NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Hujan Dari Hati

Langit Jakarta masih diselimuti mendung ketika Arga duduk di ruang rapat utama Wijaya Group. Di hadapannya, layar proyektor menampilkan laporan kuartalan perusahaan yang dipresentasikan secara bergantian oleh para direktur.

Biasanya Arga akan memperhatikan setiap angka dengan saksama, tetapi hari itu pikirannya sama sekali tidak berada di ruangan tersebut. Suara para peserta rapat terdengar samar di telinganya, sementara bayangan Nadira justru terus memenuhi kepalanya.

"Jadi untuk divisi manufaktur kami memperkirakan pertumbuhan enam persen pada kuartal berikutnya."

Arga mengangguk pelan tanpa benar-benar menyimak. Ia bahkan baru menyadari bahwa seluruh peserta rapat sedang menunggu tanggapannya ketika salah satu direktur kembali membuka suara.

"Bagaimana menurut Bapak mengenai usulan investasi ini?"

Arga terdiam beberapa detik. Tatapannya masih tertuju pada berkas di depan, tetapi isi pikirannya melayang ke malam sebelumnya. Ia teringat wajah Nadira yang panik saat dikejar wartawan, panggilan telepon yang tidak sempat ia angkat, hingga kamar kosong ketika pulang larut malam. Semua bayangan itu membuatnya kehilangan fokus.

"Pak Arga?"

Suara itu membuyarkan lamunannya. Arga mengangkat kepala dan mendapati seluruh mata sedang tertuju kepadanya. Untuk pertama kalinya sejak memimpin perusahaan, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

"Maaf," ucapnya pelan sambil mengembuskan napas panjang. "Tolong ulangi pertanyaannya."

Suasana ruang rapat mendadak sunyi. Beberapa direktur saling berpandangan, begitu pula Vania, sebagai sekretaris yang duduk di samping Arga. Mereka mengenal Arga sebagai sosok yang selalu menguasai jalannya rapat, bahkan mampu mengingat detail terkecil dari setiap laporan. Melihat pria itu kehilangan konsentrasi adalah sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi.

Rapat akhirnya ditutup lebih cepat dari jadwal. Satu per satu peserta meninggalkan ruangan, menyisakan Arga yang masih duduk diam di kursinya. Ia menatap layar ponsel yang tergeletak di atas meja, berharap ada satu pesan dari Nadira. Namun layar itu tetap kosong. Tidak ada kabar, tidak ada balasan, dan justru keheningan itulah yang semakin membuat dadanya terasa sesak.

Satu jam kemudian, Arga sudah duduk di sebuah coffee shop yang dulu hampir setiap minggu mereka datangi semasa kuliah. Tempat itu tidak banyak berubah. Aroma kopi masih memenuhi ruangan, lagu-lagu akustik masih diputar pelan, bahkan meja di dekat jendela yang dulu sering mereka tempati masih kosong.

Satria datang sambil membawa dua gelas kopi. Begitu duduk, ia langsung memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak jauh lebih lelah daripada biasanya.

"Jarang banget CEO sesibuk kamu ngajak ketemu mendadak," ujarnya sambil mendorong satu gelas kopi ke arah Arga. "Ada masalah di kantor?"

Arga menggeleng pelan. Ia tidak langsung menyentuh kopinya. Pandangannya justru tertuju pada uap hangat yang perlahan menghilang dari permukaan gelas.

"Satria... menurutmu seseorang bisa berubah?"

Pertanyaan itu membuat Satria mengernyit. Ia sudah mengenal Arga belasan tahun. Sahabatnya itu bukan tipe orang yang berbasa-basi sebelum masuk ke inti pembicaraan.

"Berubah soal apa?"

Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita. Ia mengaku bahwa sejak awal dirinya memang menikahi Nadira hanya demi memenuhi syarat wasiat kakeknya. Semua yang ia lakukan, mulai dari melunasi utang toko buku hingga memberikan kehidupan yang layak untuk Nadira, awalnya hanya dianggap sebagai bagian dari isi kontrak. Namun, tanpa ia sadari, semuanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dijelaskan dengan logika.

"Aku mulai hafal pelanggan tetap tokonya," ucap Arga pelan. "Aku tahu buku apa yang sedang dia baca. Aku bahkan terbiasa menjemputnya setiap sore, padahal itu sama sekali nggak ada di kontrak."

