NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Hingga akhirnya, suara langkah kaki yang sempat terdengar mendekat itu perlahan menjauh, lalu terdengar jelas suara tep... tep... tep... yang semakin lama semakin samar menuruni tangga kembali ke lantai bawah.

Stella sudah pergi!

Dengan napas yang masih tertahan, Adera perlahan melepaskan tangannya dari mulut Damar. Wajahnya terlihat lega namun masih terlihat sangat tegang.

"Maaf... maafin aku " ucap Adera cepat sambil mundur sedikit memberi jarak, wajahnya memerah karena rasa bersalah. "Aku bener-bener gak bermaksud kasar atau bertindak seenaknya sama kamu."

Damar yang masih merasakan sensasi hangat di bibir dan pipinya, mengusap bibirnya pelan dengan punggung tangan. Dia menatap Adera dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.

"Tidak apa-apa..." jawab Damar pelan, suaranya terdengar sedikit serak. "Tapi tolong jelaskan padaku... sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kita harus bersembunyi seketika seperti ini? Siapa orang tadi?"

Adera menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dan mengatur emosinya. Dia menatap lurus ke mata Damar, mencoba menjelaskan situasinya dengan jujur.

"Orang yang tadi itu... namanya Stella," mulai Adera pelan, nada suaranya terdengar berat dan sedikit getir. "Dia sepupuku. Tapi... dia itu orangnya pick me girl."

Adera memainkan jarinya sendiri dengan gugup, lalu melanjutkan penjelasannya.

"Dia itu... selalu ingin punya apa yang aku punya. Selalu ingin merebut apapun yang ada di tanganku. Selalu ingin jadi pusat perhatian dan selalu ingin terlihat lebih baik dariku," ucap Adera jujur, matanya menatap Damar dalam.

"Jadi kalau dia tahu kamu ada di sini sama aku... atau kalau dia tahu kamu mendekatiku... aku yakin dia bakal berusaha cari cara buat ngambil kamu juga, sama kayak dia ngambil hal-hal lain yang dulu pernah jadi milikku."

Suasana kembali hening. Damar mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu dengan seksama. Dia mulai mengerti... ternyata ada orang yang berniat buruk terhadap Adera, dan ternyata gadis itu selama ini menyimpan rasa tidak aman karena ulah orang tersebut.

Mendengar penjelasan Adera yang terdengar begitu cemas dan takut kehilangan, Damar justru tersenyum tenang. Senyumnya sangat teduh, hangat, dan mampu menghapus semua ketakutan yang ada di hati gadis itu seketika.

Dengan gerakan perlahan, Damar mengulurkan kedua tangannya yang besar dan hangat. Dia menggenggam kedua tangan mungil Adera dengan lembut namun erat, mengunci jari-jari mereka saling bertautan.

"Dengarkan aku baik-baik ya Adera..." ucap Damar pelan namun tegas, matanya menatap manik mata Adera dalam-dalam.

"Aku bukan barang atau mainan yang bisa seenaknya dipindah tangan atau direbutkan orang lain begitu saja. Aku punya pikiran, aku punya hati, dan aku tahu persis apa yang aku mau."

Damar mengeratkan genggamannya sedikit, menyalurkan rasa aman dan kekuatan.

"Aku tidak semudah itu untuk dipengaruhi atau diambil orang, percayalah padaku," lanjut Damar lembut. "Satu-satunya orang yang aku harapkan, satu-satunya orang yang aku tunggu, dan satu-satunya orang yang aku inginkan saat ini... hanyalah kamu."

Dengan cepat Adera melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Damar.

"Sepertinya dia sudah turun, ayo kita keluar," kata Adera mengalihkan topik.

 

Malam semakin larut, acara syukuran pun akhirnya usai. Para tamu undangan satu per satu mulai berpamitan pulang, meninggalkan suasana rumah yang tadinya ramai kini perlahan menjadi tenang dan hening.

Adera baru saja turun dari lantai atas, wajahnya masih terlihat sedikit memerah dan bingung campur aduk setelah momen manis bersama Damar tadi. Dia berjalan menuju ruang tengah di mana Papanya, Mamanya, dan juga Denial sedang berkumpul sambil menikmati sisa hidangan dan mengobrol santai.

Begitu melihat Adera datang, Denial langsung menyengir lebar. Senyum jahil dan penuh arti terukir jelas di wajahnya. Dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya memanggil adiknya.

"Nah nih... yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga!" seru Denial dengan nada menggoda. "Sini duduk dong Adera, Kakak mau ngomong penting nih sama kamu."

Adera mengerutkan kening bingung, lalu berjalan mendekat dan duduk di ujung sofa.

"Ngomong apaan sih Kak? Apaan lagi nih?" tanya Adera curiga.

Denial tertawa kecil, lalu menatap adiknya dengan tatapan bangga sekaligus menggoda.

"Gimana perkembangannya? Kakak sudah gak sabar jadi Kakak Ipar-nya Direktur Utama Rumah Sakit Adisakti!" ucap Denial panjang lebar dengan nada bangga. "Belum lagi dia itu dokter bedah paling terkenal, paling hebat, dan paling disegani di RS. Wah... adik Kakak emang hebat ya, bisa dapetin hati orang nomor satu di RS!"

"Wah iya tuh Nak..." sambung Papa Adera yang ikut tersenyum lebar. "Damar itu anak muda yang luar biasa. Sopan, cerdas, berwibawa, dan sangat bertanggung jawab. Papa sangat suka sama sikap dan karakternya. Sungguh kebanggaan besar kalau kita bisa bersatu dengan keluarganya."

Mama Adera pun ikut menimpali dengan wajah yang sangat bahagia dan penuh haru.

"Iya betul kata Papamu, Sayang..." kata Mama lembut sambil memegang tangan Adera. "Mama lihat cara Damar memandangmu... tatapannya itu penuh cinta dan rasa sayang yang tulus. Dia benar-benar serius sama kamu Der, Mama bisa merasakannya."

Adera hanya bisa terdiam, wajahnya memerah padam mendengar pujian-pujian itu. Dia belum sempat menjawab sepatah kata pun, ketika tiba-tiba Papa mengucapkan sesuatu yang membuat dunia Adera seakan berhenti berputar.

"Jadi begini Nak..." ucap Papa dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. "Papa dan Mama sudah melihat semuanya. Kami berniat untuk melanjutkan perjodohan itu."

Papa Adera menarik napas panjang, lalu menatap Adera dengan tatapan serius namun lembut.

"Menurut Papa, sebaiknya jangan menunggu lama lagi. Papa mau Adera segera bertunangan dengan Damar... atau langsung menikah saja," kata Papa Adera tegas.

Seolah tersambar petir di siang bolong, tubuh Adera langsung kaku lemas.

Matanya membelalak lebar tak percaya, mulutnya terbuka namun tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campuran antara kaget, malu, panik, bercampur menjadi satu.

"Hah?! M-Menikah?!" seru Adera akhirnya dengan suara terbata-bata, wajahnya pucat pasi lalu berubah merah padam seketika. "Pa... Ma... Kak... jangan nakutin Adera dong?! Kok tiba-tiba banget sih?! Aku... aku belum siap lho!"

Adera benar-benar terkejut bukan main! Dia tidak pernah menyangka kalau orang tuanya akan secepat ini dan seantusias ini mendorong mereka untuk segera melangkah ke jenjang pernikahan. Semuanya terasa begitu cepat, begitu mendadak, dan membuat kepalanya pening campur aduk!

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!