"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERCYDUK
“Bagaimana model baru itu?” tanya Wilona sembari bergelayut manja dengan Bang Anton di dalam sebuah apartemen. Lelaki paruh baya itu tak menjawab langsung, malah mencumbu bibir manis sang model. “Jawab dong, gak bakal aku kasih jatah nanti!” ancam Wilo dengan suara manja. Bang Anton hanya tersenyum, mendengar ancaman yang tak masuk akal itu.
“Pegang dulu nanti aku cerita,” ujar Bang Anton sembari menggesekkan area yang sudah berdiri tegak, layaknya sebuah keadilan. Wilona berdecak sebal, namun melakukannya juga. “Kamu memang yang terbaik,” ucap Bang Anton kembali melumat bibir Wilo dengan sedikit menuntut.
“Udah ah, ayo bilang!” desak Wilo, karena ia tidak akan menikmati permainan sebelum sang kekasih bercerita tentang model baru, Zifa. Wilo tadi sempat mendengar beberapa kru di set sebelah, bahwasannya Zifa sangat kooperatif dan bisa cepat beradaptasi meski bekerja dengan balita, dan Arkan. Malah ada yang bilang Zifa adalah next Wilo, ditambah postur tubuh Zifa yang bagus sekali.
“Bagus, wajahnya cantik, dan hasil pemotretannya fotogenic,” ucap Bang Anton sesuai laporan dari Refan. Mood Wilo langsung buruk, ia cemberut.
“Selagi kamu masih dipercaya memegang produk, gak usah cari gara-gara dulu, biarkan Zifa berkarya sesuai kontrak yang dijalani. Toh, kamu di luar perusahaan juga masih ada pemotretan dari brand oke juga!” saran Bang Anton layaknya menasehati anak buahnya. Lelaki ini memang santai, tak begitu ambis dalam suatu pekerjaan. Baginya selagi bisa berkontribusi, maka lakukan dengan sebaik mungkin tanpa melihat pencapaian seseorang, apalagi sampai terjadi tindak kekerasan.
“Ck, kamu kok bisa ngomong begitu sama aku. Aku ini kekasihmu loh, nanti kalau kamu yang disuruh handle pemotretan dia, kamu bisa saja berpaling dari aku. Duh, gak bisa membayangkan aku dibuang perusahaan dicampakkan kekasihku lagi” omel Wilo berlagak dia cemburu, padahal dia gak mau ada saingan dalam segala aspek.
Bang Anton tak perlu menjawab dengan kata, ia menghimpit tubuh Wilona segera menikmati malam panas yang tak akan pernah bosan ia lakukan. Jiwa mudanya bangkit bila berdekatan dengan Wilo, sangat berbeda bila di dekat istri sahnya. Bang Anton bertahan hanya untuk anak-anak, soal cinta mah sudah menguap entah ke mana pada istrinya.
Keduanya saling memanjakan satu sama lain, tak ingat dosa, dan merasa tak bersalah pada wanita yang telah menemani Bang Anton dari 0. Bang Anton begitu berhasrat, hingga Wilo selalu kesusahan mengimbangi. Mungkin lelaki itu sedang puber kedua, tenaganya tak ada habisnya.
“Aku sampai Sayang!” teriak Bang Anton dengan memejamkan mata. Wilona pun mengeratkan cengkraman di lengan sang kekasih, selalu saja pria paruh baya ini bisa mengajaknya mencapai kepuasaan dunia. Keduanya memejamkan mata, sembari menetralkan nafas yang memburu. Hampir saja terbang ke dalam mimpi, suara pintu terbuka, antara sadar dan tidak sadar, namun Wilo dan Bang Anton hanya menganggap suara angin lalu saja. Keduanya merapatkan pelukan, hingga pintu kamar terbuka keras.
Kedua anak Bang Anton datang, sontak saja sepasang kekasih itu kaget setengah mati. Terlebih putri Bang Anton sudah mengarahkan kamera. Wilona berteriak, “Matikan kameranya, Bangs*t!”
“Wah ada yang ketakutan nih, gimana kalau penampilan kalian berdua ini tersebar ke akun gossip. Akan aku berikan gratis,” ancam putri Bang Anton semakin mengarahkan kamera tersebut, seolah ingin mengambil wajah lelah Wilo secara close up.
