"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bawah Sinar Bulan
"Turunkan kapakmu, Pak Tua. Aku ke sini bukan untuk menumpahkan darah ataupun meruntuhkan rumahmu yang rapuh ini," suara bariton itu membelah keheningan malam, membawa getaran dingin yang seketika membuat bulu kuduk meremang.
Aethan melangkah melewati ambang pintu dengan ketenangan seorang pemimpin. Sepasang mata abu-abu langsung mengunci siluet Anna yang berdiri kaku di dekat anak tangga.
Paul tidak bergeming sedikit pun, urat-urat di lengan kekarnya menegang saat ia mempererat cengkeraman pada kapak penebang pohonnya. "Siapa pun Anda, bertamu selarut ini ke kediaman rakyat jelata dengan membawa tekanan yang mengancam bukanlah tindakan seorang pria terhormat."
Aethan bahkan tidak sudi melirik Paul. Tatapannya masih tertuju lurus pada Anna, menelusuri penutup kepala kain kelabu yang membungkus rapat identitas gadis itu. "Singkirkan kapak berkarat itu sebelum aku kehilangan kesabaran. Aku hanya ingin bicara berdua saja dengan anak perempuanmu."
"Tidak akan pernah," desis Paul, memasang kuda-kuda bersiap maju membela Anna.
"Ayah, tidak apa-apa. Tolong turunkan kapaknya dan ayah bisa kembali ke kamar," sela Anna cepat. Suaranya terdengar setenang mungkin. Melawan sang panglima sama saja mengundang maut bagi keluarganya.
Anna menatap manik mata abu-abu pria didepannya itu, lalu memberi isyarat ke arah pintu samping rumah mereka. "Jika Anda ingin berbicara, mari ikuti saya ke samping rumah."
Aethan menaikkan satu alisnya, ekspresi dinginnya sedikit mencair digantikan ketertarikan samar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah mengikuti Anna keluar dari rumah. Paul, meski dengan berat hati dan tatapan penuh kewaspadaan, akhirnya menurunkan kapaknya dan mundur atas perintah tersirat Anna.
Dia membawa tamu agung itu ke sebuah taman bunga kecil yang tersembunyi dari pandangan jalan utama. Tempat itu dipenuhi oleh semak-semak mawar liar dan melati kelopak ganda yang tengah bermekaran, berkilau lembut di bawah siraman perak cahaya bulan purnama. Aroma harum bunga malam yang menguar dari kelopak-kelopak basah sedikit menyamarkan atmosfer mencekam yang dibawa oleh sang panglima.
Begitu mereka hanya berdiri berdua di antara hamparan vegetasi malam, Aethan mendadak berbalik. Langkah kakinya yang berat mengikis jarak di antara mereka dalam sekejap mata, hingga posisinya berhenti tepat satu jengkal di depan Anna. Postur tubuhnya yang tinggi tegap dan bidang membuat Anna terpaksa mendongak, merasa sepenuhnya terperangkap dan tenggelam dalam dominasi bayangan tubuh pria itu.
"Ternyata dugaanku sama sekali tidak meleset. Kau adalah tikus kecil yang sama dari interogasi di bazar minggu lalu dan juga gadis pinggir jalan saat aku melintas," ucap Aethan rendah, suaranya sehalus beludru.
Anna refleks mundur selangkah demi mempertahankan jarak aman, namun Aethan justru maju selangkah lagi dengan gerakan berburu yang anggun, mengunci ruang gerak gadis itu tepat di depan pilar kayu pembatas taman yang dingin.
Di bawah naungan rembulan yang memucat keperakan, aura pria itu menjerat bagai kabut malam yang melilit. Ada kilat kepemilikan yang kelam, dan obsesif dalam sepasang manik peraknya, seolah-olah sang predator baru saja menemukan kembali permata yang hilang.
Ketika angin malam berembus manja, meniup ujung lilitan linen kelabu Anna hingga beberapa helai rambut merah anggurnya yang sewarna dengan cawan anggur perjamuan tersembul samar, jemari Aethan yang terbungkus sarung tangan kulit hitam bergerak maju tanpa permisi. Dengan kelembutan yang mematikan sekaligus intim, ia menyelipkan jemarinya di bawah dagu Anna, mendongakkan wajah gadis itu, menuntut sepasang mata perak sang penjahit untuk menatap langsung ke dalam labirin jiwanya yang dipenuhi kegelapan pekat.
