Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Luka
Cahaya matahari yang menembus tirai kamar di kediaman Joharo terasa seperti jarum-jarum yang menusuk kulit. Savhelicha terbangun dalam keheningan yang menyesakkan. Seluruh persendian tubuhnya terasa seperti baru saja dihancurkan dan disusun kembali secara paksa. Rasa perih yang amat sangat menjalar di area kewanitaannya—sebuah pengingat fisik yang brutal akan gempuran liar Joharo semalam.
Ia menoleh ke samping. Pria tua itu masih terlelap, wajahnya tampak damai, seolah-olah ia tidak baru saja menghancurkan martabat seorang manusia beberapa jam lalu. Savhelicha menatap pria itu dengan kebencian yang mendidih di balik tatapan kosongnya. Di dalam hatinya, ia terus merapalkan sumpah serapah, mengutuk setiap napas yang dihirup Joharo. Baginya, pria ini bukan lagi manusia, melainkan parasit yang harus segera dimusnahkan.
Dengan tertatih-tatih, Savhelicha bangkit. Ia harus bergerak seolah tidak terjadi apa-apa agar tidak memicu kecurigaan para penjaga di luar. Ia membasuh tubuhnya dengan air dingin, mencoba menyembunyikan memar-memar keunguan di kulitnya dengan concealer tebal dan pakaian tertutup, lalu menyelinap keluar melalui pintu belakang yang ia tahu memiliki titik buta dari kamera pengawas.
Ia mengemudikan mobilnya menuju pinggiran kota, ke sebuah rumah tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan mati. Tempat itu adalah satu-satunya pelabuhan aman yang ia miliki di dunia yang kejam ini.
Begitu ia masuk ke dalam rumah yang berbau kayu lapuk dan obat-obatan, seorang pria sudah menunggunya. Pria itu mengenakan kacamata hitam dan masker medis yang menutupi separuh wajahnya. Ia tidak banyak bicara, namun gerakannya begitu telaten saat ia menuntun Savhelicha untuk duduk di sebuah meja periksa darurat.
"Dia melakukannya lagi, bukan?" suara pria itu berat, serak, dan sarat akan kemarahan yang tertahan.
Savhelicha tidak sanggup menjawab. Begitu pria itu menyentuh bahunya untuk memeriksa luka lebam di sana, tangisnya yang selama ini ditahan akhirnya pecah. Isak tangis itu berubah menjadi raungan yang menyakitkan, meluapkan segala penderitaan, penghinaan, dan kebencian yang ia simpan selama berbulan-bulan menjadi budak seks Joharo.
Pria bermasker itu menghela napas panjang, sebuah dengusan kesal yang bercampur dengan rasa kasihan yang mendalam. Ia mulai membuka perban lama dan mengoleskan salep penyembuh. Dengan sangat profesional, ia memeriksa setiap inci luka di tubuh Savhelicha, termasuk bagian-bagian yang paling privat dan memalukan.
Saat ia mendapati adanya robekan pada jaringan intim Savhelicha akibat gempuran kasar Joharo semalam, pria itu berhenti sejenak. Rahangnya mengeras. Ia menatap luka itu dengan tatapan yang penuh amarah—bukan karena nafsu, melainkan karena rasa empati terhadap kehancuran wanita di depannya. Ia mengambil kapas steril dan cairan antiseptik, lalu membersihkan luka tersebut dengan sangat hati-hati, memastikan Savhelicha tidak merasa lebih sakit lagi.
"Maafkan aku," bisik Savhelicha di sela-sela isaknya. "Aku... aku tidak bisa lagi menahan ini sendirian."
Pria itu tetap diam, fokus pada pekerjaannya. Ia tahu betapa hancurnya jiwa Savhelicha. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Savhelicha terus meminum pil KB agar tidak memberikan keturunan bagi Joharo. Ia juga satu-satunya orang yang tahu bahwa Savhelicha sebenarnya sedang menyusun rencana untuk meracuni pria tua itu secara perlahan.
"Dengar," pria itu bersuara saat ia selesai membalut luka Savhelicha dengan kain kasa bersih, "aku sudah mengumpulkan data yang kau minta tentang akses keuangan Joharo di luar negeri. Dan aku juga sudah mulai memantau pergerakan orang-orang kepercayaannya."
Savhelicha menatap pria itu dengan mata yang sembap. "Apakah ini akan berakhir? Apakah aku bisa keluar dari sangkar ini?"
Pria itu membuka maskernya sejenak untuk meminum air, memperlihatkan wajah yang sebenarnya—sebuah wajah yang penuh dengan tekad untuk membalas dendam. "Jika kita melakukannya dengan benar, dia tidak akan hanya kehilangan hartanya, tapi dia akan kehilangan segalanya. Tapi kau harus tetap bertahan. Kau harus tetap menjadi bonekanya sedikit lebih lama lagi."
Savhelicha mengangguk, merasa sedikit lega meskipun tubuhnya masih terasa remuk. Pria itu kemudian membantu Savhelicha mengenakan pakaiannya kembali, gerakannya penuh rasa hormat, sangat kontras dengan cara Joharo memperlakukannya.
"Pergilah sekarang sebelum dia terbangun dan menyadari kau tidak ada," kata pria itu.
Savhelicha bangkit, meski masih merasa sakit. Sebelum ia melangkah pergi, ia menoleh ke arah pria bermasker itu. "Terima kasih... karena kau satu-satunya yang masih melihatku sebagai manusia."
Pria itu hanya mengangguk kecil, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar. Di dalam hatinya, ia sudah mematri janji: hari di mana Joharo akan membayar setiap tetes air mata dan setiap luka di tubuh Savhelicha akan segera tiba. Pria itu adalah sekutu paling berbahaya yang dimiliki Savhelicha, dan bersama-sama, mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledakkan kehancuran di rumah Joharo.
Savhelicha kembali ke kediaman Joharo dengan perasaan yang berbeda. Rasa takutnya kini telah tergantikan oleh api dendam yang lebih dingin dan terukur. Ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia akan tetap menjadi budak yang patuh, menelan pil KB-nya setiap hari, dan membiarkan Joharo merasa berada di atas angin, sampai saatnya tiba bagi pria tua itu untuk hancur tanpa sisa.