Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Setelah beberapa menit menangis tergugu di pelukan Elvan, napas Keana perlahan mulai teratur. Isakannya mereda, menyisakan sesenggukan kecil.
Gavin dengan sigap menyodorkan segelas air putih hangat yang sedari tadi dipegangnya.
"Minum dulu pelan-pelan, Dek. Tenggorokan mi pasti sakit habis teriak-teriak tadi."
Elvan membantu Keana bersandar pada bantal yang telah ditumpuk tinggi, lalu menerima gelas dari Gavin untuk membantu adiknya minum. Dinginnya air itu perlahan membantu kesadaran Keana kembali sepenuhnya ke dunia nyata. Ia menatap sekeliling kamar VVIP yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk sekolah dan bau asap yang menyesakkan.
"Makasih, Kak El... Kak Gav..." gumam Keana lirih, suaranya parau hampir habis.
Keana memegangi gelas kaca itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar. Air yang mengalir di tenggorokannya perlahan memberi rasa nyaman, namun pikirannya justru melayang jauh, kembali tenggelam ke dalam keheningan yang ia rasakan beberapa saat lalu saat ia tak sadarkan diri.
Ia hanya diam membisu, menatap riak air di dalam gelas dengan pandangan kosong.
Melihat adiknya mendadak melamun dengan tatapan sendu. Gavin dan Elvan saling pandang, menyadari ada sesuatu yang mengganjal di hati Keana.
"Kea? Ada apa? Masih ada yang sakit?" tanya Elvan lembut, memecah keheningan sembari merapikan anak rambut Keana yang basah oleh keringat dingin.
Keana menggeleng pelan. Ia meletakkan gelasnya di atas meja nakas dengan bantuan Gavin, lalu menatap kedua abangnya bergantian. Matanya kembali berkaca-kaca, bukan karena takut pada api, melainkan karena rasa rindu yang teramat sangat yang baru saja membuncah di dadanya.
"Kea kangen ibu sama ayah" ucapnya sendu.
"Kakak tahu, Dek. Kakak tahu kamu kangen banget sama mereka," bisik Gavin lembut, membiarkan Keana menumpahkan seluruh rasa rindunya.
"Wajar banget kalau kamu kangen. Tapi ingat, mereka selalu mengawasi mu dari sana, dan mereka pasti sedih kalau melihat Tuan Putri kesayangan mereka ini nangis terus."
Elvan yang duduk di sisi ranjang hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan sendu yang jarang sekali ia perlihatkan. Tangan Elvan terulur, menggenggam jemari Keana, memberikan kehangatan yang menyalurkan kekuatan fisik dan mental.
"Kea, mendiang Ayah dan Ibu kamu adalah orang-orang hebat yang melahirkan anak perempuan yang sangat kuat," ucap Elvan dengan suara rendahnya yang menenangkan.
"Rasa kangen itu tidak akan pernah hilang, dan kamu tidak perlu membuangnya. Simpan memori indah tentang mereka di tempat terbaik di hatimu. Tapi ingat, di sini, di dunia nyata ini... kamu masih punya kami. Ada Papa, Mama, Gavin, dan aku yang akan selalu ada untuk memelukmu setiap kali kamu merasa rindu."
Keana mengangguk pelan. Air matanya masih menetes, namun kali ini bukan lagi karena ketakutan yang mencekam, melainkan karena kelegaan luar biasa. Beban berat yang selama lima tahun ini ia pikul sendirian di dalam dadanya perlahan terasa terangkat setelah ia berani menyuarakan kerinduan dan traumanya kepada kedua kakaknya.
"Makasih, Kak El... Kak Gav..." gumam Keana dengan suara sengau khas orang habis menangis.
"Sama-sama, bawel," sahut Gavin sambil mengecup puncak kepala Keana, lalu perlahan melepas pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipi adiknya dengan ibu jari.
"Nah, sekarang mending kamu istirahat lagi. Tapi awas ya, jangan mimpi aneh-aneh lagi. Capek gue senam jantung seharian lihat lo pingsan terus histeris kayak tadi."