Ia tertawa hambar, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.

"Yang lebih aneh lagi, semua itu kulakukan tanpa pernah merasa dipaksa." Tatapan Arga langsung berubah. "Waktu Nadira nggak pulang kemarin, kita sempet salah paham. Aku panik. Aku takut."

"Karena media nanti naba baikmu tercoreng?"

Arga menggeleng. "Bukan."

"karena nama baik perusahaan?"

"Bukan."

"Lalu?"

Arga mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku takut dia kenapa-kenapa."

Suasana kembali hening. Suara mesin pembuat kopi terdengar samar dari balik meja barista. Satria akhirnya tersenyum kecil. "Akhirnya kamu mengaku juga. Kamu jatuh cinta."

Arga spontan menggeleng. "Nggak sesederhana itu."

"Justru sesederhana itu." Satria menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dulu waktu kamu mau nikah sama Bianca, kamu memang sayang sama dia. Tapi aku nggak pernah lihat kamu kehilangan fokus kayak sekarang."

Arga terdiam.

"Kamu tetap kerja seperti biasa. Tetap dingin. Tetap bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan." Satria menunjuk wajah Arga. "Tapi lihat keadaanmu hari ini. Tadi pagi aku dengar kamu sampai salah menjawab saat rapat."

Arga tidak membantah.

"Kamu bahkan rela meninggalkan kantor cuma buat ngobrol sama aku. Itu bukan Arga yang selama ini aku kenal."

Arga menatap cangkir kopinya tanpa berkedip. "Aku cuma merasa bersalah."

Satria menggeleng pelan. "Kalau cuma merasa bersalah, kamu nggak akan kepikiran setiap menit." Ia berhenti sejenak sebelum kembali berkata, "Kalau cuma tanggung jawab, semua selesai ketika warisan sudah berpindah tangan."

"Lalu kenapa sampai sekarang kamu masih kepikiran Nadira?"

Pertanyaan itu membuat Arga kehilangan kata-kata. Satria kembali melanjutkan. "Kamu tahu kapan seseorang benar-benar jatuh cinta?"

Arga mengangkat pandangannya.

"Ketika dia mulai takut kehilangan."

Kalimat itu menghantam tepat ke dalam hati Arga. Bayangan Nadira kembali muncul. Wajahnya ketika tersenyum saat memasak bersama. Wajahnya saat mengantarkan bekal ke mobil. Wajahnya ketika menangis setelah dirinya menerima telepon Bianca. Semua potongan kenangan itu datang begitu saja tanpa diminta.

Arga baru sadar, selama ini bukan Nadira yang perlahan masuk ke dalam hidupnya. Melainkan dirinya sendiri yang tanpa sadar sudah memberikan ruang untuk perempuan itu.

"Aku..." ucapnya lirih.

Satria tersenyum tipis. "Kamu nggak perlu menyangkal lagi. Kamu mencintai istrimu."

Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika ponsel Arga yang tergeletak di atas meja bergetar.

Nama Nadira muncul di layar.

Jantung Arga langsung berdetak lebih cepat. Tanpa menunggu dering kedua, ia segera mengangkat panggilan itu.

"Nad?"

Suara di seberang terdengar pelan, tetapi sangat tenang. "Mas... kamu lagi sibuk?"

"Nggak. Ada apa?"

"Aku mau ketemu."

"Tentu. Kamu di mana? Aku sekarang juga ke sana."

Beberapa detik berlalu sebelum Nadira kembali berbicara. "Aku mau membahas soal kontrak kita."

Firasat Arga berubah tidak enak.

"Warisan kamu sudah resmi. Semua utang toko juga sudah lunas. Semua kewajiban yang ada di kontrak sudah selesai." Suara Nadira terdengar sangat tenang. Terlalu tenang. "Aku rasa... sudah waktunya kita mengakhiri semuanya."

Arga langsung berdiri dari kursinya. "Nadira..."

"Aku ingin bercerai, Mas."

Kalimat itu membuat dunia Arga seolah berhenti berputar. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia langsung meraih kunci mobil di atas meja.

Satria hanya memandang punggung sahabatnya yang berlari meninggalkan coffee shop. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga Wijaya tidak lagi berlari mengejar warisan. Ia sedang berlari mengejar perempuan yang tidak ingin ia kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!