tak menunjukkan kehangatan.

Maya menggigit bibirnya. "Aku juga mikir gitu, Mah. Kayaknya disengaja bikin orang lain panas."

"Bagus," balas Amelia dingin. "Kalau begitu, berarti Elina belum sadar kalau sebentar lagi semua yang dia banggakan itu bakal berpindah tangan."

Amelia berdiri, berjalan mondar-mandir dengan langkah gelisah. "Beli berlian miliaran, tapi pelit sama keluarga sendiri. Benar-benar menantu durhaka."

Maya menatap Amelia ragu. "Mah... apa mungkin rencana Mas Ares—"

"Pasti," potong Amelia mantap. "Kalau dia berani belanja seenaknya, berati dia merasa aman. Dan orang yang merasa aman biasanya paling gampang dijatuhkan."

Amelia berhenti melangkah, menatap Maya lurus-lurus. "Kamu tenang saja, May. Dua hari ini, lihat siapa yang masih bisa tersenyum sambil pakai berlian."

Maya perlahan ikut tersenyum, meski di matanya terselip kegelisahan. "Semoga Mah... aku cuma nggak tahan lihat dia terus di atas."

Amelia terkekeh pelan. "Sabar. Puncak itu nggak pernah nyaman terlalu lama. Tinggal tunggu waktunya runtuh."

Amelia kembali duduk. "Jadi besan aku sudah kembali?"

"Iya, Mah. Tante Aurel sudah balik dari Swiss." balas Maya.

Amelia terdiam, besannya itu selalu membuatnya iri apalagi dengan umurnya sama dengannya, tetapi Aurelia lebih terlihat modis, cantik dan elegan, berbeda dengan dirinya.

Amelia mendengus pelan, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya mengeras, jelas tak bisa menyembunyikan rasa kesal yang tiba-tiba muncul.

"Hmph... pantas saja," gumamnya sinis. "Baru pulang dari Swiss, langsung belanja berlian. Hidupnya memang cuma keliling dunia sama buang-buang uang."

Maya mengangguk pelan, ikut menimpali. "Tante Aurel itu kelihatannya nggak capek, Mah. Traveling terus, pakaiannya selalu beda, kelihatan muda terus."

Nada Maya terdengar kagum, namun cepat ia tekan saat melihat raut Amelia makin masam.

"Itu bukan awet muda," potong Amelia ketus. "Itu kebanyakan uang. Kalau Mama punya uang sebanyak dia, mama juga bisa keliling dunia tiap bulan."

Ia mendengus lagi, matanya menerawang penuh iri. "Enak sekali hidupnya. Ke luar negeri tinggal berangkat, belanja tinggal gosok kartu. Sementara Mama harus mikir ini itu."

Maya ragu sejenak, lalu berkata hati-hati, "Tapi Mah... Tante Aurel memang kelasnya beda."

"Kelas beda karena nasibnya bagus," sahut Amelia cepat. "Dapat suami kaya, hidupnya mulus. Anak perempuannya juga dimanja habis-habisan."

Ia mengepalkan tangannya. "Dan sekarang Elina ikut-ikutan. Belanja berlian miliaran, seolah mau nunjukin kalau dia lebih tinggi dari kita."

Amelia menatap Maya tajam. “Mama paling nggak suka orang pamer di depan mata. Apalagi kalau itu besan sendiri.”

Maya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan campur aduk di dadanya. “Sabar ya, Mah. Kata Mas Ares, sebentar lagi keadaan bakal berubah.”

Amelia menyeringai kecil, senyum penuh ambisi. “Iya. Biar saja sekarang mereka kelihatan menang. Nanti juga kita yang tertawa paling akhir.”

Mereka berdua terus membahas Elina yang membuat Amelia dan Maya sama-sama diliputi rasa iri. Di benak mereka, terbayang bagaimana Elina akan jatuh saat perusahaan itu akhirnya berpindah ke tangan Ares.

“Ada apa ini? Asyik benar ngobrolnya.”

Amelia dan Maya kompak menoleh. Terlihat Ares menghampiri mereka dengan langkah santai.

“Mas Ares…” ucap Maya sambil tersenyum manis. Senyum itu langsung dibalas Ares.

“Hai, sayang,” balas Ares, lalu duduk di samping Maya. Saat Ares hendak merangkulnya, Maya justru sedikit menghindar.

“Kenapa, sayang?” tanya Ares bingung.

“Mas, nanti Elina lihat, Mas. Kita belum bebas untuk bermesraan,” balas Maya pelan.

Ares tersenyum tipis, seolah tak terlalu memedulikan hal itu. “Tenang saja, sayang. Elina saat ini nginap di rumah orang tuanya.”

“Serius, Res?” sahut Amelia, nada suaranya terdengar antusias.

Ares mengangguk, lalu kembali memeluk Maya dari samping. “Iya, Mah. Mertua aku sudah balik dari Swiss,” jelas Ares.