Keana mendengus geli mendengar gerutuan Gavin, sementara Elvan hanya menggelengkan kepala melihat cara konyol adiknya yang selalu berhasil mengembalikan senyum di wajah Keana.
*********
Setelah malam yang emosional dan melelahkan, Keana akhirnya bisa kembali memejamkan mata dengan tenang. Kali ini, tidak ada lagi mimpi buruk tentang kobaran api atau sesak napas yang menyiksa. Ia tertidur sangat pulas hingga keesokan paginya.
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rawat VVIP, membawa kehangatan baru. Perlahan, Keana membuka matanya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan dadanya tidak lagi sesak seperti kemarin.
Sekitar pukul setengah delapan pagi, pintu kamar terbuka. Dr. Rian masuk dengan senyum ramah khasnya, membawa papan rekam medis Keana.
"Selamat pagi, Keana. Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya dr. Rian hangat sambil mulai memeriksa refleks mata dan menempelkan stetoskop di dada Keana untuk mendengarkan detak jantungnya.
"Pagi, Dok. Jauh lebih baik dari kemarin," jawab Keana dengan suara yang sudah kembali jernih, meski masih ada sedikit sisa lemas.
"Bagus sekali. Detak jantungmu sudah stabil di angka 78 kali per menit, saturasi oksigenmu juga sempurna di 99% tanpa bantuan alat," ujar dr. Rian puas. Ia menatap Elvan dan Gavin yang tampak setia berjaga di sofa dengan mata yang agak sembab.
"Secara klinis, kondisi fisik Keana sudah pulih dari syoknya. Hari ini tinggal pemulihan energi saja."
"Baik, terima kasih, dok" ucap Gavin.
Tidak lama setelah Dokter Rian menyelesaikan pemeriksaannya, pintu kamar kembali terbuka. Papa Arland dan Mama Soraya melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih segar setelah sempat beristirahat di rumah. Di tangan Mama Soraya, tercium aroma harum masakan rumah yang langsung menggugah selera.
"Selamat pagi, anak-anak Mama," sapa Mama Soraya lembut. Beliau langsung menghampiri ranjang Keana, mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Wah, pipi anak Mama sudah mulai merah lagi. Sudah lapar, Sayang?"
Keana mengangguk dengan senyum malu-malu.
"Mama bawa sup asparagus ayam hangat dan roti panggang untuk Keana," kata Mama Soraya sambil menata makanan di atas meja dorong. Beliau kemudian menoleh ke arah kedua putranya yang masih terduduk di sofa.
"Dan untuk para pelindung Keana yang hebat, Mama juga bawakan nasi goreng mentega kesukaan kalian. Ayo dimakan dulu."
Gavin langsung bangkit berdiri dengan mata berbinar. "Wah, pas banget, Ma! Perut Gavin sudah demo dari subuh tadi."
Di tengah suasana hangat sarapan pagi itu, Elvan berdiri dari duduknya. Ia merapikan kemejanya yang sudah kusut sejak kemarin siang.
"Pa, Ma, Elvan pulang dulu sebentar untuk mandi dan membersihkan diri," pamit Elvan.
"Kebetulan hari ini Elvan ada jadwal shift siang di rumah sakit ini, jadi setelah itu El akan langsung kembali lagi untuk bekerja."
"Iya, El. Pulanglah dulu, kamu sudah terjaga semalaman. Terima kasih ya sudah menjaga adikmu," ucap Papa Arland sambil menepuk pundak putra sulungnya dengan bangga.
Elvan mengangguk pelan. Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri mengusap pelan rambut Keana.
"Kakak pergi dulu. Jangan nakal, habiskan makananmu."
"Iya, Kak El. Hati-hati di jalan," jawab Keana tulus, menatap punggung tegap kakaknya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar rawat. Kali ini ia bisa melihat sisi lembut dari kakak pertamanya itu.
Setelah selesai sarapan bersama Keana dan Gavin di dalam kamar, Papa Arland pamit keluar sebentar untuk menuju ruang dokter Rian untuk berdiskusi mengenai kondisi Keana dan bahkan Keana sudah mendapatkan izin untuk pulang. Namun, Keana harus melakukan kontrol dengan psikolog. Setelah mendapatkan informasi itu, Papa Arland keluar dari ruangan dokter Rian.