"Wewangian pada kain sulamanmu ... aku sangat membutuhkannya untuk menenangkan sesuatu di dalam diriku," bisik Aethan dengan artikulasi yang begitu rendah, nyaris seperti geraman parau yang sensual. Napasnya yang sehangat tembaga menyapu ceruk leher dan permukaan kulit pipi Anna yang halus, membuat gadis itu merinding hebat.
Pria ini memang sengaja tidak membuka identitas aslinya sebagai Panglima Tertinggi Solmara, walau Anna sudah tahu dari Paul dan ia juga menolak menyebutkan sepatah kata pun tentang kutukan darah hitam yang menyiksa tidurnya setiap malam, menjaga rahasia itu rapat-rapat sebagai privasi tertingginya. Namun, tatapan matanya yang lelah dan tersiksa tidak bisa berbohong kepada Anna.
Anna mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya di tengah kedekatan fisik yang begitu menyesakkan ini. "Jika Tuan menyukai aroma mawar pada saputangan saya, saya bisa membuatkannya lagi untuk Anda."
"Aku tidak butuh saputangan itu," potong Aethan cepat, ibu jarinya yang terbungkus mengusap garis rahang Anna dengan posesif, seolah sedang menandai teritorinya. "Buatkan aku sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Aku akan memesan lima setel sarung bantal, seprai untuk tempat tidur pribadiku, beserta selimut tebalnya. Aku ingin seluruh helai kain yang kautenun dengan tanganmu sendiri mampu memberikan tidur yang nyenyak tanpa gangguan untukku."
Anna tertegun di tempatnya. Lima setel seprai lengkap dengan selimut tebal? Itu pesanan pertamanya berskala besar yang membutuhkan pasokan bahan mentah melimpah. "Itu bukan pesanan yang kecil dan murah, Tuan. Lalu, bahan dan warna kain apa yang Tuan inginkan untuk ranjang Anda?"
"Warna putih gading," jawab Aethan pendek, matanya menatap bibir Anna yang terkatup. "Warna mentah dari kain tenun sutra kuno, tanpa campuran pewarna buatan pabrik yang pekat. Aku ingin kainnya sewangi dan selembut mawar murni seperti saputanganmu."
Anna menelan ludah dengan susah payah, perlahan memiringkan wajahnya untuk melepaskan dagunya dari cengkeraman Aethan yang terasa memabukkan sekaligus menakutkan. "Baik. Saya bisa menyelesaikannya sesegera mungkin. Namun, karena ini menggunakan teknik khusus, biayanya akan sangat tinggi."
Aethan terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar begitu seksi namun berbahaya di tengah keheningan taman bunga. Ia akhirnya menarik tangannya dari wajah Anna, lalu merogoh sesuatu di balik jubah militernya. Sebuah kantong kulit rusa yang tampak sangat berat mendarat di atas meja batu taman dengan bunyi dentingan logam mulia yang nyaring.
"Di dalam itu ada 100 koin emas sebagai uang muka. Aku akan datang sendiri ke rumah ini untuk mengambil pesananku tepat seminggu lagi, di jam yang sama," ujar Aethan. Ia kembali condong ke depan, memberikan tatapan mengikat pada mata perak Anna. "Dan ingat ini, Nona Penjahit. Kontrak ini mengikat kita secara pribadi di bawah bayang-bayang. Jika ada bajingan dari Guild resmi kota atau siapa pun yang berani mengusik ketenangan rumah ini dan menghambat proses pembuatan pesananku ...." Aethan tersenyum miring, senyuman dingin yang sarat akan janji pertumpahan darah. ".... aku sendiri yang akan meratakan mereka dengan tanah tanpa sisa."
Anna terengah, menatap kantong koin emas di atas meja batu lalu beralih pada sosok pria berotot besar itu. Ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa; ini adalah cap perlindungan hukum dan militer terselubung yang sangat kuat, meski dibungkus dalam bentuk pesanan perlengkapan tidur mewah.
"Kesepakatan kita telah sah tercapai, Tuan," ucap Anna yakin, mencoba menyembunyikan getaran emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Bagus. Jangan buat aku kecewa ... Nona Ruby," bisik Aethan sengaja memancing reaksi Anna dengan nama samaran pasar gelapnya, sebelum ia berbalik dan melompat melewati pagar tanaman dan menghilang sepenuhnya ditelan kegelapan malam.
lanjut yaaaaa