Maya melirik Amelia sekilas, lalu menatap Ares dengan raut setengah kesal setengah tidak percaya.

“Mas tahu nggak apa yang Elina lakukan hari ini?” tanyanya pelan.

Ares mengernyit. “Kenapa memangnya?”

Maya menarik napas, seolah masih menahan dongkol. “Dia belanja berlian, Mas. Bukan satu dua juta… tapi sampai miliaran.”

Nada suaranya sengaja ditekan, namun jelas sarat rasa iri.

Ares terdiam sesaat, lalu terkekeh kecil. “Berlian? Hah… Elina memang selalu begitu. Suka hal-hal mewah.”

“Bukan cuma Elina,” sambung Maya cepat. “Tante Aurel juga. Mereka masuk toko berlian paling terkenal di mall. Semua orang sampai melongo lihat mereka.”

Maya mendengus. “Seolah mau nunjukin kalau mereka masih di atas segalanya.”

Amelia ikut menyahut, wajahnya penuh ekspresi tidak suka. “Benar, Res. Hidup mereka terlalu sempurna. Ke luar negeri, belanja sesuka hati, seakan dunia milik mereka berdua.”

Ares menyandarkan tubuhnya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Biar saja, Mah. Selagi masih bisa.”

Matanya menyipit penuh arti. “Semua itu kan dari perusahaan. Kalau nanti perusahaan itu jatuh ke tanganku, mau beli berlian berapa pun juga percuma.”

Maya menatap Ares, senyum kecil mulai muncul di wajahnya. “Mas yakin semuanya bakal berjalan sesuai rencana?”

Ares menoleh, menatap Maya penuh percaya diri. “Yakin. Elina terlalu sibuk menikmati hidupnya, sampai lupa kalau fondasinya mulai rapuh.”

Amelia tersenyum puas. “Kalau begitu, biarkan dia puas sekarang. Jatuh dari ketinggian itu rasanya lebih sakit.”

Maya mengangguk pelan, matanya berbinar tipis. Di kepalanya, bayangan Elina yang kini tersenyum dengan berlian mahal perlahan berubah menjadi sosok yang kehilangan segalanya.

“Mama ada rencana!”

Maya dan Ares kompak menatap Amelia, menunggu jawaban.

“Rencana apa, Mah?” tanya Ares, nadanya terdengar hati-hati.

Amelia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum miring—senyum yang sarat makna, seolah sebuah rencana licik telah tersusun rapi di kepalanya.

1
Gintania nia
cukup bagus
THAILAND GAERI
kok tokoh perempuannya kek lucinta luna 🤣🤣🤣🤣
Sarminem Mimi
gitu Thor aga gambar nya 👍. biar bisa ngebayangin cantik nya Elina☺️☺️😍
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Sarminem Mimi
gitu Thor ada gambar nya👍
Ophelia Roosevelt
ga punya kaca apa gimana neng..
Raisha Mieyka
𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬
Lies Atikah
mang enak ternyata bukan anak loh
Lies Atikah
si jala nk maya aman 2 saja masih tetatp bahagia ada yang ngelindungi lagi kebohongan mu hamil anak si ares aman menang banyak kamu maya
Lies Atikah
kebayang perasaan si Ares pastahu kalau anak yang di kandung si jala nk Maya adalah anak dari lelaki lain cian deh loh
Lies Atikah
semoga berjodoh yah oma
Lies Atikah
kayanya yang mandul teriak mandul 😄😄😄😄 semoga begitu
Lies Atikah
semoga yang di kandung bukan anak s Ares biar si ares jatuh dlm penyesalan yang patal
Lies Atikah
kirain lengah suka thor yang satset ginni sedikit lebih kejam bolehlah biarkan hancur merangkak dan punah.. puas👍
Lies Atikah
skalian putarkan juga perselingkuhan dan kebusukan si Arres dan si maya biar orang2 tahu
Lies Atikah
kelamaan makin lengket dan bahagia aja Si ares sama si amel bebas melakukan niu niu nya di man saja termasuk di kamar pribadi menang banyak Amel😄
Lies Atikah
nah gitu donk thor adakan saingan cowok janga menyedih kan kesan jadi lebih cantik si maya laku sampai si Ares kelepek2 jadi kasihan lina gakada pengagum yang bikin si ares cemburu
Lies Atikah
jangan lemah Lin jangan karna bucin sama si Ares berengsek kamu jadi bodoh sadar diri kamu sudah di campakan gitu harga dirimu mana ngenes banget
Lies Atikah
jangan ragu 2 untuk bertindak bener2 harus di hancur kan
Hasanah
🤣🤣 keluarga gila iri kok sama harta dan hidup orang lain mereka berada di titik itu kan Krena kerja keras lah Klian klau mau Kya gitu ya kerja jngan jdi benalu aj krjax
Hasanah
Klian ngak bersyukur udah di ksih berlian ee milih batu got 🤣🤣 ya udah nikmati aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!