Lorong lantai VVIP pagi itu tergolong sepi dan tenang, hanya ada beberapa perawat yang lalu lalang.
Saat Papa Arland sedang berjalan kembali menuju kamar rawat Keana, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung lorong, dekat jendela besar, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas formal yang rapi. Pria itu berbalik, menatap Papa Arland dengan senyum sinis yang sangat familiar.
Papa Arland mengernyitkan dahi, terkejut. Baginya, pertemuan ini adalah sebuah ketidaksengajaan yang buruk.
"Imran? Sedang apa kamu di sini? Siapa yang sakit?" tanya Papa Arland, berusaha tetap sopan namun nadanya terdengar waspada.
Imran melangkah maju, ketukan sepatu pantofelnya terdengar konstan di atas lantai porselen. "Tentu saja keponakan kandung saya yang sedang terbaring di dalam sana."
Papa Arland menegang. Rumah sakit ini memiliki sistem privasi yang sangat ketat terutama di kelas VVIP. Bagaimana pria ini bisa tahu?
"Kamu tidak perlu heran," ucap Hendra seolah bisa membaca pikiran Papa Arland. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Papa Arland, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan gestur meremehkan.
"Jaringan saya cukup luas untuk mengetahui jika ada kebakaran di sekolah yang membawa anak angkatmu ke sini sejak siang kemarin. Dan saya sengaja meluangkan waktu pagi ini, berdiri di lorong ini, hanya untuk menunggumu keluar."
Sorot mata Imran berubah menjadi tajam dan dingin. Ia langsung melayangkan serangan verbal tanpa basa-basi.
"enam tahun lalu, saat pengadilan memberikan hak asuh Keana kepadamu dan Soraya, kamu berjanji di depan pengadaan kalau kamu bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik dan aman untuk dia. Kamu meyakinkan semua orang dengan gelar doktermu yang hebat itu," sindir Imran dengan kekeh amoral.
"Tapi apa yang saya lihat kemarin? Keana drop, pingsan, dan mengalami trauma akut di sekolahnya sampai harus masuk IGD. Kamu seorang Dokter Spesialis Bedah Jantung yang diagung-agungkan di rumah sakit ini, tapi menjaga satu anak perempuan dari masa lalunya saja... kamu tidak becus, Arland."
Rahang Papa Arland mengeras. Penghinaan itu terasa begitu menohok dadanya, terutama karena ia baru saja dirundung rasa bersalah semalaman akibat menyembunyikan trauma Keana. Namun, sebagai kepala keluarga, Papa Arland tetap berusaha menahan emosinya agar tidak memicu keributan di area perawatan.
"Keana mengalami insiden yang tidak terduga di sekolahnya, Imran. Dan sebagai ayahnya, saya sudah memastikan dia mendapatkan penanganan medis terbaik. Dia sudah aman di dalam," jawab Papa Arland dengan suara rendah yang ditekan, menahan amarah.
"Ayah?" Hendra mendengus remeh. "Kamu hanya mengadopsinya, Arland. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah keluarga saya. Insiden kemarin adalah bukti kalau kamu dan instansi keluargamu gagal memproteksi mentalnya. Jika kamu tidak bisa menjamin hal seperti ini tidak terulang lagi, saya tidak akan segan-segan meninjau kembali hak asuh Keana melalui pengacara saya. Dan ini akan semakin menguatkan saya agar bisa mendapatkan hal asuk keana"
Tepat setelah Imran melontarkan ancaman tersebut, pintu lift di ujung koridor berdenting terbuka. Elvan, yang baru saja kembali dari rumah setelah mandi dan berganti pakaian rapi dengan jubah dokternya, melangkah keluar.
Mata tajam Elvan langsung menangkap atmosfer tegang antara papanya dan pria asing yang berdiri membelakanginya itu. Insting protektif Elvan langsung menyala, dan ia mempercepat langkahnya mendekati mereka.
.
.