Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : RUNTUHNYA DELUSI PANGERAN TERBUANG Part 2
Sebelum langkah Elara sempat melewati ambang pintu bawah tanah, sebuah pergerakan kasar memecah keheningan di dalam ruangan. Silas memungut sebongkah beton lepas dan melemparkannya dengan penuh dendam ke arah punggung Elara.
𝘞𝘜𝘚𝘏
Batu tajam sekepalan tangan itu melesat cepat. Namun, sebelum batu itu sempat menyentuh helai rambut Elara, sebuah bayangan besar telah memotong jalurnya.
𝘛𝘈𝘗
Dante menangkap batu itu dengan telapak tangan kanannya yang terbalut 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘸𝘳𝘢𝘱.
Gesekan pasir beton itu meninggalkan noda abu-abu di tangannya, jemari Dante meremukkan batu tersebut hingga menjadi remahan kecil yang jatuh berhamburan di atas beton.
Dante memutar tubuhnya perlahan, matanya menatap tajam Silas, siap menghancurkan tubuh Silas.
Namun Silas telah kehilangan akal sehatnya, ia tak memedulikan tatapan Dante. Delusi bahwa dirinya adalah seorang Elder yang tak tersentuh membuatnya tertawa histeris, menunjuk Elara dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Kau hanya pandai membual, Elara!" teriak Silas, suaranya melengking tinggi, bergema di dinding-dinding kedap suara.
"Enam tahun! Enam tahun aku berada di sini, dan aku tidak pernah sekalipun melihatmu mengayunkan senjata! Kau tidak pernah menumpahkan darah dengan tanganmu sendiri! Kau hanya bersembunyi di balik punggung anjing gila ini, menggunakan mulutmu untuk memerintah!"
Adrian yang masih terkapar di tanah menatap Silas dengan mata melebar, mencoba memberi isyarat agar lelaki tua itu bungkam, namun Silas tidak bisa dihentikan.
"Kau pikir kau bisa menakutiku dengan cerita dermaga itu?! Kau tidak punya hak atas takhta ini! Kau hanyalah anak haram yang tidak memiliki ibu! Wanita jalang yang melahirkanmu mati di selokan seperti tikus, dan kau... kau hanyalah bayangan kosong yang ditinggalkan Ayahmu!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Silas adalah ejekan untuk Elara.
Para pelayan yang meringkuk di sudut ruangan menahan napas, beberapa bahkan menutup telinga mereka, mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang mengerikan.
Dante melangkah maju, siap memutus tenggorokan Silas dalam sekali tebas, namun sebuah tangan ramping terangkat di depannya.
Elara menghentikan gerakan Dante.
Suasana ruangan mendadak menjadi begitu sunyi hingga suara tetesan darah dari sudut bibir Adrian terdengar begitu jelas. Elara perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang mata gelapnya yang kosong menatap Silas, dengan tatapan yang mengerikan.
"Pfft... Hahaha."
Sebuah tawa kecil keluar dari tenggorokan Elara. Ringan, meremehkan, dan begitu merdu, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang.
Ia menyeringai, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia perlihatkan, seringai kepuasan dari seorang sosiopat yang baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik.
"Enam tahun, Silas?" Elara melangkah kembali masuk ke dalam ruangan, gerakannya santai namun penuh tekanan. "Enam tahun kau duduk di kursi dewan, dan kau masih belum paham mengapa kau berada di bawah?"
Elara berdiri di tengah ruangan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut. "Kalian semua. Para pelayan bawah tanah. Keluar dari sudut-sudut menjijikkan itu dan berkumpullah di sekelilingku. Sekarang!"
Puluhan pelayan berseragam abu-abu yang tadinya bersembunyi perlahan keluar dengan tubuh gemetar, membentuk lingkaran besar yang mengelilingi Elara, Dante, Silas, dan Adrian yang masih merangkak di lantai.
"Hari ini, aku akan memberikan kalian sebuah pelajaran," ucap Elara, suaranya mengalun tenang ke seluruh penjuru ruangan. "Tentang apa yang terjadi pada mereka yang lupa cara menghormati pemimpinnya."
Elara melirik Dante. Tanpa perlu satu kata pun, Dante melangkah maju, mencengkeram kerah baju Silas, dan membanting pria tua itu ke atas lantai beton tepat di hadapan Elara. Silas mengerang kesakitan saat tulang tuanya berbenturan dengan semen keras.
Sebelum ia sempat bangkit, Dante menginjak kedua lutut Silas dengan sepatu bot beratnya hingga terdengar suara 𝘒𝘙𝘌𝘒 yang renyah—memastikan Silas tidak akan bisa melarikan diri.
"Dante, pisaumu," pinta Elara datar.
Dante mencabut belati yang selalu ia bawa dan menyerahkannya kepada Elara.