“Dek, jangan, Dek! Papa bisa jelaskan kenapa Papa bisa begini!” Bang Anton ketakutan, ia sampai hampir terjatuh mencari boxernya.
“Sudah cukup, Dek. Kita sudah tahu posisi, Papa. Yuk Pulang!” ucap putra Bang Anton. Mahasiswa itu sedang menahan amarah, jangan sampai menonjok sang papa dengan brutal. Putri Bang Anton mematikan kamera, dan segera menyimpan ponselnya. Ia menatap papa lalu ke perempuan nakal tersebut. Tatapannya sangat hancur, mewakili perasaan sang mama.
“Aku tidak akan pernah takut kehilangan papa, karena papa telah tega menyakiti hati mamaku yang setia, dan aku harus siap bila suatu saat karma papa datang menghampiriku, papa tega pada keluarga kita demi perempuan murahan seperti dia. KALIAN BENAR – BENAR SAMPAH!” teriak putri Bang Anton dengan melempar sepatunya ke kening Wilona.
Sepeninggal anak Bang Anton, Wilona marah besar. Kenikmatan dunia yang baru saja mereka rengkuh hilang, berganti dengan ketakutan akan hancurnya karir keduanya. “Bagaimana ini! Kok bisa mereka tahu pin apartemen kamu sih,” protes Wilona. Namun Bang Anton hanya diam. Ia masih terbayang hancurnya sang putri. Sungguh, meski dia bejat dan berkhianat pada sang istri, tapi dia tak rela sang anak terluka melihat kelakuaanya.
“Mas kamu dengar aku gak sih!” Wilona berbicara kasar pada Anton.
“Bisa diam gak!” sentak Bang Anton, kalau sudah menyangkut kedua anaknya, Bang Anton tak bisa berkutik.
“Kamu itu sudah tidak dianggap ayah bagi mereka. Sudahlah gak usah kepikiran, lagian istri kamu juga gak bakal gugat cerai. Bisa apa dia tanpa kamu! Perempuan kok hanya mengandalkan uang suami, kalau diselingkuhi begini merasa tersakiti sekali!” oceh Wilona tanpa sadar memancing emosi Bang Anton. Lelaki itu berbalik dan langsung mencengkram pipi Wilona.
“Gue bilang diam, gak usah banyak baco*! Yang harus lo pikirkan itu masa depan lo. Karir gue hancur gak masalah, gue bisa perbaiki hidup dengan istri dan anak-anak gue! Sedangkan lo?” sentak Bang Anton kasar. Menurutnya, situasi begini sudah tidak bisa menyelamatkan karir mereka. Tak perlu ocehan apalagi sampai menghina istrinya, tingga memikirkan bagaimana menghadapi video yang kemungkinan besar akan disebar sang putri, sebagai balas sakit hati mereka.
“Aku sendiri yang menanggung? Kalau kamu sampai lari dan tak mau mengakui kesalahan kita, jangan salahkan aku kalau aku bicara di luar fakta!” ancam Wilona. Percayalah, hubungan yang diawali dengan kesalahan akan menjadi boomerang bagi pelaku.
“Terserah!” balas Bang Anton sembari memakai baju dan keluar kamar begitu saja. Bahkan lelaki itu tak menghiraukan teriakan Wilona.
“Bangsa*, kenapa jadi begini sih!” Wilona sampai menjambak rambutnya frustasi. Ia segera mengambil ponselnya. Memantau media sosial apakah video itu sudah diunggah. Malam ini dia tidak akan tidur, “Sialan memang anak si Anton itu! Kalau Bapaknya sudah gak mau sama ibunya juga ngapain dipaksa. Merugikan gue tahu,” masih saja Wilo tak merasa bersalah. Harusnya kalau dia punya empati, introspeksi bukan malah menyalahkan putri Bang Anton.
Sang putri tidak akan bertindak sejauh ini kalau tabiat Wilo tak merusak keutuhan rumah tangga mereka. Bagaimana tidak, istri Bang Anton sampai masuk rumah sakit akibat asam lambung tinggi, dan Bang Anton sama sekali tak mendampingi, sebagai anak, pasti mereka gergetan. Tak perlu melabrak hingga terjadi kekerasan fisik, cukup rekam tabiat jijik pasangan kekasih gelap itu dan karir mereka siap hancur seketika.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...