Elara menimang pisau itu di tangannya, merasakan keseimbangan beratnya. Ia kemudian berlutut di samping Silas yang kini bernapas tersengal-sengal menahan sakit di lututnya.
"Kau bilang kau tidak pernah melihatku mengayunkan senjata, Silas?" Elara berbisik, matanya menatap tepat ke arah mata Silas yang mulai dipenuhi oleh penyesalan yang terlambat. "Itu karena mereka yang melihatku mengayunkan senjata... tidak pernah memiliki kesempatan untuk menceritakannya kepada orang lain."
𝘑𝘓𝘌𝘉
Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, Elara menusukkan ujung pisau itu ke telapak tangan kanan Silas, menembus daging, urat, dan menguncinya hingga menancap ke dalam lantai beton bawah tanah.
"AAAGHHHHHH?!" Silas melolong histeris. Suaranya melengking tinggi, memenuhi ruangan.
Namun, itu barulah permulaan. Elara tidak menarik pisau itu. Dengan gerakan perlahan yang sangat diperhitungkan, ia memutar bilah pisau tersebut di dalam telapak tangan Silas.
Suara otot yang robek dan gesekan besi dengan tulang terdengar begitu nyata di tengah keheningan malam. Elara memperhatikan ekspresi kesakitan Silas dengan mata yang berbinar—ia benar-benar menikmati setiap detik dari penderitaan pria tua itu.
Adrian, yang menyaksikan pemandangan itu dari jarak dua meter, merasakan seluruh tubuhnya mendadak lumpuh oleh ketakutan.
Napasnya tercekat di tenggorokan. Selama memimpin faksi eksekutor dulu, Adrian sering menyiksa bawahannya yang tidak becus, ia mengira dirinya sudah cukup kejam.
Namun, apa yang dilakukan Elara malam ini berada di tingkat yang sama sekali berbeda.
Siksaan Adrian lahir dari amarah dan emosi yang meledak-ledak. Sementara Elara... wanita itu melakukannya dengan raut wajah yang terlalu tenang.
Tidak ada kemarahan di wajah Elara. Hanya ada kekosongan, dipadukan dengan senyuman tipis yang sangat menawan.
"Ini untuk mulut lancangmu yang membawa-bawa ibuku," bisik Elara lembut.
Tangan kiri Elara bergerak ke arah wajah Silas. Dengan ujung jarinya yang dingin, ia mencengkeram rahang bawah Silas, memaksanya membuka mulut. Sebelum Silas sempat menyadari apa yang terjadi, Elara memposisikan bilah pisaunya di dalam mulut Silas, menempel pada pangkal lidahnya.
"Jangan... Nona... mohon..." Silas mencoba berbicara di tengah lumatan darah di mulutnya, matanya membelalak penuh horor.
𝘚𝘙𝘌𝘛.
Elara menarik pisaunya dengan satu sentakan cepat. Sepotong daging jatuh ke atas beton, diikuti oleh semburan darah kental yang membasahi lantai dan mengenai sebagian pakaian Elara.
Silas tidak bisa lagi berteriak; yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara serak yang mengerikan saat ia tersedak oleh darahnya sendiri.
Adrian gemetar hebat di atas puing-puing kayu. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya yang bengkak, bercampur dengan darah dari rahangnya yang bergeser. Seluruh otot di tubuhnya menolak untuk bergerak.
Kakaknya yang selama ini ia anggap lemah dan hanya mengandalkan keberuntungan, ternyata sedang menyembunyikan sifat aslinya yang mengerikan.
Elara bangkit berdiri, membiarkan tubuh Silas yang kini kelojotan di atas lantai kejang-kejang. Ia melemparkan pisau yang berlumuran darah itu ke lantai beton dengan bunyi denting yang dingin.
Ia menoleh ke arah Adrian, menatap adiknya yang kini meringkuk kaku seperti anak anjing yang ketakutan di sudut kandang.
"Lihat ini baik-baik, Adrian," ucap Elara, suaranya tetap lembut seperti biasa, seolah ia baru saja menyelesaikan obrolan minum teh di sore hari. "Ini adalah akhir dari mereka yang salah menilai posisinya di rumah ini. Jika kau atau sisa-sisa sekutumu di atas sana berpikir bisa menggeser posisiku... aku akan memastikan kematianmu jauh lebih lambat dan jauh lebih indah daripada apa yang dialami Silas malam ini."
Adrian hanya bisa mengangguk-angguk pasrah dengan tubuh yang terus menggigil. Ia bahkan tidak berani menatap mata Elara lagi.
Elara berbalik, melangkah melewati lingkaran para pelayan bawah tanah yang kini semuanya menunduk.
Dante mengambil pisaunya dari lantai, menyekanya dengan saputangan sebelum menyarungkannya kembali. Ia melirik Adrian sekali lagi dengan pandangan penuh kemenangan, lalu berjalan cepat di belakang Elara.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..